FIANA Sequel Pengantin Yang Tertukar

FIANA Sequel Pengantin Yang Tertukar
Eps 2. Kedatangan Sang Presdir


__ADS_3

Fiana berjalan menyusuri jalan setapak. Fiana harus bekerja sekarang. Bekerja di salah satu minimarket yang tidak begitu jauh dari rumahnya.


Fiana masuk ke dalam minimarket saat dia telah berada tepat di depan tempat kerjanya. Dia langsung menuju kearah ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja miliknya. Fiana kini keluar dari ruang ganti dengan pakaian kerjanya. Dia mulai mendekati temannya yang sudah lebih dulu datang.


"Fi, kau sudah tahu kabar terbaru di hotel?"


Hasna mengawali pembicaraan mereka. Sambil berdiri di balik meja kasir. Sedangkan Fiana tengah membawa barang-barang yang akan dia susun ke dalam rak tidak jauh darinya.


"Memangnya kabar apa? "


Fiana balik bertanya karena memang dia tidak mendengar kabar apapun tentang Hotel tempatnya bekerja.


"Ku dengar dari Manajer bahwa besok bos kita akan datang ke hotel. Padahal setahuku bos kita itu tinggal di jakarta tapi dia datang jauh-jauh dari jakarta untuk meninjau hotel kita ini. "


Penjelasan Hasna membuat Fiana yang saat itu tengah sibuk merapihkan beberapa barang-barang ke dalam rak kini menghentikan kegiatannya. Dan langsung melirik kearah meja kasir.


"Kau serius dengan kabar itu?"


Fiana tampak memastikan mengenai kabar yang dikatakan sahabatnya itu.


"Tentu saja. Manajer bahkan menyuruh kita semua untuk berkumpul besok di aula hotel pukul 06.00 pagi."


Saut Hasna seadanya dan kemudian wanita itu mulai sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Fiana terlihat terdiam di tempatnya.


Entah mengapa hatinya kini merasa resah setelah mendengar ucapan Hasna barusan.


"Mudah - mudahan apa yang aku khawatirkan tidak terjadi."


Fiana sangat berharap bahwa bos nya itu bukan mantan suaminya itu.


...❤❤❤...


Keesokan harinya.


Hari dimana pemilik Hotel Fiana akan datang berkunjung untuk pertama kalinya. Membuat semua karyawan di Hotel tersebut terlihat sangat antusias, pasalnya mereka belum pernah sekalipun melihat wajah bos mereka itu.


Mereka semua kini sudah berkumpul di dalam aula Hotel. Hanya satu orang yang tidak terlihat batang hidungnya sejak tadi.


"Na, Fiana kemana? Kenapa dia belum juga datang?"


Tanya Hasna terlihat berbisik pada Tina. Tina mengangkat kedua bahunya. Tanda tidak tahu!!!


"Bagaimana ini, jika Manajer Lita tahu bisa habis Fiana di marahi olehnya."


Hasna tampak sangat khawatir karena tahu bagaimana sifat Manajer mereka itu.


"Semoga saja Fiana cepat datang."


Tina juga berharap Fiana segera datang kesini. Sebelum Manajer mereka tahu, bahwa Fiana tidak berada di barisannya.


"Kalian tahu kenapa saya menyuruh...."


Ucapan Manajer Lita tampak terhenti kerena seruan seseorang dari arah pintu masuk aula.


Semua orang menatap kearah Fiana dengan tatapan yang berbeda - beda.


"Maaf saya terlambat."


Seru Fiana merasa tidak enak karena terlambat datang ke aula.


"Dari mana saja kau? Apa kau tahu ini jam berapa?"


Menajer Lita terlihat menatap Fiana tidak suka. Fiana hanya mampu menunduk karena dia merasa bersalah.


"Kau pikir ini hotel milikmu, seenaknya datang terlambat."


Manajer Lita kembali memarahi Fiana. Di depan banyak orang. Orang-orang di ruangan itu tampak mencibir Fiana tapi tidak dengan kedua wanita yang tidak lain adalah sahabat baik Fiana, mereka justru merasa cemas karena mereka tidak bisa membantu Fiana di depan sana.


"Maaf."


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Fiana. Membuat Manajer Lita tampak mendengus kesal saat mendengar permintaan maaf dari bawahannya itu.


"Jika sekali lagi kau terlambat maka saya tidak akan segan-segan untuk..."


Perkataan Manajer Lita kembali terhenti kerena seseorang yang kini masuk ke dalam aula.


"Ada apa ini? "


Pria parubaya yang tidak lain adalah salah satu tangan kanan presdir mulai bertanya saat mendengar ada keributan dari dalam aula.

