
Fiana melangkah masuk ke dalam rumah yang ia tempati dengan Tina setahun belakangan ini. Setelah tadi ia sempat pergi keluar membeli beberapa keperluan untuk kedua anak kembarnya bersama Aufa yang masih di gendongannya.
Fiana kini melangkah kearah kamarnya berada. Ia yakin jika putrinya itu masih berada di dalam kamarnya seperti terakhir kali dia meninggalkan putrinya itu disana. Karena Aura yang saat itu tengah tertidur.
Suara tangisan bayi kini terdengar sampai ke telinga Fiana. Fiana yang saat itu tengah menggendong Aufa yang tertidur di dalam gendongannya itu langsung melangkahkan kakinya dengan cepat kearah pintu kamarnya.
Tangisan Aura semakin terdengar saat ia masuk ke dalam kamarnya. Fiana bisa melihat dengan jelas Tina tengah menggendong Aura dan berusaha menenangkan bayi berumur Satu setengah tahun itu agar berhenti untuk menangis.
"Fiana, kau sudah datang."
Tina nampak menatap Fiana yang baru saja masuk ke dalam kamar bersama Aufa yang terlihat tertidur di dalam gendongan Fiana.
"Iya, maaf. Aku datang terlambat. Aku pasti merepotkanmu."
Fiana merasa bersalah karena meninggalkan Aura terlalu lama dan merepotkan sahabatnya itu. Tina nampak menggelengkan kepalanya saat mendengar perkataan Fiana.
"Kau ini bilang apa, Fiana. Aku sama sekali tidak pernah merasa kau merepotkanku. Lagipula aku senang bisa menjaga keponakanku, yang cantik ini."
Seru Tina masih berusaha menenangkan Aura agar berhenti menangis.
Fiana tidak langsung menghampiri Aura. Karena ia kini justru berjalan kearah ranjang miliknya dan membaringkan Aufa yang sudah terlelap keatas ranjang. Menyelimuti bayi mungilnya.
Lalu Fiana beralih melangkah kearah Tina. Mengambil alih Aura dari gendongan Tina. Ia merasa bersalah saat melihat pipi tembem putrinya yang basah karena air mata.
"Chup... chup... sayang. Anak Bunda..."
Fiana menimang Aura agar bayi mungilnya itu berhenti untuk menangis.
Sedangkan Tina kini melangkah kearah ranjang di mana Aufa tengah terlelap.
"Apa kau sudah membeli semua keperluan Aufa dan Aura?"
Tina akhirnya bertanya sambil menepuk-nepuk paha kanan Aufa dengan pelan. Agar keponakannya itu semakin nyenyak dalam tidurnya.
"Sudah.Ah... tadi aku juga bertemu dengan Alana di minimarket dan kami sempat berbicara sebentar di cafe. Apa Aura menangis sejak tadi?"
Kini gantian Fiana yang bertanya. Ia tampak tersenyum saat tidak lagi mendengar suara tangisan dari bibir mungil putrinya. Dan saat ia melirik kearah Aura, putri kecilnya itu tampak terlelap kembali.
"Tidak, Aura baru saja menangis. Mungkin karena saat dia terbangun dia tidak menemukan Aufa di sampingnya."
"Ah... kau benar, selama ini Aufa dan Aura sepertinya memang selalu bersama - sama. Jadi saat salah satu di antara mereka tidak ada yang lainnya akan sadar dan menangis."
Fiana mulai paham kenapa Aura sempat menangis tadi.
"Jadi apa keputusanmu, Fiana? kau akan kembali pada keluarga kecilmu?"
Tina akhirnya bertanya mengenai keputusan sahabat baiknya itu kini. Fiana tidak langsung menjawabnya karena kini ia tampak membaringkan Aura tepat di samping Aufa.
"Iya."
Tina tampak tersenyum saat mendengar jawaban dari mulut sahabatnya itu.
"Syukurlah, akhirnya kau mau memaafkan Galen dan berdamai dengan masa lalu. Jika begini aku bisa tenang meninggalkanmu disini."
Ujar Tina masih dengan senyumannya. Fiana tampak mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat terakhir sahabatnya itu.
"Tunggu, Tina. Kau akan pergi?"
Fiana kini balik bertanya pada sahabat baiknya itu. Tina hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan sahabatnya itu.
"Kapan? Kenapa tidak menetap saja disini?"
