
Sudah 2 minggu ini Galen berada di Surabaya tapi dia belum juga menemukan keberadaan istrinya.
Galen mulai merasa sangat putus asa sekarang.
"Apa mungkin istrinya tidak ada di kota ini? Lalu jika benar, lantas dimana istrinya sekarang? Tolong beri sedikit saja petunjuk padaku."
Doa Galen sungguh - sungguh.
Tok..tok...tok...
Pintu ruangan Galen kini di ketuk oleh seseorang dari luar membuat Galen kini menatap ke arah pintu.
"Masuk."
Seru Galen dari dalam sedikit berteriak, agar orang yang berada di luar bisa mendengar suaranya. Tak lama kemudian,
Cklek....
Pintu ruangan Galen kini di buka oleh seorang office girl yang tengah membawa nampan berisi minuman.
"Maaf Pak, saya kesini hanya ingin mengantarkan minuman ini untuk Bapak."
Office girl itu kini berjalan menghampiri meja kerja Galen dan menaruh minuman itu di atas meja.
"Bukankah saya tidak menyuruh siapapun untuk membuatkan saya minuman."
Kata Galen sedikit heran. Karena dia memang tidak meminta pada siapapun untuk membuatkannya minuman.
"Maaf Pak tapi tadi Manajer Lita yang menyuruh saya untuk membuatkan kopi untuk Bapak dan saya di suruh untuk mengantarkannya langsung pada Bapak."
Office girl itu berkata yang sebenarnya. Membuat Galen sedikit menyengitkan keningnya. Tapi dia tetap tersenyum pada office girl di depannya itu.
"Terima kasih, kau boleh kembali bekerja."
Suruh Galen dengan nada yang lembut. Sambil melirik kearah pintu keluar.
"Baik Pak, saya permisi."
Office girl itu kini berjalan pergi meninggalkan ruangan Galen. Sedangkan Galen tampak menghela nafasnya saat lagi - lagi Manajer hotel itu berusaha menarik perhatian dengan cara seperti ini.
"Aku tidak suka kopi."
Seru Galen dengan jujur. Dulu dia memang pecinta kafein tapi semenjak seseorang menasehatinya untuk berhenti meminum kopi saat itulah dia mulai berhenti mengkonsumsi yang namanya kafein. Galen jadi teringat malam itu.
Flash back.
Galen tengah berada di dalam ruangan kerjanya malam itu. Dia harus mengerjakan beberapa pekerjaan yang tidak sempat dia kerjakan. Karena sibuk menemani istrinya di rumah, Galen memang memutuskan untuk memperhatikan istrinya itu saat kandungan Fiana menginjak bulan ke 8.
Dia ingin menjadi suami yang siaga maka dari itu dia ingin tetap berada di sisi istrinya sampai Fiana melahirkan buah cinta mereka.
Galen tersenyum saat teringat bahwa dia tidak canggung lagi berada di dekat Fiana. Sejak dia sadar tentang perasaannya pada Fiana, sejak itu pula dia ingin membuktikan pada Fiana bahwa dia pantas untuk di cintainya oleh istrinya itu.
Dia kini mulai mengangkat cangkir kopi yang sempat di buatnya tadi sebelum masuk keruangan kerjanya. Dia butuh kopi untuk menemaninya begadang malam ini.
Tapi tiba-tiba saja gelas kopi yang akan sampai di depan mulutnya itu di tahan oleh sebuah tangan seseorang.
Dan Galen tampak mendongkakan kepalanya untuk melihat pelaku utama yang menghentikannya itu.
Mata lelaki itu tampak membulat saat melihat sosok wanita hamil yang tidak lain adalah istrinya itu. Tengah berdiri tepat di dekat mejanya dan tangan Fiana tampak menahan cangkir kopi miliknya.
"Fiana kau belum tidur?"
Galen sedikit terkejut melihat istrinya itu. Karena tadi setahu dirinya istrinya itu tadi tengah tidur di kamar mereka dan kenapa sekarang Fiana justru berada disini.
"Berhentilah meminum kopi. Kau tahu bukan kak, kalau kafein tidak baik untuk kesehatanmu serta lambungmu. Apa kau tidak sayang pada tubuhmu itu?"
Omel Fiana sambil menjauhkan cangkir kopi itu dari meja Galen dan Galen tampak menatap kelakuan istrinya itu.
