
Sampai di kantor, Fira langsung menuju ke ruangannya. Sudah lama dia tidak masuk semenjak kecelakaan seminggu yang lalu. Dia tidak enak sendiri karena masih baru magang dan sudah izin tidak masuk lama. Meskipun dia sudah jadi menantu pemilik perusahaan tersebut, hal itu tidak membuat Fira terlena dan seenaknya. Sesampainya di ruangan, dia disambut oleh karyawan yang ada disana, Randi juga sudah ada disana.
“Halo Fira.. udah sehat ?”, sapa mas Andi, salah satu karyawan disana.
“Alhamdulillah Mas.. “, jawab Fira dengan tersenyum.
“Ra.. kamu akan tetap magang disini ? kan kamu...”
Belum sempat Randi menyelesaikan kata-katanya, sudah di cegah oleh Fira.
“Stt.. jangan kasih tau siapa-siapa Ran tentang pernikahanku..”, kata Fira sambil berbisik.
Randi bertanya-tanya kenapa Fira harus merahasiakan pernikahannya, dia hanya mengangguk setuju. Fira kembali duduk di mejanya.
“Ra.. kamu beneran udah baikan ?”, tanya mbak Indah.
“Iya mbak, Alhamdulillah...”
“Hm.. Ra sayangnya kamu baru masuk lagi tapi pekerjaan udah banyak numpuk, maaf yaa...”
“Iya mbak, nggak apa-apa.. malah aku yang nggak enak, kelamaan cutinya..”
Mbak Indah tersenyum, dia kagum karena Fira semangat bekerja padahal dia hanya magang disana, untuknya, sifat Fira sangat patut di contoh. Setelah mbak Indah menunjukkan daftar pekerjaan untuk Fira, dia melanjutkan pekerjaannya.
Fira mulai sibuk dengan daftar pekerjaan yang sudah diterimanya, dilihatnya sebagian besar masih bisa dia tangani. Ketika dia menemui kesulitan, dia sudah tidak sungkan untuk bertanya pada seniornya, mbak Indah atau Mas Andi.
Saat jam makan siang telepon di meja Fira berdering, ternyata dari ayah mertuanya.
“Halo Ra..”, sapa pak Fikri.
“Iya Yah.. ada apa ?”, tanya Fira, dia masih canggung memanggil pak Fikri dengan sebutan ayah.
“Makan siangnya diruangan ayah ya, kita makan siang sama-sama, aku udah ngasih tau Rian juga..”
“Baik Yah..”
Fira sungkan menolaknya, tapi dia juga takut jika orang lain tau jika dia berhubungan dengan pemilik perusahaan itu, karena takut ada gosip yang tidak enak di dengar.
“Ra.. yuk makan siang bareng ?”, ajak mbak Indah.
“Em.. duluan aja mbak..”, tolak Fira dengan halus.
“Yaudah, tapi kamu harus makan ya.. kamu kan baru sembuh..”
“Iya mbak, makasih..”
Mbak Indah beranjak pergi, di ruangan mulai sepi karena sudah pergi makan siang, tinggal sedikit orang disana, Fira melihat sekeliling masih ada beberapa orang termasuk Randi yang sedang sibuk. Fira langsung beranjak pergi ke ruangan pak Fikri. Ruangan pak Fikri ada di lantai 3, disana hanya ada ruangan beliau, sekretaris dan ruangan Rian. Dia menggunakan lift untuk naik ke lantai 3.
Sampai di lantai 3, sekretaris disana menyapanya, dia tau siapa Fira.
“Silahkan mbak, sudah di tunggu sama mas Rian juga..”, kata sekretaris itu yang bernama mas Indra.
Fira hanya tersenyum malu, dan melangkah ke ruangan, setelah sebelumnya mengetuk pintu.
“Masuk..”, kata seseorang dari dalam ruangan.
__ADS_1
Sampai di dalam, dilihatnya sudah ada Rian juga duduk di shofa. Pak Fikri masih menerima telfon di mejanya.
“Duduk sini Ra...”, ajak Rian.
Fira langsung duduk di samping Rian, di depannya sudah tersedia nasi dan lauk pauknya.
“Mas udah dari tadi ?”
“Baru aja masuk.. gimana tadi kerjaannya ?”
“Banyak yang harus aku kerjakan Mas karena kemarin-kemarin nggak masuk..”, kata Fira sambil menghembuskan nafas panjang.
Rian tersenyum mendengarnya,
“Apa aku bilang, kamu ngeyel sih pengen tetep magang...”, kata Rian sambil memencet hidung Fira dengan gemas.
“Ah Mas Rian.. gini lagi.. sakit tau..”, kata Fira dengan sebal.
Rian hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu.
“Ehem.. sudah-sudah, yuk makan keburu dingin nanti..”, kata pak Fikri yang ikut duduk di kursi samping Rian dan Fira.
Rian dan Fira jadi salah tingkah, mereka kemudian ikut makan bersama. Disela-sela makan mereka berbincang-bincang banyak hal, pak Fikri sebenarnya berharap Fira berhenti magang dan fokus pada kuliahnya saja, tetapi Fira tetap ingin magang, karena dia ingin merasakan bagaimana dunia kerja yang sesungguhnya. Akhirnya pak Fikri membolehkannya tetap magang disana.
Selesai makan, Rian mengajak Fira ke ruangannya. Sebelumnya Fira sudah pernah kesana ketika dia dimarahi oleh Rian, tapi sekarang berbeda dia sudah menjadi istrinya. Rian yang langsung duduk di shofa meminta Fira duduk disampingnya, seketika dia membaringkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan Fira. Fira jadi malu dibuatnya.
“Mas kalau ada yang lihat bagaimana ?” tanya Fira.
