FIANA Sequel Pengantin Yang Tertukar

FIANA Sequel Pengantin Yang Tertukar
Eps 12. Menghindar


__ADS_3

Sebelum para readers baca lanjutan cerita ini. Authour mau meminta maaf jika alur cerita ini sangat lambat dan tidak sesuai dengan keinginan kalian πŸ™πŸ™πŸ™


Authour pikir wajah jika Galen dan Fiana belum bisa di pertemukan karena bagi auhour cerita ini masih panjang. Jika kalian tidak berkenan dengan cerita ini. Auhour minta maaf dan auhour tidak memaksa kalian untuk tetap membaca cerita ini.


Terimakasih untuk readers yang masih setia baca ceritanya ini.πŸ™πŸ™πŸ™


...πŸ’—πŸ’—πŸ’—...


Fiana tengah berbaring lemah di ranjang. Hari ini ia memang tidak masuk kerja karena badannya tiba-tiba saja panas dingin. Sebenarnya tadi Fiana ingin memaksakan diri untuk bekerja tapi kedua sahabatnya melarangnya. Membuat Fiana hanya bisa menurut.


Fiana mengeratkan selimutnya karena ia benar-benar kedinginan. Fiana tidak tahu kenapa tubuhnya lemah padahal selama ini Fiana jarang sakit.


Apa ia kelelahan? Atau ada hal yang lain. Entahlah Fiana sendiri tidak tahu.


Pintu rumah kini di buka oleh Tina. Tina dan Hasna segera masuk ke dalam rumah. Mereka ingin memastikan keadaan sahabatnya itu.


"Fiana."


Hasna mendekati ranjang Fiana. Ia kini duduk di ranjang berhadapan dengan Fiana.


Hasna langsung menempelkan punggung tangannya guna mengecek kondisi Fiana. Hasna terkejut mendapati tubuh panas Fiana.


"Tina."


Panggil Hasna dari dalam kamar. Tina yang mendengar langsung mendekati Sahabatnya.


"Ada apa?"


Tina kini sudah berada di samping Hasna.


"Fiana demam. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit."


Kata Hasna menyarankan. Tapi tiba-tiba Fiana membuka matanya dengan susah payah.


"Aku baik-baik saja tidak perlu ke rumah sakit."


Fiana berkata dengan wajah pucatnya membuat Tina diam-diam mendengus kesal kearah sahabatnya itu.


"Apa yang kau katakan Fi, wajahmu sangat pucat. Bagaimana mungkin kau berkata jika kau baik-baik saja."


Tina terlihat kesal sangat kesal malah karena Fiana sangat keras kepala.


"Fiana, kami benar-benar mencemaskanmu. Kau mau kan ke rumah sakit."


Hasna membujuk Fiana agar mau ke rumah sakit. Fiana menggeleng dengan pelan.


"Fi, jangan membuat kami semakin mengkhawatirkanmu. Ayo kita ke dokter. Kau bahkan sudah 2 hari ini demam."


Tina kali ini membujuk Fiana. Fiana tetap menggelengkan kepalanya. Membuat Tina terlihat frustrasi.


"Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Berhentilah bersikap keras kepala."


Tina benar-benar sangat cemas melihat kondisi Fiana. Hasna juga mencemaskan Fiana.


Fiana tiba-tiba saja tidak sadarkan diri membuat kedua sahabatnya panik.


"Fiana, kau kenapa?"


Tina terlihat menepuk-nepuk pipi Fiana pelan berharap Fiana sadar. Tapi Fiana masih tidak mau membuka matanya.


"Sebaiknya kita bawa Fiana ke rumah sakit. Kau tunggu disini, aku akan mencari bantuan."


Hasna langsung beranjak dari ranjang dan berlari keluar dari rumah. Sedangkan Tina masih berusaha membuat sahabatnya itu sadar.


"Fiana, ku mohon sadarlah. Jangan membuatku bertambah khawatir."


Gumam Tina dengan wajah yang begitu cemas.


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Galen terlihat gelisah sekarang. Ia tidak tahu kenapa dia sangat gelisah. Tiba-tiba saja Galen teringat dengan istrinya.


Apa Fiana baik-baik saja?


Dimana sebenarnya Fiana berada?

__ADS_1


Galen bertanya-tanya dalam hatinya. Sedari tadi hatinya merasa tak karuan. Galen sendiri tidak tahu kenapa?


Galen kini mengambil ponselnya dan segera menghubungi Orang kepercayaannya.


"Sekertaris Jun , cepat cari keberadaan istri saya sekarang. Saya merasa jika sedang terjadi sesuatu padanya."


Galen langsung memberikan perintah pada Sekertarisnya.


"Baik pak, saya akan segera menyuruh orang-orang saya agar segera menemukan keberadaan istri anda."


Sekertaris jun berkata di sebrang sana.


"Saya ingin jika kau langsung memberikan kabar jika sudah menemukan keberadaannya."


Galen wanti-wanti.


"Baik pak, saya akan langsung mengabari bapak jika saya sudah menemukan keberadaan nyonya muda."


Galen langsung memutuskan panggilannya. Galen kini beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Bi Rum dan Bi jum yang tengah mengendong anaknya.


"Bi, aku akan pergi sekarang. Bibi jaga anakku baik-baik. Jika ada Apa-apa langsung kabari aku. "


Galen berpesan pada kedua bibinya.


"Baik tuan, tapi kenapa wajah tuan seperti sedang gelisah."


Bi rum tahu jika majikannya tengah memikirkan sesuatu.


"Aku hanya tengah memikirkan istriku. Aku pamit."


Setelah mengatakan itu Galen pergi.


"Semoga tuan cepat menemukan keberadaan nyonya muda."


