
"Aku menunggu seseorang datang untuk membeliku, sehingga aku tidak sendirian lagi disana" ―Oi! Kau mau menyindir kehidupan ku ya.
"Tidak, sebenarnya aku tidak memiliki cukup banyak energi untuk mencari manusia yang memiliki hati kebencian, karena itulah aku memutuskan untuk beristirahat disana" ―Tidak mungkin! kau pasti berbohong. Di luar sana banyak sekali manusia yang memiliki hati kebencian karena kehidupannya yang kurang beruntung.
"Yah kau benar, tapi rasa kebencian yang dimiliki mereka tidak enak. Tidak sepertimu, kau memiliki rasa kebencian yang berbeda pada kehidupan. Karena itu aku memutuskan untuk memilihmu"
"Rasa kebencian? Apa untungnya kau mendapatkan itu?" ―"Mengumpulkannya ke dalam botol ini"
Apa kau bilang? Mengumpulkannya? ―"Yah, itu adalah sumber kekuatanku. Saat ini aku sedang dalam tahap proses pembentukan wujud asliku"
"Aku sudah berada dibumi ini sejak ratusan ribu tahun yang lalu, jauh sebelum kalian para manusia ini terlahir dimuka bumi"
"Sudah banyak peradaban Ras sebelum kalian yang kehidupannya hancur karena perbedaan, mereka sangat buruk, tidak ada hari tanpa maksiat, kemungkaran, ketidakadilan, selalu membenci pada sesama"
"Jika aku terus melanjutkan cerita ini, umur mu tidak akan cukup untuk mendengarkannya sampai selesai" ―Sepertinya Malaikat juga punya banyak kesulitan dalam kehidupannya.
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan dengan kebencian yang kumiliki? Apa aku harus membalas budi karena kau sudah menyelamatkan nyawaku?" Dia masih terlihat duduk diatas singgasananya.
"Kau dan aku memiliki satu tujuan yang sama, bagaimana kalau kita bekerja sama untuk saling menguntungkan diri kita masing-masing" ―Bekerja sama? Aku ini hanya manusia biasa, seorang pecundang yang bekerja ditempat sampah.
"Tidak lagi" ―Tidak lagi?
"Kau yang sekarang memang hidup sebagai manusia, tetapi di dalam perbedaan ruang dan waktu, meskipun kau hidup berdampingan dengan mereka" ―Aku masih tidak mengerti, bisakah kau menjelaskannya lebih mudah.
"Kau sudah tahu, kau sebenarnya sudah mati. Tetapi tidak benar-benar mati, saat ini kau sedang hidup dalam waktu kematian. Akulah yang menjaga waktu itu dan juga ingatanmu." ―Oalah, ternyata aku benar-benar sudah mati ya. Tapi, berkat bantuanmu aku masih bisa berada didunia ini.
"Tenang saja, selama kau masih sejalan dengan tujuanku. Aku akan terus membiarkan mu hidup" ―Wkwkwk, kau terdengar seperti tuhanku sekarang.
"Jangan seperti itu, aku hanya membantu untuk mewujudkan impianmu. Kau ingin melihat senyuman itu agar tetap ada didunia ini bukan?"
Sial, makhluk ini tahu segalanya tentangku.
Aku bangkit berdiri dan melangkah ke arahnya. Berdiri dihadapannya yang sedang duduk dikursi singgasana.
"Baiklah, aku setuju. Lalu apa yang harus kulakukan untuk tujuanmu itu?"
"Mudah sekali, kau hanya perlu mengumpulkan kebencian yang ada didunia ini sampai botol besar yang ada disampingku ini terisi penuh" ―Mengumpulkan kebencian? Jika semua kebencian hilang, bukankah dunia akan menjadi damai? Apa makhluk ini ingin menciptakan kedamaian?
"Aaa, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai botol itu terisi penuh?"
"Tidak tahu, sekarang populasi manusia hampir 9 milyar."
__ADS_1
"Kau pasti bercanda, umurku tidak akan cukup sampai botol itu terisi penuh"
"Bukankah tadi sudah kubilang, kau itu hidup di dalam ruang dan waktu yang berbeda. Dengan kata lain, sekalipun kau mati beberapa kali. Kau akan tetap hidup kembali" ―Itu terdengar seperti aku bisa hidup abadi?
"Kenapa, kau tidak mau hidup abadi? Bukankah dengan begitu kau bisa terus melindungi orang-orang yang kau cintai?"―Lylaa.
"Percuma saja hidup abadi kalau aku harus terus terbunuh oleh monster-monster itu"
"Lihat disekitar mu anak muda" ―Memangnya kenapa? Bukankah itu hanya tumpukan jarum?
"Itulah nyawamu sekaligus benda yang akan membantumu untuk menghadapi para iblis-iblis itu"
Aku langsung terkejut begitu mendengar perkataanya, karena benda yang berbentuk jarum itu adalah bagian dari nyawaku yang jumlahnya ada milyaran, dan semuanya menyebar tertancap di padang pasir ini.
