
Malam hari rumah keluarga Surendra
Kamar Aura dan Aufa.
Sudah satu jam yang lalu Fiana tidak henti - hentinya menatap kearah kedua anaknya yang tengah terlelap di dalam box bayi mereka. Hari memang sudah lewat tengah malam tapi Fiana sejak tadi memang tidak bisa tidur dengan nyenyak dan ia memilih untuk ke kamar kedua anaknya yang berada tepat di samping kamar Galen.
Sore tadi Galen memintanya untuk tidur disini dan Fiana tidak bisa menolak keinginan dari suaminya itu.
Ada rasa penyesalan di dalam hati Fiana setiap kali ia teringat bahwa selama 1 tahun lebih ini, ia tidak pernah merawat kedua anaknya.
Hanya karena kesalahan pahaman diantara dirinya dan juga suaminya, ia sampai tega membiarkan kedua anaknya tidak mendapatkan kasih sayang dari dirinya sebagai seorang Bunda.
Bahkan ia pun sampai tega tidak memberikan ASI eksklusif bagi kedua anaknya saat mereka baru berusia 2 hari dan sampai sekarang.
Karena keegoisannya juga ia sampai melewatkan tumbuh kembang kedua anaknya.
Ia merasa menjadi Bunda yang gagal bahkan sebelum ia sendiri merasakan bagaimana susahnya merawat buah hatinya saat mereka masih bayi.
Ia melewatkan itu semua hanya karena dulu ia telah salah paham pada suaminya.
Bahkan Fiana juga merasa bersalah pada Galen karena meninggalkan lelaki itu sendirian dan meninggalkan kedua anaknya bersama dengan Galen.
Padahal saat ia meninggalkan kedua anaknya saat itu, mereka masih terlalu kecil dan ia yakin Galen pun pasti merasa kesulitan saat menjaga kedua anaknya seorang diri tanpa dirinya sebagai seorang istri dan seorang Bunda. Dan ia justru dengan teganya angkat tangan dari tanggung jawabnya sendiri.
Andai waktu bisa di ulang kembali, ke masa di saat ia meninggalkan kedua anaknya di rumah sakit sendirian, ia mungkin akan berpikir ulang untuk melakukan itu semua.
Seharusnya dulu ia harus lebih bersabar demi kedua anaknya...
Tes...
Air matanya yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
"Sayang anak - anak Bunda. Maafkan Bunda karena selama ini Bunda tidak pernah merawat kalian, memberikan kasih sayang kepada kalian hanya karena ke egoisan Bunda semata."
Fiana benar-benar merasa bersalah pada kedua buah hatinya. Dan rasanya ia tidak sanggup untuk menahan isak tangisnya sendiri. Ia tahu Galen sudah memaafkan dirinya tapi perasaan bersalah itu selalu saja hadir di dalam hatinya.
"Maaf... Hiks.. Kalian...yang...justru...hiks.. menanggung...akibatnya...Hiks... Maaf... Karena...Bu..nda...begitu.. Ego..is...sampai...hiks...sampai.. Bunda...tidak..me..mikir..kan...pera..saan..kalian...maaf..karena..seta..hun.. Ini.. Bunda...hiks..."
Fiana tidak kuasa menatap kedua wajah kedua anaknya yang sedang tertidur. Hatinya sakit saat ia sadar selama ini dialah wanita paling egois di dunia ini.
"Maaf...hiks..."
Fiana jatuh terduduk di atas lantai yang dingin. Dan mulai menenggelamkan wajahnya diantara kedua pahanya.
Penyesalan itu membuat dirinya merasa tidak pantas berada disini.
Tiba-tiba saja suara tangisan salah satu bayi nya kini terdengar sampai keluar kamar.
...💙💙💙...
Galen tampak terkejut saat mendengar suara tangisan bayi dari arah kamar kedua anaknya.
Apakah Aura terbangun dari tidurnya dan menangis!!!
Pikir Galen di dalam hatinya.