Kata Bi jum berdoa. Bi rum juga berharap demikian.


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Rumah Sakit Pelita.


Hasna dan Tina tengah menunggu Fiana yang tengah di periksa oleh seorang dokter. Keduanya sama-sama mencemaskan keadaan Fiana. Dokter kini keluar dari ruangan inap Fiana.


Hasna mendekati dokter dengan Tina.


"Pasien mengalami demam. Tapi saya sudah menyuntikan obatΒ  pada infusnya jadi kalian tidak perlu khawatir."


Ucap Dokter siska.


"Dok, jika boleh tahu apa penyebab sahabat kami demam?"


Tina kini bertanya.


"Ini sering terjadi pada ibu menyusui."


Dokter siska kini menjelaskan detailnya membuat Tina dan Hasna hanya mengangguk.


...πŸ’—πŸ’—πŸ’—...


Kamar inap Fiana.


"Apa kita perlu menghubungi presdir?"


Hasna tampak bertanya pada Tina.


"Tidak perlu, untuk apa kau mengatakan hal itu padanya. Lagi pula hubungan mereka sudah lama berakhir."


Tina menolak usulan Hasna.


"Tapi apa kau tak merasa kasihan pada presdir."


Hasna kembali berkata.


"Untuk apa aku kasihan padanya. Dia saja selalu menyakiti hati sahabatku ini."


Rupanya Tina belum bisa melupakan semua kejadian yang di alami Fiana.

__ADS_1


"Mungkin dia punya alasan. Kenapa dia melakukan semua itu."


Hasna seakan membela Galen.


"Iya dia memang punya alasan dan alasanya karena dia membenci Fiana yang sudah menghancurkan impiannya untuk bisa menikah dengan kekasihnya yang tak lain adalah saudara kembar Fiana."


Tina kembali kesal jika mengingat semua penghianatan itu.Β  Hasna hanya mampu diam sambil menatap wajah Fiana.


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Galen tampak frustrasi karena tidak bisa menemukan keberadaan istrinya itu. Sudah hampir beberapa hari ini dia mencari keberadaan Fiana tapi tak kunjung ketemu.


Galen tengah duduk di salah satu kursi di rumah makan di pinggir jalan. Galen tiba-tiba saja menemukan sosok Fiana yang tengah berjalan di depan rumah makan tersebut. Galen dengan cepat beranjak dari kursi dan pergi.


Galen mencari sosok Fiana yang tadi ia lihat. Ia benar-benar yakin jika itu istrinya. Mata Galen kini tertujuh pada tubuh Wanita yang berjalan menjauhi rumah makan itu dengan cepat Galen berlari.


"Fiana."


Galen berusaha memanggil nama Fiana sambil terus berlari. Fiana yang mendengar namanya di panggil kini refleks menatap ke belakang. Fiana bisa melihat dengan jelas Galen tengah berlari mendekatinya. Fiana jelas terkejut bagaimana bisa Galen ada disini. Fiana terlihat kembali menatap ke depan dan berlari menghindar dari Galen. Tapi Fiana kala cepat Galen lebih dulu berada di belakangnya memeluk tubuh Fiana.


Fiana mematung di pelukan Galen seakan tubuhnya susah untuk di gerakan.


"Aku merindukanmu."


Galen berbisik di telinga Fiana dengan memeluk Fiana. Fiana tersadar dan segera merontah di pelukan Galen.


"Lepaskan aku, kau siapa berani sekali memelukku."


Fiana mencoba melepaskan tubuhnya dari Galen tapi tubuh Galen sangat kuat.


"Fiana, aku Galen suamimu."


Galen berkata pelan. Fiana tetap memberontak.


"Aku tidak punya suami. Kau salah orang. Lepaskan aku."


Fiana dengan cepat berkata agar Galen mau melepaskannya.


"Fiana apa yang kau katakan aku memang suamimu."


Galen meyakinkan. Fiana tetap tak perduli.


"Kau memang bukan suamiku dan lepaskan aku. Jika tidak aku akan berteriak."


Fiana mengancam membuat Galen kini melepaskan pelukannya. Fiana ingin pergi tapi Galen memegang tangannya.


"Fiana bisakah kita bicara? Aku ingin menjelaskan semuanya padamu."


Galen berkata sambil memandang wajah Fiana.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan. Aku bukan Fiana dan berhenti mengikutiku."


Fiana tetap berbohong. Galen sangat tahu jika istrinya masih shock melihatnya.


"Baiklah kali ini aku akan melepaskanmu,Β  tapi jika aku bertemu denganmu lagi. Maka kau harus mau mendengar penjelasanku."


Galen kini mengalah. Fiana tampak tidak suka dengan perkataan Galen barusan.


"Siapa dirimu berani sekali memerintahku. Kau bahkan bukan keluargaku."


Setelah mengatakan itu Fiana berlari dengan cepat agar Galen tak bisa mengikutinya. Galen hanya bisa menatap punggung Fiana yang semakin menjauh.


Galen tahu kesalahan yang ia perbuat dulu sangat fatal tapi tidak bisakah istrinya itu memberikan kesempatan kedua untuknya.


...πŸ’“πŸ’“πŸ’“...


Bersambung.


Mampukah Galen meyakinkan istrinya bahwa dia benar-benar sangat menyesal dengan apa yang pernah ia lakukan dulu?


Bisakah Fiana memaafkan suaminya itu atau justru sebaliknya ?


Kalau penasaran nantikan kelanjutannya, ya!


Jangan lupa like , vote, komentar, dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.

__ADS_1


Terima kasih. πŸ™πŸ™πŸ™


Salamku dan Patimah_WIZONE


__ADS_2