
Fira mulai bekerja seperti biasanya, Rere sudah tidak mengganggunya lagi, sehingga dia bisa tetap fokus ke pekerjaannya. Pekerjaannya pun cepat selesai. Fira sebenarnya sangat pintar, tak heran dia bisa cepat menyelesaikan pekerjaannya ketika dia sedang fokus tanpa diganggu.
Sementara itu, Rian yang melihat grafik pekerjaan Fira yang banyak selesai, dia berinisiatif memanggil Fira lagi, sekaligus dia ingin meminta maaf padanya.
“Fira, bisa datang ke ruanganku ?”, perintah Rian setelah telefonnya tersambung.
“Baik..”
Fira segera ke ruangan Rian,
“ada apa lagi ya.. apa ada masalah dengan hasil kerjaku..”, batin Fira.
Fira mengetuk pintu ruangan Rian, Rian mempersilahkan Fira masuk. Mereka duduk di shofa.
“Sebelumnya aku mau minta maaf Ra atas yang aku ucapin ke kamu kemarin-kemarin itu..”, kata Rian dengan menyesal.
Fira tersenyum mendengarnya.
“Nggak apa-apa Yan.. aku udah nggak apa-apa kok..”, jawab Fira kemudian.
Rian mendengar jawaban Fira langsung tersenyum. Dia senang Fira sudah memaafkannya.
“Ada apa Yan aku dipanggil kesini ?”
“Oh iya.. aku mau bilang grafik pekerjaan kamu banyak yang udah selesai, aku senang kamu udah bisa fokus lagi.. tetap pertahanin ya..”
“Oh iya.. makasih Yan.. aku akan tetap berusaha maksimal ketika bekerja..”
“Bagus deh.. bagaimana kerjaan kamu ada kesulitan ?”
“Alhamdulillah sampai saat ini nggak Yan.. kalau ada aku akan tanya ke mbak Indah dan yang lainnya..”, jawab Fira.
“Bagus deh.. kamu bisa tanya ke aku juga Ra kalau ada kesulitan..”, kata Rian dengan ramah.
“Siap Yan.. hehe..”
Tiba-tiba pintu Rian di ketuk, ternyata Rere yang datang. Dia yang melihat Rian dan Fira langsung terlihat tidak senang, Fira yang menyadarinya langsung beranjak pamit kembali.
“Aku kembali Yan.. terimakasih..”, kata Fira sambil beranjak.
“Iya Ra.. tetap pertahanin semangat kamu..”
Fira hanya tersenyum dan beranjak pergi. Saat melewati Rere, dia tetap tersenyum sambil menyapanya tapi Rere hanya memasang wajah datar dan meliriknya sekilas. Rian yang melihatnya sedikit bertanya-tanya ada apa dengan mereka.
Setelah Fira pergi, Rere bertanya pada Rian kenapa Fira ada diruangannya. Rian hanya menjawab kalau dia ada perlu dengan Fira membahas pekerjaannya. Rere merasa lega Fira tidak menceritakan pada Rian tentang pekerjaan yang diberikan oleh Rere.
Sementara itu, Fira masih terganggu dengan ekspresi yang ditunjukkan Rere tadi padanya. Dia berfikir jika Rere tidak suka dengannya, tapi seperti nasehat dari Irfan dan yang lainnya dia sekarang tidak mau memikirkan tentang Rere, dan hanya fokus pada pekerjaannya.
Dikantor Fira sering mendengar banyak orang yang bergosip tentang hubungan Rian dan Rere, ada yang mengabarkan jika mereka sudah bertunangan. Entah itu benar atau tidak, tapi hal tersebut berhasil membuat Fira sedikit sedih dan bertanya-tanya tentang kebenarannya.
Saat jam pulang, Fira bergegas ke tempat parkir sepeda motor dan beranjak pergi, tapi hal yang tidak diduga terjadi. Ada kendaraan motor yang melaju dengan kencang sehingga menabrak Fira yang masih berhenti di pinggir jalan ketika akan menyebrang.
Terdengar suara benturan keras yang membuat Randi yang masih diparkiran motor langsung kedepan dan melihat Fira ada disana. Fira terjatuh dari motornya dan kepalanya terbentur aspal bertabrakan dengan pengendara motor itu. Dia tidak sadarkan diri. Satpam yang ada disana langsung membantu. Rian yang sedang ada di lobby langsung berlari keluar, dilihatnya Fira tergeletak dia langsung kaget bukan main. Dia langsung meminta seorang karyawan untuk memanggil ambulans, tetapi karena lama dia berinisiatif membawanya ke rumah sakit terdekat.
Rian terlihat bingung dan resah, dia berharap tidak terjadi apa-apa dengan Fira. Randi juga ikut serta daan khawatir dengan Fira. Sesampainya di rumah sakit, Fira dibawa ke IGD dan diperiksa. Ada beberapa luka di bagian kepala, tangan dan kaki. Fira segera ditangani. Sementara Rian yang menunggu didepan langsung menghubungi Mama dan Papanya. Mereka segera ke rumah sakit. Sementara Randi segera menghubungi Icha.
