
Lita secara terang-terang menyukai Galen. Bahkan semua karyawan di hotel ini tahu akan hal itu, begitu pula dengan Galen sendiri.
Galen sebenarnya tahu sejak awal kedatangannya ke hotel ini salah satu bawahannya itu menyukai dirinya. Salah satunya adalah Lita yang selalu terang - terangan mencari perhatiannya. Tapi dia seakan tidak memperdulikan semua kelakuan Lita itu.
Yang dia inginkan hanya Fiana, bukan wanita lain. Sudah cukup dulu dia menduakan Fiana dengan Felly.
Dia tidak mau lagi di cap sebagai lelaki yang tidak setia oleh istrinya itu. Sekalipun dia tahu bahwa istrinya itu mungkin saja tidak melihat kelakuannya.
Tapi dia tetap ingin menjaga perasaan istrinya, walaupun Fiana tidak berada di sampingnya saat ini.
Setiap hari Lita selalu menyuruh salah satu office girl di hotel ini untuk menyiapkan kopi untuk di berikan pada Galen sebagai bentuk dari perhatiannya pada lelaki itu. Begitupun dengan hari ini.
Di pantry hotel.
Hasna terlihat tengah membuatkan kopi untuk Presdirnya seperti biasanya. Fiana yang saat itu baru saja masuk ke dalam pantry kini mulai mendekati Hasna.
"Hasna, Kau sedang membuat kopi untuk siapa?"
Tanya Fiana tampaknya ingin memastikan sesuatu. Karena setiap hari dia melihat sahabatnya itu membuatkan kopi untuk seseorang yang di yakini adalah Galen.
"Seperti biasa untuk Presdir."
Jawab Hasna sambil menuang air panas ke dalam gelas yang sudah dia beri kopi sebelumnya.
Fiana menghela nafasnya saat mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Jadi benar kopi itu untuk Galen.
Fiana merasa sudah beberapa bulan ini Galen sering sekali meminum kopi di pagi hari, bahkan siang hari.
Padahal dulu lelaki itu pernah berjanji padanya untuk berhenti minum kafein.
Apa ucapan lelaki itu dulu hanya bualan saja. Dan tidak serius, tapi sepertinya saat itu Galen sepertinya serius saat mengatakan padanya.
"Ku rasa kau harus menganti minuman untuk Pak Presdir."
Fiana lalu mengambil sebuah gelas dari dalam lemari dan membuat teh madu untuk Galen.
"Mengganti minuman untuk Pak Presdir, tapi kau kan tahu jika Manajer Lita menyuruhku untuk membuat kopi ini untuk Presdir."
Hasna terlihat kurang setuju dengan usulan Fiana. Dia takut Manajer Lita tahu jika dia mengganti minuman untuk Presdir.
"Kau kan tahu jika kopi tidak baik untuk kesehatan jika terus menerus di konsumsi. Sudah antar teh madu ini pada Presdir, aku yakin dia akan suka. "
Fiana menaruh gelas berisi teh madu itu ke atas nampan. Hasna hanya tersenyum mendengar perkataan Fiana.
"Ternyata kau masih memperhatikannya. Baiklah aku akan mengantar minuman ini pada Presdir."
Setelah mengatakan itu Hasna langsung keluar dari pantry. Sedangkan Fiana hanya menatap punggung sahabatnya yang semakin menjauh.
'Aku bukan hanya masih memperhatikannya tapi aku juga masih sangat mencintainya.'
Gumam Fiana dan mulai kembali sibuk dengan aktivitasnya.
...💗💗💗...
Cklek...
Hasna terlihat berjalan memasuki ruangan sang Presdir dan mendapati ruangan itu masih kosong.
Pantas saja saat tadi ia mengetuk pintu ruangan Presdirnya itu tidak jawaban dari dalam, ternyata Presdirnya itu belum datang.
Hasna menaruh teh itu di atas meja kerja sang Presdir. Saat Hasna akan pergi, ia tidak sengaja melirik pada sebuah bingkai foto yang berada di atas meja Presdirnya. Hasna mulai merasa penasaran dan dengan ke beranian yang entah datangnya dari mana tangan Hasna terulur untuk mengambil bingkai foto itu.
...
...
...( Foto Fiana )...
"Ini foto siapa? Tapi ku rasa ini foto Fiana (menebak) bukankah Fiana punya saudara kembar mungkinkah ini foto adiknya."
Hasna bergumam sendiri sambil menatap foto itu lekat-lekat. Hasna tidak yakin jika itu foto sahabatnya.
__ADS_1
Cklek...
Hasna tersentak mendengar seseorang membuka pintu ruangan itu dengan cepat Hasna meletakkan kembali bingkai foto itu ke tempatnya seperti semula sebelum orang itu masuk.
Galen terkejut mendapati seorang office girl berada di dalam ruangannya dan tengah berdiri di dekat meja kerjanya.
"Apa yang kau lakukan di ruanganku."
Galen sedikit membentak Hasna membuat Hasna sendiri merasa terkejut.
"Maaf Pak, saya kesini hanya ingin mengantarkan minuman ini untuk anda."
Hasna terlihat tidak berani menatap Galen yang terlihat sangat menakutkan. Galen menghela nafas dan berjalan mendekati office girl itu.
"Kau boleh kembali bekerja."
Galen kini mulai duduk di kursi kebesaranya. Hasna mengangguk dan berjalan untuk pergi tapi langkahnya terhenti.
"Maaf Pak, jika saya lancang tapi wanita di foto itu siapa ya Pak? Apa dia istri anda? "
Hasna bertanya dengan hati-hati. Sepertinya rasa penasarannya benar - benar mengalahkan rasa takutnya.
"Jadi kau sudah melihat foto ini."
Galen mengambil bingkai foto yang berada di atas mejanya.
