
Eh, kenapa aku melamun disini? Oh iya aku baru ingat aku baru saja mengantarkan adik kecil tadi kepada orang tuanya. Syukurlah dia bisa tersenyum kembali.
Ahh, entah kenapa setiap melihat senyuman anak kecil hatiku merasa hangat kembali. Rintik hujan mulai membasahi jalan trotoar tempatku berdiri. Suara hujan deras disana juga sudah mulai terdengar, sebaiknya aku cepat pergi dari sini. Semoga semua orang sudah berhasil selamat.
Ketika aku memasang topi hodi itu ke kepalaku, aku mendengar ada 5 suara helikopter terbang melintasi tempatku berada. Karena penasaran, aku mencoba melihatnya ke atas.
"Infinity Corporation?" sepintas aku mengingat nama itu dalam bayangan pikiranku. Aku melihat nama itu ada disebuah gedung pencakar langit yang sangat besar dan bewarna hitam.
"Aku tidak tahu siapa mereka, tapi jika mereka pergi ke arah sana. kemungkinan mereka adalah pasukan khusus yang akan menangani monster itu"
"Lyla, aku harap kau baik-baik saja. Aku akan menyerahkan kado ini dikesempatan yang akan datang."
Saat ini aku berdiri didepan toko swalayan ditemani beberapa pohon kota yang menghiasi di sepanjang jalan trotoar, aku mulai berjalan ke arah depan, dan akan melewati sebuah parkiran mobil yang cukup luas. Tentu saja tidak ada mobil disana, mungkin mereka sudah pergi.
"Eh, apa itu?" aku melihat seperti ada seseorang yang tergeletak disana. tapi itu lebih terlihat seperti anjing yang sudah mati, karena ada darah disekitarnya. Mungkin mereka terburu-buru, sehingga tanpa sengaja melindas anjing itu. Tega sekali, di tengah hujan deras seperti ini.
"Sebaiknya aku segera menguburnya"
Aku mendatanginya berlari, dan sampai disana aku dibuat terkejut olehnya. Bagaimana tidak, aku melihat diriku sendiri dengan keadaan yang mengenaskan.
"Haaa!!! Haaaaaaaaaa!!!" Aku sangat shock lalu berteriak sekencang mungkin. Aku terduduk disana dengan mata melotot dan pikiranku kosong. Aku terus memandangi tubuh mayat yang terlihat seperti diriku.
"Apa ini? aku sudah matikah?! Hah?"
"Tapi kalau aku sudah mati, kenapa tidak mengingat apapun sama sekali tentang bagaimana kejadiannya" aku benar-benar ketakutan karena tidak tahu sama sekali tentang kebenarannya. Mataku melihat ada sebuah batu bata di dekat pot bunga, aku mengambilnya, lalu memukulkannya sekeras mungkin ke tangan kiriku.
BUK!!
"Aaaaaa!!! Sakitt, bangsatt!!"
Kenapa aku bisa merasakan rasa sakit? Kalau aku sudah mati, seharusnya aku tidak bisa merasakan itu bahkan untuk memegang sebuah benda. Sial!sebenarnya apa yang terjadi, aku sama sekali tidak mengingat apapun.
Aku memegang kepalaku, mencoba memahami situasinya secara logika. Akan tetapi akal sehatku tidak bisa menerima kenyataan itu. Ketika aku mencoba bangkit tanpa sengaja aku seperti tercucuk sesuatu di telapak tangan kananku.
"Awwuch!!"
__ADS_1
Aku membuka telapak tanganku, dan ternyata berdarah. Aku mengusapnya dengan tangan kiriku, air hujan membuat lukanya semakin perih. Disana aku melihat benda yang terlihat seperti kalung, aku pun kemudian mengambilnya.
"Bukankah ini gantungan yang kubeli di toko pernak-pernik tadi pagi. Kenapa bisa ada diluar, apa mungkin tas ku bolong?" Aku segera melepaskan tas yang ada di bahuku, dan memeriksa bawahnya.
"Nggak ada yang bolong?" Karena penasaran, aku memeriksanya di dalam kantong kresek yang bewarna putih tempat aku meletakkan sebelumnya.
"Aneh sekali, hari ini penuh keanehan. Monster, dan mayat yang mirip tubuhku ini" Tiba-tiba aku mendengar suara helikopter yang akan segera melintas di atas kepalaku, namun ternyata ia berhenti. Dan aku melihat, satu orang dengan pakaian yang sangat keren turun dari dalamnya dengan menggunakan benda yang terlihat seperti tali.
Aku bangkit berdiri sebelum ia mendatangiku. Kemudian kami berdua saling berhadapan.
