FIANA Sequel Pengantin Yang Tertukar

FIANA Sequel Pengantin Yang Tertukar
Eps 20 Kesempatan Kedua


__ADS_3


Fiana terlihat bimbang apakah dia harus menekan bel rumah di depannya itu atau berbalik untuk pergi dan mengurungkan niatnya untuk bertemu kedua anak kembarnya.


Sore ini Fiana tengah berada di depan rumah Galen, dia ingin sekali bertemu kedua anaknya. Maka dari itu dia langsung datang kesini padahal di luar tampak mendung dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan.


Bahkan udara sore ini tampak dingin dan Fiana lupa membawa jaket miliknya. Terdengar helangan nafas Fiana dan


Ting... tung...


Fiana akhirnya menekan bel di samping pintu dan mulai menunggu seseorang membukakan pintu untuknya, Fiana mengelus kedua lengannya saat merasakan udara dingin yang menusuk sampai ketulang - tulang tubuhnya.


Tidak biasanya sesore ini udara di kota Surabaya tampak dingin.


Cklek...


Pintu di depannya tiba-tiba saja di buka oleh seseorang dari dalam. Tak lama kemudian muncul sosok seorang lelaki yang amat sangat dia kenal, Galih.


Bagaimana bisa lelaki itu berada disini!! Apakah Galen tidak tinggal sendiri di Surabaya?


"Fiana..."


Galih tidak percaya saat melihat sosok wanita di depannya itu. Fiana tampak semakin cantik dengan balutan dress yang dia pakai.



Setahun lebih tidak bertemu dengan Fiana, wanita itu menjadi sosok yang sangat dewasa.


"Kak Galih..."


Fiana tidak kalah terkejut saat melihat sosok lelaki di depannya itu.


Fiana terlihat mundur satu langkah dan berdiri canggung di depan Galih.


"Kau mencari Galen?"


Galih akhirnya bersuara memecahkan kecanggungan ini. Dia tahu bahwa Fiana terlihat tidak nyaman berdiri di depannya.


Fiana hanya menganggukan kepalanya dengan pelan. "Masuklah, Galen ada di dalam." Ajak Galih sambil membuka pintu rumah lebih lebar lagi.


Membiarkan Fiana masuk ke dalam rumah Galen.


"Aku menunggu disini saja." Ucapan Fiana membuat Galih hanya menganggukan kepalanya. Membiarkan Fiana di ruang tamu sedangkan dirinya pergi memanggil Galen.


Fiana menatap bingkai foto di depannya dengan tatapan tidak percayanya.



Bukankah itu foto dirinya. Jadi benar Galen sudah melupakan Felly dan mulai mencintainya.


Ada perasaan hangat hinggap di relung hatinya. Senyuman tampak terbit dari bibir Fiana.


"Fiana..."


Panggilan seseorang mengalihkan perhatian Fiana dari bingkai foto di depannya itu.


Fiana tersenyum saat menemukan sosok Galen dalam balutan kaos polos berwarna biru dengan celana pendek selutut.



Galen tampak sangat tampan di mata Fiana. Dan Fiana mulai gugup saat mengetahui bahwa Galen juga tengah mengamati penampilannya sore ini.

__ADS_1


Sebuah senyuman tampak terbit dari bibir Galen. Senyum yang dulu jarang sekali Galen tunjukkan padanya. Tapi sekarang sepertinya senyum itu mewakili perasaan Galen saat ini.


"Fiana, kau datang. Kenapa tidak mengabariku sebelumnya jika kau ingin datang kesini!"


Akhirnya Galen berjalan untuk mendekat kearah Fiana. "Apakah kau keberatan jika aku datang kesini? Apa aku mengganggumu?"


Fiana bertanya karena merasa Galen tidak menyukai kedatangannya itu. Bukan jawaban yang Fiana dapatkan dari Galen, justru dia terkejut saat merasakan lengan kekar itu saling melingkar di pinggang ramping Fiana.


