Fira dan Rian

Fira dan Rian
Rian yang perhatian..


__ADS_3

Irfan dan pak Hari masih menunggu Fira di rumah sakit. Irfan berniat membeli sarapan untuk mereka. Tinggal pak Hari yang ada disaana. Beliau mencoba memejamkan matanya karena tadi malam kurang tidur. Irfan yang baru datang melihat pamannya tidur berencana untuk tidak membangunkannya dan duduk di kursi sebelah pak Hari sambil sarapan.


Tidak sengaja Irfan mendengar suara Fira, dia segera bergegas mendekat. Dilihatnya Fira sudah membuka matanya.


Alhamdulillah... kata Irfan dalam hati. Dia senang Fira udah siuman.


Dia segera membangunkan pamannya. Pak Hari langsung bangun dan menghampiri Fira. Dilihatnya Fira sudah bangun dan terdiam. Pak hari bersyukur anaknya sudah siuman dan mengusap kepala Fira dengan lembut.


Fira masih diam, dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya. Dia ingat ada sepeda motor yang menabraknya ketika dia akan pulang dari kantor, setelah itu dia tidak ingat lagi.


“Alhamdilillah kamu udah siuman nak..”, kata pak Hari.


“Aku udah tidur berapa lama pak ?”, tanya Fira dengan suara kecil.


“Sehari semalam nak..”


Fira masih merasa pusing, Irfan segera memanggil dokter dan perawat. Fira kemudian diperiksa, Alhamdulillah keadaannya sedikit demi sedikit pulih, tidak ada cedera yang fatal meskipun kepalanya terbentur, hanya saja mungkin akan sering pusing.


Fira dianjurkan istirahat sementara waktu untuk memulihkan tenaga. Dokter sudah kembali. Fira masih merasa lemas.


“Bagaimana keadaanmu nak ?”, tanya pak Hari.


“Masih pusing pak..”, jawab Fira dengan lemas.


“Yaudah kamu istirahat dulu aja ya..”


Fira hanya mengangguk, dia masih belum ada tenaga. Dia kepikiran pekerjaannya yang pasti akan menumpuk. Dia berharap semoga dia cepat pulih dan kembali bekerja.


Tidak lupa Irfan langsung menghubungi Rian, Icha dan Randi untuk memberi kabar bahwa Fira udah sadar. Rian yang sudah mendapatkan kabar langsung menghubungi Mamanya untuk memberitahu bahwa Fira sudah sadar. Bu Rina langsung beranjak kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaannya.


Fira tidur lagi karena dia merasa pusing, hal itu normal karena dia baru sadar. Siangnya bu Rina kembali ke rumah sakit, dilihatnya Fira sedang berbaring dan disampingnya ada Irfan, mereka sedang berbincang-bincang.


“Assalamu’alaikum...”, sapa bu Rina.


“Wa’alaikum salam...”, jawab Irfan dan Fira.


Bu Rina menghampiri Fira di ranjang.


“Alhamdulillah udah siuman nak...”


“Alhamdulillah bu...”, jawab Fira dengan tersenyum.


“Bapaknya dimana ?”


“Sedang ke Musholla bu..”, jawab Irfan.


“Oh yaudah.. yuk makan siang dulu, ibu bawa makanan.. Irfan belum makan siang kan ?”, ajak bu Rina.


“Belum bu hehe...”


Bu Rina mengajak Irfan untuk makan siang. Irfan kemudian beranjak ke shofa untuk makan siang. Bu Rina gantian menemani Fira.


“Bagaimana keadaanmu nak ?”


“Alhamdulillah sudah mendingan bu tapi masih terasa pusing..”, jawab Fira lirih.


“Alhamdulillah.. ibu khawatir banget..Rian juga, ini tadi aku dikabari sama Rian, makanya langsung kesini..”, jelas bu Rina.


Rian khawatir ? Benarkah ? Aku sedikit senang mendengarnya, batin Fira.


Bu Rina mengobrol sebentar dengan Fira, beberapa saat kemudian pak Hari datang, beliau tersenyum melihat anaknya sudah mulai baikan. Bu Rina meminta pak Hari makan siang terlebih dahulu, dimana Irfan juga masih makan. Pak Hari akhirnya bergabung makan siang bersama Irfan.


Mereka semua sudah bisa tenang karena Fira sudah membaik, tinggal menunggu izin dari dokter untuk pulang. Sore harinya Rian datang dari kantor, dia melihat Fira yang sudah siuman merasa senang. Dilihatnya pak Hari dan Mamanya ada disana, Irfan tidak ada karena dia pamit pulang dulu. Pak Hari yang memintanya pulang untuk membersihkan diri dan beristirahat.


