E. A.N. E : Unreality In Reality

E. A.N. E : Unreality In Reality
Chapter 13 : "Hatred boils"


__ADS_3

Tak lama suara orang-orang menjerit meminta tolong kembali terdengar. Suara itu berasal dari dua arah yang berbeda. Satu berasal jauh dari belakangku, dan satu lagi berada dekat dengan lokasi pria tersebut. Dia langsung bergerak cepat, melompat seperti yang aku lakukan.


Terus terang aku masih penasaran dengan mereka, tetapi aku harus segera pergi untuk menyelamatkan orang-orang. Aku berbalik kanan, dan lompat meninggalkan tempat itu.


Di dalam lompatan tinggiku, angin-angin datang bertiup kencang seolah ingin menghambat pergerakanku. "Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa iblis itu tiba-tiba ramai menyerang distrik 8 tempatku tinggal". Dari dalam topeng Ruwana ini, aku mulai bisa melihat sisi-sisi buruk manusia. Meskipun mereka sedang berlari ketakutan di bawah sana.


Dengan cepat aku mengambil jarum Agulha, lalu melemparkanya kepada mereka. Jarum itu satu persatu menusuk tubuh mereka, dan setelah kebencian itu berhasil diambil ia hilang dengan sendirinya.


"Baiklah-


Baru saja aku berniat ingin mendatangi lokasi teriakan orang yang meminta tolong sebelumnya, tiba-tiba topeng Ruwana ini seakan ingin memberitahuku bahwa dibawah sana, ada seekor iblis yang sedang duduk santai diatas mobil terbalik sedang menikmati hidangannya. Aku yang sedang melambung tinggi di atas udara, mencoba untuk membuang rasa penasaranku dengan menoleh ke arahnya.


Ternyata dia tidak sedang menikmati hidangannya, dia, dia sedang memainkan potongan tubuh wanita dengan cara menjambak rambut panjangnya dan memutar-mutarnya layaknya sebuah mainan.


"Bangsaaaaaaaatttt!!!"


Darahku mendidih, semuanya mengalir dengan begitu cepat di dalam urat nadiku, amarahku yang meledak-ledak membuat tubuhku melakukan gerakan reflek yang kecepatannya seakan melampaui ruang dan waktu.


Aku muncul dihadapan iblis itu sebelum ia mengedipkan matanya, ku berikan dia tendangan kaki kanan. Saking kerasnya tendangan ini, wajahnya sampai terlihat penyok. Aku berteriak keras, melepaskan semua amarah kebencianku dalam satu tendangan itu.


BUAK!!


Layaknya sebuah bola yang ditendang, iblis itu terhempas jauh menghancurkan 3 blok bangunan yang ada dibelakangnya. Dari dalam kepulan debu asap disana kau mungkin bisa melihat wujudku yang memakai topeng ini, tetapi tidak wajah dibaliknya. Saat ini, wajahku sangat terlihat jelek dan mengerikan.


Aku mendengar suara langkah kaki yang menginjak reruntuhan pecahan bangunan, dia sedang melangkah keluar dari dalam kepulan debu kotor tersebut.


"Siapa, yang sudah berani menendang kepala iblis Urait?" ucapnya.


Itu dia!! Akhirnya aku melihat wujud sosok iblis itu dengan sangat jelas untuk pertama kalinya di siang hari seperti ini.


Wujud iblis itu bewarna merah, bentuk kepalanya yang oval memiliki 2 tanduk berdekatan dan memanjang ke belakang, telinganya yang panjang memiliki sesuatu yang terlihat seperti aksesoris. Dia tinggi sekali, ku rasa hampir mencapai 3 meter.

__ADS_1


"Ho? Manusia? Jadi kau yang sudah menendangku!" dia sedang mengkretekan kepalanya seperti merasa pegal akibat tendangan kerasku.


Aku tidak ada waktu mengikuti dialog skenario iblis, karena itu aku memfokuskan kekuatan dan kecepatan agar jarum Agulha yang akan ku ambil langsung menancap ditubuhnya.


"Bagaimana bisa ada manusia yang memiliki tendangan keras sampai leher kepalaku mundur kebelakang dibuatnya." ―Ini kesempatanku!!


GRAB! ―Tidak mungkin!?? Dia bisa menangkapnya?


"Ho? Kau memiliki benda yang tak seharusnya kau miliki anak manusia." Dia menelaah jarum Agulha itu dari genggaman tangan kanannya.


"Agulha? Jadi malaikat bodoh itu ingin memulainya lagi ya?" ―Memulainya? Apa maksud yang dikatakannya.


Tiba-tiba dari atas langit sesuatu meluncur cepat bagaikan burung merpati yang menukik tajam dan mendarat tepat disamping iblis itu. Terpaan debu angin kencang yang dibuatnya disaat ia mendarat, seperti mencoba ingin merusak topeng di wajahku ini.


"Oi Urait, kenapa kau lama sekali mana wanitaku-


Iblis yang baru datang itu seketika terdiam, setelah melihat wanita yang dimaksudkannya sudah mati dengan tubuh yang mengenaskan.