__ADS_1


"Karyawan ini datang terlambat. Saya sedang memberi teguran padanya. "


Jawab Manajer Lita sambil menatap tidak suka kearah Fiana begitu pula dengan Pak Rudi pria parubaya itu menatap kasihan kearah Fiana.


"Kembali ke barisanmu."


Suruh Pak Rudi yang tidak lain adalah kepala Manajer. Fiana membungkuk pada Pak Rudi dan lalu berlari ke barisannya.


"Kau dari mana saja?"


Tina bertanya saat Fiana sudah berada di tengah mereka. Dengan nada yang pelan tapi masih jelas di telinga Fiana serta Hasna.


"Aku dari toilet."


Saut Fiana seadanya. Tanpa menatap kearah lawan bicaranya.


"Perhatian semuanya hari ini kita kedatangan pemilik dari hotel ini. Mari kita beri sambut kepada Presdir kita Pak Galen."


Ucap Pak Rudi membuat semua karyawan kini menatap ke arah pintu masuk aula secara bersama mereka tengah menanti Presdir mereka dengan tatapan penasaran.



Tidak lama kemudian muncullah seorang pria tampan dengan setelan jas lengkap dan tubuh tegapnya terlihat berjalan memasuki aula. Dengan kedua tangannya yang sengaja dia masukan kedalam saku celananya.


Tidak jauh dari situ 2 pasang mata tampak terkejut saat melihat orang yang baru saja masuk. Ya! Orang itu adalah orang yang selama ini mengisih hati salah satu dari mereka.


Fiana dan Tina masih sama-sama terdiam seperti patung membuat Hasna yang ada di samping Fiana merasa heran. Hasna terlihat menepuk pundak Fiana serta Tina secara bergantian membuat keduanya kini tersadar.


"Ada apa dengan kalian?"


Hasna bertanya karena heran melihat respons dari kedua sahabatnya itu saat mereka melihat kedatangan Pak Presdir.


"Tidak, kami tidak apa- apa."


Seru keduanya kompak berusaha untuk terlihat biasa saja. Agar Hasna tidak curiga pada mereka.


Sedangkan di depan sana. Lebih tepatnya diatas panggung Galen sudah berdiri dengan mikrofon di tangannya.


"Perkenalkan nama saya Galen surendra. Saya adalah pemilik sementara hotel ini, saya kesini hanya ingin melihat kinerja kerja kalian selama ini, jadi saya harap selama saya berada disini kalian semua tidak mengecewakan saya!"


Seru Galen sambil tersenyum dengan tulus senyum yang dulu jarang sekali di tunjukkan lelaki itu.


Membuat Fiana yang melihatnya kini hanya bisa meneteskan air matanya. Jika boleh jujur dia sebenarnya sangat merindukan seseorang yang tengah berbicara di depan sana. Ingin rasanya Fiana berlari ke arah Galen dan memeluknya tapi dia mengurungkan niatnya itu. Dia tidak mungkin bisa memeluk Galen karena Galen bukan lagi suaminya.


Tina hanya bisa menepuk pundak Fiana. Tina tahu apa yang tengah di rasakan oleh sahabatnya itu.


Sedangkan Hasna hanya bisa diam saat melihat sahabatnya menangis. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Jadi dia memilih diam.


Di depan sana Galen merasa jika Fiana tengah berada disini. Diantara para karyawan di hotel ini. Dia kini melihat kearah karyawannya yang tengah berbaris di depannya tapi dia sama sekali bisa menemukan Fiana diantara mereka.


Apa ini hanya perasaannya saja?


Apa ini karena dia sangat merindukan Fiana jadi dia merasa bahwa istrinya itu tengah berada di dekatnya!!!


Tapi dimana???


Kenapa dia tidak bisa menemukan Fiana diantara para karyawannya!!!


Gumam Galen dalam hati.


Tujuannya kemari sebenarnya bukan hanya untuk mengecek hotel ini tapi dia juga ingin mencari Fiana.


Hatinyalah yang menuntun dirinya untuk datang ke kota ini.


"Pak Galen, mari saya antar ke ruangan anda."


Seru Pak Rudi menyadarkan Galen dari lamunanya. Dan Galen hanya bisa mengangguk dan berjalan pergi dari dalam aula.


Setelah melihat atasannya pergi. Satu persatu karyawan di hotel ini juga ikut pergi dari dalam aula. Kini hanya ada Fiana, Tina dan Hasna yang masih berada disana.


Fiana langsung terjatuh di lantai aula tubuhnya sangat lemas. Sejak tadi apalagi saat melihat Galen berada di sini.


