Fira dan Rian

Fira dan Rian
Berita Bahagia


__ADS_3

Siang hari Rian membangunkan Fira untuk sholat Dhuhur, dilihat istrinya masih tidur diatas ranjang.


“Ra bangun, sholat dhuhur dulu..” kata Rian


“Ehm...”


Fira menggeliat sejenak kemudian bangun. Perlahan dia duduk di pinggir tempat tidur mencoba mengumpulkan tenaga.


“Pulas banget.. nyaman banget ya ?” Tanya Rian


“Hehe.. iya Mas..”


Fira kemudian beranjak mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi. Rian yang habis sholat masih memakai sarung dan menuju ruang tengah untuk menonton tv.


Setelah selesai sholat Fira pergi ke dapur melihat kulkas dan ternyata kosong.


“Mas Rian nggak belanja ya ?” tanya Fira.


“Belum Ra.. habis maghrib kita keluar belanja gimana ?” ajak Rian


“Oke deh..”


Fira lalu duduk di samping Rian yang sedang menonton tv. Di rebahkan kepalanya di pundak Rian.


“Kangen banget sama pundak ini..” kata Fira dalam hati.


Rian tersenyum, dilingkarkan tangannya di pundak Fira. Didekatkan wajahnya ke telinga istrinya.


“Kangen ya ?” tanya Rian dengan setengah berbisik


Pipi Fira spontan merona, sudah lama dia tidak digoda oleh suaminya, akhirnya dipukul lah dada bidang Rian karena malu.


Rian terkekeh melihat tingkah Fira yang menggemaskan, di usap-usap kepala Fira sambil memainkan rambut panjangnya.


Malam harinya Rian mengajak Fira untuk berbelanja di supermarket dekat apartemen. Sambil membawa troli Fira memeluk lengan Rian, entah kenapa dia bersikap manja pada Rian. Sampai Rian gemas sendiri dengan sikap istrinya itu.


Mereka mengitari area bahan-bahan kebutuhan dapur, kebutuhan rumah tangga, dan lain-lain. Setelah puas berbelanja mereka makan malam diluar dan langsung kembali pulang.


Sesampainya dirumah, Fira langsung sholat duluan lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur, disusul Rian yang memainkan hp nya sambil berbaring. Setelah melihat Rian berbaring disampingnya, Fira langsung mendekat dan memeluk Rian dari samping.


“Kenapa Ra ? Kamu dari tadi nempel terus..” tanya Rian


Fira mengangkat wajahnya memandang ke arah Rian.


“Nggak boleh ya ?”


Rian meletakkan hp nya di meja kecil samping tempat tidur dan mendekap Fira kuat.


“Boleh kok.. kamu bisa sepuasnya meluk aku..”


Fira tersenyum dan membenamkan kepalanya di dada Rian, Rian mencium kening Fira dan terdengar nafas yang sudah beraturan dan tenang, ternyata Fira sudah tertidur.


“Cepet banget tidurnya.. apa karena kebiasaan di tempat KKN ya..” gumam Rian.


Akhirnya Rian pun ikut tidur.


Saat pagi hari Fira tiba-tiba merasa mual dan bolak balik ke kamar mandi, Rian yang melihat itu merasa khawatir, di rebahkan badan istrinya di tempat tidur sambil mengoleskan minyak angin di perut istrinya.


“Mas Rian ke kantor aja.. aku nggak apa-apa..” kata Fira.


“Mas izin aja ya.. aku khawatir sama kamu Ra..”


Fira tersenyum kecil, dia ingin suaminya tetap pergi bekerja, tetapi karena suaminya tetap kekeh menemaninya akhirnya dia mengalah.


“Habis ini kita ke dokter ya.. takut kamu kenapa-napa..” ajak Rian.


“Enggak deh Mas.. mungkin masuk angin biasa..”


“Enggak bisa pokoknya kamu harus periksa habis ini..” kata Rian.


“Hm iya deh..”


Fira yang kalah suara akhirnya menuruti permintaan suaminya. Setelah sarapan mereka menuju ke tempat tujuan yaitu ke klinik di dekat sana.


Sampai disana untungnya antrian tidak terlalu panjang karena masih pagi, 30 menit kemudian mereka pun masuk ke ruang dokter untuk diperiksa. Untungnya dokternya seorang perempuan sehingga Fira tidak terlalu khawatir.


“Maaf ya bu, saya periksa dulu..” kata dokter itu meminta izin.

__ADS_1


“Iya dok..”


Fira diperiksa mulai dari kening, leher, perut. Setelah beberapa saat dokter tersebut tersenyum yang membuat Rian bertanya-tanya.


“Sudah selesai bu pemeriksaannya..”


“Bagaimana dok keadaan istri saya ?” tanya Rian setelah dokter tersebut duduk.


Dokter itu masih tersenyum, tidak lama dia memberitahukan hasil diagnosanya.


“Selamat ya pak, istrinya hamil usianya 3 minggu..” terang dokter tersebut.


