
Galen sejak tidak bisa fokus mendengarkan prestasi di depannya. Galen masih memikirkan Aura. Pasalnya saat ia meninggalkan Aura, anaknya itu tengah demam membuat Galen benar-benar khawatir.
Galen sebenarnya ingin membatalkan meeting hari ini tapi Lita menawarkan diri untuk menjaga putrinya sampai Galen kembali dari meeting, tadinya Galen ingin menolak tapi Lita meyakinkan dirinya bahwa putrinya akan baik-baik saja bersama Lita.
Galen terus menerus gelisah membuat Pak Han selaku tangan kanan Galen kini menatap ke arah Presdirnya.
"Tuan, ada apa? Tuan terlihat tidak berkonsentrasi?"
Pak Han berkata dengan pelan di samping Galen. Galen kini melirik kearah tangan kanannya.
"Paman, putriku sedang sakit sekarang. Aku sangat mengkhawatirkannya."
Galen berkata jujur. Pak Han kini bisa memahami apa yang di rasakan anak majikannya itu.
"Tuan bisa pergi sekarang. Biar saya yang akan menanggani semuanya."
Pak Han memberitahu membuat Galen tersenyum. Pak Han memang selalu bisa di andalkan.
"Maaf Paman, aku kembali merepotkanmu."
Galen merasa tidak enak. Pak Han menggeleng pelan mendengar perkataanΒ atasanya barusan.
"Tidak Tuan, sekarang lebih baik Tuan segara menemui Putri anda."
Pak Han seakan menyuruh Galen untuk segera pergi dari ruangan ini membuat Galen kini berdiri.
"Maaf saya ada urusan mendadak, tapi Pak Han yang akan mengantikan saya. Mohon pengertiannya."
Setelah mengatakan itu Galen cepat-cepat keluar dari ruang rapat dan pergi untuk menemui putrinya.
...πππ...
Galen bergegas masuk ke dalam hotel dengan sedikit berlari. Galen hanya ingin memastikan jika putrinya baik-baik saja. Galen segera masuk ke dalam lift dan memencet nomer 15 .
Ting.
Lift terbuka Galen segera keluar dari dalam lift dan berjalan menuju kamar putrinya. Saat ia akan berbelok ia tak sengaja menyenggol pundak seseorang membuat orang itu sedikit meringis.
"Maaf saya benar-benar tidak sengaja."
Galen merasa bersalah. Orang yang di tabrak Galen malah berlari pergi tanpa membalas perkataan Galen.
Galen kini menatap orang itu dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Galen seperti tidak asing lagi dengan postur tubuh wanita yang ia tabrak tadi.
Postus tubuh itu seperti postur tubuh istrinya tapi apa mungkin. Istrinya itu ada disini?
Gumam Galen sambil menatap kepergian wanita yang Galen pikir adalah istrinya itu.
Galen kembali teringat dengan tujuannya kemari. Galen segara berjalan pergi menuju kamar anaknya.
Tok.tok.tok.
Galen mengetuk pintu kamar anaknya. Tidak lama kemudian seseorang kini membukakan pintu .
Wanita itu nampak tersenyum menatap Galen sedangkan Galen tetap memasang wajah dinginnya.
"Dimana putriku?"
Galen langsung bertanya tanpa basa-basi sedikitpun. Lita terlihat menahan kekesalannya.
"Ada di dalam, mari masuk Presdir."
Lita sebisa mungkin tersenyum. Galen kini masuk dan bisa ia lihat putrinya tengah terlelap di atas tempat tidur.
Galen kini mendekati putrinya yang masih terlelap dengan perasaan yang lega.
__ADS_1
"Kau boleh kembali bekerja. Terima kasih karena sudah menjaga Putriku."
Galen berkata tanpa menatap Lita membuat Lita segera pergi dari kamar itu.
Galen tengah menunggu kedatangan dokter yang tadi sudah ia hubungi sebelum datang kemari.
Tidak lama kemudian seorang dokter kini datang dan langsung memeriksa Aura.
"Bagiamana keadaan putri saya?"
Galen sangat cemas. Dokter Siska hanya tersenyum.
"Anda tidak perlu cemas, Putri anda baik-baik saja."
Perkataan dokter Siska membuat Galen terlihat heran.
"Tapi sebelum saya meninggalkannya tadi dia sedang demam, dok."
Galen ingin memastikan apa yang baru saja ia dengar dari mulut dokter di depannya ini. Dokter Siska kini tersenyum.
"Ini karena ASI yang di minum putri anda untuk itu demamnya cepat turun."
Perkataan dokter Siska semakin membuat Galen bingung.
ASI?
Siapa yang memberikan putrinya itu ASI?
Gumam Galen dalam hati.
"Tapi putri saya tidak pernah meminum ASI , dok. Dia hanya meminum susu formula."
Galen membenarkan ucapan dokter Siska. Dokter Siska tampak kembali tersenyum mendengar perkataan Galen tadi.