"Bangsat kauu!! Sudah ku bilang jangan bunuh wanita itu, aku menyukainyaa!!! Dirinya yang kesal mencekik temannya sendiri.


Selagi dua iblis biadab itu berdebat tentang kebiadaban yang telah dilakukannya, aku disana berdiri dalam gelap kesunyianku. Dalam hatiku berkata,


"Apa yang sedang dibicarakan ibis-iblis ini, mereka sudah membunuh wanita itu dengan cara yang keji, membunuhnya tanpa perasaan"


Aku melirik ke arah mayat wanita yang hanya tersisa potongan bagian tubuh atasnya, wajahnya terlihat sangat sedih. Dia pasti tidak percaya jika hari ini adalah hari kematiannya, pasti dia sangat ingin bertemu dengan keluarganya disaat terakhirnya, iya kan?


Enok tertunduk, dari balik topengnya ada air mata kesedihan yang menetes jatuh. Kedua tangannya mulai menggenggam keras sampai mengeluarkan darah. Semakin dia melihat wajah kesedihan yang ada pada mayat wanita itu, semakin kuat amarah kebencian yang dirasakan di dalam hatinya.


Dua iblis yang bertengkar itu mulai merasakan aura kebencian tersebut, mereka melihat tubuh Enok mengeluarkan aura hitam yang pekat.


"Bisa-bisanya kalian.." ―Enok melihat kedua mata wanita itu penuh air mata penderitaan yang sudah lama mengering di wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa tuh bocah? Apa dia marah dengan kita?"


"Bisa-bisanya kalian membunuh manusia seperti makluk yang tidak berharga!! ―Enok melihat potongan tubuh mayat wanita tersebut, aura kebenciannya terus menerus keluar dari tubuhnya.


Iblis itu kesal karena terus mendengar ocehan yang di lontarkan oleh Enok terhadapnya, Ia kemudian meluncur cepat dengan mengepakkan kedua sayap merah yang ada di balik punggungnya.


"Dari tadi ku dengar kau terus mengoceh tidak jelas, kalau tidak mau mati bersujudlah dihadapan ku anak manusia!!" ―Oi, Rabatt hentikan.


Gerakan Enok sangat cepat sampai tak terlihat saat ia menangkap wajah iblis tersebut, membantingnya ke bawah sampai menghancurkan permukaan jalan.


"Uhuaghh!!"


Iblis yang bernama Rabatt itu berteriak kesal dan mencoba melepas cengkraman kuat dari tangan kanan Enok. Sedangkan iblis yang bernama Urait malah tertawa terbahak-bahak menertawakan keadaan temannya sendiri.


Enok terlihat berbeda dari sebelumnya, tubuhnya benar-benar di selimuti oleh aura kebencian, terutama di bagian tangan kanannya yang mencengkram wajah iblis Rabatt. Kedua ukiran mata yang terdapat di topeng Ruwana terlihat menyala bewarna kuning menyarak.


Rabatt mencekik leher Enok dengan kuku hitamnya yang tajam hingga tembus menusuk daging lehernya sampai keluar cipratan darah merah. Enok sama sekali tidak merespon hal itu, dia benar-benar tenggelam di dalam rasa kebencian hatinya.


"Haaaaahh~ aura nafasnya sampai keluar bewarna hitam dari balik mulut ukiran yang ada di topengnya.


Cengkraman jemari tangan kanan Enok semakin kuat, sampai-sampai dua mata iblis Rabatt hampir keluar dari tengkorak kepalanya. Merasa terancam, Iblis Rabatt mengubah tangan kanannya menjadi sebuah celurit yang panjang. Ia kemudian ingin merangkul leher Enok agar putus seketika.


Namun tepat sebelum saat itu terjadi, gerakan tangan kiri Enok jauh lebih cepat dari ayunan senjata celuritnya. Ia memanggil jarum Agulha dan langsung menusukkannya ke kepala iblis Rabatt.


Detik itu juga iblis Rabatt musnah dan berubah menjadi pasir hitam.


Enok kemudian berdiri dan melihat ke arah iblis Urait, ―"Aduh duh, padahal aku sudah mencoba menghentikannya. Tapi apa boleh buat, namanya juga iblis kelas rendah".


Iblis Urait berkedip sesaat dan Enok sudah tidak lagi terlihat dalam pandangan matanya. Tanpa disadari olehnya, Enok kembali melancarkan tendangan keras yang diselimuti aura kebencian ke kepala iblis tersebut.


BUAKK!!

__ADS_1


"Jangan samakan aku dengan iblis yang tadi anak manusia. Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa mendapatkan kekuatan itu hanya dalam waktu sekejap, tetapi akan kupastikan kau akan mati karena sudah berani menyerangku"


Iblis Urait menangkis tendangan keras kaki kanan Enok yang sudah di selimuti aura kebencian dengan cara melipatkan siku tangan kanannya. Dia nampak memasang wajah tersenyum untuk kedua mata topeng Ruwana yang menyala bewarna kuning tersebut.


__ADS_2