Randi dan Rian masih khawatir. Beberapa saat kemudian dokter keluar, Rian langsung menanyakaan keadaan Fira.
“Mbak Fira masih belum sadar, beliau butuh istirahat.. ada cedera ringan di kepala dan kakinya..”, kata dokter tersebut.
Fira kemudian di pindahkan ke ruangan inap kelas 1, biaya rumah sakit dibiayai oleh kantor, karena sudah bagian dari karyawan perusahaan.
Beberapa saat kemudian Mama dan Papa Rian datang, mereka khawatir termasuk bu Rina yang langsung menanyakan keadaan Fira. Rian menjelaskan semuanya pada Mamanya. Bu Rina sudah mulai faham dengan kejadiannya. Beliau melihat Randi sudah tau jika dia temannya Fira.
“Sekarang Fira bagaimana Yan ?”, tanya pak Fikri.
“Masih belum sadar Pa..”, jawab Rian yang masih terlihat khawatir.
__ADS_1
“Oh iya Ma.. ayahnya Fira sudah diberi kabar ?”, tanya pak Fikri.
“Sudah Pa.. tadi Mama sebelum berangkat sudah telfon..”
“Mungkin beliau masih perjalanan..”
Sambil menunggu Fira sadar, Rian, Randi, Mama dan Papa Rian masih ada disana, kemudian pak Fikri pulang duluan karena masih ada pekerjaan. Tidak beberapa lama Icha datang bersama Irfan yang terlihat sangat khawatir.
“Bagaimana keadaan adikku ?”, tanya Irfan yang sangat khawatir
“Masih belum sadar mas.. “, jawab Rian.
Irfan langsung terduduk lesu memegangi kepalanya. Rian kemudian menjelaskan kejadiannya dari awal. Irfan mulai faham dan mencoba menenangkan diri. Icha juga sangat khawatir dengan temannya itu.
“Kita berdoa saja ya semoga Fira cepat sadar..”, ajak bu Rina.
Karena hari sudah maghrib, mereka bergantian sholat. Setelah selesai Randi yang sudah dari tadi ada disana memohon izin pulang duluan, karena ada kegiatan lain. Icha juga ikut.
“Makasih ya Randi..”, kata Rian sebelum Randi dan Icha pergi.
“Sama-sama Mas..”, kata Randi kemudian.
Yang menjaga Fira tinggal Rian, Irfan dan bu Rina. Ayah Fira akan tiba sekitar habis Isya’. Irfan berinisiatif keluar untuk membeli makanan untuk mereka. Beberapa saat kemudian pak Hari datang, beliau sangat gelisah mendengar kabar anaknya kecelakaan.
Rian kemudian menjelaskan semuanya dari awal. Pak Hari mencoba tegar dan tidak memperlihatkan kegelisahannya. Beliau menunggui Fira disamping ranjang.
“Nak.. cepat bangun ya.. bapak udah disini.. masak kamu tidur terus..”, kata Pak Hari sambil mengelus kepala anaknya.
Rian menunggu di sofa yang ada diruangan itu bersama mamanya. Irfan yang baru datang membawa makanan mengajak semuanya makan terlebih dahulu. Mereka pun makan bersama, bagaimana pun mereka harus mengisi tenaga.
“Paman, yuk makan dulu sini..”, ajak Irfan pada pak Hari.
“Iya..”
Pak Hari bergabung makan bersama Rian, Irfan dan bu Rina.
“Enggak, aku tadi udah izin..”
Dia sengaja izin setelah mendapatkan kabar tentang Fira dari Icha. Dia ingin menunggu sampai Fira sadar. Bu Rina juga sengaja tidak pulang, karena beliau masih khawatir.
Sampai malam, Fira belum juga sadar. Bu Rina tidur duluan di ruangan itu juga, sedangkan Irfan masih diluar menenangkan fikiran. Tinggal Rian dan pak Hari yang masih terjaga.
“Pak Hari.. saya minta maaf tidak bisa menepati janji buat melindungi Fira..”, kata Rian tiba-tiba.
“Nak Rian.. nggak apa-apa.. ini musibah yang nggak bisa diprediksi..”, kata pak Hari menjelaskan dengan sabar.
“Tapi Pak...”, Rian masih merasa menyesal.
Pak Hari hanya tersenyum dengan ramah. Beliau faham yang dirasakan Rian.
“sudah sudah.. nak Rian tidur dulu.. besok ada kerjaan kan..”, kata pak Hari.
“Baik pak.. nanti kalau ada apa-apa, bangunkan saja..”, pinta Rian.
Dia kemudian tidur di shofa, sementara pak Hari duduk di sebelah Fira sambil membacakan ayat‐ayat al-Quran, memohon supaya Fira cepat sadar.
Irfan yang dari tadi diluar masuk kedalam, dilihatnya semua sudah beristirahat.
“Paman istirahat aja habis perjalanan lama kan..”
“Nggak apa-apa, kamu istirahat dulu aja Fan..”