__ADS_1
"Aku tidak mungkin terus berada disini Fiana, karena aku sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaanku di Jakarta. Lagipula alasan ku tinggal disini itu semua karena aku ingin menemanimu dan sekarang kau sudah kembali bersama keluarga kecilmu. Itu artinya tugasku sudah selesai. Aku sebenarnya belum memutuskan kapan aku akan kembali ke Jakarta. Tapi mungkin bulan depan."
Mendengar keputusan dari sahabatnya itu. Fiana hanya bisa menghela nafasnya, ia tidak mungkin memaksa Tina untuk selalu tinggal di sampingnya karena sahabatnya itu juga memiliki ke hidupan sendiri.
"Jangan sedih, Na. Aku hanya kembali ke Jakarta. Kita masih bisa bertemu dan kita masih bisa berhubungan lewat telfon."
Hibur Tina saat melihat ekspresi sedih yang dia tangkap dari wajah sahabatnya itu.
"Huft... kau benar. Kita masih bisa berhubungan lewat telfon. Tina jujur aku sangat berterimakasih padamu, selama setahun lebih ini kau selalu ada di samping ku. Menemaniku, mendukungku dan menguatkan aku. Jika tanpa kau disisiku. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku melewati hidupku satu setengah tahun ini. Kau sahabat terbaikku."
Fiana tulus mengatakan itu pada Tina. Ya, dia bersyukur memiliki Tina di hidupnya.
Tanpa Tina, ia tidak yakin bisa setegar ini melewati satu setengah tahun tanpa Galen serta kedua anaknya.
"Kau bicara apa, Fiana. Tidak perlu berterimakasih padaku. Bukankah itu gunanya kau punya sahabat. Tapi berjanjilah padaku, kau akan hidup bahagia bersama keluarga kecilmu."
Tina akan tenang jika Fiana mau berjanji padanya. Bahwa sahabatnya itu akan hidup bahagia bersama Galen, Aufa serta Aura.
"Pasti. Kau juga harus hidup bahagia disana. Jangan sungkan untuk meminta tolong padaku atau curhat padaku mengenai apapun itu. Karena aku juga ingin menjadi sahabat yang bisa kau andalkan!"
Tina hanya menganggukan kepalanya menyetujui permintaan sahabatnya itu.
"Aku pasti akan merindukan kedua keponakan ku ini."
Ucap Tina sambil menatap bergantian Aura dan Aufa yang sama - sama terlelap di atas ranjang.
Fiana pun melakukan hal yang sama seperti Tina. Ia ikut menatap wajah - wajah polos kedua anak kembarnya.
"Mereka juga pasti akan merindukanmu, Tina. Andai nanti kau punya anak perempuan atau laki - laki kita bisa saling menjodohkan putra putri kita."
Entah mengapa Fiana ingin sekali menjodohkan Aufa atau Aura dengan anak Tina kelak.
Tina justru terkekeh saat mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Kita bisa memaksa mereka." Seru Fiana dengan cepat.
"Tidak, aku tidak ingin memaksa anak anakku untuk mengikuti kemauan ku. Karena yang menurut kita benar belum tentu menurut mereka benar, bukan begitu."
Tina melirik kearah Fiana meminta pendapat sahabatnya itu.
"Kau benar. Baiklah kita memang tidak tahu apa yang terjadi nanti. Tapi yang jelas kau akan selalu menjadi sahabat terbaikku Tina."
Setelah itu mereka sibuk berbincang tentang banyak hal.
...❤❤❤...
Galen berharap kejutan yang akan ia buat untuk istrinya itu akan berjalan sesuai dengan keinginannya.
"Tuan, kita sudah sampai."
Suara Pak Han menyadarkan Galen dari lamunannya. Lelaki itu melirik kearah luar jendela. Benar saja mobil yang di tumpanginya itu kini telah berhenti tepat di halaman rumahnya.
Galen menganggukan kepalanya dan memilih untuk keluar dari dalam mobilnya. Sedangkan Pak Han kembali melajukan mobilnya menuju kearah tempat parkir khusus yang berada di samping rumah majikannya itu.
Galen menatap sekeliling rumahnya yang tampak sepi. Ia memang pulang terlambat hari ini karena sibuk memantau persiapan untuk kejutan yang akan ia berikan pada istrinya itu.
Ia kini melangkahkan kakinya kearah kamarnya berada, tapi saat melewati kamar kedua anaknya Galen tampak berhenti.
Hari ini ia sepertinya belum melihat kedua anak kembarnya. Tidak ada salahnya jika ia mengecek kedua kondisi kedua anak kembarnya.
Ceklek...
