
Fira masuk ke dapur, disana ada bu Rina yang sedang membuatkan minum tamunya.
"Eh, nak Fira.. ada apa ini ?"
"Ini bu, ada titipan dari rumah buat bu Rina..", kata Fira sambil memberikan bungkusan tape dan makanan lain.
"Wah makasih banyak ya.. kok repot sekali ibu kamu nak...", kata bu Rina yang tampak senang.
"Iya bu, sama sama.."
"Ibu senang banget.."
Fira senang melihat bu Rina suka dengan oleh-olehnya. Sesekali Fira melirik ke ruang tamu, bu Rina yang tau akhirnya menjelaskan,
"Itu teman sekolah Rian nak Fira.. dia kerja juga di kantor, katanya ada yang harus didiskusikan masalah pekerjaan."
"Oh begitu ya bu.. teman sekolah juga teman kerja ya..", kata Fira dengan sedikit telihat sedih.
"Kenapa nak Fira ?", Bu Rina yang penasaran mencoba bertanya.
Eh.. nggak apa-apa bu.. saya balik dulu ya.."
Fira sedikit salah tingkah. Dia pamit kembali.
"Kok keburu, main sini dulu aja.."
"Hehe nggak bu, saya balik aja.."
Fira berjalan kembali menuju pintu depan, saat sampai ruang tamu Rian tampak serius berdiskusi dengan temannya itu. Fira memutuskan tetap berjalan tanpa mengganggu mereka.
"Lho Fir.. udah balik ? ", tanya Rian yang melihat Fira berjalan keluar.
"Iya Yan..",
Sebelum Fira sampai pintu, Rian mencegahnya,
"Oh iya Fir.. kenalin ini temanku namanya Rere.. dia kerja di kantor kami..", terang Rian
"Oh iya.. aku Fira mbak.. salam kenal ya..", kata Fira sambil menjabat tangan Rere.
"Oh iya mbak.. aku Rere, temannya Rian..", Rere hanya tersenyum kecil pada Fira.
Fira menangkap, sepertinya Rere tidak suka padanya. Kemudian dia beranjak pergi.
"Mari mbak, saya balik dulu..", kata Fira berpamitan.
"Iya.. silahkan..", kata Rere.
Fira mengangguk sebentar ke Rian, Rian hanya tersenyum. Rere yang melihat itu merasa tidak senang.
Sesampainya di depan, Fira melihat Icha dan Randi berjalan dari depan gang.
"Assalamu'alaikum Fira...", sapa Randi
"Wa'alaikum salam... wah kalian ada apa nih kesini ?", kata Fira yang terlihat senang melihat mereka.
"Mau nengokin kamu.."
"Kalian bisa aja.. yuk duduk teras sini.."
Ajak Fira untuk duduk di teras depan kamarnya.
Icha dan Randi segera menuju teras depan kamar Fira dan duduk, sementara Fira masuk untuk mengambil camilan dan air minum.
"Ini, aku ada camilan dari rumah, maaf ya ada nya cuman itu.. hehe.."
__ADS_1
"Wah Fir.. nggak usah repot-repot..", kata Randi sambil mengambil camilan yang diberikan Fira.
"Yaah.. kamu Ran.. ada-ada aja.."
Randi hanya tersenyum sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Fira ikut tertawa karena tingkah Randi. Mereka jadi ramai sendiri, tanpa di sadari sepasang mata mengawasi mereka dari dalam rumah.
"Yan, Rian ?", panggil Rere.
"Eh, ada apa Re ? ", kata Rian yang sadar. Dia dari tadi melihat Fira dan kedua temannya di depan.
"Kamu lagi liat apa sih ?"
"Oh.. nggak, gimana jadi gitu ya... dilanjut di rapat besok tentang perkembangan aplikasi kita..", terang Rian.
Dia dari tadi membahas pekerjaan kantor bersama Rere, yang dimana Rere membantu sekretaris ayah Rian.
"Oke, besok aku atur rapatnya.."
Rian dan Rere mulai merapikan berkas-berkasnya, sebelum pamit, Rere yang penasaran memberanikan diri bertanya.
"Rian, yang tadi itu siapa ?"
"Oh dia teman waktu aku kecil dulu.. sekarang kuliah disini..", jawab Rian.
"Ohh gitu...""
Teman masa kecil ya, tapi keliatannya kamu suka sama dia, Rian... batin Rere dalam hati.
Terlihat Rere mulai cemburu dengan Fira, karena dia sudah lama suka dengan Rian. Meskipun Rian bersikap cuek, entah kenapa dia sangat suka dengannya. Karena itu Rere bekerja di perusahaan milik keluarga Rian, sehingga dia bisa tetap dekat dengan Rian.
Rere pamit pulang, sebelumnya dia berpamitan dengan bu Rina. Rian mengantarnya sampai depan gang, karena di gang tidak boleh menyalakan kendaraan.
Saat sampai di depan rumah, Fira melihat Rian dan Rere jalan bersama, yang mana Rere sambil mendorong motornya.
"Mbak Rere mau pulang ya ?", tanya Fira sambil beranjak mendekat.
Fira hanya membalasnya tersenyum ramah. Sementara Rian hanya tersenyum sebentar. Ketika Fira kembali duduk, dia ditanyai oleh Icha dan Randi.
"Itu tadi siapa Ra ?", tanya Icha.
"Temannya Rian, dia juga kerja di perusahaan."
"Oh.. aku kirain pacarnya..", kata Icha sambil melirik Fira dan melihat tingkahnya.
Fira tampak sedikit kaget mendengar ucapan Icha, sementara Randi hanya mengangkat alisnya dengan rasa penasaran ada apa dengan Fira.
