Fira dan Rian

Fira dan Rian
Irfan & Icha


__ADS_3

Siang itu Icha yang terlihat nganggur karena sedang liburan semester dan memutuskan untuk pergi ke cafe tempat dia dan Fira biasa kunjungi, yaitu tempat Irfan bekerja.


“Lho cha tumben kesini sendiri ?” Tanya Irfan yang melihat Icha datang


“Lagi nggak ada kerjaan mas.. Fira juga lagi magang..” jawab Icha


Irfan tersenyum mendengar jawaban Icha, kemudian Icha pun menuju tempat duduk yang kosong. Kebetulan waktu itu sedang tidak ramai karena kebanyakan mahasiswa rantauan pulang ke kampung halaman.


Icha tampak sibuk dengan laptopnya sesekali dia meminum latte yang dipesannya tadi. Irfan yang merasa tidak terlalu ramai pengunjung menghampiri Icha.


“Sibuk ngapain Cha ?” tanya Irfan.


“Ini mas.. lagi nyari freelance, nggak enak juga kalau nganggur waktu liburan..”


“Kerja disini aja..” tawar Irfan.


“Nggak deh mas.. aku pengennya yang bisa dikerjain dirumah..”


“Hmm.. malasnya..” canda Irfan


“Eh nggak ya Mas.. huh..” icha pun sebal sendiri mendengar candaan Irfan


“Hehe canda aja Cha..”


Mereka pun kembali berbincang-bincang mengenai pekerjaan dan kuliah. Icha yang jarang berbincang dengan Irfan pun jadi tahu sifat aslinya yang baik, ramah dan kadang suka jahil. Icha pun merasa kalau Irfan sangat mudah diajak berdiskusi sehingga sangat nyaman cerita dengannya.


Saat Fira di rumah sakit, Icha selalu menanyakan kabar Fira lewat Irfan karena dia tidak bisa sering menjenguk. Sejak itu mereka sering berkomunikasi.


Irfan merasa senang melihat Icha dan sifatnya yang ramah dan sangat blak-blakan. Dia bisa bercanda dan menggoda Icha dengan candaanya. Ketika Icha sering berkunjung ke cafe tempatnya bekerja dia selalu menemaninya disaat senggang.


“Cha kamu sering kesini sendirian nggak sama pacar ?” tanya Irfan yang mencoba mencari informasi.


Icha mendapatkan pertanyaan itu dari Irfan sedikit terkejut dan memandang Irfan dengan tatapan heran.


“Pacaran ? Aku nggak pernah pacaran Mas..” jawb Icha.


Sekilas Irfan tersenyum kecil,


“Kenapa senyum gitu Mas ?” tanya Fira yang melihat Irfan yang tersenyum kecil


“Heran aja.. aku kira kamu punya pacar..”


“Nggak lah Mas.. lagian aku pengennya langsung nikah..” jawab Icha dengan mantap


“Heee.. gitu ternyata, kamu pengennya yang seperti apa ?” tanya Irfan


Icha sempat heran kenapa Irfan tiba-tiba menanyakan hal tersebut.


“Hmm.. yang baik, ramah, baik agamanya..”


“Aku termasuk dong ?” tanya Irfan spontan yang dia sendiri tidak sadar, Aku ngomong apa sih..


Icha langsung kaget mendengarnya,


‘Ini mas Irfan serius ? Aku senang mendengarnya..’


Icha masih terdiam, Irfan yang salah tingkat mencoba memalingkan pandangannya karena malu sendiri.


“Em.. mas Irfan serius tentang yang diomongin tadi ?” tanya Icha memecah keheningan.


“Aku serius, aku nyaman sama kamu, dan aku rasa kita cocok..” kata Irfan kemudian

__ADS_1


“Tapi aku belum siap Mas.. masih kuliah juga..”


“Nggak harus sekarang Cha, aku juga masih belum mapan, kerjaku juga masih gini, kalau suatu saat nanti aku udah mapan, kamu mau nggak menikah dan hidup bersama dengan aku ?.” tanya Irfan dengan serius.


Icha tersenyum senang mendengarnya, tapi dia tidak mau terburu-buru mengambil keputusan.


