
Hari ini Galen tidak ke hotel karena ia sedang menghadiri acara pernikahan salah satu sahabatnya yang di rayakan di Jakarta. Galen sengaja pergi sendiri dan tidak membawa kedua anaknya karena Galen tidak ingin jika anaknya harus bolak-balik Jakarta - Surabaya.
Galen menitipkan kedua anaknya pada Bi Jum dan Bi Rum walaupun Galen merasa tidak enak jika harus merepotkan kedua Bibinya tapi Galen tidak punya pilihan lain.
Kini Galen sudah berada di bolleroom sebuah hotel berbintang. Tempat di mana di adakannya pernikahan salah satu cucu keluarga Pradipta yang tidak lain adalah Devano Denandra Pradipta dengan Sasya Alana kanya.
Galen langsung menghampiri Devano yang saat itu tengah menyambut para tamu undangan di acara pernikahan lelaki itu. Devano sempat kaget saat melihat Galen yang tengah menghampirinya dan Galen juga merasa terkejut saat melihat pancaran bahagia dari wajah sahabatnya itu.
Sudah lama sekali Galen tidak pernah melihat senyum yang terukir di wajah sahabatnya itu dan hari ini Galen justru melihatnya. Galen bersyukur, itu tandanya Devano sudah melupakan mantan kekasihnya yang tidak lain adalah Andine.
Beberapa menit kemudian.
Galen berdiri di barisan para tamu undangan. Galen terlihat menatap kearah kedua mempelai yang kini sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Galen merasa sangat senang mengetahui bahwa salah satu sahabat baik kini sudah tidak sendiri lagi. Karena sudah ada sosok wanita yang akan menyempurnakan iman lelaki itu tidak seperti dirinya yang kini justru duduk sendirian tanpa adanya sang istri di sampingnya.
Galen akhirnya menghampiri pasangan suami istri itu.
"Selamat atas pernikahan kalian. Aku turut bahagia bisa melihatmu menikah kawan, semoga kalian menjadi keluarga sakina mawadda warohma."
Ucap Galen dengan tulus sambil menyalami kedua mempelai yang saat ini tengah berbahagia.
"Terimakasih atas doanya."
Saut Alana yang tidak lain adalah istri dari sahabatnya itu dengan senyuman yang tulus. Dan Galen balas tersenyum kearah istri dari sahabatnya itu.
"Dimana istrimu, kenapa kau tidak datang bersamanya?"
Mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh sahabatnya itu membuat Galen terdiam.
Dulu saat Galen menikah Devano memang tidak bisa datang dan hanya memberikan kado lewat orang kepercayaan lelaki itu jadi Devano memang tidak pernah bertemu dengan Fiana.
"Dia sudah tidak bersamaku lagi. Jaga baik-baik istrimu jangan sia-sia kan dia karena aku tidak ingin nasibku terjadi juga padamu."
Galen bukannya ingin mendoakan yang tidak-tidak untuk sahabatnya itu. Galen hanya ingin mengingatkan pada Devano untuk menjaga baik-baik Alana supaya Alana tidak meninggalkan Devano seperti Fiana yang meninggalkannya.
Setelah itu Galen mulai pamit kepada pasangan pengantin itu.
Galen pergi dari atas pelaminan dan meninggalkan bolleroom hotel untuk segera pulang ke Surabaya karena percuma Galen disini jika ia hanya sendirian tanpa adanya sang istri di sampingnya dan kedua buah hatinya.
...πππ...
...Surabaya....
Hotelπ’
Lita sedari tadi merasa tidak bersemangat untuk bekerja pasalnya ia tidak bisa melihat wajah tampan lelaki pujaan hatinya itu.
Kini salah satu office girl terlihat berjalan mendekati Lita yang tengah berdiri di meja resepsionis.
"Maaf bu, jika saya mengganggu anda tapi saya kesini hanya ingin menanyakan apa hari ini saya harus membuatkan kopi untuk Pak Presdir?"
Tanya Hasna sudah berada di hadapan Lita. Lita terlihat menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan dari office girl di depannya itu.
__ADS_1
"Kau tidak perlu membuatkan kopi untuk Presdir karena hari ini Presdir tidak datang ke hotel."
Jelas Lita membuat Hasna terkejut karena tidak biasanya Presdir mereka itu tidak datang ke hotel.
Apa Presdirnya itu sedang sakit?
Atau mungkin anak Pak Presdirlah yang tengah sakit?
Pikir Hasna dalam hati menebak-nebak.
"Kenapa kau masih berada disini, cepat pergi. Kerjakan tugasmu yang lain."
