
Ting.
Lift kini terbuka membuat Fiana serta Alana kini keluar dari dalam lift. Tiba-tiba seseorang berjalan dengan cepat kearah mereka dan memeluk salah satu dari mereka berdua.
Keduanya tampak terkejut saat tahu siapa orang yang memeluk Alana dengan tiba-tiba. Siapa lagi kalau bukan Devano suami dari Alana.
"Aku mencemaskanmu sayang. Kau dari mana saja."
Kata Devano berbicara pelan tepat di telinga Alana membuat Alana hanya bisa diam sedangkan Fiana yang memang berada di samping Alana bisa dengan jelas mendengar perkataan Devano walaupun Devano mengatakan dengan suara yang amat sangat pelan. Fiana sendiri merasa iri melihat kemesraan yang di tunjukan Devano kepada isrtinya itu.
Fiana bahkan tidak pernah sekalipun mendengar Galen berbicara selembut itu padanya.
Fiana ingin sekali merasakan perhatian seperti itu. Tapi harapan memang tinggal harapan karena ia dan Galen memang tidak di takdirkan untuk bersama.
Fiana kau tidak boleh iri pada kemesraan yang mereka tunjukan padamu.
Kata sisi hati Fiana bergumam.
Alana kini melepaskan pelukan suaminya itu saat ia sadar jika disini masih ada Fiana yang tengah memperhatikan mereka.
"Dev, maaf tadi aku sempat tersesat tapi untung saja ada Fiana yang menolongku."
Kata Alana membuat Devano terkejut dan menatap orang yang sedari tadi berada di samping istrinya.
Fiana yang di tatap oleh Devano hanya bisa tersenyum canggung.
"Dev, kenalkan ini Fiana dan Fiana kenalkan ini Devano suamiku."
Alana terlihat memperkenalkan keduanya.
"Saya Fiana, tuan."
Kata Fiana mengulurkan tangannya.
"Jangan panggil saya tuan. Panggil saja saya Devano tidak perlu memakai embel-embel Tuan."
Kata Devano sambil menyambut tangan Fiana. Devano sendiri terlihat tidak nyaman saat Fiana memanggil dirinya dengan sebutan Tuan.
"Maaf, Tuan. Tapi anda dan Nyonya Alana adalah tamu di hotel ini sudah sepantasnya saya memanggil anda dengan sebutan itu."
Kata Fiana sambil tersenyum canggung.
Alana diam-diam berdecak mendengar penolakan yang lagi-lagi di berikan oleh Fiana.
"Kalau begitu saya permisi Tuan, Nyonya. Saya harus segera pulang."
Kata Fiana pamit pada sepasang suami-istri itu. Devano dan Alana hanya bisa menganggukan kepalanya.
Fiana kini kembali berjalan kearah lift dan memasuki ke dalam lift saat lift terbuka. Fiana nampak memencet tombol nomer 1 dan lift di depannya pun tertutup.
...💗💗💗...
Sudah sebulan semenjak pertemuanya dengan Fiana. Galen tidak pernah lagi bertemu dengan sosok istrinya itu. Fiana seakan hilang begitu saja membuat Galen semakin frustrasi niatnya untuk menjelaskan semua kesalahan pahaman ini pada Fiana lenyap sudah. Galen tidak tahu ia harus mencari Fiana kemana lagi.
Apa yang kuasa kembali menguji kesetian, kesabaran dan keseriusannya terhadap istrinya itu. Apa belum cukup ujian yang selama ini ia terima dengan kehilangan Fiana. Galen tidak ingin kehilangan istrinya untuk kedua kalinya. Galen berharap ia bisa menemukan sedikit petunjuk tentang keberadaan istrinya itu.
Tok.tok.tok.
Pintu ruangan Galen di ketuk seseorang dari luar membuat Galen kini menatap kearah pintu.
"Masuk."
Galen berkata dari dalam ruangnya membuat seseorang kini membuka pintu ruangan Galen dan berjalan masuk.
"Ada apa, Paman?"
Galen langsung bertanya tujuan pak Han menemuinya.
"Maaf tuan, saya kesini hanya ingin mengingatkan bahwa nanti malam anda harus menghadiri acara party yang di adakan tuan Doni Atmaja di hotel ini."
Pak Han mmemberitahukan pada Galen. Galen kini teringat jika Doni sudah membooking hotel miliknya untuk acara party nanti malam.
"Saya hampir lupa, jika paman tidak mengatakannya."
__ADS_1
Galen berkata jujur. Galen memang sering melupakan acara-acara penting yang harus ia hadiri karena terlalu sibuk mencari keberadaan Fiana dan Pak Han bisa mengerti akan hal itu.