"Maaf Pak, tadi saya tidak sengaja melihat foto itu."
Hasna meminta maaf karena merasa bersalah atas ke lancangannya melihat foto itu.
"Tidak apa - apa, dia adalah Istriku. Dia sangat cantik bukan? "
Galen meminta pendapat pada Hasna. Hasna tampak menganggukan kepalanya sambil tersenyum
"Istri anda sangat cantik, Pak. Pasti anda sangat mencintainya."
Tebak Hasna benar-benar tidak bisa menahan rasa penasaran. Ia hanya ingin tahu apa foto itu foto sahabatnya.
"Saya memang sangat mencintainya."
Sepertinya Hasna salah menangkap maksud dari ucapan Galen!!! Yang Galen maksud sebagai istrinya dan wanita yang sangat di cintainya itu adalah Fiana dan bukan Felly.
"Pantas saja Fiana mengatakan jika suaminya masih sangat mencintai adiknya itu."
Hasna berkata dengan pelan tapi masih bisa di dengar oleh Galen walaupun samar-samar.
"Kau berkata apa tadi? "
Pertanyaan Galen membuat Hasna tersadar dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Maaf Pak, saya tidak mengatakan apa-apa. Saya permisi."
Hasna segera pergi sebelum Presdirnya itu justru menanyakan hal yang tidak-tidak padanya.
Galen seperti mendengar ofice girl tadi menyebut nama orang yang berarti di hidupnya tapi apa ia tidak salah mendengarnya.
...💙💙💙...
Fiana terlihat duduk di salah satu kursi yang ada di pantry. Ia sedang memikirkan perkataan para teman kerjanya bahwa Manajer Lita sangat menyukai Galen.
Ada rasa tidak terima di hatinya kala tahu jika ada wanita lain yang mencintai suaminya. Tunggu apa Galen masih bisa ia sebut suaminya sedangkan mereka sudah berpisah.
Entahlah Fiana tengah bingung dengan dirinya sendiri. Semakin ia ingin melupakan Galen semakin dalam perasaan Fiana padanya.
"Fiana."
Tina tampak memegang pundak Fiana membuat Fiana tersadar dari lamunanya.
"Sampai kapan kau akan terus seperti ini."
Tina kini duduk di hadapan Fiana.
"Apa maksudmu? "
__ADS_1
Fiana tak mengerti dengan perkataan sahabatnya ini.
"Sampai kapan kau akan membohongi perasaanmu itu. Aku tahu kau sering memikirkannya bukan. Lalu kenapa kau tidak mencoba untuk bertemu dengannya dan selesaikan masalah kalian."
Tina kembali menasehati Fiana. Tina ingin melihat Fiana bisa menyelesaikan masalahnya itu.
"Aku belum siap."
Fiana selalu saja berkata hal yang sama bahwa dirinya tidak siap jika harus menerima kenyataan yang menyakitkan baginya.
" Mau sampai kapan ? Kau bahkan sudah 2 bulan menghindarinya. Apa akan terus seperti ini."
Tina tidak menyangkah jika sahabatnya ini cukup keras kepala.
"Sampai aku bisa menata hatiku kembali."
Fiana tanpa menatap Tina. Tina terlihat menghela nafas berat.
"Terserah kau saja."
Akhirnya Tina menyerah. Hasna kini masuk ke dalam pantry dan melihat kedua sahabatnya yang terdiam.
"Ada apa dengan kalian? "
Hasna kini duduk di samping Fiana. Fiana nampak diam begitu juga dengan Tina membuat Hasna heran. Tidak biasanya kedua sahabatnya ini hanya diam.
"Kalian tahu tadi aku melihat foto seorang wanita di meja Presdir."
Perkataan Hasna membuat Fiana dan Tina menatap Hasna.
"Foto siapa maksudmu?"
Tina yang penasaran kini bertanya. Fiana juga penasaran tapi ia lebih memilih diam.
"Wanita yang sangat mirip denganmu. Aku yakin jika itu kau, tapi setelah aku bertanya pada Presdir dia bilang jika wanita itu adalah istrinya yang sangat ia cintai. Dan aku menjadi ragu. Apa itu benar-benar dirimu? "
Hasna memberitahu yang sebenarnya. Fiana seakan kecewa mendengar perkataan Hasna ia yakin jika wanita di foto itu bukanlah dirinya.
"Apa kau sudah tanyakan siapa nama istrinya? "
Tina mewakili Fiana. Hasna mengelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Tina barusan.
"Tidak perlu di tanyakan dia pasti Felly ."
Fiana berkata dengan wajah kecewa. Tina dan Hasna bisa merasakan jika sahabatnya ini tengah kecewa dengan berita tersebut.
"Tapi bukankah aku pernah bilang jika Presdir tengah mencari keberadaan istrinya. Apa mungkin yang tengah ia cari selama ini benar-benar dirimu."
Hasna ingat dengan pembicaraan Galen dan orang kepercayaannya.
"Bukankah sudah ku katakan itu bukan aku. Lagi pula untuk apa dia mencariku? Aku bahkan sudah memberinya dua orang anak bukankah itu sudah cukup untuknya."
Fiana berkata asal.
"Jika kau ingin tahu jawabannya maka tanyakan ini padanya?"
Tina berkata dengan cepat.
"Untuk apa? Menurutku hubunganku dam dia sudah berakhir saat aku memutuskan pergi dari kehidupannya."
Perkataan Fiana membuat Tina dan Hasna hanya mampu diam.
...💙💙💙...
Bersambung.
Nantikan kelanjutannya ceritanya.
Makasih buat semuanya. 🙏🙏🙏
Jangan lupa like, vote dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.
Salamku dan Patimah_WIZONE.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar kalian. 😊😊😊