"Kau sendiri tahukan kalau aku butuh kopi agar aku tidak mengantuk saat mengerjakan semua pekerjaan ini."
Balas Galen masih menatap kearah Fiana yang kini mulai duduk di sofa tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Kalau kau mengantuk. Harusnya kau berhenti dan istirahat di kamar. Tidak baik begadang setiap malam, kak."
Lagi-lagi Fiana mengomeli suaminya itu tidak seperti Fiana yang biasanya.
"Lalu pekerjaanku bagaimana?"
"Kau bisa mengerjakannya besok pagi. Malam hari itu waktunya untuk istrirahat dan bukan untuk bekerja."
Mendengar Fiana terus saja mengomelinya, Galen justru tersenyum diam - diam apalagi saat melihat ekspresi kesal di wajah cantik istrinya itu.
"Justru pagi hari adalah waktuku untuk menemanimu sepuasnya dan malam hari adalah waktu ku untuk bekerja."
Saut Galen dan Fiana mulai mendengus kesal saat mendengar suaminya terus saja beralasan macam - macam setiap kali dia bicara. Dan dia tidak suka itu.
"Berhentilah tidak peduli pada kesehatan mu kak. Lagipula aku tidak pernah meminta dirimu untuk menemani ku setiap pagi. Kau bisa bekerja seperti biasanya dengan begitu kau tidak perlu lagi begadang setiap malam."
Fiana mengatakan itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Galen dengan tatapan tajamnya.
Galen tampak terkekeh saat melihat wajah marah istrinya itu yang justru menggemaskan di matanya.
"Aku bicara serius padamu tapi kau... Kau justru hiks..."
Tiba-tiba saja Fiana menangis seg-segukan. Dan itu membuat Galen terkejut, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dam mulai berjalan mendekati Fiana.
"Sayang hey... Kenapa kau menangis?"
Galen yang sudah berada di samping Fiana langsung bertanya pada istrinya itu. Fiana justru tidak menjawabnya wanita hamil itu tampak masih saja menangis. Galen dengan cepat memeluk tubuh Fiana tapi tidak terlalu erat karena istrinya tengah hamil besar.
Sejak Fiana hamil besar, sifat istrinya itu jadi gampang sekali berubah - ubah dan Galen mengerti mungkin karena hormon ke hamilan istrinya itu.
"Fiana sayang berhentilah menangis. Kau tidak kasihan pada bayi yang berada di dalam perutmu, mereka pasti ikut menangis saat mendengarmu menangis."
Bujuk Galen sambil mengelus punggung Fiana. Berharap istrinya itu akan tenang.
"Hiks... Aku akan berhenti menangis kalau kau berjanji padaku untuk tidak lagi meminum kafein itu lagi... Hiks... "
Pinta Fiana dan Galen hanya mengangguk.
Galen balik meminta satu hal pada istrinya itu. Entahlah dia merasa takut sekali jika Fiana akan pergi meninggalkan dirinya.
"Aku janji."
Balas Fiana seperti tidak yakin. Dan Galen nampaknya tidak merasakan itu.
Flash back end.
"Dulu kau berjanji tidak akan meninggalkan ku, Fiana. Tapi kau justru mengingkarinya, kenapa?"
Gumam Galen sambil menatap foto istrinya itu di dalam bingkai foto di depannya.
Ya, seseorang itu tidak lain adalah istrinya sendiri. Dia memang berjanji pada Fiana untuk berhenti minum kopi.
"Jika kau berada disini dan melihat ku meminum kopi ini. Aku yakin kau pasti akan menceramahiku dengan kata-kata mu itu. Dan aku justru berharap bisa mendengarmu mengomeli ku lagi seperti waktu itu."
...❤❤❤...
Fiana terlihat tidak bersemangat hari ini karena sudah dua minggu ini dia selalu mendengar para karyawan wanita di hotel ini terus saja membicarakan tentang Galen.
Banyak yang menduga jika Galen sudah berstatus sebagai duda beranak dua!!!
Ada juga yang mengatakan jika Galen menikah lagi dan kini sudah memiliki dua orang anak dari pernikahannya yang sekarang!!!
Berita itu membuat Fiana tampak sedih.
Dia tidak tahu harus mempercayai berita yang mana? Berita yang pertama atau yang kedua?