Mendengar jawaban dari dokter Rian dan Fira tampak sangat bahagia, Rian tersenyum sangat lebar,


“Alhamdulillah..”


“Mulai sekarang tolong jaga kesehatannya ya bu.. jangan melakukan hal yang berat-berat..”


“Terimakasih dok..” ucap Fira yang terharu


Setelah mendapatkan resep mereka keluar ruangan. Rian tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang sangat bahagia, dirangkul pundak istrinya dengan mesra meninggalkan klinik.


Setelah sampai dirumah, Rian mengajak Fira duduk di shofa.


“Ra.. aku senang sekali mendengar apa yang dikatakan dokternya tadi..”


“Aku juga Mas... ternyata kecapek an karena aku lagi hamil muda..” kata Fira yang sedikit berkaca-kaca.


Rian mengusap air mata Fira dan memegang kedua pipi Fira dengan kedua tangannya.


“Terimakasih Ra..”


Fira sangat bahagia, dalam hati dia sangat bersyukur mendapatkan amanah yang sangat besar untuk anak yang ada di kandungannya. Tidak hentinya dia mengucapkan syukur dalam hati. ‘Alhamdulillah Ya Alllah..”


Mereka berdua tersenyum dan sangat bahagia. Rian berniat memberi kabar kepada kedua orang tuanya dan orang tua Fira, dan disetujui oleh Fira. Mereka berencana memberi kabar kepada mereka ketika berkunjung.


“Sekarang kamu harus lebih berhati-hati Ra.. inget apa yang dikatakan dokter tadi..” Rian memberi nasehat pada istrinya.


“Iya Mas.. tapi aku boleh tetap masak dan ngelakuin pekerjaan rumah kan ?”


“Hm.. boleh lah tapi jangan sampai kelelahan ya..”


Setelah itu Rian meminta Fira beristirahat karena masih terlihat pucat. Fira akhirnya menurut dan menuju kamar untuk beristirahat, sementara Rian mengambil laptopnya dan mulai bekerja. Sesekali di lihat istrinya yang sedang tidur untuk mengecek keadaannya.


Sore harinya Fira sedang mempersiapkan makan malam, Rian yang habis sholat Ashar menyusul ke dapur dan melihat istrinya sedang masak.


“Masak apa Ra ?” tanya Rian sambil mengambil air minum dari kulkas.


“Masak ayam kecap mas..” jawab Fira


“Sini aku bantuin yaa..”


Rian mengambil alih menggoreng lauk, Fira tersenyum melihat tingkah suaminya itu, perhatian sekali.


“Makasih Mas.. kita masak bareng ya..” ajak Fira


“Iya.. aku nggak mau kamu terlalu capek, nggak baik buat anak kita..” kata Rian sambil mengusap perut Fira yang masih datar itu.


Fira tersenyum geli dan dipukul pelan punggung suaminya. Dia sangat merasa beruntung mempunyai suami seperti Rian yang sangat perhatian dan sayang padanya.


Setelah selesai masak, tepaat waktu adzan maghrib, mereka segera menunaikan sholat maghrib. Saat makan malam Rian membahas tentang Fira yang harus selalu menjaga kesehatan tubuhnya dan tidak boleh terlalu banyak fikiran.


“Ra kamu tetap lanjut kuliahnya ?”


“Iya lah Mas.. udah semester akhir juga, aku kan mau mengajukan judul skripsi..”


Rian tersenyum,


“Tapi kamu nggak boleh terlalu banyak fikiran ya, dibuat santai aja.. aku takut nanti berdampak ke kandungan..”


“Iya mas siap.. banyak kok teman aku yang hamil tapi tetap bisa kuliah..”


“Oke aku percaya, mulai sekarang aku antar jemput kamu kalau ke kampus..”


“Nanti apa nggak capek mas ? Kan mas Rian kerja..” protes Fira.


Dia biasanya berangkat sendiri menggunakan motor untuk ke kampus. Dia juga takut Rian akan capek jika harus bolak balik untuk antar jemput dirinya.

__ADS_1


“Hmm.. nggak kok Ra.. aku harus pastiin kamu nggak kenapa-napa..” kata Rian yang tetap kekeh.


“Mas Rian.. aku nggak mau kamu capek, kalau berangkat saja ndak apa-apa, tapi kalau pulangnya boleh nggak kalau diantar sama mas Irfan / Icha ? Soalnya kan nggak pasti juga jam pulannya..” tanya Fira.


Rian tampak berfikir, dia sebenarnya ingin selalu disisi Fira untuk memastikan dia baik-baik saja, tapi setelah mempertimbangkan yang dikatakan oleh Fira, dia akhirnya setuju.


“Baiklah.. tapi kamu harus kabarin aku dulu ya..” pinta Rian.


Fira tersenyum lega dan mengangguk,


“Siap Bos..”


Sejak Fira hamil, Rian jauh lebih posesif padanya. Dia selalu ada di samping Fira untuk menjaga dan tidak mau terjadi apa-apa padanya. Fira sampai gemas sendiri melihatnya.


