FIANA Sequel Pengantin Yang Tertukar

FIANA Sequel Pengantin Yang Tertukar
Eps 19. Pengorbanan


__ADS_3


Galen baru saja selesai menyuapi kedua anak kembarnya. Dan kini ia mulai sibuk merapikan berkas - berkas miliknya yang berserakan di atas meja kerjanya.


Sedangkan kedua anak kembarnya tengah berada di dalam kamar mereka bersama kedua asisten rumah tangganya.


Sesaat kemudian ia mendengar bel rumahnya yang di bunyikan dari luar oleh seseorang.


Galen langsung menghentikan aktivitasnya dan mulai beranjak untuk membukakan pintu.


Cklek...


Galen tampak tersenyum saat melihat sosok wanita parubaya yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Ibu..."


Panggil Galen tanpa malu langsung memeluk tubuh wanita yang melahirkannya.


Sejak kepergian istrinya, Galen akui dia jadi banyak berubah. Itu semua dia lakukan karena dia ingin berubah menjadi lelaki yang bisa jauh lebih baik lagi.


Ibu Galen balik memeluk tubuh putra bungsunya. Dia sungguh merindukan putranya ini serta kedua cucunya.


"Ibu kesini dengan siapa?"


Galen akhirnya bertanya pada Ibunya sesaat setelah dia melepaskan pelukannya.


"Ibu datang bersama Abangmu."


Ibu Galen memberitahu sambil melirik kearah putranya yang lain. Galen bisa melihat Galih tengah berjalan kearah mereka.


Tatapan mata Galen yang tajam membuat Galih mengerti bahwa Galen masih tidak menyukainya.


"Kau tenang saja, aku datang kesini bukan untuk merusak hubunganmu dengan istrimu."


Galih yang tahu arti tatapan adiknya itu langsung berseru. Dia tidak ingin Galen salah paham dengan maksud dari kedatangannya kesini.


Galen terlihat melirik kearah Ibunya mencari tahu lewat tatapan matamya.


Saat melihat Ibunya menganggukkan kepala akhirnya Galen hanya bisa menghela nafasnya.


Dia akan mencoba mempercayai ucapan Abangnya itu untuk kali ini.


"Silakan masuk."


Galen dengan sopan mempersilakan Ibu serta Abangnya untuk masuk ke dalam rumahnya. Setelah membuka lebar - lebar pintu rumahnya.


"Galen, dimana cucu Ibu?"


Ibu Galen bertanya saat beliau sejak tadi tidak melihat kedua cucunya. Ya, mereka kini sudah berada di dalam rumah Galen.


"Mereka sedang tidur, Bu. Jika Ibu ingin melihat mereka, mari aku tunjukkan dimana kamar mereka."


Galen berjalan lebih dulu. Di ikuti sang Ibu yang berjalan di belakang Galen. Mereka berjalan kearah sebuah kamar. Yang di ketahui adalah kamar Aufa dan Aura.


Cklek...


Pintu kamar Aufa & Aura di buka oleh Galen dari arah luar membuat Bi Rum dan Bi Jum yang tengah mengendong Aufa serta Aura langsung menengok kearah pintu.


"Nyonya kapan datang?"


Bi Rum langsung menghampiri majikannya sambil mengendong Aura yang tengah tertidur.


"Baru saja, Bi. Sini Bi, berikan Aura pada saya."


Bi Rum langsung memberikan Aura ke tangan Ibu Galen dengan hati - hati takut bayi mungil itu kembali terbangun.


"Bi, tolong siapkan 2 kamar untuk Ibu serta Bang Galih." Seru Galen dengan nada sopannya. Bi Rum tampak menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Saya permisi Tuan, Nyonya."


Bi Rum lantas segera pergi dari kamar anak majikannya itu. Sedangkan Bi Jum kini terlihat mendekati Galen.


"Tuan, Bibi mau membantu Bi Rum membersihkan kamar yang akan di tempati Nyonya dan Tuan Galih."


Bi jum menyerahkan Aufa pada Galen setelah itu beliau pergi.


...💜💜💜...


Disisi lain.


Galih sejak tadi terlihat sibuk mengamati suasana di rumah adiknya. Dia memang tidak mengikuti Ibunya ke kamar kedua keponakannya dan justru berdiri disini.


Galih berdecak kagum saat melihat begitu banyak sekali foto Fiana yang di pajang di rumah ini.


Hampir di setiap tempat yang dia lewati terdapat foto Fiana dengan berbagai macam gaya serta ekspresi.


Pandangan mata Galih tampak tertuju pada sebuah bingkai foto Fiana yang terlihat paling besar diantara yang lainnya.


