
Galen sendiri langsung maju selangkah berdiri tepat di samping wanita berseragam office girl. Tanpa melepaskan tangannya dari lengan wanita itu.
Dan betapa terkejutnya Galen saat dia melirik kesampingnya. Seseorang yang selama ini di carinya justru kini berada tepat disampingnya.
"Jangan coba - coba mencampuri urusanku, Tuan. Lebih baik kau urusi saja urusanmu sendiri."
Doni, menatap Galen dengan tatapan tajamnya sambil berusaha menarik lengan Fiana kembali.
Tapi dengan cepat Galen justru menahan tangan Doni yang berada di lengan Fiana dan melepaskannya dengan mudah. Lalu Galen menarik pelan lengan Fiana agar berlindung di belakang tubuhnya.
Fiana tampak menurut, dia berdiri tepat di balik punggung tegap Galen.
Entah mengapa rasanya dia merasa aman berada di belakang Galen seperti ini.
"Ini justru akan menjadi urusanku karena dia adalah istriku. Dan siapa kau berani membawa paksa istriku?"
Galen kini berdiri tepat di depan Doni dengan tatapan tak kalah tajamnya. Jangan lupakan nada suara Galen yang tampak dingin itu.
Doni justru bersedakep dan menatap Galen dengan tatapan meremehkan sesaat setelah mendengar penuturan dari Galen.
"Hahaha... Jangan bercanda, Tuan. Aku tahu bahwa Fiana itu masih sendiri.ย Anda, jangan mengaku-ngaku sebagai suaminya, karena apa? karena saya lah yang akan menjadi suaminya."
Ucap Doni dengan nada bicara yang terdengar sangat menyebalkan untuk Galen. Galen sendiri tampak mengepal kedua tangannya yang berada tepat disisi tubuhnya. Berusaha meredamkan emosinya yang akan naik.
Sedangkan Fiana dan Pak Han yang diam menjadi penonton.
"Bagaimana jika saya berikan anda satu penawaran. Saya yakin anda pasti akan suka dengan penawaran yang saya berikan. Bagaimana jika kita sama - sama merasakan tubuhnya dan kita bisa sama - sama mendapatkan kepuasan bukan!"
Bug...
Sesaat setelah Doni menyelesaikan ucapannya dengan cepat Galenย menghadiahkan satu pukulan di wajah Doni yang menurutnya sangat menyebalkan.
Hingga membuat Doni yang tidak siap justru langsung terjatuh di lantai yang dingin. Fiana yang melihat kejadian itu nampak terkejut. Begitupula dengan Pak Han.
Pria parubaya itu baru pertama kali melihat Galen memukul seseorang.
"Ck... brengsek..."
Cibir Doni sambil mengusap darah di sudut bibirnya karena ulah Galen. Pukulan Galen memang sangat keras dan terasa sakit.
Tapi sebagai seorang pria pukulan itu tidak ada apa - apanya untuk dirinya.
"Berani kau mengatakan hal seperti itu lagi di depanku, aku tidak akan segan - segan membuatmu terkapar di rumah sakit."
Galen tidak main - main dengan ucapannya itu. Suami mana yang tidak akan marah saat mendengar penawaran Doni mengenai istrinya.
Bagaimana mungkin, dia merelakan tubuh istrinya di nikmati lelaki lain !!!
Dia akui dia memang brengsek!!!
Tapi dia tidak akan pernah membiarkan lelaki di depannya itu menyentuh istrinya!!!
Tidak, akan.
Gumam Galen membayangkannya saja dia tidak akan rela.
Galen kini berbalik dan menarik pelan tangan Fiana agar mengikutinya.
Tapi baru beberapa langkah, suara Doni yang keras justru menghentikan Galen.
"Rupanya kau mau menikmati tubuh wanita itu sendiri. Jangan, begitu! Bukankah kita bisa berbagi. Atau begini saja beritahu saya berapa harga untuk bisa menikmati tubuh wanita itu dalam semalam penuh? Supaya saya juga bisa merasakannya! Bukankah kita saling menguntung..."
