
Pagi ini di hotel Fiana terlihat beberapa karyawan hotel yang tengah berdiri berbaris di sisi kanan dan kiri.Β Mereka tengah menyambut kedatangan tamu spesial yang tidak lain adalah Devano Denandra Pradipta dan Alana Denandra Pradipta.
Tidak semua karyawan berdiri disana hanya 20 orang yang akan menyambut kedatangan sahabat baik Presdir mereka. Mereka yang berdiri disana sudah di tunjuk langsung oleh Manajer Lita. Salah satu orang yang berdiri disana adalah Hasna yang di tunjuk oleh Manajer lita sebagai perwakilan dari OG.
Beberapa mobil kini berhenti tepat di depan halaman hotel. Satpam hotel langsung membukakan pintu mobil yang berada di tengah dan keluarlah pria tampan berbadan tegap dan di susul wanita cantik yang juga turun dari dalam mobil.
Devano Denandra Pradipta (Sahabat baik Galen sejak kuliah)
Alana Denandra Pradipta (Istri dari Devano).
Devano dan Alana kini berjalan memasuki loby hotel dengan di sambut oleh beberapa orang yang memang sudah di tugaskan untuk menyambut mereka. Salah satu dari mereka kini memakaikan kalung bunga pada pasangan suami istri Pradipta.
Galen tampak tersenyum tidak jauh dari mereka. Para karyawan Galen nampak terpesona dengan kecantikan istri dari Devano itu. Bahkan mereka tidak menyangkah jika pasangan suami-istri itu memiliki paras yang rupawan.
Galen dan Devano saling berjabat tangan. Galen kini mengantarkan Devano serta Alana langsung ke penthouse yang sudah mereka pesan di ikuti kesepuluh bodyguard Alana dan Riri dari belakang. Galen bahkan menjelaskan secara rinci apa saja fasilitas yang ada di hotelnya. Galen bahkan menolak Manajer Lita yang tadinya ingin mengantarkan tamu Devano dan Alana.
Galen hanya di ikuti oleh Pak Han serta sekertarisnya Jun. Mereka kini sampai di lantai paling atas di hotel ini di depan penthouse yang akan di tempati oleh Alana serta Devano untuk beberapa hari ke depan.
Pak Han kini membukakan pintu tersebut. Dan mereka kini memasuki penthouse itu. Alana nampak kagum menatap ruangan tersebut. Alana tidak menyangkah jika suaminya memesan kamar semewah ini.
Setelah memberitahu semua ruangan yang ada di penthouse ini Galen memutuskan untuk pamit karenaΒ masih banyak berkas yang harus ia kerjakan.
...πππ...
Di ruang pantry
Fiana dan Tina terlihat tengah duduk di kursi setalah menyelesaikan tugas mereka. Hasna nampak memasuki pantry dengan dan menghampiri mereka.
"Kau sudah melihat tamu spesial Presdir? Siapa nama mereka?Apa kau mengenal salah satunya?"
Tina langsung melontarkan beberapa pertanyaan pada Hasna. Fiana diam- diam juga penasaran akan tamu Galen itu.
Hasna terlihat menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Sudah mereka baru saja tiba. Namanya Tuan Devano Dendra Pradipta dan istrinya Alana Denandra Pradipta. Mereka bahkan membawa sepuluh orang bodyguard."
Hasna memberitahukan yang sebenarnya pada keduanya. Fiana serta Tina kini saling menatap. Mereka sama sekali belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Tunggu, tadi kau bilang apa? Devano siapa?"
Tina seakan ingin memastikan sesuatu.
"Tuan Devano Denandra Pradipta."
Jelas Hasna membuat Tina langsung terkejut.
"Ada apa denganmu?"
Tanya Fiana benar-benar heran melihat wajah terkejut sahabatnya itu.
"Fiana, kau tahu siapa orang yang tengah kita bicarakan?"
Tina malah balik bertanya pada Fiana dan Fiana langsung mengelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang di ajukan oleh Tina.
"Pradipta, keluarga kaya seasia. Apa kau tidak tahu itu?"
Perkataan Tina membuat Fiana kini berpikir begitu juga dengan Hasna.
