
Hari ini seperti biasanya. Galen tengah bersiap untuk pergi ke hotel tapi ia terkejut saat mendengar suara anaknya yang menangis dengan sangat kencang sampai terdengar ke dalam kamarnya.
Galen yang saat itu tengah memakai dasi langsung bergegas untuk keluar dari dalam kamarnya dan berlari menuju kamar anaknya. Untuk melihat apa yang terjadi disana.
"Bibi, ada apa? kenapa Aura menangis?"
Galen mendekati Bi Rum yang tengah mengendong putrinya.
"Saya tidak tahu Tuan. Sejak tadi Nona Aura tidak berhenti menangis padahal Bibi sudah memberikan susu untuknya."
Bi Rum masih mencoba menenangkan Aura.
"Biarkan aku mengendongnya, Bi. Mungkin Aura ingin di gendong oleh Ayahnya."
Ucap Galen pada Bi Rum. Membuat Bi Rum langsung memberikan Aura kepada Galen.
"Bukankah Tuan akan terlambat untuk pergi ke hotel?"
Bi Rum mengingatkan majikannya itu.
"Bibi tenang saja. Aku akan ke hotel setelah menidurkan Aura."
Galen sambil menimang anaknya. Sedangkan Bibi yang melihat merasa iba coba Nyonya Muda masih ada, pasti sekarang Aura ada yang mengurus.
Sudah 20 menit tapi Aura masih tidak mau tidur dan masih menangis membuat Galen yang memang harus segera ke hotel. Langsung berinisiatif untuk membawa Aura ke hotel karena Galen sebentar lagi harus ikut meeting dengan klien.
"Bi, aku akan pergi ke hotel dan membawa Aura bersamaku."
Perkataan Galen membuat Bi Rum dan Jum tersentak.
"Bukankah Tuan harus meeting. Lalu bagaimana dengan Nona Aura? Siapa yang akan menjaganya?"
Bi Rum bertanya. Galen nampak bingung harus bagiamana anaknya sedang rewel.
"Aku bisa mengurusnya. Lagi pula ada banyak karyawanku disana."
Kata Galen asal. Membuat Bi Rum hanya mengangguk patuh.
...❤❤❤...
Galen baru saja masuk ke dalam hotel dengan mengendong seorang bayi. Dan membuat semua karyawan Galen menatap ke arah Presdirnya dengan tatapan penasaran.
Mereka seakan bertanya-tanya di dalam hati. Siapa kah bayi cantik itu?
"Lita, kira-kira siapa ya bayi perempuan yang di bawa Presdir kesini? Apa mungkin dia anaknya Presdir? "
Reva nampak bertanya pada Lita sambil terus memperhatikan Galen yang berjalan memasuki lift.
Tak jauh dari situ Fiana tampak melihatnya juga.
Ia juga penasaran mengenai sosok bayi kecil yang di bawa oleh Galen itu.
Apa bayi itu putrinya?
Tanya Fiana di dalam hatinya sambil menatap pintu lift khusus Presdir yang sudah tertutup dengan rapat.
"Fiana, apa yang tengah kau lihat?"
Tiba-tiba seseorang wanita sudah berdiri di samping Fiana. Fiana nampak terkejut melihat sahabatnya sudah berada di sampingnya.
"Tidak ada."
Elak Fiana cepat. Tina terlihat tidak percaya dengan ucapan Fiana.
"Ck, bukankah sudah sering ku katakan jika kau tidak pandai berbohong. Kau pasti tengah melihat suamimu itu sedang mengendong seorang bayi kan."
Tina menebak membuat Fiana terlihat menatap malas kearah sahabatnya itu.
"Jika kau sudah tahu jawabannya kenapa masih bertanya padaku."
Fiana nampak kesal sendiri jadinya.
"Aku kan hanya ingin tahu saja, apa kau bisa jujur padaku atau tidak! Tapi ngomong - ngomong siapa ya bayi perempuan itu? Apa dia anakmu?"
Tina kembali bertanya pada sahabatnya itu. Tapi Fiana justru pergi meninggalkan Tina seorang diri, membuat Tina akhirnya memilih untuk mengejar langkah sahabatnya itu. Dan berjalan tepat di samping Fiana, sambil menatap kearah sahabatnya itu.
"Aku tidak tahu."