"Lapor, aku menemukan satu orang warga sipil yang terlantar"
"(Terlantar?)
"Segera evakuasi"―"Baik!!"
Dia tidak terlihat seperti polisi ataupun militer, pakaian yang dia pakai terlihat seperti orang yang dari masa depan.
"Apa yang kau lakukan disini, seharusnya kau segera pergi dan meninggalkan tempat ini. Apa kau tidak tahu para iblis itu bermunculan dan menyerang para warga sipil?" Aku sengaja diam tidak menjawab, karena aku ingin melihat reaksinya dengan mayat yang ada disebelahku.
"Apa yang telah kau lakukan pada anjing ini? Apa kau yang sudah membunuhnya?"
Anjing? Apa mayat dari tubuhku benar-benar terlihat seperti anjing? Tapi tidak apa, mari kita ikuti skenarionya.
"Tidak, aku melihat orang-orang yang panik ketakutan menyetir mobil dengan seenaknya. Mereka tidak menyadari telah menabrak anjing itu. Aku kesini berniat untuk menguburnya"
"Menguburnya? Ditengah hujan deras ini? Sungguh mulia sekali hatimu anak muda"
"(Terimakasih atas pujiannya, walaupun sebenarnya aku telah membohongimu)"
"Ayo cepat, ikut kami. Kau akan dibawa ke tempat yang aman" Dia menyuruhku mendekati tali yang terhubung dengan helikopter yang ada diatas.
Ia kemudian memasangkan sebuah belt dipinggangku, yang dilengkapi dengan sebuah alat. Tapi aku tidak tahu alat apa itu.
"Tekan tombol ini, maka kau secara otomatis akan naik ke atas" ucapnya.
__ADS_1
Aku pun menekannya, dan langsung meluncur ke atas dengan sendirinya. Seraya aku meluncur ke atas, aku menolehkan kepalaku ke arah yang terdapat sebuah gang kecil dan banyak tumpukan sampah. Disana aku melihat, ada satu monster yang mati tergeletak.
Di dalam helikopter dia mengajakku berbincang tentang kenapa dan bagaimana aku bisa berakhir sampai ditempat itu. Aku menjelaskan seperlunya saja.
"Aku boleh bertanya? Sebenarnya itu monster apa?" aku penasaran, jangan salahkan aku karena bertanya. Apakah dia akan menjawabnya?
"Dia bukan monster, kami menamainya Shëtan"
"Shëtan? Dari mana monster-monster itu berdatangan?" Kenapa namanya shetan? Apa karena dia mirip dengan Setan? Tapi menurutku dia terlihat seperti monster.
"Kami masih meyelidikinya, sejauh ini yang telah kami ketahui mereka ada dua jenis tipe"
"Yang pertama, mereka tidak memiliki sebuah senjata. Mereka hanya bertangan kosong dan lebih suka menyamar menjadi manusia, berbaur, lalu membangun sebuah keluarga. Lebih tepatnya, mereka ingin membuat keturunan dari manusia"
Hah? Menyamar? Berkeluarga? Dan membuat keturunan kau bilang? Apakah aku tidak salah dengar, atau pria ini memang sedang meracau.
"Yang kedua, mereka kami beri nama Duiwel. Bentuknya hampir mirip, dia memiliki dua warna kulit, merah dan hitam, tanduk mereka seperti seekor domba, dan ada juga yang seperti banteng. Mereka memiliki sebuah senjata yang terlihat seperti celurit yang berukuran cukup besar"
Aku kehabisan kata-kata setelah mendengar penjelasannya.
"Akhir-akhir ini kemunculan mereka mulai sangat aktif, satu hari kami bisa sampai 6 kali turun kelapangan untuk menghabisinya"
Menghabisinya? Berarti mereka ini benar-benar pasukan khusus untuk melawan para monster itu.
"Dan mereka sering muncul di tempat yang ramai orang, Oh iya kau tinggal di distrik mana?"
"Aku tinggal di distrik 8,"
"Lumayan jauh juga. Kalau begitu, Reno! Kita antarkan mas ini sampai kerumahnya"
"Roger That!
Semua kejadian ini membuat pikiranku sudah tidak bisa lagi membedakan mana dunia nyata, dan mana yang dunia khayalan. Sepertinya doa ku telah dikabulkan, dimana aku minta agar dunia ini cepat kiamat.
Aku menatap keluar dari dalam helikopter, melihat luasnya kota mega metropolitan yang memiliki total hampir 257 distrik. Jika kau melihat dari atas kau akan tahu, bahwa kota mega metropolitan ini berbentuk lingkaran dan berdiri cukup tinggi dibawah kota-kota yang sudah mati.
__ADS_1