"Tetap seperti ini dulu, Fiana. Aku ingin memelukmu." Pinta Galen saat mengetahui bahwa Fiana ingin melepaskan pelukannya.


Fiana akhirnya mengurungkan niatnya untuk melepaskan pelukan Galen padanya. "Kau salah paham padaku, Fiana. Aku senang saat melihatmu disini, jika aku tahu kau akan datang kesini. Aku pasti akan menjemputmu."


Galen akhirnya menjelaskan maksudnya agar Fiana tidak salah paham padanya. Sambil merapatkan tubuh Fiana kearahnya.


Deg...


Deg...


Deg...


Fiana bisa merasakan jantungnya berdetak dengan cepat dalam pelukan hangat Galen. Dan Fiana tampak membulatkan matanya saat mengetahui bahwa jantung Galen pun berdetak tidak kalah cepat darinya.


Apalagi kepalanya tepat berada di depan dada bidang milik Galen. Entah mengapa dia sangat senang saat mengetahui hal itu.


Hatinya ikut menghangat seperti tubuhnya yang kian menghangat karena pelukan Galen padanya.


Rasa dingin yang sempat dia rasakan tadi berubah begitu cepat hanya karena pelukan Galen.


"Kau mendengarnya?"


Tiba-tiba saja Galen bersuara tanpa melepaskan pelukannya pada tubuh Fiana.


"Maksudmu?"


"Jantung ku berdetak dengan cepat saat berada di dekatmu. Hanya di dekatmu, tidak saat berada di dekat wanita lainnya."


Fiana tampak tidak percaya saat mendengar penuturan dari Galen. "Benarkah? Tidak pada Felly juga?"


Fiana yang penasaran langsung bertanya pada Galen. Untuk sesaat Galen melepaskan pelukannya pada tubuh Fiana, hanya untuk menatap wajah istrinya. Tanpa memberikan jarak diantara mereka.


"Jantungku tidak berdetak dengan cepat sekalipun berada di dekat Felly. Percayalah sayang, meski dulu kami pernah menjadi pasangan kekasih tapi sekalipun aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini padanya. Hanya perasaan nyaman."


Ucap Galen dengan nada yang lembut bahkan sebelah tangan lelaki itu dia gunakan untuk mengangkat dagu Fiana dengan pelan. Agar Fiana mau menatapnya.


Fiana tidak menolak. Justru Fiana kini tampak menatap kedua bola mata Galen berusaha mencari - cari kebohongan disana. Tapi justru sebaliknya, dia melihat kejujuran dari kedua bola mata Galen.


"Ku mohon percayalah padaku. Aku hanya mencintaimu."


Mendengar nada lembut dari bibir Galen membuat Fiana tanpa sadar menganggukan kepalanya.


Senyuman itu terbit di bibir Galen saat melihat anggukan di kepala Fiana, dengan berani Galen menangkup kedua pipi Fiana dengan kedua tangan hangatnya.


Chup...


Satu kecupan mendarat di kening Fiana.


Fiana tampak terkejut saat merasakan kecupan di keningnya. Dia menatap Galen yang masih tersenyum padanya. Dan kembali Galen memeluk tubuh Fiana.


...💜💜💜...


Fiana menatap wajah - wajah polos itu dengan tatapan haru.

__ADS_1


Bagaimana tidak sekarang, dia bisa melihat dengan jelas kedua anak kembarnya tanpa takut ketahuan oleh Galen seperti dulu.


Sekarang justru dia bisa bebas melihat kedua anaknya. "Sayang... Aufa... Aura... ini Bunda, Nak. Bunda minta maaf karena setahun yang lalu Bunda tidak berada disamping kalian. Tapi Bunda janji, mulai hari ini Bunda akan menebus semuanya dengan berada di samping kalian. Kalian maukan memaafkan Bunda."


Ucap Fiana dengan suara lirihnya. Air matanya tidak bisa ia bendung saat melihat kedua wajah polos anaknya.