Icha dan Irfan sudah diberitahu tentang kehamilan Fira. Mereka ikut senang mendengarnya, dan Rian juga meminta mereka untuk selalu menjaga Fira dimanapun ketika bersama. Icha sampai heran sendiri karena Rian begitu posesif ketika menyangkut tentang Fira, salah satunya ketika Icha dan Fira pulang agak sore karena ada diskusi. Beberapa kali Rian memperingatkan untuk berhati-hati ketika pulang karena jalanan ramai dengan orang pulang kerja, yang sebetulnya itu hal biasa yang mereka jumpai ketika pulang di sore hari.


Suatu hari saat berkunjung ke rumah orang tua Rian, mereka memberitahukan tentang kehamilan Rian. Orang tua Rian sangat senang terutama bu Rina yang sangat ingin segera memiliki cucu.


“Alhamdulillah... akhirnya yang ditunggu-tunggu.. sudah berapa bulan ?” tanya bu Rina.


“Sudah 3 bulan Ma..”


“Sudah 3 bulan baru bilang sekarang ? Teganya kalian..” bu Rina sedikit kecewa karena anaknya tidak memberitahu lebih awal.


“Maaf Ma.. kita pengennya beri kabarnya secara langsung..” jawab Rian.


“hmm.. baiklah.. kamu harus jaga kesehatan ya Ra.. lagi skripsi juga kan ?” tanya bu Rina


“Iya Ma.. alhamdulillah ini lagi proses skripsinya..”


Begitulah Rian yang selalu tidak memberitahukan lebih awal tentang kabar kehamilan Fira, bu Rina curiga jika Rian belum memberitahu orang tua Fira juga.


“Pak Hari dan bu Ira sudah diberitahu ?” tanya bu Rina memastikan


“Hehe belum Ma..” jawab Rian degan cengengesan.


“Astaghfirullah.. Kamu ini Yan...”


Fira hanya tertawa melihat suaminya dimarahi,


‘salah sendiri nggak boleh ngasih tau siapa-siapa dulu..’


Minggu berikutnya Fira dan Rian berkunjung ke kampung untuk bersilaturrahmi dan mengabarkan tentang kehamilan Fira, meskipun agak telat.


Lagi-lagi Rian dimarahi oleh pak Hari dan bu Ira karena telat memberi kabar, dan Rian yang sudah mempersiapkan diri pun hanya bisa beralasan jika dia ingin memberitahukan secara langsung tentang kabar bahagia itu.


Saat dikampung Fira mendapatkan kabar dari ibunya jika Irfan akan segera melamar Icha. Irfan setelah lulus mulai membuka usaha cafe sendiri di surabaya di dekat kampusnya dulu. Usahanya lumayan sukses dan sudah memiliki banyak karyawan. Dia berpikir sudah waktunya untuk melamar Icha.


Fira sangat senang akhirnya kakak sepupunya akan melamar sahabatnya, dia sudah lama meminta Irfan untuk segera melamarnya, tapi Irfan selalu menunda karena belum cukup mapan.


Masih dirumah orang tua Fira, Rian dan Fira sedang duduk bersama di ruang tamu. Sesekali Fira merasakan nyidam, kali ini dia ingin suaminya mencarikan es kelapa muda,


“Mas Rian aku pengen es kelapa muda..” rengek Fira.


“Hm, mulai lagi nih nyidamnya.. oke aku keluar sebentar ya..” Kata Rian yang langsung beranjak.


“Mas Rian mau beli ?”


“Iya dong Ra.. kalau nggak beli terus gimana ?”


“Aku pengennya mas Rian ambil langsunh dari pohon..” pinta Fira


‘Aduh gawat kalau udah kayak gini, tapi nggak apa-apa deh demi anak..’ batin Rian.


“Yaudah aku ke pak lek dulu mau tanya pohon kelapa disini dimana..” kata Rian.


Fira tersenyum dan langsung beranjak mengikuti Rian.


“Ada apa Le ?” tanya ayah Irfan yang sedang bersantai di teras rumahnya


“Ini pak lek, si bumil minta es kelapa muda, kelapanya minta yang langsung dari pohon..” terang Rian


“Walah nduk, ada-ada aja.. yaudah yuk aku tunjukan tempatnya..”


Ayah Irfan beranjak diikuti Rian dan Fira. Ternyata ada pohon kelapa disamping rumah Irfan, dan Rian langsung mengambilnya.


Fira begitu senang bisa minum es kelapa muda yang dibuat langsung oleh suaminya, ayah Irfan yang dari tadi bersama mereka juga ikut senang.

__ADS_1


Sejak mengetahui Fira sedang hamil, bu Rina sering mengirimi makanan sehat buat menantunya, entah itu diantar langsung ke apartemen atau dititipkan lewat Rian di kantor. Dan Fira begitu senang menerimanya. Dia sangat beruntung sangat diperhatikan oleh orang-orang disekitarnya.


__ADS_2