"Jadi maksudmu dia Devano salah satu cucu keluarga Pradipta yang baru beberapa bulan ini menikah."
Fiana terlihat memastikan.
"Ya. Kau bahkan tahu pernikahan mereka sangatlah mewah bahkan di hadiri oleh ribuan tamu. Sayang, aku tidak di undang waktu itu."
Kata Tina terlihat kecewa karena tidak semua orang bisa datang ke acara pernikahan cucu keluarga Pradipta membuat Fiana dan Hasna hanya bisa diam.
"Bagaimana wajah istri dari Devano Pradipta?"
Tina nampak sangat antusias.
"Dia sangat cantik."
Hasna berkata apa adanya.
"Sayang aku tidak bisa melihat bagaimana wajah istri dari Devano."
Tina kembali kecewa.
__ADS_1
"Ini."
Tiba-tiba wiwi salah satu office girl memperlihatkan sebuah majalah kehadapan mereka.
Mereka kini menatap majalah tersebut.
Fiana, Tina dan Hasna sama-sama terkejut melihat cover majalah tersebut. Ya cover itu memperlihatkan wajah cantik seorang istri dari Devano Denadra Pradipta. Orang yang sedari tadis mereka bicarakan.
"Dia benar-benar cantik."
Puji Tina masih betah melihat cover majalah tersebut. Fiana serta Hasna juga mengakui kecantikan istri Devano itu.
"Aku bahkan tidak menyangkah jika dia langsung di jadikan model sampul majalah yang sangat terkenal ini."
Gumam Tina lagi. Fiana dan Hasna kembali menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang di katakan Tina tadi.
Fiana, Tina dan Hasna kini mulai beranjak dari kursi karena tadi mereka di suruh menghadap Manajer Lita.
"Sebenarnya ada hal apa lagi yang akan Manejer Lita sampaikan pada kita?"
Tanya Tina saat mereka tengah berjalan kearah aula. Fiana hanya mampu menggelengkan kepalanya karena ia benar-benar tidak tahu.
"Mungkin ini masih terkait dengan kedatangan Tuan Devano dan Nyonya Alana."
Kata Hasna menebak-nebak.
"Benarkah? Aku jadi semakin penasaran."
Tina kembali berkata. Kini ketiganya memasuki aula disana sudah banyak karyawan yang datang. Ketiganya kini memasuki barisan.
"Kalian tahu kenapa kalian semua di kumpulkan disini?"
Manajer Lita terlihat bertanya pada seluruh karyawan yang memang sudah berkumpul disini. Semua orang kini dengan serempak mengelengkan kepalanya.
"Tuan Doni Atmaja akan mengadakan acara party di hotel ini yang akan di adakan besok malam. Jadi kalian semua harus menyiapkan semua keperluan untuk acara tersebut. Saya mau semuanya harus sudah selesai besok siang."
Perkataan Manejer Lita membuat semua orang yang ada disana terlihat terkejut.
"Apa kalian semua mengerti."
Manajer Lita kembali berkata membuat semua orang kini mengangguk kepalanya.
Kata Manajer Lita membuat semua orang kini pergi setelah mendapatkan perintah dari manajernya itu.
...πππ...
Fiana terlihat tengah mengambil pakaian gantinya di loker karena hari ini pekerjaannya sudah selesai dan Fiana berjalan kearah kamar ganti untuk menganti pakaian kerjanya dengan pakaian yang ia kenakan sebelum bekerja tadi.
Fiana kini mengambil tas selempangnya di loker.
"Kau sudah mau pulang?"
Tanya Tina yang memang baru saja tiba di ruang ganti khusus karyawan wanita.
"Iya, kau tidak ingin pulang?"
Tanya Fiana balik bertanya karena merasa heran melihat Tina yang belum menganti pakaiannya.
"Aku masih ada shif."
Kata Tina membuat Fiana terkejut.
"Bukankah shifmu sudah selesai sama sepertiku?"
Tanya Fiana yang benar-benar heran.
"Manejer Lita menyuruhku untuk lembur sama seperti Hasna. Pulanglah sebelum Manejer Lita melihatmu disini."
Kata Tina membuat Fiana kini memutuskan untuk pergi.