"Saya sudah memeriksa putri anda dan saya yakin jika putri anda memang meminum ASI tadi. Jika anda masih tidak percaya, anda bisa melihat masih ada sisa susu di mulutnya."
Kata dokter Siska menjelaskan. Galen terdiam mendengar penjelasan dari dokter Siska.
Setelah mengatakan itu dokter Siska kini pergi meninggalkan Galen yang masih tidak mempercayai perkataan dokter barusan.
Galen masih menatap putrinya. Galen akan memastikan semuanya nanti.
Dia tidak akan tinggal diam begitu saja saat tahu ada yang memberikannya ASI tanpa seizin darinya.
Gumam Galen kini berbaring di samping anaknya.
...πππ...
Fiana kini bersandar pada dinding tangga darurat. Ia masih tidak percaya jika tadi ia bertabrakan dengan Galen.
Fiana sempat khawatir jika Galen mengenalinya untuk itu ia cepat - cepat pergi dari tempat itu.
Fiana masih mengontrol kerja jantungnya yang masih sangat cepat akibat berlari tadi.
Fiana bersyukur jika ia tidak bertemu dengan Galen di kamar putrinya.
"Apa yang kau lakukan disini."
Perkataan seseorang membuat Fiana terkejut dan Fiana langsung menatap orang tersebut.
"Saya bertanya padamu. Apa yang kau lakukan disini? "
Manajer Lita masih menatap Fiana dengan tatapan tajam. Membuat Fiana menunduk kepalanya.
"Saya baru saja membersihkan kamar di atas."
Fiana dengan cepat berbohong karena tidak mungkin Fiana memberitahukan yang sebenarnya pada Manajer Lita bisa-bisa ia akan di cepat detik itu juga.
"Cepat pergi dari sini."
__ADS_1
Suruh Manajer Lita membuat Fiana cepat-cepat menuruni anak tangga. Dan meninggalkan Manajer Lita sendirian.
"Bagaimana mungkin aku menyukai pria sedingin itu. Dia bahkan tidak memberikan imbalan apapun padaku dan malah mengacuhkanku."
Gerutu Lita. Lita tidak tahu jika Fiana masih berada disana.
Entah menagapa Fiana senang melihat Galen bersikap seperti itu pada wanita itu.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dan kau akan bertekuk lutut di hadapanku ."
Kata Lita bertekad. Fiana berharap jika apa yang di katakan Lita tidak akan pernah menjadi kenyataan karena Fiana tidak rela jika Galen menikah dengan wanita itu.
Fiana sangat tahu bagaimana sifat Manajernya itu dan Fiana tidak mungkin membiarkan Galen jatuh ke tangan wanita itu.
Fiana kini memutuskan untuk pergi sebelum Manajer Lita tahu jika ia tadi sempat menguping pembicaraan Manajer Lita.
...πππ...
Fiana nampak memasuki ruang pantry dan terlihat menarik salah satu kursi untuk ia duduki. Tina dan Hasna yang saat itu juga berada disana langsung menghampiri Fiana.
"Fiana, bagaimana?"
Tanya Tina menarik kursi di depan Fiana.Β Fiana menaikan salah satu alisnya tidak mengerti dengan perkataan yang di ucapkan sahabatnya itu.
"Bagaimana apanya?"
Fiana bertanya karena tidak paham dengan perkataan sahabatnya itu.
"Apa kau tadi bertemu dengan Galen di kamar?"
Tina menanyakan hal yang sedari tadi ingin ia ketahui dari mulut Fiana. Fiana menggelengkan kepalanya membuat Tina menghela nafas berat. Sedangkan Hasna memilih untuk diam.
"Kenapa kau malah menghela nafas seperti itu."
Fiana bertanya pada Tina karena merasa heran melihat Tina yang sepertinya tidak senang mendengar jawaban yang ia berikan.
"Ku kira kau bertemu dengannya, bukankah dengan begitu kalian akan bisa menyelesaikan masalah kalian itu."
Hasna mengangguk setuju mendengar perkataan Tina barusan.
"Aku malah bersyukur jika tidak bertemu dengannya sekarang."
Fiana benar-benar bersyukur karena ia memang masih belum bisa jika harus bertemu dengan Galen.
"Mau sampai kapan kau tidak siap?"
Tina benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
"Sampai aku bisa benar-benar melupakannya."
Fiana berkata dengan asal membuat Tina diam-diam menghela nafas berat.
"Bukan jawaban yang memuaskan."
Kata Tina tapi Fiana malah memilih untuk diam dari pada harus berdebat dengan sahabatnya itu. Hasna juga diam tidak tahu harus berkata apa.
...πππ...
Bersambung.
Bisakah Galen menemukan orang yang sudah memberikan ASI pada anaknya itu?
Lalu bagaimana eksepsi yang akan di tunjukan Galen jika ia tahu siapa yang memberikan ASI pada anaknya itu?
Nantikan kelanjutan cerita ini.
Terimakasih. πππ
Jangan lupa like, Vote, komen dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.
__ADS_1
Salamku dan Patimah_WIZONE.