
Dua hari kemudian.
Galen nampak menyuruh Sekertarisnya untuk memanggilkan Lita. Tidak lama kemudian.
Tok..tok..tok.
Terdengar suara pintu ruangan Galen di ketuk oleh seseorang dari luar membuat Galen yang saat itu tengah sibuk dengan berkasnya kini menatap kearah pintu.
"Masuk."
Kata Galen dari dalam ruangan.
Cklek.
Lita terlihat memasuki ruangan Presdirnya itu dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Presdir memanggil saya?"
Lita berjalan mendekati meja presdirnya itu.
"Duduklah, ada hal yang ingin saya tanyakan padamu."
Galen menyuruh Lita untuk duduk. Lita kini duduk berhadapan dengan Galen.
"Ada hal apa yang ingin Presdir katakan pada saya ? Apa Presdir ingin berterimakasih pada saya karena telah menjaga putri anda? Jika memang karena itu saya sangat senang bisa menjaga putrimu."
Lita menyimpulakan seenaknya. Galen kini menatap tajam ke arah mangernya.
"Bisakah kau tidak menyimpulkan seperti itu. Saya bahkan belum mengatakan apa yang ingin saya katakan pada dirimu."
Perkataan Galen seakan menusuk membuat Lita tidak berani menatap Presdirnya yang terlihat sangat menyeramkan.
"Apa kau benar-benar menjaga putriku?"
Lita terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Presdirnya itu.
"Iya saya yang menjaga putri anda, pak."
Kata Lita berbohong sambil menatap Presdirnya itu. Tapi Galen seakan tidak mempercayai apa yang di katakan manajernya itu.
"Minuman apa yang kau berikan pada putriku?"
Galen kembali memberikan pertanyaan membuat Lita terlihat berpikir dengan sangat keras. Galen terlihat menaikan sebelah alisnya melihat kediaman wanita di depannya ini.
"Kenapa kau diam? Bukankah tadi kau mengatakan jika kaulah yang menjaga putriku."
Galen berkata dengan nada ketus. Lita terlihat masih diam. Lita lupa menanyakan hal ini pada offlice girl itu.
"Jawab pertanyaan ku? Kau tidak tuli kan."
Sentak Galen dengan menahan amarahnya. Lita sangat terkejut dengan bentakan yang di berikan presdirnya itu.
"Saya memberikan..."
Lita terlihat mengentikan ucapannya karena tengah mencari jawaban yang masuk akal agar Presdirnya itu tidak curiga padanya.
" Saya tidak suka jika kau memberikan minum yang tidak-tidak pada putri saya."
Kata Galen dengan emosi yang sudah di ubun-ubun. Lita bahkan merasa sangat takut.
"Presdir saya minta maaf, saya tidak tahu apa yang di minum putri anda."
Lita akhirnya jujur karena ia tahu jika sekarang dia dalam masalah besar.
"Bagiamana mungkin kau tidak tahu? Kau Jelas-jelas yang menjaganya. Jangan berani-berani berbohong padaku."
Galen menatap tajam Lita. Lita yang sedari tadi di tatap merasa ketakutan.
"Saya tidak berbohong , Pak. Yang menjaga putri anda adalah seorang office girl."
Lita memberitahu membuat Galen terkejut mendengar perkataan wanita di depannya ini.
"Berani sekali kau berbohong padaku selama ini. Cepat panggil office girl itu sekarang jika kau tidak ingin saya pecat."
Dengan cepat Lita berdiri dari kursinya dan pergi. Sedangkan Galen mengacak-acak rambutnya frustrasi.
...💗💗💗...
Hasna dan Tina tengah duduk di kursi. Tiba-tiba ada yang masuk ke dalam pantry.
"Hasna, kau di panggil manajer Lita di ruangannya."
__ADS_1
Wawan memberitahu pada Hasna membuat Hasna kini pergi.
Di ruangan Manajer Lita.
Tok.tok.tok.
Hasna mengetuk pintu ruangan Manajer Lita. Membuat Lita kini menatap ke arah pintu yang memang di bukanya lebar-lebar olehnya.
"Cepat masuk."
Lita segera menyuruh Hasna untuk masuk. Hasna kini berjalan memasuki ruangan Manajernya itu.
"Maaf Bu, ada apa ibu memanggil saya?"
Hasna terlihat bertanya. Lita menatap Hasna dengan tatapan tajamnya.
"Apa sebenarnya minuman yang kau berikan pada Putri Presdir?"
Lita lansung bertanya pada Hasna membuat Hasna dengan tenang menjawab.
"Saya memberikannya susu. Memang kenapa, Bu?"
Hasna benar-benar tidak mengerti kenapa tiba-tiba Manajernya menanyakan hal itu.
"Cepat kau temui Presdir jika kau tidak ingin di pecat."
Lita berkata membuat Hasna yang tidak mengerti hanya mampu menuruti perkataan managernya. Hasna langsung berjalan menuju ruangan Presdir dengan perasaan bingung.
...💗💗💗...
Galen menatap office girl yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Galen sangat sering melihat office girl ini berada di rungannya setiap pagi.
"Maaf Pak, Manajer Lita tadi menyuruh saya untuk menemui Bapak. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Hasna berkata dengan nada sopan sambil berjalan mendekati meja kerja Galen.
"Duduklah, ada hal yang ingin saya tanyakan padamu."
Galen mempersilakan Hasna untuk duduk. Hasna menurut ia kini duduk berhadapan dengan Galen.
"Lita mengatakan padaku jika kau yang menjaga putriku."
