
Pada suatu akhir pekan Rian dan Fira berkunjung ke rumah orang tua Rian. Mereka kesana berniat menginap juga karena sudah lama tidak kesana. Kedatangan mereka disambut suka cita oleh pak Fikri dan bu Rina.
“Duh manten anyar.. baru ingat orang tuanya ya..” canda bu Rina
“Hehe nggak kok Ma.. mas Rian itu yang sibuk..” balas Fira sambil tersenyum.
“Apaan kamu juga sibuk kuliah gitu Ra..”
“Udah-udah yang penting sekarang kalian udah kesini lagi kita udah senang..” lerai pak Fikri.
Malamnya mereka sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton tv. Fira duduk disamping Rian, sementara pak Fikri di dekat bu Rina.
“Oh iya Ma.. ini ada oleh-oleh dari Jogja kemarin..” kata Fira sambil memberikan beberapa makanan ringan dan setelan batik.
“Wah kok repot banget kalian.. liat kalian kembali dengan selamat aja Mama udah senang.. makasih ya nak...”
Fira tersenyum dan mengangguk, dia senang Mama mertuanya suka dengan oleh-oleh yang dibawa oleh dirinya dan Rian.
“Oh iya Mama tadi buat kue, kalian mau ?” tawar bu Rina sambil beranjak ke dapur.
“Mau Ma.. kangen kue buatan Mama..” sahut Rian.
Fira beranjak mengikuti mama mertuanya ke dapur untuk mengambil beberapa kue dan camilan. Meninggalkan Rian dan Ayahnya yang masih di ruang keluarga.
“Bagaimana nak sama Rian ?” tanya bu Rina dengan setengah berbisik.
“Mas Rian baik Ma.. Fira nyaman sama mas Rian..” jawab Fira dengan malu-malu.
“Syukur deh.. lagian kalian udah keliatan cocok sejak kecil dulu, Mama senang akhirnya kamu bisa jadi bagian dari keluarga ini..”
“Makasih Ma..” balas Fira yang tersenyum malu-malu.
Mereka membawa kue dan beberapa camilan ke ruang keluarga. Rian yang kangen dengan makanan buatan Mamanya langsung mengambil beberapa kue.
“Duh kangen ya kue buatan Mama.. nanti kamu bawa ajak Ra pulang.. Mama buat banyak soalnya..”
“Iya Ma.. terimakasih..”
Mereka kembali berbincang sambil sesekali Rian mengalungkan tangannya di pundak Fira, yang kebetulan mereka duduk di lantai beralaskan karpet sehingga sangat santai.
Sesekali mereka bercanda membahas tentang kejadian lucu ketika Rian dan Fira masih kecil, dimana Fira selalu mengikuti Rian kemanapun.
“Tau nggak Ra, dulu itu kamu pasti ngikutin aku.. pagi-pagi habis mandi kamu langsung ke rumah cari aku minta diajak main..” terang Rian.
“Masak sih Mas ?” tanya Fira memastikan. Dia samar-sama mengingatnya.
“Iya.. pokoknya tiap hari kita selalu main bareng, beli pentol yang sering lewat itu kita makan bersama..” kata Rian sambil senyum sendiri.
Fira jadi malu sendiri ternyata Rian masih mengingatnya jelas padahal itu terjadi sudah lama sekali.
“Iya, Rian juga gitu.. sejak kamu pulang ke kampung dia kesepian banget nak..”, kata pak Fikri.
“Sampai gitu Yah ? Masak mas Rian nggak punya teman lain ?” tanya Fira yang semakin penasaran.
“Eh ada lah Ra..” jawab Rian.
“Iya tapi kamu masih sedih kalau nggak ada Fira, kamu sampai buat keputusan kan dulu ?” pancing pak Fikri sambil tersenyum misterius.
Rian yang mulai tahu apa yang akan dikatakan oleh ayahnya langsung salah tingkah.
“Eh, udah dong Yah.. itu dulu..”
“Apa sih Mas ? Aku jadi penasaran..” sahut Fira yang penasaran.
“Jadi Ra.. Rian dulu setelah kamu tinggal pulang diia bertekat buat belajar supaya nanti ketika ketemu kamu lagi, dia udah siap segalanya buat melamar kamu..” terang pak Fikri kemudian.
Rian mendengar Ayahnya menceritakan segalanya menjadi malu, dia tersipu malu tidak biisa menyembunyikan wajahnya yang merah. Fira yang terdiam langsung memperhatikan Rian dan tertawa. Ternyata Rian sangat serius padanya padahal hanya karena janji masa kecilnya yang bisa saja sering dilupakan. Fira merasa tambah beruntung bisa menjadi istri dari Rian.
Fira masih penasaran tentang janji itu, apa yang sebenarnya terjadi sampai mereka membuat janji untuk bersama ketika sudah dewasa.
“Mas, dulu gimana sih kok bisa buat janji gitu ?” tanya Fira.
“Hmm.. nah ini, sedikit kecewa sih kamu lupa akan hal itu..”
“Ya maklum lah nak.. Fira kan dulu masih kecil..”, bela Mamanya.