"Aku kurang tau kalau itu Cha..", jawab Fira kemudian. Icha hanya tersenyum mendapat jawaban dari Fira. Dan mereka kembali berbincang-bincang.
"Ra.. aku turut berduka cita ya atad meninggalnya kakek kamu.. maaf aku nggak bisa kesana..", kata Randi.
"Iya Ran.. terimakasih.. aku udah nggak apa-apa kok..."
Randi yang sebelumnya diberitahu oleh Icha, berencana datang takziyah ke rumah Fira, tapi tidak terlaksana karena dia ada kesibukan lain.
"Kamu udah makan Ra ?, tanya Randi
"Hehe udah..", jawab Fira sambil memalingkan muka.
"Beneran ?"
"Hehe belum Ran..", jawab Fira yang akhirnya jujur. Dia memang susah berbohong, Randi juga sudah hafal dengan sikap Fira.
"Hmm.. sudah kuduga.. sana makan dulu Ra.."
"Iya Ra.. kamu makan dulu, nanti sakit lagi..", Icha juga menyuruh Fira untuk makan.
__ADS_1
"Yaudah deh.. sekalian kalian juga ya , kita makan bareng...", ajak Fira.
Icha dan Randi hanya bisa mengangguk, supaya Fira mau makan. Mereka tau Fira punya sakit Maag, sehingga mereka selalu perhatian untuk Fira selalu makan tepat waktu.
Fira dan teman-temannya akhirnya makan bersama, kebetulan ada nasi banyak yg dibawa dari rumah Fira
Rian yang baru kembali mengantar Rere, melihat Fira dan teman-temannya makan bersama, hanya menyapa mereka sebentar dan kembali ke rumah.
Rian yang baru masuk rumah langsung bersantai di depan TV. Mamanya juga sedang nonton TV, bu Rina penasaran tentang Rere.
"Nak, menurut kamu Rere itu bagaimana ?"
"Kenapa Ma, kok tanya gitu ?"
"Mama penasaran aja, kamu keliatannya dekat sama dia.."
"Cuman teman aja kok Ma.. dia juga kerja di kantor, dan kita sering diskusi karena memang kerjaannya berhubungan sama aku.."
"Oh gitu.. dia sering juga kan kesini.."
"Iya sih Ma.. harusnya sih di kantor bisa.. tapi entah kenapa dia sering kesini.."
"Yaudah kalau gitu nggak apa-apa, sekalian juga mungkin dia ingin main kesini."
Bu Rina bisa memastikan jika Rian tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Rere. Sementara Rian masih penasaran dengan pertanyaan Mamanya tadi. Tapi dia tidak tanya lagi.
"Oh iya, bagaimana di kampungnya Fira ?"
"Aku senang Ma keluarga nya Fira ramah dan aku dapat info banyak dari neneknya.. hehehe..", Rian menjelaskan dengan bersemangat.
Bu Rina yang melihatnya langsung tersenyum, sepertinya dia bisa menebak isi hati putranya itu.
"Wah senangnya anak Mama...", goda bu Rina
"Em.. apa sih Ma, Rian biasa aja kok...", kata Rian dengan malu-malu.
Bu Rina pun tertawa melihat tingkah putranya. Sesekali Rian menengok ke depan rumah, dilihatnya Fira dan teman-temannya disana.
Setelah selesai makan, Fira teringat tentang magang di kantor keluarga Rian. Dia mencoba mengajak kedua temannya itu mengirim lamaran kesana.
“Kalian mau nggak magang di perusahaan Itech ?”, tanya Fira.
“Itukan punya keluarga mas Rian, Ra.. disana lagi buka lowongan magang kah ?”, tanya Icha.
“Iya Cha.. aku dikasih tau sama Rian...”
“Wah, dimudahin dong ?”, canda Icha.
“Ya nggak Cha.. harus adil dong...kamu gimana Ran mau nggak ?”
“Em.. boleh deh.. aku ikut juga...”, jawab Randi kemudian.
Randi memang sedang mencari tempat magang, dan kebetulan Fira mengajaknya dia pun setuju. Sebenarnya dia masih bertanya-tanya tentang Rian, tapi dia tidak terlalu memikirkannya.
Beberapa hari kemudian, Fira, Icha dan Randi pergi ke perusahaan Itech untuk menyerahkan lamaran magang mereka. Perusahaan itu termasuk besar, sesampainya di depan gedung, mereka sudah disambut oleh seorang satpam. Fira menjelaskan jika mereka ingin mengajukan lamaran magang, karena mereka masih mahasiswa.
Satpam itu kemudian menunjukkan tempat resepsionis, disana tempat lamarannya dikumpulkan. Fira dan kedua temannya segera kesana, tidak lupa dia mengucapkan terimakasih pada satpam tersebut.
Lobby kantor tidak terlalu luas tapi sangat tertata rapi. Disana terlihat ada meja counter dan seorang wanita.
“Selamat siang mbak.. ada yang bisa saya bantu ?”, tanya resepsionis tersebut.
“Siang mbak.. saya mau mengajukan lamaran magang disini.. apakah masih bisa ?”, tanya Fira.
“Oh iya mbak.. bisa.. lamarannya dikumpulkan disini ya.. nanti pengumuman untuk tes nya kami hubungi lewat email atau telepon.”
__ADS_1
“Oh iya mbak.. terimakasih ya..”
Fira, Icha dan Rian segera mengumpulkan lamaran mereka. Saat Fira berjalan keluar, dia melihat Rian dan Rere berjalan dari dalam kantor. Spontan Fira berlari keluar mendahului Icha dan Randi. Icha dan Randi langsung bingung, mereka segera menyusul Fira. Rian yang berjalan keluar sempat melihat seorang perempuan berlari, dia seperti kenal dengan perawakan itu.