Galen bersikap tenang. Hasna mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Galen.
"Apa minuman yang kau berikan pada putri ku?"
"Susu."
Hasna berkata apa adanya. Membuat Galen terkejut jadi benar jika wanita di depannya ini yang membuat putrinya bisa sembuh.
"Susu apa yang kau berikan padanya?"
"ASI."
Hasna kembali berkata jujur membuat Galen terdiam.
"Maaf jika saat itu saya lancang memberikan putri anda ASI. Saya tidak tega melihat wajah pucat Putri anda."
Hasna menjelaskan semuanya. Hasna hanya tidak ingin jika Fiana dalam masalah karena dirinya.
"Tidak apa, saya hanya ingin berterimakasih. Berkat kau putri saya sehat."
Galen benar-benar berterimakasih pada Hasna. Hasna hanya tersenyum.
"Syukurlah jika memang putri anda sudah sehat."
Hasna benar-benar lega setidaknya perjuangan sahabatnya itu tidak akan sia-sia.
"Bagaimana saya harus membalas budi padamu."
Galen memang sangat ingin berterimakasih. Hasna segera menggelengkan kepala.
"Tidak perlu Pak, lagi pula bukan saya yang membuat putri anda sehat melainkan orang lain. Dan saya yakin orang itu pasti tidak ingin jika anda membalas budi padanya."
Hasna memang tidak ingin berbohong pada Galen. Untuk apa yang tidak ia lakukan.
"Jadi bukan kau yang menyusui putriku."
Galen memastikan. Hasna mengangguk dengan cepat.
"Jika bukan kau lalu siapa?"
Galen sangat ingin tahu siapa yang telah menolong kesembuhan putrinya itu.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya tidak bisa memberitahukan nama wanita itu karena saya sudah berjanji untuk merahasiakan semua ini."
Fiana memang meminta pada kedua sahabatnya agar tidak memberitahukan jika dirinya lah yang telah memberikan ASI pada putrinya kepada Galen.
"Apa dia adalah salah satu karyawanku?"
Galen ingin tahu.
"Bapak akan tahu jika waktunya memang sudah tepat. Biarkan wanita itu yang menjelaskannya pada anda."
Hasna kembali memberikan sebuah teka-teki pada Galen.
"Maaf Pak, bisakah saya pergi sekarang? Saya harus kembali bekerja?"
Hasna bertanya dengan hati-hati. Galen mengangguk.
"Saya permisi, Pak."
Hasna kini berdiri dan berjalan pergi.
Galen masih terdiam memikirkan perkataan Hasna.
Sebenarnya siapa wanita yang telah memberikan ASI pada putrinya?
Apa wanita itu salah satu pegawainya?
Atau justru orang lain?
Gumam Galen benar-benar tidak bisa menebaknya.
Galen kini menghela nafas berat dan mulai fokus kembali pada berkasnya yang ada di atas meja kerjanya.
...💗💗💗...
Hasna kini berpapasan dengan Tina yang memang akan keluar dari pantry.
"Hasna, kenapa Manajer Lita memanggilmu?"
Tina rupanya sangat penasaran karena tidak biasanya Manajer Lita menyuruh Hasna ke ruangannya.
"Sebenarnya bukan Manajer Lita yang memanggilku melainkan Pak Presdir."
Hasna berkata yang sebenarnya membuat Tina menarik tangan Hasna untuk masuk ke dalam ruangan pantry yang memang sepi.
"Untuk apa Galen memanggilmu?"
Tanya Tina nampak ingin tahu.
"Dia menanyakan padaku. Apa minuman yang aku berikan pada putrinya dan aku memberitahukan yang sebenarnya pada Pak Presdir."
Hasna menjelaskan pada sahabatnya itu. Tina terlihat terkejut mendengar perkataan Hasna.
"Jangan katakan jika kau juga memberitahukan bahwa Fianalah yang memberikan ASI pada putrinya."
Tina terlihat berbisik di telinga Hasna. Hasna segera menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak mengatakan siapa yang memberikan ASI itu. Kau bahkan tahu jika aku sudah berjanji pada Fiana."
Hasna kini berkata membuat Tina kini menghela nafas lega mendengar jawaban dari mulut sahabatnya itu.
"Syukurlah jika kau memang tidak memberitahukan yang sebenarnya."
Tina memang ingin jika Fiana bisa kembali bersama dengan Galen tapi tidak dengan cara seperti ini. Karena sahabatnya itu benar-benar belum siap untuk bertemu dengan Galen sekarang.
Jadi biarkan sahabatnya itu yang menyelesaikan masalahnya sendiri dan dia hanya perlu mendukung semua keputusan yang akan di ambil oleh sahabatnya itu.
Tina hanya berharap keputusan yang akan di ambil Fiana adalah keputusan yang tepat dan bisa membuat sahabatnya itu bahagia.
Tina sangat ingin melihat senyum yang terbit di bibir sahabatnya itu sudah lama senyum itu menghilang di wajah Fiana dan hanya ada kesedihan yang terpancar dari raut wajah Fiana.
Tina berharap pengorbanan sahabatnya selama ini tidak sia-sia dan membuahkan hasil yang akan membahagiakan Fiana nantinya.
...💔💔💔...
Bersambung.
Nantikan kelanjutan cerita ini.
Terimakasih. 🙏🙏🙏
Jangan lupa like, vote, komentar dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.
Salamku dan Patimah_WIZONE.
__ADS_1
Jika para readers tidak suka dengan jalan cerita ini lebih baik back.