Rian langsung menghampiri Fira yang masih berbaring.


“Bagaimana keadaanmu Ra ?”, tanya Rian.


“Alhamdulillah udah mendingan Yan..”, jawab Fira dengan ramah.

__ADS_1


“Kamu udah makan ?”, tanya Rian.


“Sudah tadi siang..”


Rian mengangguk faham, dia datang ke rumah sakit langsung dari kantor, sehingga baju yang dikenakan masih formal. Rian menatap lembut Fira, dia masih merasa khawatir.


“Aku nggak apa-apa Yan..”, kata Fira lagi seakan biisa membaca fikiran Rian dari raut wajahnya.


Rian tersenyum. Kemudian dia ingat sesuatu,


“Ra.. aku minta maaf ya..”, kata Rian kemudian.


“Minta maaf soal apa Yan ?”


“Kemarin aku salah sangka sama kamu.. ternyata Rere melakukan sesuatu ke kamu kan ?”


“Ka.. kamu kok bisa tau ?”, tanya Fira yang kaget.


“Aku nggak sengaja dengar dari orang lain..”


“Maaf Yan.. bukan maksud aku bohong sama kamu...”, kata Fira yang sedikit menyesal.


“Hm, yasudah kita lupain aja ya..”


Fira mengangguk dan tersenyum. Mereka kembali berbincang-bincang. Pak Hari dan bu Rina yang mengamati mereka tampak senang.


“Semoga kita bisa jadi besan ya pak...”, kata bu Rina tiba-tiba.


“Saya sih terserah anak-anak bu..”, jawab pak Hari dengan tertawa.


Fira senang melihat Rian ada di sisinya, begitupun dengan Rian. Entah kenapa saat ada Rian, Fira merasa tenang.


“Kamu mau makan sesuatu Ra ?”, tanya Rian.


“Em.. enggak Yan.. makasih..”


“Baiklah.. kalau butuh sesuatu kamu bilang aja..”


Setelah maghrib, Randi dan Icha datang menjenguk Fira. Randi melihat ada Rian, bu Rina dan pak Hari. Icha dan Randi baru pertama kali bertemu dengan pak Hari. Mereka langsung menyapanya.


“Saya Randi pak.. ini Icha..”, kata Randi sambil salim dengan pak Hari.


“Oh iya.. saya Hari bapaknya Fira..”


Rian beranjak berdiri dari tempat duduk yang ada disamping Fira dan menyapa Randi dan Icha. Randi yang melihat Rian yang dari tadi bersama Fira sedikit sedih, dia sadar Fira dan Rian saling suka, dia merasa sudah tidak ada harapan untuknya. Icha yang seperti membaca yang ada di fikiran Randi ikut bersimpati. Karena Fira dan Randi terlihat begitu dekat.


Icha dan Randi kemudian menghampiri Fira,


“Bagaimana keadaanmu Ra ?”, tanya Icha.


“Alhamdulillah Ra.. udah mendingan..”, kata Fira.


Randi dan Icha bernafas lega. Kekhawatiran mereka berangsur menghilang melihat Fira yang sudah mulai baikan.


Sekitat jam 8, Randi dan Icha pamit pulang karena sudah malam, Irfan juga sudah kembali ke rumah sakit. Bu Rina juga akan pulang diantar Rian. Bu Rina berpamitan pada Fira,


“Besok ibu kesini lagi ya..”


“Iya bu.. maaf sudah merepotkan..”, kata Fira.


Bu Rina menggeleng, “Enggak nak.. nggak ngerepotin sama sekali..”


Randi dan Icha yang berjalan ke parkiran sama-sama diam, Icha mencoba bertanya apada Randi.


“Ran.. kamu ada perasaan sama Fira ?”


Randi tampak kaget melihat Icha bertanya seperti itu. Dia terdiam sejenak.


“Jujur aku akui.. tapi sekarang keliatannya sudah nggak ada harapan buat aku..”, kata Randi yang terlihat lesu.

__ADS_1


Icha menghela nafas, dia ingin menghibur temannya itu.


“Yang sabar ya..”, kata Icha kemudian. Dia tidak bisa berkata lagi.


Besoknya, keadaan Fira semakin membaik, dia sudah diperbolehkan duduk. Bu Rina juga tiap hari kesana untuk menemani Fira, begitupun dengan Rian, setelah pulang kerja dia langsung ke rumah sakit. Sore hari itu, dokter mengatakan jika Fira sudah diperbolehkan pulang. Fira senang akhirnya dia bisa pulang. Pak Hari terlihat berbicara serius dengan bu Rina di shofa.