Fiana merasa heran kenapa ia sendiri yang tidak di perintahkan untuk lembur sama seperti yang lain.
Apa mungkin karena ada Galen disana?
Ataukah karena manejer Lita tidak tahu jika dia tidak lembur.
Entahlah yang jelas ia memang harus pulang sekarang.
Fiana tampak berjalan sambil memegang tali tas selempangnya.
Tiba-tiba saja langkah Fiana terhenti saat ia melihat tidak jauh darinya, ada seseorang yang tengah duduk di salah satu bangku yang ada di lorong ini.
__ADS_1
Alis Fiana tampak saling bertautan, ia sedikit heran saat melihat seorang wanita duduk sambil menundukkan kepalanya kebawah.
Untuk apa wanita itu malam - malam begini berada disini.
Pikir Fiana dalam hatinya. Ia mulai berjalan untuk menghampiri wanita itu.
"Permisi Nona."
Suara Fiana yang lembut membuat wanita itu langsung mendongakkan kepalanya dan wanita itu menatap Fiana dengan tatapan berbinarnya.
Fiana sendiri langsung terkejut saat melihat siapa wanita itu.
"Nyonya Alana."
Kata Fiana. Fiana tidak menyangkah ia bisa bertemu dengan istri dari Devano. Alana tampak menggelengkan kepalanya saat mendengar panggilan dari Fiana.
"Panggil saja aku Alana, sepertinya kita seumuran."
Ujar Alana sambil tersenyum. Fiana sendiri merasa sangat canggung saat mendengar ucapan Alana.
"Saya tidak mungkin melakukan itu. Kau dan suamimu adalah tamu spesial di hotel ini."
Kata Fiana menolak permintaan Alana karena bagi Fiana jika dia memanggil Alana tanpa embel-embel nyonya bukankah itu tidak sopan. Alana hanya bisa menghela nafasnya.
"Apa yang anda lakukan disini, nyonya?"
Tanya Fiana pasalnya Fiana merasa heran melihat Alana ada disini. Alana teringat bahwa dia harus kembali ke kamar penthousenya.
"Aku tersesat sampai kesini. Bisakah kau tolong aku menunjukkan jalan untuk sampai ke kamar penthouse ku!"
Pinta Alana dengan tatapan penuh harap sambil memegang tangan kiri Fiana. Fiana langsung tersenyum mendengar permintaan wanita di depannya ini. .
"Mari saya antar, Nyonya."
Ajak Fiana kembali berbalik kearah belakang. Alana langsung beranjak dari tempat duduknya dan mulai mengikuti langkah Fiana dari belakang.
"Bisa aku tahu siapa namamu?"
Alana mulai bertanya di sela - sela langkah mereka.
"Fiana, nama saya Fiana."
Balas Fiana tanpa menengok ke belakang. Sedangkan Alana tampak terdiam saat mendengar nama orang yang menolangnya itu adalah Fiana.
Nama wanita di depannya itu sama persis seperti nama hotel ini!!!
Seru Alana dalam hatinya.
Sambil terus mengikuti Fiana dari belakang.
Fiana nampak memencet tombol lift. Dan masuk ke dalam lift saat lift sudah terbuka begitu pula dengan Alana yang kini berdiri di samping Fiana.
Fiana terlihat memencet nomer 15. Lift kini tertutup.
"Apa kau pegawai disini?"
Tanya Alana tiba-tiba membuat Fiana kini menatap kearah Alana dan tersenyum.
"Iya, Nyonya. Saya pegawai disini."
Kata Fiana dengan sopan. Alana menganggukan kepalanya mengerti.
"Kalau boleh aku tahu kau bekerja di bagian apa?"
Alana kembali mengajukan pertanyaan pada Fiana.
"Office girl."
Kata Fiana seadanya. Alana tampak terkejut mendengar perkataan Fiana barusan.
Keduanya kini sama-sama terdiam sambil menunggu lift yang terbuka.
...πππ...
Bersambung.
Nantikan kelanjutan cerita ini.
Terimakasih.
Salamku dan Patimah_WIZONE.
Jangan lupa Like, Vote, Komentar dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.
__ADS_1