Fiana akhirnya menjawab pertanyaan yang sempat di ajukan sahabatnya itu tentang bayi perempuan yang di bawa oleh Galen.
Dia memang tidak tahu apa bayi perempuan itu adalah bayinya atau justru bayi perempuan lain!!!
"Bagaimana mungkin kau tidak tahu, Fiana. Kau kan Ibunya?"
Tina menatap heran Fiana dari samping dan Fiana tampak menghela nafasnya. Bahkan dia menghentikan langkahnya dan mulai menatap balik kearah Tina.
"Belum tentu itu anakku, Tina. Mungkin saja itu anak Felly bukan!"
Seru Fiana asal.
Dia memang tidak tahu wajah putrinya itu seperti apa? karena dulu saat ia meninggalkan kedua anaknya. Anaknya itu masih sangat kecil.
Sedangkan Tina terlihat mulai berpikir.
"Sudahlah, lebih baik kita cepat bekerja sebelum Manager Lita kembali memarahi kita."
Fiana kembali berjalan dengan langkah yang cepat, membuat Tina akhirnya hanya mengekor dari belakang, sambil terus memikirkan ucapan Fiana barusan.
Apa benar itu anak Felly?
Tapi apa iya? Atau justru itu anak Fiana?
Gumam Tina sambil terus mengikuti Fiana dari belakang. Dan menatap punggung sahabatnya itu.
...💗💗💗...
__ADS_1
Lita tengah bolak - balik tidak karuan. Karena Lita tengah memikirkan sebuah cara agar bisa membuat anak dari Presdirnya ini untuk berhenti menangis, tapi semua cara yang sudah ia lakukan gagal total. Bayi perempuan ini tetap saja menangis membuat kepala Lita hampir mau pecah.
Lita kini memanggil temannya agar segera datang ke kamar untuk menenangkan bayi perempuan ini.
Cklek...
Pintu kamar itu tampak di buka oleh seseorang dari luar dan muncullah Reva.
Reva segera masuk ke dalam kamar dan ia bisa melihat jika Lita tengah frustrasi sekarang.
"Lita, ada apa? Kenapa kau memanggilku kesini?"
Reva kini mendekati Lita yang tengah duduk di atas tempat tidur.
"Kau tenangkan anak ini! Aku benar-benar stres hanya dengan mendengar tanggisannya sejak tadi."
Lita akhirnya beranjak dari atas tempat tidur dan menatap kearah temannya itu.
Reva terlihat mengamati bayi perempuan yang tengah berbaring di atas tempat tidur sambil menangis.
Kemudian wanita itu ingat bahwa, bayi ini adalah bayi perempuan yang tadi di bawa Presdirnya!!!
"Ya ampun Lita. Bukankah dia putrinya Pak Presdir! bagiamana mungkin dia ada bersamamu?"
Reva segera duduk di atas tempat tidur dengan wajah yang masih terkejut sambil menatap iba kearah bayi perempuan itu yang masih menangis dengan kencang.
"Aku tadi menawarkan diri untuk menjaganya selama Presdir sedang meeting."
Jawab Lita apa adanya.
Lita tadi memang menawarkan diri untuk menjaga Aura karena Galen harus meeting dan tidak mungkin jika harus membawa putrinya ke dalam ruang meeting.
Saat Lita menawarkan diri untuk menjaga Aura, Galen langsung menerima tawaran itu, walaupun ia sebenarnya sangat ragu karena mengingat Aura hari ini tengah rewel.
"Lita, bayi ini demam."
Reva tampak terkejut karena saat ia ingin mengendong Aura justru ia merasakan panas pada tubuh bayi perempuan itu.
Pantas saja jika sejak tadi bayi ini terus saja menangis!!!
"Lakukan semua cara agar dia bisa segera diam."
Lita terlihat sangat frustrasi.
Apalagi saat melihat bayi perempuan itu tidak juga mau berhenti untuk menangis seperti itu!!!
Merepotkan!!!
Pikir Lita menatap tidak suka bayi perempuan itu. Jika saja bayi itu bukan anak Presdirnya, dia tidak akan repot-repot menawarkan diri untuk menjaga bayi perempuan itu.
"Bagaimana jika kita suruh saja salah satu office girl itu untuk menjaga bayi ini."