Kalau pikir-pikir berita itu lebih mengarah ke yang kedua karena Fiana yakin jika saat dia meninggalkan Galen.
Galen pasti menikah lagi dengan adiknya dan memiliki dua orang anak. Tapi dimana anak yang dia lahirkan dan tinggalkan satu tahun yang lalu?
Pertanyaan itu terus saja bermunculan di dalam otaknya.
Apa dia harus mempercayai berita yang pertama jika Galen adalah duda beranak dua?
__ADS_1
Tapi kenapa Galen tidak menikah lagi di saat dia meninggalkan Galen?
Apa hubungan mereka sudah berakhir?
Tapi kenapa???
Bukankah mereka saling mencintai!!!
Fiana tidak sadar jika seseorang kini tengah memperhatikannya tidak jauh darinya. Orang itu terlihat menatap Fiana dengan tatapan yang tajam tapi Fiana masih saja asik dalam lamunannya sendiri.
"Ehmm..."
Seseorang kini sudah berada tepat di hadapan Fiana. Membuat Fiana tersadar dari lamunanya, dia tersentak kaget saat melihat seseorang yang di kenalnya tampak berdiri di depannya menatap dirinya dengan tatapan tajam miliknya.
"Saya rasa, saya tidak mempekerjakanmu hanya untuk melihatmu melamun seperti ini."
Manajer Lita berkata ketus kepada Fiana. Fiana kini hanya bisa menundukkan kepala saat mendengar teguran atasannya itu.
"Maaf Bu, saya...."
Ucapan Fiana dengan cepat di potong oleh Manajer Lita. Wanita itu sepertinya tidak ingin mendengar alasan bawahnya itu.
"Kau terus menerus meminta maaf kepada saya. Dan akhirnya kau selalu membuat kesalahan yang sama berulang kali."
Manajer Lita sangat muak dengan permintaan maaf yang selalu Fiana ucapkan. Dia merasa bahwa Fiana hanya selalu beralasan agar tidak di tegur olehnya.
"Saya janji tidak akan mengulanginya lagi, Bu."
Fiana benar-benar merasa bersalah.
Dia merasa bahwa kali ini dia memang bersalah karena sempat - sempatnya melamun memikirkan Galen di tengah pekerjaannya.
"Kau beruntung Presdir tidak melihat kelakuanmu itu, jika dia sampai melihatnya bisa ku pastikan detik itu juga kau akan di pecat."
Fiana kembali terkejut mendengar penuturan Manajer Lita. Bukan karena Fiana takut di pecat melainkan karena dia takut jika Galen melihatnya disini.
Fiana masih belum bisa menampakan dirinya di hadapan Galen. Tidak untuk sekarang ini, tentunya.
"Bu, tolong beri saya kesempatan sekali lagi. Tolong jangan laporkan masalah ini pada Pak Presdir, saya tidak ingin beliau sampai memecat saya."
Fiana menatap Manajer Lita dengan tatapan memohonnya 🙏🙏🙏. Manajer Lita tampak diam-diam tersenyum dalam hati saat melihat tatapan memohon dari bawahannya itu.
"Baiklah, saya tidak akan melaporkanmu pada Pak Presdir. Tapi, jika sekali lagi saya melihatmu seperti ini lagi, maka saya tidak akan segan-segan untuk memecatmu tanpa pesangon, ingat itu."
Manajer Lita seakan memberikan ancaman pada Fiana. Dia ingin wanita di depannya itu takut padanya.
Fiana tampak menganggukan kepalanya saat mendengar ucapan Manajernya itu.
"Baik Bu, saya mengerti. Terimakasih karena Ibu masih berbaik hati kepada saya."
Seru Fiana dengan tulus. Fiana kini bisa menghela nafasnya dengan lega.
"Sekarang cepat bersihkan toilet di lantai 2, saya ingin toilet itu bersih kau mengerti!"
Seru Manajer Lita menyuruh Fiana untuk lekas pergi dari hadapannya. Fiana hanya mengangguk sebagai jawaban atas perintah atasannya itu dan mulai berjalan pergi.
...💜💜💜...
Bersambung....
Nantikan kelanjutan ceritanya, ya...
Terimakasih 🙏🙏🙏
Jangan lupa like
Salam twins_identik dan Patimah_WIZONE.
Jangan lupa tinggalkan komentar kalian
😊😊😊
__ADS_1