FIANA Sequel Pengantin Yang Tertukar

FIANA Sequel Pengantin Yang Tertukar
Eps 3. Kesepian


__ADS_3

Malam harinya.


Fiana pov


"Aku sudah memutuskan besok aku akan berhenti bekerja di hotel."


Ucap ku tiba-tiba membuat Hasna dan Tina yang tengah makan kini menatap ke arahku secara bersamaan.


"Apa yang kau katakan, Fiana? aku benar - benar tidak akan pernah setuju jika kau keluar dari hotel dengan cara seperti ini."


Tina langsung menolak keputusanku yang menurutnya tidak masuk akal itu. Dia bahkan kini meletakkan sendok di atas piring dengan cukup keras saat mendengar keputusan sepihak ku.


"Aku berkata apa adanya, kalau kalian tidak setuju terserah kalian. Tapi aku akan tetap keluar dari sana!"


Seru ku pada mereka. Keputusanku sudah bulat untuk keluar dari tempat itu.


"Tapi apa yang membuatmu ingin keluar dari hotel Fiana?"


Hasna bertanya asalanku keluar dari hotel. Hasna memang tidak tahu dengan masa laluku.


"Jangan katakan kau keluar karena dia berada disini."


Tebakan Tina memang benar.


Aku memang keluar karena alasan itu. Tapi aku tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada mereka.


"Tidak aku hanya lelah bekerja di hotel."


Elakku cepat sangat cepat malah dan itu membuat keduanya kini langsung menatap ku dengan tatapan curiga mereka.


"Kau tidak bisa membohongiku, Fiana. Aku tahu kau keluar karena Galen berada disini, bukan!"


Ucapan Tina membuatku kini hanya bisa diam. Hasna terlihat terkejut mendengar ucapan Tina barusan.


Mungkin dia berpikir apa hubungan ku dengan Galen???


"Sampai kapan kau akan menghindar terus dari masalahmu itu, Fiana? Sampai kapan?"


Tanya Tina terlihat benar-benar kesal padaku. Aku tetap hanya bisa diam.


Aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku akan terus menghindar seperti ini dari Galen!!!


Yang jelas sampai aku merasa cukup kuat untuk bertemu dengannya!!!


Gumamku dalam hati.


"Apa kau pikir jika kau menghindarinya terus lalu masalahmu itu bisa cepat selesai? Tidak! Yang ada masalahmu malah akan bertambah rumit, Fiana."


Tina memarahiku habis - habisan. Aku masih diam di tempatku. Tanpa merespon ucapan Tina.


"Jika dulu kau menghindarinya aku masih bisa memakluminya. Tapi sekarang, sudah 1 tahun kau menghindarinya apa kau akan terus seperti ini? Cobalah untuk menyelesaikan masalahmu itu Fiana. Walaupun hasil nanti tidak akan memuaskanmu."


Tina kini mendekatiku dan memegang tanganku.


"Apa yang di katakan Tina memang ada benarnya juga Fiana. Kau tidak bisa terus-menerus bersembunyi darinya. kau harus bisa menghadapi kenyataan ini. Mungkin pertemuan ini adalah pertanda agar kau dan dia bisa menyelesaikan masalah kalian!"


Seru Hasna memberikan saran padaku. Walaupun aku yakin Hasna tidak begitu mengetahui masalahku tapi perkataannya membuatku sadar.


Bahwa aku memang harus menyelesaikan masalah ku dengannya, tapi aku!!!


"Tapi aku belum siap untuk bertemu dengannya."


Aku benar-benar belum siap jika harus bertemu Galen untuk saat ini.


"Tidak harus sekarang kau bertemu dengannya, Fiana. Kau bisa bertemu dengannya saat hatimu sudah siap, tapi ingat jangan mengulur - ulur waktu mu terlalu lama karena masalah kalian memang harus di bicarakan secepatnya. Agar semuanya jelas."


Tina langsung menatapku. Dan aku hanya bisa mengangguk sebagai tanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Tina.


"Kau tidak akan keluarkan dari hotel itu, Fiana?"


Hasna bertanya untuk memastikan padaku. Apa aku akan tetap keluar dari hotel itu atau tidak!!!


Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Hasna karena kini aku tampak menarik nafasku dan menghembuskan secara perlahan.


"Tidak! Benar yang kalian katakan, aku harus bisa menghadapi semua ini. Terima kasih karena kalian selalu ada untukku."

__ADS_1


Aku kini memeluk berdua sahabatku. Tanpa mereka aku mungkin tidak akan sekuat seperti sekarang ini!!!