Reva nampak mengusulkan karena dia pun tidak mengerti bagaimana caranya menenangkan seorang bayi.
Dan Lita langsung menghubungi salah satu office girl dan tak lama kemudian Lita terlihat berbicara pada seseorang di sebrang sana. Dan langsung mematikan panggilannya setelah merasa cukup.
"Bagaimana?"
"Dia akan kemari."
Jawab Lita dan kedua tampak menatap bayi perempuan itu tanpa berniat untuk menenangkannya.
Tidak lama kemudian, terdengar pintu kamar itu di ketuk dari luar oleh seseorang membuat Lita dan Reva saling menatap satu sama lain.
"Mungkin office girl itu sudah datang."
Reva segera beranjak begitu pun dengan Lita. Kedua kini terlihat berjalan kearah pintu untuk melihat siapa orang yang datang.
Dan saat pintu itu sudah di buka, Hasna terlihat berdiri disana.
"Maaf Bu, ada apa anda memanggil saya kesini?"
Hasna bertanya karena memang Lita belum mengatakan apapun padanya.
Hasna hanya di suruh kemari itu saja.
"Saya ingin kau menjaga putri Presdir, ingat jangan pernah memberitahu hal ini kepada Presdir. Jika saya lah yang menyuruhmu untuk menjaga anaknya, kau paham."
Lita tampak wanti-wanti.
Dia ingin Galen tahu bahwa dialah yang menjaga putrinya agar Galen simpati padanya dan mungkin saja akan mencintainya!!!
Hasna hanya mampu mengganggukkan kepalanya.
"Sekarang cepat masuk, saya akan pergi sekarang dan akan kembali sejam lagi."
Setelah mengatakan itu Lita langsung pergi di ikuti Reva dari belakang.
Hasna hanya mampu menatap kepergian mereka berdua sambil menggelengkan kepalanya.
Hasna kini memilih untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
Hasna di buat terkejut saat ia baru saja mengendong bayi perempuan itu.
Tubuh putri Presdir terasa sangat panas membuat Hasna tampak panik bukan main.
Hasna pun memilih untuk menelefon Tina agar datang kemari.
5 menit kemudian .
Tok..tok..tok....
Pintu kamar hotel itu di ketuk dari luar oleh seseorang membuat Hasna dengan cepat membukakan pintu.
Bisa Hasna lihat wajah Fiana yang sangat panik begitu juga dengan Tina.
Keduanya kini melangkahkan kakinya memasuki kamar itu.
__ADS_1
Fiana dan Tina sama-sama terkejut sambil menatap kearah seorang bayi perempuan yang tengah menangis di atas tempat tidur sendirian.
Entah mengapa saat menatap wajah bayi perempuan itu dari jauh, Fiana merasa bahwa bayi itu adalah putrinya.
"Sayang."
Fiana segera berjalan dengan cepat kearah tempat tidur dan langsung mengendong bayi perempuan itu.
Dan saat mengendong bayi perempuan ini Fiana semakin merasa yakin bahwa bayi perempuan ini memang putrinya. Putri yang di tinggalkannya 1 tahun yang lalu.
Ya, Fiana seakan merasakan ikatan batin yang sangat kuat dengan bayi perempuan itu.
"Sejak kapan badannya panas? "
Fiana melirik ke arah Hasna yang tengah berdiri di sisi tempat tidur. Hasna menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan yang di berikan oleh sahabatnya itu.
"Aku tidak tahu pasti, tapi yang jelas tadi saat aku kemari tubuh bayi itu sudah panas."
Jelas Hasna apa adanya. Tina kini berjalan mendekat kearah Fiana dan duduk di atas tempat tidur juga.
"Fiana, apa dia putrimu? "
Tina bertanya karena ingin memastikannya.
Fiana langsung mengangguk dengan cepat, ia memang yakin bahwa bayi yang tengah di gendongnya ini adalah bayinya.
Membuat kedua sahabatnya tampak terkejut.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang. Apa kita perlu memanggil dokter? "
Tina kembali bertanya pada Fiana sedangkan Hasna hanya diam.
"Tidak perlu, aku akan menyusuinya saja."
Jawaban Fiana membuat kedua sahabatnya kembali terkejut.
Benarkah Fiana akan menyusui bayinya!!!
"Kau yakin? Bukankah kau sudah lama tidak menyusuinya."