Rian akhirnya bercerita,
*-- Flash Back --*
__ADS_1
Fira kecil sedang bermain di rumah Rian sehari sebelum dia pulang ke kampung. Saat bermain Fira terlihat sangat sedih, Rian mencoba bertanya karena penasaran
“Ada apa dek Ra kok keliatan sedih ?” tanya Rian.
“Aku besok nggak bisa main sama Mas Rian..” jawab Fira dengan sedih.
“Lho kenapa ?”
“Besok aku mau pulang kata Ibu nggak disini lagi..”
Rian terlihat sedih karena Fira tidak akan main bersamanya lagi.
“Aku sedih nggak bisa main sama mas Rian, padahal disini enak tapi Ibu bilang harus pulang..” tambah Fira.
Rian kecil yang saat itu sudah pintar mencoba menghibur Fira.
“Nggak apa-apa dek Ra.. nanti kalau udah besar kita ketemu lagi..”
Fira langsung terlihat senang, dia pun jadi antusias
“Apa nanti kita bisa main bareng lagi ?”
“Iya pasti.. kamu mau nggak kalau udah besar nanti kita bersama selamanya ?” tanya Rian.
“Maksudnya apa Mas ?” tanya Fira kecil yang tidak fahan.
“Ya kita bisa main bersama, tinggal bersama, kemana-mana bersama..” terang Rian yang tidak sadar entah apa yang membuatnya berbicara seperti itu.
Fira langsung terlihat senang, dia sebenarnya tidak faham apa maksudnya, tapi baginya bisa bersama dengan Rian adalah suatu hal yang menyenangkan dan membuatnya merasa nyaman dia pun mau.
“Iya Mas aku mau..” kata Fira tanpa berfikir panjang.
Rian tersenyum senang, dia mengarahkan jari kelingkingnya ke Fira dan Fira pun mengangkan jari kelingkingnya dan mengaitkan dengan jari kelingking Rian. Mereka berdua terlihat sangat senang. Mereka tidak sadar jika bu Rina dari tadi mengamati dari dapur. Beliau tersenyum senang melihat tingkah putranya dan Fira
*-- --*
Kembali ke perbincangan Rian, Fira dan kedua orang tuanya, Fira mendengarkan cerita Rian dengan serius, dan akhirnya tau apa yang terjadi sebenarnya, dia sangat malu karena dari cerita Rian terlihat jika Fira lah yang mengejar Rian meskipun dia masih kecil.
Rian bercerita semuanya sampai tertawa mengingat kejadian lucu, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Tanpa terasa waktu sudah sangat malam, Fira pamit duluan ke kamar karena sudah mulai ngantuk dan beberapa saat kemudian Rian menyusulnya.
Saat membuka pintu kamar Rian melihat Fira sudah berbaring di kasur dengan memiringkan badannya membelakangi pintu. Dia langsung menutup dan mengunci pintu lalu merebahkan diri di kasur. Perlahan dipeluk Fira dari belakang yang membuat Fira kaget dan membalikkan badannya.
“Iya Ra.. udah yuk tidur..”
Fira kemudian memeluk Rian dan membenamkan tubuhnya di dada suaminya. Samar-samar dia bertanya,
“Mas Rian udah suka sama aku sejak dulu ?” tanya Fira dengan suara pelan. Dia setengah sadar karena masih ngantuk.
Rian tersenyum dan mencium kening Fira, dia gemas dengan tingkah istrinya, tidur tapi masih bisa bertanya.
“Mas Rian sangat sayang sama kamu sejak kita pertama kali bertemu Ra.. kamu begitu menggemaskan sejak dulu..” jawab Rian.
Dia tau istrinya tidak mendengarnya, dia kemudian langsung memejamkan matanya dan tertidur.
Pagi harinya Fira membantu Mamanya memasak di dapur sementara Rian berolahraga di halaman rumah bersama ayahnya.
“Rian makannya nggak pilih-pilih kan nak ?” tanya bu Rina sambil menggoreng lauk.
“Enggak kok Ma.. mas Rian suka makan apa aja..” jawab Fira sambil membuat sambal.
“Alhamdulillah.. Rian dari dulu memang nggak pilih-pilih kalau makan jadi kamu tenang aja ya..”
“Iya Ma..” kata Fira tersenyum senang.
Tiba-tiba Rian memeluk Fira dari belakang yang membuatnya kaget.
“Mas Rian.. keringatan gitu mandi sana..” perintag Fira.
“Ih gini-gini kamu suka kan..” kata Rian sambil mengeratkan pelukannya.
“Hmm.. mandi dulu mas.. bau gitu.. habis ini makan..” perintah Rian yang mulai sebal.
“Hmm yaudah deh aku mandi dulu..”
Rian lalu melepaskan pelukannya dan beranjak ke kamar mandi. Bu Rina yang melihat tingkah putranya yang begitu manja pada Fira jadi terheran karena Rian tidak pernah seperti itu sebelumnya. Beliau berfikir itu karena dia bersama Fira sehingga sifat aslinya keluar.
“Duh mesra banget sih..” goda bu Rina.
“Biarin Ma.. masih pengantin baru kan ya Ra..” timpal Rian sambil tersenyum pada Fira.