Fiana masih terisak membuat Tina dan Hasna tampak ikut berjongkok di depan Fiana. Tina terlihat langsung memeluk tubuh Fiana yang lemas.


Dia mengerti apa yang tengah dirasakan oleh sahabatnya itu!!!


Dia mengerti jika Fiana pasti kaget melihat Galen berada disini, di tempat yang sama sepertinya!!!


"Kenapa dia harus datang lagi di kehidupanku. Saat aku sendiri ingin belajar untuk melupakannya."

__ADS_1


Rancau Fiana di dalam pelukan Tina. Masih dengan isak tangisnya, yang tidak kunjung berhenti.


"Tenanglah. Aku tahu ini pasti berat untukmu, tapi kau tidak sendiri ada aku dan Hasna disini. kami akan selalu ada untukmu."


Seru Tina mengelus- elus rambut panjang Fiana berusaha membuat Fiana tenang. Hasna yang tidak mengerti hanya bisa diam mendengar ucapan kedua sahabatnya itu.


"Bagaiamana bisa aku melupakannya jika dia berada disini. Di dekatku Tina?"


Fiana benar- benar rapuh sekarang. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.


...💙💙💙...


Galen kini sudah berada di dalam ruangannya. Ruangan yang seharusnya milik istrinya itu. Dia tengah duduk di kursi kebesarannya.


Dia sebenarnya heran kenapa hatinya menuntun dirinya kemari??


"Apa Fiana berada disini? di kota ini? jika benar maka dia akan sangat senang."


Pikir Galen dalam hatinya.


Seorang lelaki kini masuk ke dalam ruangan Galen setelah sempat di izinkan untuk masuk oleh Galen sendiri.


"Presdir, ini semua adalah laporan pendapatan hotel satu tahun ini."


Seru Pak rudi membawakan beberapa berkas yang harus di lihat oleh Galen sebagai pemilik hotel ini. Galen menatap berkas itu dengan tatapan malasnya. Galen benar- benar sedang malas membaca berkas itu sekarang ini.


"Letakkan saja semua berkas itu di atas meja, saya akan melihatnya nanti."


Galen berucap dengan nada yang halus bukan seperti Galen yang dulu. Pak Rudi menurut dan meletakkan berkas itu di atas meja.


"Apa Pak Presdir ingin melihat- lihat hotel ini."


Pak Rudi menawarkan pada atasannya itu. Galen tampak menatap Pak Rudi yang masih berdiri di tempatnya itu.


"Lain kali saja saya melihat - lihat hotel ini, anda boleh kembali bekerja sekarang."


Galen seakan mengusir Pak Rudi untuk segera pergi dari dalam ruangannya karena dia sekarang hanya ingin sendiri.


"Baik Pak, jika anda butuh sesuatu Bapak bisa mengatakannya pada saya."


Seru Pak Rudi sebelum beranjak pergi dari hadapan atasannya itu. Galen hanya membalas dengan anggukan kepala.


...💔💔💔...


Hasna memberikan segelas air pada Fiana agar Fiana bisa lebih tenang. Fiana langsung meminumnya di bantu oleh Tina.


"Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?"


Tina dengan hati- hati bertanya pada sahabatnya itu. Fiana hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Tina.


"Jika kau merasa tidak enak badan lebih baik kau pulang saja, aku akan meminta izin pada Manajer Lita unt..."


Ucapan Tina tampak terpotong karena ada yg lebih dulu berucap.


"Oh jadi begini kelakuan kalian di belakang saya. Apa kalian pikir ini hotel milik nenek moyang kalian sendiri!! Sehingga kalian bisa seenaknya santai - santai di jam kerja seperti ini."


Manajer Lita langsung memarahi ketiganya saat menangkap basah ketiganya tengah duduk - duduk di pantry hotel.


"Maaf, kami tidak bermaksud untuk bersantai- santai kami hanya..."


Ucapan Hasna kini yang di potong seenaknya oleh Manajer Lita.


"Sudahlah jangan banyak beralasan lagi, lebih baik kalian semua kembali bekerja jika kalian tidak ingin saya pecat."


Manajer Lita memberikan bentakan pada mereka membuat ketiganya kini bubar. Ketempat masing-masing.


...💗💗💗...


Bersambung...


Menurut kalian bisakah Fiana menampakan dirinya di hadapan Galen ?


Kalau penasaran nantikan kelanjutannya, ya !😊😊


Makasih karena masih mau membaca karyaku 🙏🙏


Jangan lupa like 👍👍👍


Salam twins_identik dan Patimah_WIZONE.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan komentar kalian teman - teman.



__ADS_2