__ADS_1
Ia yang baru saja keluar dari ruang kerjanya langsung berlari menaiki satu persatu anak tangga untuk segera sampai di kamar kedua anaknya.
Galen melangkah dengan cepat kearah box bayi milik Aura dan Aufa. Sesaat setelah ia sampai disana.
Galen di buat terkejut saat mendapati bahwa Aufa lah yang tengah menangis.
Tidak biasanya Aufa menangis saat tengah malam seperti ini, karena biasanya Auralah yang selalu menangis.
Galen mulai menengok kearah Aura, putri kecilnya itu tengah tertidur dengan damai tanpa terganggu sedikitpun dengan tangisan saudara kembarnya.
Galen kini dengan sigap mengangkat tubuh putranya itu dan mengendongnya agar tangisan Aufa berhenti tapi Aufa malah menangis semakin kencang.
"Sayang, Aufa anak ayah. Kenapa menangis, hm."
Galen masih berusaha menenangkan putra kecilnya itu sambil mengajak bicara anaknya berharap Aufa akan berhenti menangis. Galen bahkan belum sadar jika ada tangisan lain di dalam kamar ini selain tangisan dari putranya itu.
Mata Galen akhirnya menangkap sosok wanita yang terduduk dengan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
Galen terkejut saat tahu bahwa itu adalah istrinya. Setahu dirinya Fiana tengah tertidur di dalam kamar mereka beberapa saat yang lalu.
Galen tampak bimbang antara menenangkan Aufa lebih dulu atau justru menenangkan istrinya.
Kini ia memilih untuk membawa Aufa, lalu mulai melangkah kearah istrinya itu.
"Sayang."
Panggil Galen saat ia sudah berjongkok di depan istrinya itu. Masih dengan menggendong Aufa di sebelah tangannya yang lain. Tapi Fiana tetap diam.
"Fiana, kau kenapa sayang?"
Galen sekali lagi memanggil nama istrinya itu, sambil memegang tangan kanan Fiana dengan sebelah tangannya yang bebas.
"Maaf... Hiks... Aku membangunkan Aufa hiks..."
Fiana merasa sangat bersalah saat melihat pipi tembem Aufa tampak basah oleh airmata. Itu semua karena dirinya, Aufa pasti terusik tidurnya saat mendengar suara tangisannya.
Galen tampak menggelengkan kepalanya, sambil menarik sebuah senyuman di bibirnya untuk menenangkan istrinya itu.
"Tidak sayang... Aufa terbangun mungkin karena dia tahu bahwa saat ini Bundanya tengah menangis diam - diam. Jadi dia ikut menangis, bayi kecil kita memang terlalu perasa. Dulu akupun pernah seperti itu, bedanya Auralah yang selalu menangis saat melihat Ayahnya menangis karena merindukan Bundanya."
Fiana terdiam saat mendengar penuturan dari suaminya itu.
Dia tidak tahu bahwa suaminya diam - diam menangis hanya karena merindukan dirinya. Hatinya tampak merepih saat merasakan hal itu.
"Bangunlah sayang di bawa dingin. Kau bisa sakit nanti."
Ujar Galen dan Fiana tampak menurut. Dia mulai bangun dari atas lantai dan duduk di sofa yang tidak jauh darinya.
Sambil menatap kearah Aufa yang masih tampak menangis.
Galen yang mengetahui arah pandangan istrinya itu kini menyodorkan Aufa kearah Fiana, untuk di gendong oleh istrinya itu.
Fiana yang paham akan maksud dari suaminya itu langsung mengulurkan tangannya untuk meraih Aufa dan memeluk tubuh mungil putranya.
Galen tersenyum saat melihat Fiana bangkit dari atas sofa dan menimang Aufa. Putranya itu langsung berhenti menangis dan mulai terlelap kembali ke dalam mimpinya.
"Lihatlah sayang, Aufa berhenti menangis saat sudah di dalam pelukanmu. Dia langsung mengenali Bundanya."
__ADS_1
Fiana tampak menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan suaminya itu.