Foto Fiana dengan dengan anak kembarnya. Jika di lihat dari backgroundnya sepertinya foto itu diambil sesaat setelah Fiana melahirkan kedua anak kembarnya.


Di foto itu Fiana tampak bersandar di ranjang rumah sakit dengan wajah pucatnya sambil menggendong Aufa serta Aura di kedua tangannya.


Dia bisa melihat di foto itu kedua keponakannya masih sangat kecil.


"Dia benar-benar telah mencintai istrinya."


Gumam Galih masih menatap foto Fiana yang tersenyum dengan bahagia.


Jujur saja Galih merasa senang saat mengetahui bahwa adiknya telah berubah, sepertinya Galen sudah sadar bahwa lelaki itu sangat mencintai Fiana meski terlambat.


"Aku sekarang merasa kalah. Apalagi saat aku tahu sebesar itu rasa cinta Galen pada Fiana dan sepertinya pengorbanan Fiana selama ini sama sekali tidak sia-sia."


Galih sekali lagi berkata di depan foto Fiana. Sebuah senyuman tampak terbit di bibir Galih, dia ikut senang jika Fiana bisa bahagia meski bukan dengannya.


Galih kembali mengajak bicara foto di depannya itu. Dia memang berjanji akan merelakan semuanya, karena Fiana tidak pernah di takdirkan untuknya. Dan dia yakin suatu hari nanti dia akan di pertemukan dengan seseorang wanita yang bisa dia cintai dan mencintainya.


"Aku bahkan tidak yakin jika dia akan mempercayaiku bahwa aku benar-benar sangat mencintainya."


Suara Galen tiba-tiba saja terdengar tepat di belakang Galih, membuat Galih tampak berbalik. Galih bisa melihat Galen tengah menatap foto Fiana dengan tatapan tidak yakinnya.


"Jangan pesimis seperti itu, karena aku yakin jika dia akan kembali mempercayaimu, Fiana perlu waktu untuk mempercayai semuanya dan kau harus terus meyakinkannya bahwa kau sudah berubah. Kau bukan Galen yang dulu, katakan juga bahwa selama ini kau tidak pernah menceraikannya. Agar dia tahu bahwa kau masih suaminya."


Galih menepuk pundak Galen memberikan sebuah dukungan pada adiknya itu.


"Aku sebenarnya sudah bertemu dengan Fiana dan menjelaskan semuanya. Tapi seperti yang kau bilang Bang, bahwa Fiana sepertinya butuh waktu untuk mempercayai semuanya. Dan aku berharap suatu hari nanti aku bisa kembali melihat senyuman di wajahnya untukku.  Jujur aku rindu memeluk tubuhnya. Aku rindu mendengar suaranya, aku rindu masakannya, aku juga merindukan terbangun dengan melihat wajahnya, aku merindukan semua yang ada di diri istriku..."


Tanpa Galen sadari cairan bening itu jatuh membasahi kedua pipinya. Setiap kali mengingat tentang istrinya entah mengapa Galen menjadi sosok lelaki yang mudah untuk menangis. Padahal dulu sebelum dia mengenal Fiana, Galen tidak pernah sekalipun menangis kecuali saat dia masih kecil.


Galih tampak terenyuh saat mendapati adiknya serapuh ini. Semenjak kepergian Fiana setahun yang lalu, Galih mendapati semua perubahan pada diri adiknya itu salah satunya adalah adiknya jadi mudah menangis setiap kali teringat akan Fiana. Padahal yang Galih tahu dulu Galen adalah sosok lelaki yang tidak mudah menangis.


"Bersabarlah, aku yakin sebentar lagi kau akan mendapatkan buah dari kesabaranmu selama ini. Karena aku tahu kalian berdua akan bahagia jika bersama."


Galih kembali menepuk bahu adiknya. Sedangkan Galen masih sibuk memandang foto Fiana yang tersenyum bahagia sambil menatap kedua anaknya. Foto yang dia dapati di dalam box bayi Aufa & Aura setahun yang lalu. Foto satu - satunya yang di tinggalkan Fiana untuknya.


"Aku juga berharap seperti itu. Semoga Fiana mau kembali mempercayaiku dan memberikan aku kesempatan yang kedua untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu."


Galen memang masih merasa sangat bersalah jika ia mengingat bagaiamana dulu ia selalu menyakiti hati istrinya itu.


Galen selalu membuat istrinya menangis


Galen juga selalu membuat istrinya itu terluka karena perkataannya.


Galen benar-benar amat merasa bersalah sekarang.


"Tenanglah aku yakin Fiana akan memaafkanmu dan kembali lagi kepelukanmu."

__ADS_1


Entah mengapa Galih benar-benar yakin dengan hal itu sedangkan Galen merasa sebaliknya.