“Kita jalani dulu seperti biasanya aja ya Mas.. nggak usah terburu-buru, kita juga masih mahasiswa..” jawab Icha kemudian


“Iya Cha aku setuju.. makasih ya udah mau memikirkannya..”


Irfan tersenyum senang begitu juga Icha, mereka jadi sama-sama malu setelah membicarakan hal tersebut. Irfan kemudian kembali bekerja sementara Icha masih betah dengan laptopnya. Sesekali mereka saling melirik dan mengamati untuk mengetahui apa yang sedang dikerjakan.


Sejak hari itu mereka sering bertemu dan jalan bersama meskipun tidak berdua dan selalu ramai-ramai seperti bersama dengan Fira. Meskipun begitu mereka masih tidak memberitahukan pada Fira tentang hubungan mereka.


Meskipun mereka juga sering bertengkar atau berbeda pendapat tapi itu tidak mengubah komitmen mereka, sehingga mereka semakin mengenal karakter masing-masing.


Kembali disaat Fira, Rian, Irfan dan Icha makan bersama. Setelah mendengar penjelasan dari Irfan, Fira tampak senang.


“Oh jadi gitu ceritanya.. wah senang deh kalau Icha nanti jadi sepupu iparku.. hehehe..” kata Fira


Icha pun tersenyum malu,


“Aamiin.. doa nya Ra..”


“jangan lama-lama Mas.. nanti keburu diambil orang lho..” canda Rian


“Tenang aja Yan.. udah aku kunci hatinya.. haha..”


Rian dan Fira pun tertawa mendengar jawaban Irfan, terlihat Cuma candaan tapi begitulah gaya bicara Irfan. Icha pun malu sendiri dan memukul pundak Irfan karena gemas.


Setelah selesai acara makan bersama, mereka pulang ke rumah masing-masing. Irfan langsung ke tempat kerjanya, Icha pulang, sementara Rian dan Fira langsung ke apartemen.


“capek ya.. sini Mas pijitin..” tanya Rian dengan menaruh kaki Icha di pangkuannya


“Iya Mas.. kebanyakan aku dicuekin lagi..” sindir Fira


“Maaf deh, aku nggak bisa menghindarinya, tau sendiri kan aku punya banyak kenalan Ra..” jelas Rian sambil terus memijat kaki Fira


Fira menghela nafas panjang, dia melihat suaminya yang tampak bersalah. Ada bagusnya juga godain suaminya, itu yang difikirkan oleh Fira. Dia pun tersenyum kecil melihatnya.


“Uuh.. iya ya.. aku maafin deh.. liat Mas Rian sedih gini jadi gemes deh..” goda Fira sambil memegang pipi Rian dengan kedua tangannya.


Rian lama-lama sadar jika istrinya hanya menggodanya, dia langsung mencubit pipit Fira karena kesal.


“Ih kok dicubit sih.. sakit Mas, lepasin..” pinta Fira


“Siapa suruh godain ?” Rian masih tetap dengan posisi tangannya.


“Maaf deh.. tapi bener kok yang aku bilang tadi..” Fira berusaha mmembela diri


Rian kemudian melepaskan tangannya dan beranjak ke kamar dengan wajah datarnya. Fira mendengus, dan tersenyum kecil.


‘Gantian ngerayu suami nih..’ batin Fira


Dia kemudian menyusul Rian ke kamar, dilihatnya Rian berbaring di ranjang dengab posisi miring memunggunginya. Fira perlahan naik ke ranjang dan memeluk Rian dari belakang.


“Maaf deh Mas, Fira udah godain Mas..” rayu Fira yang kemudian membenamkan wajahnya di punggung tegap Rian


Rian tersenyum sendiri melihat tingkah Fira. Dia segera membalikkan badannya dan memeluk Fira, dikecupnya kening Fira.


“Udah yuk tidur siang bentar, kita udah sama-sama lelah..”

__ADS_1


Fira tersenyum mengangguk dan mereka tidur siang sebentar sebelum masuk waktu ashar.