Galen dengan cepat berbalik sambil melepaskan tangan Fiana. Dan dengan langkah lebarnya dia berjalan mendekati Doni,
Bug...
Bug....
Bug....
__ADS_1
Tiga pukulan bertubih - tubih di layangkan Galen pada Doni tanpa ampun.
Membuat Fiana menjerit karena terkejut. Apalagi saat dia melihat Galen dengan wajah marahnya yang sangat menyeramkan.
Baru kali ini dia melihat Galen seperti itu. Apa ini semua karenanya.
"Ck... Berani sekali kau memukulku, Tuan. Rasakan ini..."
Doni yang tidak terima balik membalas memukul Galen tepat di wajah tampan Galen.
Lagi - lagi Fiana tampak terkejut. Bahkan kini Pak Han berjalan mendekati mereka berdua.
"Apa istimewa jalang itu sampai pemilik hotel ini begitu melindunginya. Apa dia ternyata adalah jalangmu?"
Pertanyaan Doni justru di balas dengan pukulan yang bertubih - tubih di perut Doni.
"Jangan pernah kau berani menyebut istriku dengan panggilan itu. Jika kau benar - benar mau selamat dariku."
Kali ini Galen tak main - main.
"Dia memang jalang..."
Bug...
Bug...
Bug....
Entah sudah ke berapa kalinya Galen memukul Doni. Yang dia tahu tiba - tiba saja lengannya di tahan seseorang.
"Cukup Galen, kau bisa membunuhnya."
Ucap Fiana sambil berusaha menahanย kepala tangan Galen yang akan menghajar Doni untuk kesekian kalinya.
Sedangkan Doni yang memang tidak terlalu bisa berkelahi hanya bisa mencoba bertahan.
"Menjauhlah dari sini, Fiana."
"Tuan, cukup... biarkan saya yang menyelesaikan semua ini. Lebih baik anda membawa pergi nyonya dari sini."
Pak Han sudah berada tepat di samping Galen. Akhirnya Galen melepaskan cengkramannya dari kera baju Doni.
Tanpa kata dia langsung membawa pergi Fiana.
Doni menatap punggung keduanya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan
...๐๐๐...
Mereka kini tengah berada di dalam ruangan Galen. Fiana terlihat tengah mengompres pipi kanan Galen yang membiru akibat pukulan Doni tadi.
Tanpa mengatakan apapun. Galen sendiri hanya diam saat melihat Fiana yang tengah sibuk mengompres wajahnya.
Di dalam hatinya, Fiana merasa sangat gugup karena ke dekatan mereka ini.
Dia bahkan bisa mencium bau parfum yang di pakai Galen. Parfum yang dulu selalu di pakai Galen saat mereka masih bersama.
"Aku benar - benar tidak tahu bahwa kau bekerja disini."
Galen akhirnya memulai pembicaraan mereka setelah lama mereka hanya saling diam.
"Aku sudah selesai mengompres wajahmu. Dan terimakasih karena kau sudah repot - repot menolongku. Aku pamit."
Fiana akhirnya mulai beranjak dari tempat duduknya tapi lengannya di tahan oleh sebelah tangan Galen.
"Kau tidak perlu berterimakasih padaku, Fiana. Sudah jadi tanggungjawabku untuk melindungimu. Karena kau istriku dan ibu dari anak - anakku."
Penuturan Galen membuat Fiana tampak menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Galen. Kau bukan lagi suamiku sejak setahun yang lalu. Kau harus ingat bahwa sekarang kau sudah menikah dengan Felly. Jadi jangan seperti ini lagi. Biarkan aku pergi sekarang."
Pinta Fiana kali ini giliran Galen yang menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Fiana, kau harus tahu. Bahwa sejak setahun yang lalu kau masih istriku dan sekarang pun kau tetap istriku. Aku tidak pernah sekalipun menikah dengan adikmu. Aku tahu dulu aku bersalah padamu, aku sudah mengecewakanmu dan juga menyakitimu. Tapi aku sudah berubah, sejak kau pergi dari ku setahun yang lalu. Aku sadar bahwa kaulah wanita yang aku cintai dan bukan Felly, tolong berikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Untuk membuktikan padamu, bahwa aku hanya mencintaimu..."