Tina masih belum percaya dengan apa yang ia dengar begitu pun dengan Hasna.
"Tentu saja. Aku tidak mungkin membiarkannya terus seperti ini."
Fiana kini membuka kancing kemejanya dan mulai menyusui anaknya.
Walaupun Fiana tidak yakin apa ASI nya masih bisa keluar setelah 1 tahun tidak pernah keluar lagi, karena Fiana memang sudah lama tidak menyusui anaknya.
Fiana hanya pernah sekali menyusui kedua anak, saat mereka baru saja lahir ke dunia ini.
Sepertinya ASI miliknya itu keluar, karena bayi perempuan kini tidak menangis lagi dan terlihat tenang sambil terus menghisap ****** susunya.
Fiana terlihat menggenggam tangan kecil putrinya itu. Fiana hampir saja ingin menangis, karena merasa tidak menyangkah akan di pertemukan dengan cara seperti ini dengan salah satu anaknya.
Tina dan Hasna juga merasa senang bisa melihat Fiana yang tampak tersenyum bahagia, saat Fiana menatap bayi mungil di gendongnya itu.
Mereka tahu jika Fiana sangat merindukan kedua anaknya.
"Sayang, kau harus cepat sembuh. Bunda tidak tega jika harus melihatmu seperti ini. Kau anak yang pintar, Bunda berharap kau tidak menyusahkan Ayahmu ya!!! Dan sampaikan salam Bunda pada Abangmu, hm. Katakan padanya bahwa Bunda, merindukannya. Dan Bunda ingin bertemu dengannya, kau mengerti sayang!"
Fiana berkata dengan lembut sambil terus menatap wajah putrinya yang kini tampak polos saat tertidur seperti ini, tertidur di dalam gendongannya.
Bahkan mereka tidak mendengar suara tangisan Aura lagi. Karena bayi mungil itu terlihat terlelap dengan damai di pelukan Fiana.
Hasna kini mulai duduk di atas tempat tidur menghadap kearah Fiana.
"Bagaimana bisa bayi ini ada bersamamu?"
Tanya Fiana yang kini mulai mengelus puncak kepala putrinya itu agar tetap terlelap dan dia mulai menatap kearah Hasna. Tina juga terlihat penasaran.
"Manajer Lita tadi menghubungiku dan menyuruhku untuk datang kemari. Lalu saat aku sudah berada disini, Manajer Lita langsung menyuruhku untuk menenangkan anakmu ini."
Jelas Hasna memberitahukan semuanya pada Fiana serta Tina.
"Aku tidak menyangkah jika Galen memberikan anakmu pada Manajer Lita untuk wanita itu jaga. Manajer Lita bahkan tidak bertanggung jawab dan malah menyuruh Hasna untuk menjaga anakmu."
Seru Tina tidak habis pikir dengan jalan pikiran Galen. Sedangkan Hasna memilih untuk diam sambil menatap wajah mungil putri dari sahabatnya itu.
"Mungkin saja Manajer Lita sedang sibuk, untuk itu dia menyuruh Hasna untuk menjaga putriku."
Fiana seakan membela Manajer Lita membuat Tina menatap tidak suka kearah sahabatnya itu.
"Jika memang Manajer Lita sedang sibuk, kenapa dia tidak menolak saja saat Galen menyuruh wanita itu untuk menjaga putrimu."
Tina seakan tidak sependapat dengan Fiana.
"Siapa yang berani menolak perintah langsung dari Presdir. Kau bahkan tahu jika Manajer Lita menolak perintah Presdir dia mungkin akan di pecat oleh Presdir."
Fiana terus saja membela Manajer Lita membuat Tina kesal sedangkan Hasna memilih untuk tidak ikut berkomentar.
"Aku tetap tidak percaya. Mungkin saja ini hanya akal-akal Manajer Lita saja."
Ucapan Tina membuat Fiana hanya mampu menggelengkan kepalanya.
...💗💗💗...
Apakah Fiana akan bertemu dengan Galen?
Jika memang mereka berdua di pertemukan. Bagaimana reaksi mereka?
Nantikan kelanjutan cerita ini.
Terimakasih.
Jangan lupa like, vote, dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.
Salamku dan Patimah_WIZONE.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar kalian. Agar authour terus semangat membuat lanjutan ini.