__ADS_1
“Iya iya Mas Rian..” jawab Fira yang tersenyum malu.
Siang harinya Rian dan Fira sudah kembali ke apartemen. Mereka kembali karena Rian harus menyelesaikan laporan dan mempersiapkan sidang skripsinya. Dia fokus belajar di meja kerjanya dan Fira tidak berani mengganggu konsentrasinya sehingga dia memutuskan untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosennya di depan tv.
Tugas-tugas Fira berhubungan dengan bahasa pemrograman, dia sebenarnya ingin bertanya pada suaminya tentang maksud persoalannya tapi dia tidak berani mengganggunya, akhirnya dia menghubungi temannya yaitu Randi yang paling faham dengan dunia pemrograman.
“Halo Assalamu’alaikum Ra.. ada apa ?” tanya Randi ketika telfon sudah tersambung.
“Wa’alaikum salam Ran.. kamu lagi sibuk nggak ? Aku mau tanya tentang tugas..” tanya Fira kemudian.
“Iya nggak apa-apa tanya aja Ra.. mungkin aku bisa bantu..”
Fira lalu menanyakan persoalannya dan Randi akhirnya membantu memberikan solusi apa yang harus dilakukan Fira dalam menyelesaikan soalnya. Sementara dari dalam kamar Rian yang samar-samar mendengar Fira sedang berbicara dengan seseorang menjadi penasaran. Akhirnya dia keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi, ternyata Fira sedang mengobrol dengan seseorang melalui telepon.
Tidak mau mengganggu Fira yang sepertinya sedang serius membicarakan tugas, dia berjalan ke dapur untuk minum. Fira yang melihat Rian segera mengakhiri panggilan teleponnya dengan Randi, takut nanti Rian salah faham.
“Sudah ya Ran.. makasih bantuannya.. aku mau ngerjain tugas dulu.. Assalamu’alaikum..”
“Oke sama-sama Ra.. Wa’alaikum salam..”
Fira langsung bergegas menyusul Rian di dapur.
“Telfon sama siapa Ra ?” tanya Rian.
“I.. itu Mas.. sama Randi tanya tugas..” jawab Fira yang sedikit gugup takut Rian marah.
Rian sedikit menaikkan alisnya dan dia bisa memaklumi kalau mengenai tugas kampus.
“Oh.. bahas tugas ya ?” tanya Rian datar.
Fira sedikit kecewa, dia sempat berharap suaminya cemburu melihat dia menghubungi orang lain.
“Iya Mas.. aku bingung makanya tanya.. nggak apa-apa ya Mas ?”
“Nggak apa-apa.. aku juga minta maaf tadi ngggak bisa bantuin kamu, mas malah sibuk sendiri..” jawab Rian sambil mencubit pipit Fira.
“Ih lagi-lagi nyubit pipi aku.. emang enak ya nyubitin terus ?” tanya Fira yang kesal dengan tingkah suaminya.
“Habisnya pipi kamu gemesin Ra.. pengen aku gigit aja.. hehe..” Rian tertawa melihat tingkah istrinya itu.
Fira yang kesal berjalan hendak ke depan tv tapi dengan cepat Rian mencegahnya
“Eit.. mau kemana ?”
Fira hanya diam dan Rian memeluknya dari belakang.
“Marah ya ? Maaf deh.. habis pipi kamu gemesin Ra.. jadi Mas tambah sayang..” goda Rian dengan suara lembutnya di dekat telinga Fira.
Fira langsung geli, dia tersenyum kecil mendengar perkataan Rian, perlahan dia membalikkan badannya dan memeluk Rian.
“Kamu berani ya sekarang..” Rian mengeratkan pelukannya.
“Biarin, sama suami sendiri masak nggak boleh ?”
“Boleh kok Ra.. sepuasnya deh..” Rian mencium kening Fira dengan lembut.
“Sayang deh sama mas Rian..” ucap Fira pelan, tapi Rian masih mendengarnya.
“Apa Ra ? Kamu bilang apa ?” Rian yang baru kali ini Fira mengatakan perasaannya pun jadi antusias.
“Aku nggak akan ngulangi lagi.. malu Mas..”
Tanpa pikir panjang Rian langsung mengangkat tubuh Fira, yang otomatis membuat Fira mengalungkan kakinya di pinggang Rian.
“Hehe Mas Rian ini.. kalau jatuh gimana ?”
“Nggak akan Ra.. tenang aja..”
“Tapi aku hmmff..”
Belum selesai Fira bicara, Rian sudah menciumnya, Fira sempat kaget lama-lama dia menikmatinya dan membalas ciuman suaminya.
Rian yang melihat Fira membalas ciumannya pun semakin bersemangat, dibawalah Fira ke kamar dengan posisi sama dan di rebahkan di tempat tidur.
“Mas.. laptopku belum aku matiin..” kata Fira yang nafasnya masih terasa berat.
“Nggak apa-apa, biarin dulu..”
Mereka pun melanjutkan aktivitas mereka sebagai suami istri malam itu dan berakhir dengan keduanya tidur sangat pulas.
__ADS_1