“Pak.. Fira biar tinggal dirumah saya saja.. kalau di kamarnya sendiri takutnya nanti terjadi apa-apa, dia masih pemulihan..”, kata bu Rina menawarkan diri.


“Nggak bu terimakasih.. Fira pulang dulu saja, biar dirawat Ibunya dirumah..”


“Jadi begitu.. kalau seperti itu mungkin lebih baik..”


“Tapi pak.. aku kan ada magang...”, kata Fira yang mendengar semuanya.


“Kalau masalah itu, nggak apa-apa Ra.. kamu masih sakit, kamu masih bisa ajukan cuti tapi maksimal 3 hari.”, kata Rian.


Fira tampak berfikir sejenak, dia akhirnya setuju jika dibawa pulang dulu ke kampung.


“Baiklah kalau begitu, biar diantar Rian ya besok.. ya nak ya ?”, perintah bu Rina pada anaknya.


“Iya Ma.. besok aku antar.. kebetulan besok juga libur..”, jawab Rian.


“Maaf bu, sekali lagi saya merepotkan kalian...”, kata pak Hari yang merasa tidak enak.


“Nggak apa-apa pak.. kami ikhlas kok..”


Hubungan kedua keluarga itu memang sangat dekat, hal itu sudah terjalin sejak pak Hari masih bekerja di kota itu. Irfan yang dari tadi diam tersenyum senang. Seperti bentar lagi adik sepupuku bertambah, batin Irfan sambil tersenyum senang.


Di malam hari Rian tampak termenung di musholla setelah sholat maghrib. Dia memikirkan sesuatu, suatu hal yang sudah dia rencanakan dulu, Apakah ini saat yang tepat.. batin Rian dalam hati.


Keesokan harinya, Fira keluar dari rumah sakit dan langsung pulang ke kampung diantar Rian. Irfan tidak ikut pulang karena dia harus bekerja.


“Hati-hati di jalan nak..”, pesan bu Rina.


“Iya Ma...”


Rian menyalakan mobilnya dan berangkat. Fira duduk di belakang, tempat duduknya dirubah sedemikian rupa oleh Rian supaya Fira bisa beristirahat dengan nyaman.


Bu Rina dalam perjalan pulang teringat putranya semalam berbicara serius dengannya, dia tersenym membayangkan wajah putranya itu.


“Semoga kamu berhasil nak..”


Sesampainya dirumah, bu Rina langsung menceritakan semua pada suaminya, pak Fikri tampak gembira.


“Mari kita tunggu kabar bahagianya...”, kata pak Fikri sambil tersenyum.


Di perjalanan, Fira terus tidur, staminanya masih belum penuh. Sementara pak Hari duduk didepan menemani Rian menyetir.


“Bapak tidur aja.. kan capek akhir-akhir ini kurang tidur..”, kata Rian.


Pak Hari hanya tersenyum, beliau terus melihat kedepan. Beberapa jam kemudian mereka sampai di rumah keluarga Fira. Mereka disambut bu Ira yang sangat khawatir dengan Fira, begitu juga dengan neneknya. Fira langsung di bopong bapaknya masuk kedalam rumah, sementara Rian membawa barang bawaan Fira.


“Alhamdulillah kamu nggak apa-apa nak.. ibu khawatir sekali...”, kata bu Ira yang berkaca-kaca, begitu pun neneknya.


“Fira sudah nggak apa-apa bu...”, jawab Fira.


Keluarga Fira berkumpul, ada bapak dan ibu Irfan juga. Mereka mendekati Fira semua, karena masih khawatir dan memastikan Fira sudah tidak apa-apa. Rian tersenyum senang melihatnya.


“Rian.. istirahat dulu ya.. yuk duduk diruang tamu..”, ajak bapak Irfan.


Rian menurut dan duduk di ruang tamu beristirahat sejenak, sementara Fira di kamar dengan Ibu, Nenek dan Bibi nya.


Malam harinya, Fira masih beristirahat di kamarnya, sementara Rian yang baru pulang sholat maghrib dari musholla melihat pak Hari ada di ruang tamu mencoba menghampirinya.


“Bapak sedang apa ?”, tanya Rian.


“Ah nggak apa-apa Rian.. lagi santai aja..”


Rian terdiam sejenak, dia dari tadi memikirkan sesuatu. Rian mengambil nafas panjang, berusaha mengontrol diri supaya tidak gugup.

__ADS_1


Kira-kira Rian mengatakan apa ya pada pak Hari ?


__ADS_2