Suruh Lita saat melihat Hasna masih berada di hadapannya. Hasna kini tersadar dari lamunanya dan langsung pamit untuk pergi.
Setelah kepergian Hasna. Masih di meja resepsionis.
"Memangnya kemana Pak Presdir? Tidak biasanya beliau tidak datang ke hotel?"
Reva bertanya karena merasa penasaran membuat Lita kini menatap kearah temannya itu.
"Presdir sedang menghadiri acara pernikahan salah satu rekannya di Jakarta."
Lita ternyata mengatakan yang sebenarnya pada Reva membuat Reva terkejut mendengar perkataan temannya itu.
"Kau serius?"
Reva seakan tidak percaya dengan ucapan yang di katakan temannya itu.
"Untuk apa aku berbohong, andai saja aku istri dari Presdir pasti saat ini akulah yang ia ajak untuk menghadiri acara itu."
Lita nampak mengandai-andai membuat Reva menatap malas kearah Lita.
Pikir Reva dalam hati. Hasna yang memang belum benar-benar pergi dari tempat itu bisa dengan jelas mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Aku harus memberitahukan hal ini pada Fiana."
Gumam Hasna segera pergi dari sana dan berjalan menuju pantry untuk segera memberitahukan kabar ini pada sahabatnya itu.
...πππ...
Di ruang pantry.
Hasna yang baru saja masuk ke dalam pantry. Hasna bisa melihat jika orang yang tengah ia cari sedang berada disana bersama dengan Tina.
"Hasna, kau dari mana?"
Tanya Tina yang melihat ke datangan sahabatnya itu.
"Aku tadi pergi menemui Manager Lita untuk menanyakan apa aku harus membuatkan kopi untuk Pak Presdir."
Jawab Hasna seadanya membuat Fiana dan Tina saling menatap satu sama lain.
"Bukankah kau sudah biasa membuatkan minuman untuknya. Kenapa kau harus bertanya pada Manager Lita lagi."
Fiana kini yang bersuara. Dia merasa aneh pada sahabatnya itu untuk apa repot - repot bertanya pada Manager mereka itu.
__ADS_1
"Aku tahu, tapi hari ini Manager Lita mengatakan padaku jika Presdir tidak datang ke hotel!"
Seru Hasna memberitahu pada kedua sahabatnya itu. Membuat keduanya sempat terkejut karena tidak biasanya Presdir mereka itu tidak datang ke hotel ini.
"Kenapa? Apa Galen tengah sakit atau anaknya yang mungkin sedang sakit."
Tina nampak menebak-nebak. Membuat Fiana merasa khawatir.
"Aku juga sempat berpikir hal yang sama denganmu Tina. Tapi ternyata Presdir tidak datang ke hotel karena dia tengah menghadiri acara pernikahan salah satu rekannya."
Hasna menjelaskan membuat Fiana menghela nafas lega.
"Menurutmu Fiana, Galen datang ke acara pernikahan siapa?"
Tina menanyakan hal yang jelas tidak di ketahui oleh Fiana.
"Mana aku tahu."
Fiana berkata dengan cepat membuat Tina berdecak mendengar jawaban yang di berikan sahabatnya itu.
"Aku memang tidak tahu. Jika kau memang ingin tahu, kenapa tidak kau tanya saja langsung pada orangnya."
Fiana berkata tanpa mau menatap lawan bicaranya karena ia juga kesal dengan pertanyaan yang di ajukan sahabatnya itu.
"Kau ini kan istrinya. Apa salahnya jika aku menanyakan hal ini padamu."
Tina rupanya ingin membuat Fiana kesal.
"Tentu saja salah. Bukankah sudah sering ku katakan padamu jika dia hanyalah mantan suamiku."
Fiana kembali memberitahukan pada sahabatnya itu bahwa di sudah berpisah dari Galen.
"Tapi kau dan dia belum benar-benar berpisah."
Tina juga mengingatkan akan status sahabatnya itu yang memang belum berpisah dengan Galen.
"Aku tidak ingin membahas masalah itu lagi, lebih baik aku kembali bekerja."
Setelah mengatakan itu Fiana terlihat berjalan keluar dari ruang pantry dan meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Hasna dan Tina sama-sama menatap kepergian sahabatnya itu.
"Sampai kapan dia akan terus seperti itu."
Gumam Tina sambil menatap pintu yang sudah tertutup. Hasna hanya mampu terdiam mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu karena bagi Hasna. Ia tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga sahabatnya itu.
...πππ...
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.
Terimakasih. πππ
Jangan lupa tinggalkan komentar kalian πππ
__ADS_1
Salamku (twins_identik) dan Patimah_WIZONE