“Aku udah biasa tidur malam..”
Tinggal mereka yang masih belum tidur. Mereka masih terjaga menunggu Fira sadar sampai Irfan terlelap.
Pagi harinya bu Rina membangunkan Rian untuk sholat Shubuh, dia bangun dan melihat Fira masih belum sadar. Rian beranjak ke mushollah di rumah sakit untuk sholat, sementara pak Hari dan Irfan diluar kamar. Bu Rina yang menjaga Fira, di tatapnya Fira dengan lekat, ada perasaan sedih melihat Fira belum membuka matanya.
__ADS_1
Hari itu Rian ada pekerjaan di kantor jadi dia harus pulang, bu Rina juga sekalian pulang dan akan kembali sore harinya. Tinggal pak Hari dan Irfan yang menjaga Fira.
Di kantor, Rian masih sedikit sedih karena Fira belum sadar. Di ruangan kerja programmer mereka masih membicarakan kejadian kemarin dimana Fira kecelakaan. Randi menjelaskan kejadiannya dan mengatakan Fira sampai sekarang belum sadar. Semua terlihat sedih, karena Fira termasuk orang yang sangat ramah pada mereka. Tapi tidak bagi Rere, terlihat senyuman kecil di bibirnya.
Saat Rian melintas, dia samar-samar seseorang membicarakan Fira, dia mencoba menguping apa yang mereka bicarakan.
“Aku kasihan sama Fira.. dia kemarin-kemarin selalu aja di kasih tugas sama Rere, Fira jadi lama ngerjainnya kan..”
Ya Allah, jadi kemarin itu karena dia ngerjain tugas dari Rere, makanya dia lama ngerjainnya..
Rian kaget sendiri, dia tidak menyangka Rere melakukan hal itu. Dia bertanya-tanya alasan Rere melakukan hal itu. Yang dia tau sendiri itu pekerjaan yang bisa ditangani Rere sendiri.
Rian langsung bergegas ke ruangan Rere. Dilihatnya Rere sedang sibuk dengan pekerjaannya. Rian memutuskan kembali keruangannya dan memanggil Rere.
Sesampainya di ruangan Rere, Rian yang masih menahan emosinya mencoba bertanya,
“Re.. kamu kenapa ngasih kerjaan yang tidak harusnya dikerjakan sama Fira ?”, tanya Rian dengan sedikit nada tinggi.
Rere kaget Rian sudah tau semuanya. Dia langsung bingung.
“A.. aku lagi sibuk Yan.. makanya aku minta bantuan dia..”, jawab Rere dengan gugup.
“Kenapa ? Kenapa harus Fira.. kamu kan bisa minta tolong asisten kamu atau orang yang ada di devisi kamu..”
Rian lagi marah, batin Rere.
Dia tidak bisa menjawab lagi pertanyaan dari Rian.
“Hm, bagaimana ?”, desak Rian.
“Oke aku akui aku salah.. tapi itu aku nggak suka ngeliat kamu dekat sama dia..”
“Ya Allah Re.. kamu kenapa sih ?”
“Aku suka sama kamu Yan.. sejak kita masih sekolah dulu.. apa kamu nggak ngerti juga ?”
Rian langsung kaget mendengar apa yang dikatakan Fira. Rian menutup mukanya sejenak dan mencoba berbicara pada Rere.
“Re.. denger ya.. kamu udah aku anggap sahabat aku sendiri, aku nggak pernah ada perasaan apa-apa sama kamu.. aku harap kamu mengerti..”, kata Rian dengan pelan.
“Ya.. aku tau itu.. tapi aku ngggak suka aja ngeliat kamu sama dia..”
“Rere.. tolong pisahin masalah pekerjaan sama pribadi.. ini di kantor..”
Rere terdiam, dia sadar dia salah. Dia terlalu egois, sebenarnya dia baik tapi karena kecemburuan yang menyelimuti perasaannya, dia berubah.
Rian menjelaskan lagi pada Rere tentang perasaannya pada Rere. Dia menjelaskan jika dia tidak ada perasaan apapun padanya, Rere mengerti dan hanya diam. Rian senang Rere bisa mengerti apa yang dikatakan olehnya. Setelah selesai Rere kembali ke ruangannya. Sementara Rian masih terduduk di shofa, dia masih memikirkan hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini. Dia merasa bersalah pada Fira.
Beberapa saat kemudian hp Rian berdering, ada panggilan masuk dari Irfan. Dengan cepat dia mengangkatnya.
“Halo Assalamu’alaikum..”, sapa Rian
“Wa’alaikum salam.. Rian ?”
“Iya Mas ada apa ?”, tanya Rian yang mulai khawatir.
“Aku mau ngasih kabar.. Alhamdulillah Fira udah sadar..”
Rian langsung lega mendengarnya.
“Alhamdulillah.. nanti pulang dari kantor aku akan kesana Mas..”
“Iya.. udah ya.. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikum salam...”
Rian senang dan lega akhirnya Fira sadar. Dia jadi sedikit merasa tenang.
__ADS_1