Penjelasan panjang lebar Galen tidak membuat Fiana percaya.
Galen tidak mungkin mencintainya.
Tidak mungkin!!!
Fiana sulit mempercayai apa yang baru saja di dengarnya itu.
Bagaimana mungkin Galen mencintainya dan bukan Felly, apa itu mungkin???
"Apa belum cukup dulu kau menyakitiku dan sekarang kau berusaha untuk menyakiti diriku lagi dengan berpura - pura mengatakan bahwa kau mencintaiku. Apa kau pikir aku akan percaya padamu. Lalu kembali padamu, tidak."
Seru Fiana dia takut untuk mempercayai semua ucapan Galen padanya.
"Fiana, sayang. Kau harus tahu aku tulus mencintaimu dan aku tidak berbohong. Tolong percayalah, setidaknya izinkan aku untuk membuktikan semuanya padamu."
Galen, mengatakan itu sambil memegang kedua tangan Fiana. Fiana kini hanya terdiam sambil menatap kearah kedua mata Galen berharap dia bisa menemukan sebuah kebohongan, tapi dia sama sekali tidak menemukan sebuah kebohongan di kedua bola mata Galen. Yang ada justru sebaliknya.
"Beri aku waktu untukku berpikir, semuanya."
Akhirnya Fiana mengatakan itu. Dia akan berusaha memikirkan ucapan Galen padanya.
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Aku akan selalu menunggumu untuk kembali bersama dengan kami. Aku dan anak - anak akan selalu menunggumu."
Ucap Galen dengan nada yang lembut. Sedangkan Fiana hanya diam. Keduanya terdiam dengan pikiran masing - masing.
"Apa aku bisa bertemu anak - anakku?"
Pinta Fiana setelah terdiam cukup lama. Dan melirik kearah Galen.
"Tentu, kau boleh menemui mereka. Aufa dan Aura pasti akan senang bertemu dengan Bundanya."
Fiana tersenyum dengan lebar saat mendengar ucapan Galen.
Setelah itu Galen justru menceritakan tumbuh kembang kedua anak kembarnya semenjak Fiana pergi.
...๐๐๐...
Galen baru saja masuk ke dalam kamar kedua anaknya. Galen tampak tersenyum saat melihat kedua anaknya yang tampak terlelap di dalam box bayinya.
Malam ini dia memang baru pulang pukul 22.00 malam, karena harus lembur di hotel. Ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan.
"Sayang, anak - anak ayah. Kalian harus tahu bahwa ayah sudah bertemu dengan Bunda kalian. Ayah janji, Ayah akan berusaha membujuk Bunda kalian untuk kembali bersama dengan kita. Tapi kalian juga bisakah doakan Ayah agar Bunda kalian bisa memaafkan semua kesalah Ayah."
Galen mengatakan itu dengan suara yang pelan. Teramat pelan malah. Dia memang tidak ingin membangunkan kedua anaknya.
Chup...
Chup...
Galen mengecup kening kedua anaknya bergantian dan tersenyum saat melihat sebuah senyuman terbit di bibir kedua anaknya.
"Kalian pasti bermimpi tentang Bunda ya, makanya kalian tersenyum dalam tidur kalian. Setelah ini kalian tidak perlu lagi bermimpi hanya untuk bertemu dengan Bunda. Karena Ayah akan membawa kalian untuk bertemu dengan Bunda."
Setelah mengatakan itu Galen akhirnya berbalik untuk keluar dari dalam kamar kedua anaknya. Dia tidak ingin mengganggu tidur kedua anak kembarnya.
...๐๐๐...
Bersambung...
Terimakasih sudah menunggu cerita ini....
Jangan lupa like, vote, dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.
Jangan lupa juga tinggalkan komentar kalian ya.
Salam ku dan @Patimah_WIZONE.
__ADS_1