"Ah iya, sebenarnya kita bukan ada di padang pasir. Kau sedang berada di dalam pasir waktu yang ukurannya jauh lebih besar dari bumi tempat kau tinggal. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan umurmu"
"Jadi kau memiliki dunia sendiri?" ―Semua malaikat memilikinya.
Aku kemudian maju beberapa langkah ke depan untuk mengambil benda yang tertancap di atas padang pasir lalu mencabutnya.
"Kau hanya perlu satu untuk menggunakannya sebagai senjata, sisanya adalah nyawamu. Ketika kau mati, salah satu dari milyaran jarum yang tertancap disini akan hilang sebagai gantinya"
"Bagaimana cara menggunakan senjata ini untuk melawan iblis, dan mengambil kebencian yang ada di dalam diri manusia?"
"Agar lebih mudah, mari kita prektekkan langsung. Ah, sebelum itu pakai dulu topeng ini"
Dari telapak tangannya yang besar muncul sebuah topeng bewarna putih dengan bentuk wajah yang cukup aneh. Ia lalu memberikannya kepadaku.
Aku sudah memakainya, apakah aku terlihat keren?
"Topeng itu berguna untuk menyembunyikan identitas aslimu di dunia. Lebih tepatnya membuat kebenaran menjadi kebohongan, apapun yang kau lakukan, baik ataupun buruk, mereka tidak akan memperdulikannya."
"Baiklah, mari kita mulai dari cara melawan iblis"
Jari telunjuknya mengarah kedepan, tak lama muncul sebuah lubang hitam dihadapanku. Aku tidak bisa melihat apa-apa di dalamnya, tidak setelah lubang hitam itu menghilang.
Aku terkejut, ternyata dibalik hilangnya lubang hitam itu muncul seorang iblis yang telah membunuhku sebelumnya. Sial, meskipun ada malaikat dihadapanku, aku tetap masih merasakan ketakutan melihat sosok iblis ini.
"Tidak perlu takut, dia hanyalah replika dari iblis yang membunuhmu sebelumnya. Sekarang kau hanya perlu menusukan, menebas, atau cara apapun itu yang penting harus mengenai kulit tubuhnya. Maka mereka akan mati seketika"
Meskipun kau berkata begitu, sosok iblis ini benar-benar mengerikan.―"Kalau kau takut, kau tidak akan bisa melindungi siapapun. Dan senyum anak itu akan hilang selamanya"
__ADS_1
Sepintas aku mengingat kembali senyuman bahagia anak kecil yang waktu itu, darahku terasa mendidih membayangkan jika iblis seperti mereka membunuhnya.
"Tidak akan kubiarkan itu terjadi! Hyaaaaah!!! Aku berlari kencang, menatap mata iblis itu, membunuh rasa takutku, demi melindungi senyuman tulus yang telah menghangatkan hatiku.
SLASH!!! Aku menebasnya!
"Woo, cepat sekali keberanian itu muncul. Tidak salah aku memilihmu"
Iblis itu langsung mati seketika dengan wujudnya yang hancur menjadi pasir bewarna hitam.
"Hebat juga senjata ini, apa namanya?"
"Jarum itu memiliki dua kemampuan, yaitu Hell or Heaven. Dan namanya adalah, Agulha" ―"Agulha?" Keren juga namanya.
"Hell untuk membunuh para Iblis, dan Heaven untuk membunuh sisi kebencian yang ada di dalam hati manusia"
"Dengan begini aku bisa membasmi mereka semua dengan mudah,"
"Tidak juga" ―Eh, apa maksudmu?
"Iblis sendiri memiliki 12 tingkatan, kau bisa membunuh mereka dengan mudah seperti tadi hanya sampai tingkat ke 8"
"Yang benar saja, lalu bagaimana aku melawan tingkatan yang lainnya"
"Tenang saja, ketika hari itu tiba. Aku akan memberikan sesuatu yang baru untukmu. Saat ini, kau harus membuktikannya kepada ku hasil kinerjamu" ―hahahaha, kau mulai terdengar seperti seorang boss sekarang.
"Siapa nama mu tadi?"
"Namaku adalah Jealous The Fallen Angel"
"Jealous! Namaku adalah Enok, aku terima kekuatan ini. Dengan adanya kekuatan ini. Aku bisa membuat dunia tanpa adanya rasa kebencian, sehingga semuanya akan hidup dalam kedamaian"
"Paling tidak, diriku yang pecundang ini bisa berguna untuk semua orang"
"Terimakasih, Jealous!"
...
"Yah, terimakasih kembali. Anak muda"
Dari dalam kegelapan jubah yang menutupi kepala dan wajahnya, terlihat dua mata yang bewarna kuning dengan tatapan mata penuh kebencian.
__ADS_1