Dia berpikir akan sulit beradaptasi dengan kedua bayinya tapi ternyata dugaannya salah besar.
Karena kenyataan Aufa mudah untuk mengenali dirinya. Fiana bersyukur untuk itu.
...❤❤❤...
Galen pagi ini tampak tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Hatinya tampak bahagia saat bangun tadi pagi ia bisa melihat lagi wajah polos istrinya itu seperti setahun yang lalu.
Ia bersyukur Fiana mau kembali lagi padanya. Padahal dulu dia sudah terlalu banyak menyakiti hati istrinya itu.
Galen berjanji mulai sekarang ia akan lebih memperhatikan lagi tentang kebahagiaan istrinya itu juga kedua buah hatinya. Ia tidak ingin kejadian dulu sampai terulang kembali.
"Kita sudah sampai Tuan."
Ucapan Pak Han menyadarkan Galen dari lamunanya. Ia mulai melirik kearah bangunan bertingkat di sampingnya itu.
Pagi ini dia memang mengunjungi hotel seperti biasanya dan ia ingin melakukan sesuatu untuk istrinya itu. Ia ingin memberikan kejutan untuk Fiana.
Dengan membuat sebuah perayaan di hotel milik istrinya itu. Sekaligus mengenal istrinya itu pada seluruh karyawan di hotel ini bukan sebagai office girl tapi sebagai istrinya.
Galen akhirnya turun dari dalam mobil miliknya melangkah untuk memasuki hotel miliknya yang pagi ini tampak sepi. Lalu berbelok kearah aula di mana karyawannya sudah berkumpul disana.
"Selamat pagi semuanya."
Sapa Galen saat dia sudah berada di atas podium dengan di temani Pak Han di sampingnya.
Menatap seluruh karyawannya yang memenuhi hampir seluruh aula.
"Selamat pagi Pak Presdir."
Jawab seluruh karyawan hotel serempak. Tidak terkecuali Manajer Lita serta Reva yang berdiri tidak jauh dari podium.
"Terimakasih karena kalian semua sudah meluangkan waktu untuk datang lebih pagi ke hotel hari ini. Saya ingin memberitahukan pada kalian semua bahwa dua hari lagi di hotel ini akan diadakan sebuah perayaan. Perayaan atas kembalinya istri saya tercinta yang sudah setahun belakangan ini pergi meninggalkan saya serta kedua anak kami. Sekaligus untuk mengenalkan kalian semua dengan pemilik asli hotel ini. Jadi saya harap kalian semua bisa bekerja sama untuk mengsukseskan acara perayaan ini."
Penuturan panjang Galen membuat seluruh karyawan hotel Fiana tampak terkejut. Mereka pikir bos besar mereka sudah bercerai dari istrinya tapi ternyata dugaan mereka salah.
Justru bos besar mereka itu kembali lagi bersama istrinya.
Lita yang mendengar kabar itu jelas marah.
Ini tidak boleh terjadi! Bagaimana mungkin Galen semudah itu kembali bersama dengan Fiana. Padahal selama ini dia sudah berusaha untuk menarik perhatian dari atasannya itu. Tapi justru usahanya itu gagal hanya karena satu orang yaitu Fiana.
Lita memang sudah tahu bahwa Fiana adalah istri dari Galen, sejak Galen membicarakan tentang Fiana pada Devano waktu itu.
Jadi semua yang dia dengar saat menguping pembicaraan antara Fiana, Tina serta Hasna itu ternyata memang benar.
Dia pikir Fiana selama ini hanya berkhayal menjadi istri dari Galen. Tapi ternyata semua itu adalah kenyataannya.
Di dalam hatinya ia sudah memikirkan cara untuk memisahkan Galen dan Fiana. Serta membuat Galen membenci Fiana seumur hidupnya. Lalu membuat Galen sadar bahwa dialah wanita terbaik yang pantas untuk mendampingi lelaki itu.
...💔💔💔...
Bersambung....
Salam ku dan Patimah_WIZONE.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komentar dan jadikan novel ini ke dalam daftar favorit kamu.