Ibu Galen yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan kedua putranya hanya mampu untuk diam.


Beliau merasa kepergian Fiana tanpa sadar justru mendekatkan dan mendewasakan kedua putranya.


"Ibu berharap kelak kau akan bahagia nak."


Ibu Galen juga sangat berharap jika menantunya akan kembali lagi ke sisi anaknya. Walaupun beliau tahu jika anaknya pernah berbuat kesalahan yang sangat fatal di masa lalu tapi anaknya kini sudah mendapatkan balasannya.


...💙💙💙...


Fiana menatap foto kedua anaknya yang sempat dia dapatkan dari Galen kemarin. Ya, sebelum dia pergi Galen sempat memberikan foto kedua anaknya saat masih kecil.


...



...


Galen juga sempat memberitahu dirinya tentang nama lengkap kedua anak kembarnya, Chandra Aufa Putra Surendra (Aufa) dan Chelsea Aurora Putri Surendra (Aura).


Yang Fiana tidak menyangkah adalah Galen benar - benar menamai kedua anaknya dengan nama yang sempat dia panggil untuk kedua anak kembarnya sesaat setelah dia melahirkan Aufa & Aura setahun yang lalu. Dan hanya karena melihat video itu Galen langsung menamai kedua anaknya dengan nama itu.


Hatinya ikut terharu saat mengetahui itu semua.


"Aufa sayang, Aura sayang.... Bunda kangen kalian berdua. Maafkan Bunda yang sudah tega meninggalkan kalian bersama Ayah, maaf karena keegoisan Bunda kalian jadi ikut terluka. Bunda janji Bunda akan menebus semuanya... kalian berdua mau kan memaafkan Bunda?"


Fiana mengelus foto kedua anaknya dengan tatapan sayangnya. Jika di tanya apakah dia menyayangi kedua anaknya maka dengan tegas dia menjawab dia menyayangi serta mencintai kedua anaknya. Dia meninggalkan kedua anaknya dulu bukan karena tidak menyayangi mereka tapi dia yakin bahwa bersama Galen anaknya akan jauh lebih bahagia.


"Fiana..."


Fiana menengok kearah pintu dan mendapati Tina berada disana. Sahabat yang sejak dulu selalu ada di sampingnya di saat suka dan duka.


Dia bersyukur memiliki Tina di sampingnya. Fiana bisa melihat Tina tampak berjalan mendekat kearahnya.


"Kembalilah pada Galen. Aku rasa Galen sudah banyak berubah, dia sudah sadar bahwa dia mencintaimu dan menyesal dengan apa yang sudah di lakukan padamu dulu. Kalian berdua berhak untuk bahagia, begitupun dengan Aufa dan Aura mereka butuh kau sebagai Bundanya. Maafkanlah suamimu, dia berhak mendapatkan kesempatan kedua darimu."


Fiana memang sudah menceritakan mengenai kejadian di ruangan Galen pada Tina tadi malam.


Dan dia kini terdiam saat mendengar penuturan dari sahabat baiknya itu. Tina benar Galen sudah berubah dan berhak mendapatkan kesempatan kedua. Mereka berhak untuk bahagia.


"Tina, terimakasih karena kau selama ini selalu berada di sampingku. Jika tidak ada kau, aku tidak tahu apa yang terjadi pada hidupku. Kau benar Galen sudah berubah dan dia berhak mendapatkan kesempatan kedua dariku. Tapi apakah aku masih pantas berada di tengah - tengah Galen dan kedua anakku?"


Fiana yang masih sedikit ragu akhirnya bertanya pada Tina. Tina tersenyum saat mendengar pertanyaan sahabatnya itu.


"Tentu saja kau pantas kembali bersama keluarga kecilmu. Fiana, buang semua keraguan di hatimu dan percayalah pada suamimu. Sudah cukup selama ini kau terluka dan sekarang waktunya kau untuk bahagia. Karena kebahagiaanmu aku yakin terletak bersama dengan mereka."


Fiana langsung berhambur kepelukan Tina. Tina balas memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Kau benar aku berhak untuk bahagia sekarang." Seru Fiana sambil tersenyum dengan lebar.


'Galen, Aufa & Aura. Aku akan kembali bersama kalian... tunggu aku dan kita akan bahagia.'


Gumam Fiana di dalam hatinya. Dia tidak akan ragu lagi sekarang.


...❤❤❤...


Bersambung...


Salam ku dan Patimah_WIZONE.


Tunggu lanjutannya ya...


Jangan lupa like, vote, dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.


Jangan lupa juga tinggalkan komentar kalian semua...

__ADS_1



__ADS_2