Fiana pov end.


...💖💖💖...


Galen terlihat tidak bisa tidur seperti biasanya. Sejak kepergian istrinya itu Galen memang selalu sulit untuk tidur saat malam hari. Jadi ia memutuskan untuk tidak tidur sebelum dirinya benar - benar mengantuk.


Ia kini tengah memikirkan Fiana seperti biasanya. Tiada hari tanpa memikirkan istrinya itu.


Ia berpikir apa di luar sana istrinya bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak!!!


Apa istrinya itu bisa tetap makan enak di luar sana???


Apa istrinya itu merindukan dirinya serta merindukan kedua anak mereka ???


Apa hanya dirinya yang selalu merasa kesepian karena tidak adanya Fiana di hidupnya!!!


Apa justru Fiana juga merasakan hal yang sama seperti yang ia dan kedua anaknya rasakan!!!


Galen hanya bisa bertanya - tanya dalam hatinya tanpa bisa mengetahui jawaban dari semua pertanyaan itu.


Setelah Fiana pergi meninggalkan dirinya, hidupnya benar-benar hancur.


Galen baru sadar sekarang, jika Fiana sangat berarti untuknya!!!


Lebih tepatnya ia sangat mencintai sosok istrinya itu, istrinya yang kini sudah pergi meninggalkannya dan kedua anak mereka karena kebodohan dirinya sendiri!!!


Jika dulu ia bisa berterus terang pada Fiana, bahwa dirinya mencintai Fiana. Mungkin sekarang Fiana masih berada di sampingnya dan bersama - sama membesarkan kedua anak mereka.


Tapi saat itu Galen masih terlalu pengecut untuk mengakui bahwa ia mencintai Fiana. Dan Felly sudah tidak berada di hatinya lagi, entah sejak kapan!!!


Ia sekarang hanya bisa menyesali semua yang telah terjadi padanya.


Pada kehidupan rumah tangganya!!!


Kembali Galen hanya bisa mendesah pelan, karena kecewa pada dirinya sendiri. Yang dulu terlalu pengecut untuk mengakui pada istrinya itu bahwa ia sebenarnya takut untuk kehilangan istrinya itu.


Dan sekarang semuanya sudah terlalu terlambat untuk dirinya menyesali semua yang telah terjadi di masa lalu karena kebodohannya sendiri!!!


Ia memang tidak bisa membalikan keadaan seperti dulu lagi.


Yang bisa ia lakukan sekarang adalah menemukan Fiana dan memberitahukan pada Fiana bahwa ia benar-benar mencintai Fiana.


Hanya Fiana dan bukan wanita lain apalagi Felly, karena baginya Felly hanya masa lalu untuknya.


Masa sekarang dan masa depannya, ia menginginkan untuk bisa selalu bersama dengan Fiana serta keluarga kecilnya!!!


"Den Galen belum tidur?"


Tiba-tiba suara Bi Rum terdengar dari arah belakang dan menyadarkan Galen dari lamunanya tentang istrinya itu.


Bi Rum kini terlihat mendekati majikannya itu yang saat ini tengah duduk di sofa ruang tv sendirian.


"Aku belum mengantuk, Bi."


Jawab Galen jujur. Untuk apalagi ia berbohong pada wanita parubaya itu. Karena ia yakin Bi Rum sudah terlalu mengenal dirinya sejak ia masih kecil.


"Apa mau Bibi buatkan sesuatu untuk, Aden?"


Bi Rum bertanya pada anak majikannya itu. Mungkin Galen butuh sesuatu.


"Tidak perlu Bi, aku tidak ingin apapun sekarang."


Tolak Galen dengan halus. Tanpa menatap kearah Bi Rum.


"Sebenarnya aku hanya ingin Fiana berada disini bersamaku."


Lanjut Galen hanya dalam hatinya. Dan ia kini mengalihkan pandangan dari layar tv di depannya itu.


"Apa Aufa dan Aura sudah tidur, Bi? "


Galen bertanya karena ia tidak melihat kedua anaknya sejak tadi.


"Sudah, Den. Nona Aura dan Den Aufa sudah tidur sejak 1 jam yang lalu."

__ADS_1


"Kalau begitu Bibi boleh tidur sekarang. Terima kasih karena Bibi mau menjaga anak-anakku."


Ucap Galen dengan tulus dan tersenyum menatap Bi Rum. Bi Rum tahu jika majikannya itu sedang kesepian sekarang.


Terlihat jelas dari ekspresi wajah Galen sekarang. Ekspresi yang sama saat Galen tahu Fiana pergi meninggalkannya bersama kedua anaknya.