Hari-hari berlalu, Rian mulai sibuk dengan pekerjaannya di kantor dan Fira sibuk dengan kegiatannya di kampus. Rian sekarang berfokus menangani masalah perusahaan karena dialah calon penerusnya. Dia sering lembur kerja karena sibuk, dan Fira dengan setia menunggunya pulang meskipun dia sendiri sampai tertidur di sofa dan Rian lah yang memindahkannya di kamar.


Suatu pagi saat Fira sedang memasak di dapur, Rian tiba-tiba melingkarkan tangannya ke pinggang Fira.


“Masak apa Ra ?” tanya Rian dengan pelan.


“Mas Rian bikin kaget aja.. ini masak nasi goreng..”


“Hmm.. bau nya enak nih..”


Fira tersenyum mendengar pujian dari Rian.


“Tunggu di meja makan sana Mas.. aku selesaiin dulu..” perintah Fira


Rian menurut dan melepaskan tangannya dari Fira. Tidak lama kemudian Fira menghidangkan sarapannya dan mereka makan bersama sebelum Rian berangkat kerja.


“Mas aku kangen Ibu sama bapak, kapan-kapan kita kesana yuk ?” ajak Fira


“Boleh, minggu ini ya..”


Fira mengangguk senang Rian mau diajak berkunjung ke kampung halaman Fira. Sejak menikah dia hanya beberapa kali menyambangi orang tuanya di kampung.


Sesuai janji Rian, hari sabtu pagi mereka pergi mengunjungi orang tua Fira dan berencana menginap disana. Sesampainya disana mereka disambut kedua orang tua Fira karena sudah diberitahu Fira jika akan berkunjung.


“Duh senangnya mantu Ibu berkunjung kesini..” canda bu Ira setelah Fira dan Rian datang.


“Bukan mantu Ibu aja tapi anaknya juga..” sela Fira yang merasa namanya tidak disebut


Kedua orang tua Fira dan Rian spontan tertawa, tiba-tiba Irfan muncul dari samping rumah.


“Wah ada yang lagi pulang, tau gitu aku bareng aja pulangnya sama kalian..” kata Irfan yang menyesal tidak bertanya pada Fira.


“Salah sendiri nggak tanya dulu..” ejek Fira kemudian


“Huh awas aja ya..”


Mereka lanjut mengobrol bersama, saat bu Ira kembali ke dalam rumah tinggal Rian, Irfan dan Fira. Fira mencoba bertanya pada Irfan tentang hubungannya dengan Icha.


“Mas udah kenalin Icha ke pak lek dan bulek ?” tanya Fira yang penasaran.


“Masih belum.. nanti kalau udah waktunya aku kenalin ke orang tua..” jawab Irfan.


Dia sebenarnya ingin segera mengenalkan Icha pada kedua orang tuanya tetapi dia tunda karena belum siap dan takut jika orang tuanya tidak merestui, melihat dia belum mapan dan masih kuliah.


“Hmm.. cepetan Mas.. jangan lama-lama..” pinta Fira.


“Iya iya bawel.. nanti kalau mas udah lulus dan udah kerja..”


“Janji ya.. pokoknya jangan sampai buat Icha sakit hati, Mas Irfan nggak akan aku maafin kalau sampai itu terjadi..” ancam Fira


Irfan tertawa mendengar ancaman dari Fira, terlihat lucu. Rian hanya tersenyum dan menyimak pembicaraan mereka.


Selama kampung Fira mengajak Rian mengunjungi ke saudaranya supaya dia lebih mengenal keluarga besar Fira. Rian pun senang bisa bertemu dengan keluarga besar Fira.


Rian dan Fira disana sampai hari minggu dan kembali di sore hari, karena Rian harus bekerja keesokan harinya dan Fira harus kuliah.


Hari berganti hari dan tiba saat Fira di akhir semester 6 dan harus ikut program kampus yang wajib diikuti yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dimana dia dan teman-teman seangkatannya dari berbagai fakultas di kampus melakukan pengabdian di masyarakat selama kurang lebih satu bulan.


Saat pembagian kelompok, sangat beruntung Fira satu kelompok dengan Icha, sedangkan Randi beda kelompok tapi desa mereka masih bersebelahan.

__ADS_1


__ADS_2