"Saya akan menyiapkan keperluan Tuan selama disini."
Galen hanya mengangguk mendengar perkataan Pak Han.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan."
Setelah mengatakan itu Pak Han kini keluar dari ruangan Galen.
Galen kini mengambil bingkai foto yang ada di meja dan menatap foto istrinya itu. Ya! Itu adalah foto Fiana yang ia peroleh dari ibu mertuanya saat Fiana meninggalkannya setelah melahirkan kedua anaknya.
"Sampai kapan kau akan terus menghukumku? Sampai kapan kau akan menjauhiku?"
Galen bertanya pada foto istrinya itu.
"Kau tahu aku benar-benar sangat merindukanmu. Merindukan semua tentangmu. Tolong berhenti menghindariku."
Galen berbicara pada benda mati itu. Galen benar-benar terlihat rapuh sekarang karena kerinduannya akan sosok istrinya itu.
Tanpa Galen sadari ada seseorang yang tidak sengaja mendengar perkataan Galen barusan.
Orang itu tengah membekap mulutnya dengan satu tangannya agar tangisannya tidak pecah dan tidak di dengar oleh Galen. Ya! Wanita itu adalah Fiana.
Fiana tadi ingin mengantarkan minuman yang ia bawa pada Galen. Tapi saat ia ingin mengetuk pintu Fiana tidak sengaja mendengar perkataan Galen.
Fiana sebenarnya tidak tahu foto siapakah yang tengah di ajak bicara oleh Galen. Tapi entah mengapa hatinya merasa sakit mendengar suara Galen yang sangat tersiksa itu.
Fiana seakan merasakan apa yang tengah di rasakan oleh Galen. Fiana sebenarnya ingin sekali memeluk tubuh Galen tapi otaknya menolak dengan keras.
Dan disinilah Fiana sekarang. Di balik pintu ruangan Galen yang memang sedikit terbuka.
Fiana bahkan bisa melihat wajah Galen yang menunjukkan bahwa Galen benar-benar tengah putus asa atas kepergian wanita dalam foto itu. Galen bahkan meneteskan air matanya menatap foto tersebut membuat hati Fiana semakin merepih melihat semua itu.
Kenapa aku tidak tega melihatnya seperti itu.
Kata Fiana dalam hati. Tiba-tiba ada yang memegang pundak Fiana membuat Fiana terkejut dan langsung berbalik menatap orang yang kini menatapnya dengan tatapan tajam.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Lita bertanya dengan nada tidak suka pada Fiana. Fiana langsung menghapus air matanya dan menormalkan suaranya sebelum ia menjawab pertanyaan dari Manajernya itu.
Fiana menjelaskan maksud kedatangan kemari. Lita kini melihat nampan yang tengah di bawa oleh Fiana.
"Bukankah saya tidak pernah menyuruhmu untuk mengantarkannya. Dimana office girl itu (Hasna)?"
Lita berkata dengan tatapan yang sangat tajam kearah Fiana. Fiana langsung menundukkan kepalanya tidak berani menatap manajernya itu.
"Maaf, Bu. Hasna sedang sakit jadi saya yang menggantikannya."
Fiana berkata seadanya karena memang sahabatnya itu sedang sakit dan tidak bisa mengantarkan minuman itu pada Galen. Fiana bahkan sudah menolak untuk mengantarkan minuman itu pada Galen tapi Hasna terus menerus membujuknya agar mau menggantikannya.
"Bukankah masih banyak orang lain yang bisa menggantikannya dan kenapa harus kau."
Lita benar-benar tidak suka dengan Fiana semenjak pertama kali Fiana melamar untuk bekerja disini.
"Maaf, Bu. OB dan OG yang lain sedang sibuk untuk itu saya yang..."
Ucapan Fiana kini di potong dengan cepat oleh Lita.
"Saya tidak mau mendengarkan apapun alasanmu itu. Sekarang kau boleh pergi dari sini. Saya yang akan mengantarkan minuman ini pada Presdir."
Lita segera mengambil nampan yang di bawa Fiana membuat Fiana hanya bisa pasrah.
"Cepat kembali bekerja (mengusir) ingat ini pertama dan terakhir kali kau menginjakan kakimu di depan ruangan Presdir. Jika saya sampai melihatmu berkeliaran di sekitar sini lagi, maka jangan harap kau masih bisa bekerja di tempat ini."
Lita seakan memberikan ancaman pada Fiana. Fiana hanya mampu menganggukan kepalanya dan memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu.