Galen dengan sangat pelan membuka pintu kamar kedua anaknya. Ia bisa melihat istrinya itu tengah berdiri di depan box bayi tempat kedua anak mereka biasanya tidur.
__ADS_1
Ia pikir Fiana sudah tidur, tapi ternyata istri cantiknya itu justru masih berada disini. Dengan langkah pelan ia berusaha untuk mendekat kearah istrinya berada dan...
Glep...
Galen memeluk Fiana dari arah belakang dan Fiana sempat memekik karena terkejut saat merasakan sepasang tangan memeluk pinggangnya dari arah belakang.
Dan saat Fiana menengok kearah belakang. Dia langsung menghela nafasnya dengan lega, saat Galen lah yang tengah memeluknya itu.
"Maaf, sayang jika aku membuatmu terkejut." Ucap Galen dengan tulus.
Sambil mencuri ciuman di pipi kanan istrinya itu.
Dan mata Fiana tampak membulat saat Galen tiba-tiba saja mencium pipinya. Sedangkan Galen tampak terkekeh saat melihat ekspresi terkejut istrinya itu yang justru terlihat menggemaskan di matanya.
Apalagi saat ia sempat melihat pipi istrinya yang tampak merona karena malu.
"Kau tidak marah padaku kan sayang?"
Galen akhirnya bertanya saat tidak mendengar suara istrinya itu.
"Tidak, aku tidak mungkin marah padamu. Ngomong - ngomong kapan kau sampai? Kenapa aku tidak mendengar suara mobilmu?"
Fiana balik bertanya pada suaminya itu masih sambil menatap kedua anak kembarnya.
"Baru saja. Kau mungkin tidak mendengarnya karena kau terlalu fokus menatap baby twins, sayang."
Jawab Galen seadanya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya itu. Entah mengapa ia merasa perasaan tenang dan nyaman saat ia akhirnya bisa kembali memeluk tubuh wanita yang di cintainya itu.
"Maaf, seharusnya aku menyambut kepulanganmu tadi." Sesal Fiana merasa tidak enak pada suaminya itu.
Galen justru tersenyum saat mendengar nada penyesalan dari suara istrinya itu. "Tidak perlu minta maaf, Sayang. Untuk hal - hal kecil seperti ini. Jadi kau sudah mengambil semua barangmu?"
Galen berusaha mengalihkan pembicaraan diantara mereka yang mulai terasa canggung itu.
"Ya, aku sudah mengambil semua barang - barangku di rumah lama ku disini. Tapi apa kita akan tetap tinggal disini atau kita akan kembali ke Jakarta?"
Fiana akhirnya bertanya balik pada suaminya itu.
"Terserah kau sayang. Aku akan selalu ikut dengan keinginanmu itu. Jika kau lebih nyaman disini, maka kita bisa tetap tinggal disini. Begitupun sebaliknya. Jadi apa keputusanmu?"
Fiana tampak terdiam saat mendengar penuturan dari suaminya itu. Sambil berusaha untuk berpikir keras di manakah sebenarnya dia ingin tinggal.
"Ehm... Bisakah kita menetap disini dulu. Aku masih ingin tinggal disini." Pinta Fiana sambil melirik kearah suaminya itu.
Galen langsung menganggukkan kepalanya mendengar keputusan yang di buat oleh istrinya itu.
Jika istrinya memang ingin tinggal disini, ia akan mengabulkan keinginan istrinya itu. Toh, bagi Galen mau ia tinggal dimana pun itu sama sekali tidak masalah untuknya selama disitu ada Fiana serta kedua anaknya.
"Jadi apa kita akan tidur sekarang, sayang?"
Tanya Galen saat melihat kediaman istrinya itu. Fiana tidak langsung menjawab pertanyaan suaminya itu karena kini dia justru balik menatap kearah Galen.
"Ehm... terserah kau saja." Jawab Fiana jujur.
"Sebenarnya aku sangat merindukanmu, bisakah kita melakukan itu?" Bisik Galen tepat di samping telinga istrinya itu. Fiana tampak merona saat mendengar maksud dari suaminya itu dan akhirnya dia menganggukan kepalanya dengan pelan menyetujui keinginan suaminya itu. Galen tampak tersenyum dengan puas dan tanpa kata langsung menggandeng tangan istrinya itu kearah kamar mereka.
Meninggalkan kedua anaknya yang tertidur dengan lelapnya.
...💗💗💗...
Bersambung...
Nantikan selalu kelanjutan cerita ini. Karena berapa part lagi cerita ini akan segera "SELESAI".
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan komentar kalian disini.