Rasa bersalah karena meninggalkan kedua anaknya dan perasaan bahagia karena bertemu kedua anaknya sekarang membuat air mata Fiana menetes dengan derasnya. Membasahi kedua pipinya.


Fiana mencoba membekap bibirnya dengan sebelah tangannya agar tangisannya tidak terdengar dan membangunkan kedua anaknya yang sedang tertidur di box bayi mereka.


Sebelah tangan lainnya sibuk mengusap air matanya yang tidak berhenti untuk membasahi kedua pipinya.


Tiba-tiba saja ia merasakan seseorang merengkuh tubuhnya dari arah belakang dan kedua tangan kekar melingkar diatas perutnya.


"Jangan menangis sayang... Aufa dan Aura tidak pernah menyalahkanmu."


Bisik Galen dengan lembut. Bahkan kini Galen meletakan kepalanya di bahu kanan Fiana. Menatap Fiana dengan tatapan lembutnya.


"Kau Bunda terbaik untuk mereka dan istri terbaik untukku. Jadi percayalah tidak ada satupun dari kami yang akan menyalahkan kepergianmu itu."


Tambah Galen masih dengan nada lembutnya. Ajaibnya air mata Fiana langsung berhenti sesaat setelah mendengar ucapan Galen.


Melihat istrinya yang sudah mulai tenang Galen akhirnya melepaskan pelukannya di tubuh Fiana. Lalu ia membalik tubuh istrinya itu.


Tangannya terulur untuk menghapus sisa sisa air mata yang membasahi pipi istrinya itu.


"Maafkan aku, tolong maafkan aku karena aku sudah begitu tega meninggalkan kalian. Kau pasti kesulitan mengurus Aufa dan Aura. Maaf karena aku lebih mementingkan egoku dari pada perasaan mu. Kau maukan memberikan aku kesempatan kedua? Aku janji aku.."


Ucapan Fiana tampak terhenti saat ia merasakan puncak kepalanya di elus dengan lembut. Fiana tidak berani untuk menatap wajah lelaki di depannya itu.


Dia terlalu malu dan gugup.


"Tidak, sayang. Jangan minta maaf padaku. Kau tidak bersalah sama sekali. Jika saja dulu aku lebih peka dan jujur padamu, mungkin kau tidak akan memilih untuk pergi dari kami. Maaf karena aku terlambat untuk menyadari bahwa kaulah satu - satunya wanita yang mengisi hatiku saat itu dan saat ini. Kau mau kan memaafkan semua kesalahanku dan memulai hidup baru bersama ku dan keluarga kecil kita? Aku janji, aku akan menjadi suami yang baik untukmu dan Ayah yang baik untuk kedua anak kita."


Pinta Galen dengan lembut. Fiana tampak mendongak dan mata mereka akhirnya saling bertemu.


Fiana bisa melihat ke sungguhan Galen lewat kedua matanya. Tanpa ragu Fiana menganggukan kepalanya.


"Kau serius sayang?"


Galen yang tidak percaya kembali bertanya pada Fiana.


"Aku mau memulai semuanya lagi bersamamu. Aku ingin kembali bersama kalian."


Jawab Fiana dengan yakin sambil memeluk tubuh Galen dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Terimakasih sayang. Terimakasih karena kau mau kembali bersama kami."


Galen balik memeluk tubuh Fiana dengan erat dan mengecup puncak kepala istrinya itu.


Akhirnya perjuangannya selama satu tahun ini tidak sia-sia.


Di balik pintu Ibu Galen, Galih, Bi Rum dan Bi jum tampak meneteskan airmata haru mereka saat melihat Galen akhirnya bersatu kembali dengan Fiana.


Mereka mulai pergi dari tempat itu membiarkan Galen dan Fiana berdua.


...💙💙💙...


Bersambung.


Salamku dan Patimah_WIZONE

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komentar dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.



__ADS_2