Bi Rum berharap bahwa Galen bisa segera menemukan Fiana!!!


Dan Galen tidak akan lagi menampakan ekspesi kesepian itu lagi di hadapannya!!!


"Sama-sama, Den. Kalau begitu Bibi pamit tidur dulu. Jika Aden butuh sesuatu tinggal panggil Bibi saja."


Galen hanya mengangguk sebagai jawaban atas ucapan Bi Rum itu.


Setelah itu Bi Rum berjalan pergi meninggalkan Galen sendirian di ruang tv.


Huft...


Galen menghela nafasnya dan mulai mematikan tv di depannya. Lalu mulai berjalan pergi untuk ke kamar anak - anaknya.


Galen menatap wajah tidur kedua anak - anaknya. Ia merasa bersalah pada kedua anaknya karena secara tidak langsung dirinya lah yang sudah memisahkan mereka dari Bundanya.


"Maafkan Ayah anak - anakku. Maaf karena Ayah sudah memisahkan kalian dari Bunda. Maaf karena Ayah kalian jadi tidak bisa merasakan kasih sayang seorang Bunda. Maaf karena keegoisan Ayah kalian jadi menanggung akibatnya. Maaf... Ayah sangat merasa bersalah pada kalian. Tapi Ayah janji, Ayah akan terus mencari keberadaan Bunda kalian. Dan membawa Bunda kalian ke tengah - tengah kita lagi. Tapi kalian harus terus mendoakan Ayah supaya Ayah bisa segera bertemu dengan Bunda kalian."


Ucap Galen panjang lebar dengan suara yang pelan. Ia tidak berniat untuk mengusik tidur kedua anaknya, tidak.


Tes...


Tanpa terasa air mata Galen jatuh membasahi kedua pipinya.


Galen bukannya cengeng tapi ia hanya terlalu merindukan istrinya itu.


Sudah satu tahun berlalu tanpa kehadiran istrinya itu di tengah - tengah mereka. Ia merasa ada sebuah kekosongan di dalam hidupnya.


Tiba-tiba suara tangisan salah satu anaknya terdengar sangat kencang dan membuat Galen sempat panik. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Galen dengan sigap langsung mengendong putrinya itu.


Ya, Aura akan selalu menangis setiap kali melihat dirinya menangis. Bayi berumur satu tahun itu sepertinya mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Ayahnya.


Sedangkan Aufa sang kakak masih terlelap dalam mimpinya. Jagoan kecilnya itu tampaknya tidak terusik sama sekali dengan tangisan yang di buat adiknya itu. Dan Galen bersyukur karena Aufa tidak ikut terbangun seperti Aura.


"Sayang... Cup.. Cup... Kenapa menangis hm??? Mimpi buruk ya!!! Atau kangen sama Bunda? Bobo ya sayang."


Ucap Galen sambil menimang putrinya itu berharap Aura bisa kembali tertidur seperti Aufa. Dan tidak lama kemudian Aura sudah mulai kembali terlelap di dalam gendongannya.


Dengan pelan - pelan Galen membaringkan tubuh mungil putrinya itu ke dalam box bayi kembali dan menepuk-nepuk pelan paha putrinya itu agar semakin terlelap.


Galen tersenyum saat kembali melihat kedua anaknya yang sudah terlelap dalam tidurnya.


Dari kejauhan terlihat Bi Rum dan Bi Jum yang menatap kearah Galen dengan tatapan tidak percaya saat melihat kesigapan Galen dalam menenangkan Aura.


"Galen memang Ayah yang sempurna untuk kedua anaknya." Pikir mereka


Sebenarnya mereka datang untuk menenangkan Aura yang tengah menangis tapi sepertinya Galen sudah lebih dulu sigap untuk menenangkan putrinya itu.


Kedua berharap Fiana segera kembali agar hidup keluarga kecil itu semakin lengkap dan bahagia.


Kini mereka pergi dari tempat itu dan kembali masuk ke kamar masing - masing karena tidak ingin mengganggu majikannya itu.


...💔💔💔...


Bersambung...


Apakah harapan mereka akan kembalinya Fiana ke tengah - tengah keluarga kecil itu bisa terkabul???


Bisakah Galen menemukan Fiana dan membawa istrinya itu kembali kepelukannya???


Nantikan kelanjutannya ceritanya, ya...


Terimakasih 🙏🙏🙏


Jangan lupa like 👍👍👍


Salam twins_identik dan Patimah_WIZONE.


__ADS_1


__ADS_2