Fiana tidak ingin jika ancaman itu sampai terjadi. Pasalnya jika ancaman itu benar-benar terjadi Fiana tidak bisa lagi melihat wajah Galen dan Fiana tidak mau semua itu terjadi. Bagi Fiana melihat wajah Galen selama ini sudah cukup mengobati rasa rindunya terhadap lelaki yang masih sangat ia cintai walaupun Fiana harus rela melihat Galen hanya dari jauh karena Fiana masih belum siap menampakan dirinya di depan Galen.
Entahlah sampai kapan ini semua akan terjadi. Sampai kapan ia akan siap dan berani menunjukan dirinya di depan Galen secara langsung.
Fiana sebenarnya sangat ingin bertemu dengan kedua anaknya. Kedua anak kembarnya yang tidak pernah ia besarkan selama ini. Fiana sendiri tahu jika selama ini ia hanya mementingkan perasaannya saja tanpa mau mementingkan perasaan kedua anaknya.
Fiana bukannya tidak sayang pada kedua anaknya tapi Fiana di butakan oleh rasa cintanya yang terlalu besar untuk Galen. Rasa cinta itulah yang selama ini membuatnya takut untuk menemui Galen dan kedua anaknya karena Fiana takut jika nantinya ia yang akan kembali tersakiti.
__ADS_1
Fiana sangat merindukan kedua anaknya tapi dia tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa bertemu dengan mereka?
Apa dia harus menemui Galen dan mengatakan yang sebenarnya tentang keinginannya untuk bisa bertemu dengan anaknya?
Lalu apa Galen akan mengizinkan dirinya untuk bertemu dengan mereka?
Tapi bagaiamana jika Galen menolak keinginannya itu?
Fiana benar-benar bingung sekarang.
Tiba-tiba ada yang memegang pundak Fiana dari belakang membuat Fiana yang saat itu tengah berdiri di lantai satu nampak terkejut. Fiana kini menenggok ke belakang. Fiana bisa melihat jika Tina lah yang tadi memegang pundaknya.
"Fiana, apa yang tengah kau pikirkan?"
Tina tiba-tiba bertanya pertanyaan yang membuat Fiana terkejut.
Apa sahabatnya tahu jika dia tengah memiliki masalah?
Apa dia harus memberitahukan yang sebenarnya pada sahabatnya itu?
Pikir Fiana dalam hati sambil terus menatap wajah Tina. Tina sendiri tengah menunggu jawaban dari mulut sahabatnya itu.
"Aku sedang memikirkan kedua anakku."
Kata Fiana yang memilih untuk jujur pada sahabatnya itu. Tina tampak terkejut mendengar perkataan Fiana barusan.
"Memangnya ada apa dengan mereka?"
Kata Tina bertanya membuat Fiana kembali menatap kearah Tina.
"Aku merindukan mereka berdua. Aku ingin sekali menemui mereka dan mengetahui bagaimana keadaan mereka sekarang? Apa mereka baik-baik saja?"
Kata Fiana dengan nada pelan. Tina bisa meresakan jika sahabat dan itu memang sangat merindukan kedua anaknya.
"Jika kau memang merindukan mereka maka temui saja mereka."
Usul Tina membuat Fiana hanya bisa diam.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa menemui mereka?"
Perkataan Fiana barusan membuat Tina hanya bisa menghela nafas.
"Temui Galen dan katakan jika kau ingin bertemu dengan kedua anakmu."
Kata Tina kembali berkata.
"Apa Galen akan mengizinkan aku untuk menemui mereka sedangkan aku tidak pernah sekalipun membesarkan mereka."
Fiana merasa jika Galen akan menolak permintaannya itu.
"Aku yakin Galen akan mengizinkanmu untuk menemui mereka karena kau ibunya."
Tina yakin jika Galen mengizinkan Fiana bertemu dengan anaknya.
"Aku sendiri tidak yakin. Aku takut jika dia menolak untuk mempertemukan aku dengan mereka."
Kata Fiana menyimpulkan seenaknya. Tina hanya bisa menghela nafas berat.
"Bagaimana mungkin kau sudah menyimpulkannya. Kau bahkan belum mencobanya. Aku yakin jika Galen akan mengizinkanmu bertemu dengan mereka."
Tina seadanya tapi Fiana hanya bisa diam.
...❤❤❤...
Bersambung.
Apakah Fiana akan menemui Galen dan mengatakan keinginan untuk bertemu dengan kedua anaknya?
Lalu apakah Galen akan mengizinkan Fiana untuk menemui anak mereka?
Jangan lupa tunggu kelanjutan cerita ini.
Terimakasih.
Salamku dan Patimah_WIZONE
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komentar dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.