“Enggak, pintunya udah aku kunci..”, jawab Rian dengan mata tertutup,
“Tapi Mas....”
“Iya deh..”
Melihat suaminya yang sudah mulai tertidur, dilihatnya dengan gemas wajah suami nya yang tampan itu. Fira mengelus rambut suaminya dengan lembut, tanpa Fira sadari Rian ternyata tidak tidur sepenuhnya.
“Ra.. jangan mancing aku ya...”, kata Rian tiba-tiba.
Seketika Fira menghentikan tangannya, dia kaget ternyata Rian sadar jika rambutnya dipegang olehnya. Rian membuka matanya dan tersenyum, dia bangkit dan mencium Fira sekilas.
“Mas Rian.. “, kata Fira yang kaget.
“Apa Ra.. Mau lagi ?”, jawab Rian sambil mendekatkan diri ke istrinya.
Fira masih belum bisa mengontrol detak jantungnya ketika Rian dekat dengannya.
“I.. istirahat udah selesai, aku balik dulu Mas mau sholat..”, kata Fira sambil memalingkan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus itu.
“Sholat disini aja, kita jama’ah..”, ajak Rian yang langsung berdiri dan menggandeng Fira ke kamar mandi untuk wudhu. Akhirnya Fira menyerah dan ikut sholat disana.
Setelah sholat Fira pamit kembali ke ruangannya.
“Mas aku balik kerja dulu..”, pamit Fira sambil berjalan ke pintu.
“Eh tunggu, ada yang lupa..”, kata Rian yang bergegas menghampirinya.
__ADS_1
“Apa Mas ?” tanya Fira yang berbalik ke arah Rian.
Tiba-tiba Rian langsung mengecup bibir Fira sekilas dan tersenyum. Fira langsung cemberut melihat tingkah suaminya itu. Sejak kapan ini orang manja banget.. hmmm
“Mas Rian.. awas kalau gini lagi di depan umum...” ancam Fira, dia terlalu malu jika tiba-tiba Rian bersikap begitu.
“Hehe tenang Ra.. nggak kok..”, kata Rian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Fira kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Untungnya karyawan lain tidak ada yang curiga dengannya. Saat Fira sedang bekerja tiba-tiba Rere menghampirinya,
“Ra.. boleh minta tolong ?”, tanya Rere.
“Ada apa Mbak ? Aku lagi ada banyak kerjaan..”, jawab Fira.
“Aku ada tugas mendadak, bisa kamu lanjutin ini ?”, tanya Rere sambil menyerahkan beberapa dokumennya.
“Tapi mbak.. kerjaanku belum selesai..”, Fira ingin menolaknya karena dia juga belum selesai.
“Kurang dikit aja kok.. minta tolong yaa..”, bujuk Rere.
“Re.. apa kamu nggak minta tolong yang lainnya aja ? Fira lagi sibuk itu habis lama nggak masuk kerja...”, kata mas Andi.
“Ini tinggal sedikit kok mas.. kalau nggak selesai hari ini aku bisa dimarahin sama pak Fikri..”, rayu Rere.
Fira sempat berfikir sejenak akhirnya dia mau melanjutkan pekerjaan Rere.
“Makasih Re.. aku tinggal dulu ya.. jam pulang nanti harus udah selesai..”, perintah Rere.
“Baik Mbak..”
Rere pergi meninggalkan Fira dengan tersenyum puas. Sementara Fira mencoba untuk bersabar dan mulai mengerjakan apa yang diminta Rere tadi.
“Ra.. kamu itu sekali-kali harus belajar menolak.. kasihan kamunya.. capek ngerjain tugas yang bukan tugas kamu..”, kata mbak Indah memberi nasehat.
“Iya mbak, lain kali nggak lagi deh..”
Randi yang melihat dari kejauhan hanya bisa bergumam sendiri,” kamu masih sama aja Ra..”
Mas andi yang ada disebelah Randi mencoba bertanya,
“Fira emang gitu ya ?”
“Iya Mas.. sejak aku kenal dia udah sifatnya gitu.. terlalu.baik..”, jawab Randi.
“Hmm.. kamu kenal banget sama dia.. apa jangan jangan ?”, selidik mas Andi.
“Wah Mas Andi nggak lah.. yuk kembali kerja lagi..”, kata Randi yang mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau membahas tentang perasaannya.
Hari itu Fira pulang sesuai jam pulang kantor karena harus menyelesaikan tugas dari Rere, sebenarnya jam pulang karyawan magang lebih awal dari jam pulang karyawan tetap.
Setelah selesai dengan pekerjaannya dan menyerahkan dokumen Rere ke mejanya lalu pulang ke rumah. Sampai di depan kantor dia melihat Rian sedang duduk di kursi panjang dekat pohon sambil memainkan hp nya. Fira langsung menghampirinya setelah dilihatnya sudah sepi di sekitar kantor. Dia perlahan duduk di samping Rian tanpa mengganggunya, karena Rian terlihat serius.
Fira yang lelah pelan-pelan menyandarkan kepalanya pada bahu Rian. Merasakan ada yang menyandar dibahunya, Rian melihat disampingnya sudah ada Fira.
“Capek Ra ?”, tanya Rian sambil mengusap kepala Fira.
__ADS_1
Fira hanya mengangguk tanpa berbicara. Rian kemudian menaruh hp di tasnya dan berdiri sambil menggandeng tangan Fira ke parkiran mobil untuk pulang. Fira hanya menurut saja.
Tanpa mereka sadari, dari tadi mereka diawasi oleh seseorang dari dalam kantor, yaitu Rere. Mmarah, itu yang bisa digambarkan dari raut wajahnya.”sebenarnya apa hubungan mereka sampai sedekat itu ? Apa mereka pacaran?”, dia tetap bertanya-tanya sendiri.