Fira dan Rian

Fira dan Rian
KKN


__ADS_3

Setelah mendengar kabar Fira akan melaksanakan KKN, Rian terlihat sedih dirumah karena akan ditinggal kurang lebih satu bulan. Dia pun terlihat murung ketika makan malam.


“Ada apa Mas cemberut gitu ?” Tanya Fira


“Habis ini kamu kan KKN Ra..” jawab Rian


“Ya Allah Mas.. kirain apa.. cuman satu bulan aja kok..”


“Satu bulan itu lama Ra.. kalau aku kangen boleh nggak sambangin kamu ?” Tanya Rian dengan wajah memelasnya.


Fira tampak berfikir, dia takut jika disana nanti tidak diperbolehkan ada orang yang sambang. Tapi benar juga apa yang dikatakan suaminya, pastinya dia juga akan rindu pada Rian.


“Nanti aku tanya ke kordes nya dulu Mas..”


“Hmm.. tuh kan..”


“Hehe jangan sedih gitu dong Mas..” kata Fira sambil mengusap punggung tangan suaminya, bermaksud memberikan semangat pada Rian.


“Awas ya kalau kamu cinlok sama temen kamu..” ancam Rian.


Fira terkekeh mendengar penuturan suaminya,


“Kok gitu sih.. ya nggak lah Mas..”


“Ya biasanya kan gitu Ra, banyak yang cinlok dan jadi ajang cari jodoh..” terang Rian dengan sedikit kesal


“Aduh, tenang deh Mas Rian, kan kita udah terikat, dan mas Rian tau sendiri aku udah jadi milik kamu..”


Rian tersenyum senang, di pegang pipi istrinya itu dengan tatapan dan senyuman misteriusnya. Fira yang merasa ada gelagat aneh suaminya yang seakan sedang memberikan kode, dia langsung beranjak membereskan piring dan mencucinya. Rian tertawa kecil melihatnya.


Rian kemudian menyusul Fira yang sedang mencuci piring dan memeluknya dari belakang. Fira yang merasa badannya dipeluk langsung kaget melihat tingkah suaminya itu.


“Mas Rian jangan ganggu, aku lagi nyuci piring ini..” kata Fira


“Hmm...” jawab Rian dengan malas sambil menyandarkan wajahnya di pundak Fira.


Tanpa memperdulikan Rian, Fira tetap melanjutkan aktivitasnya. Setelah selesai tiba-tiba Rian membalik badan Fira menghadap ke arahnya. Dengan senyum jahilnya di usap pipi istrinya,


“Ra.. boleh ya ?” tanya Rian di dekat telinga Fira.


Fira yang tahu maksud Rian langsung mengangguk malu. Rian tersenyum dan langsung mencium Fira, yang kemudian dibalas oleh Fira. Semakin lama mereka semakin menikmati, tangan Rian bergerilya kemana-mana.


“Kamu jadi pintar Ra sekarang..” kata Rian disela-sela aktivitasnya.


Jantung mereka sama-sama berdegup kencang seperti marathon, Fira sangat senang ketika di sentuh oleh Rian, kedua tangannya dikalungkan pada leher suaminya. Rian kemudian membawa Fira ke kamar dengan tetap pada aktivitas mereka.


Mereka sudah memutuskan untuk mempercepat punya anak karena kedua orang tua mereka selalu menanyakan hal tersebut dan Rian sendiri ingin segera punya anak, meskipun Fira belum selesai dengan kuliahnya, dia tetap bersedia.


Satu minggu kemudian hari keberangkatan Fira untuk KKN di salah satu kota daerah barat di Jawa Timur. Rombongan berangkat di pagi hari, Fira diantar Rian dari rumah ke kampus. Rian menunggu sampai Fira naik ke bus yang akan membawanya ke tempat tujuan.


“Mas aku berangkat dulu ya..” pamit Fira sambil menyalimi tangan Rian.


“Iya hati-hati disana, kalau ada apa-apa kabari Mas..” perintah Rian.


“Iya Mas.. jangan nakal lho..” ancam Fira.


Rian terkekeh lalu mengelus kepala Fira,


“kamu juga harus gitu Ra..”


Fira tertawa senang,


“Oh iya, Cha nitip Fira ya.. awasin dia..” kata Rian pada Icha yang ada disana.


“Siap Mas..” jawab Icha dengan senang hati.


“Mas Irfan mana ?” tanya Rian lagi.


“Nggak tau, mungkin belum bagun habis sholat kayaknya tidur lagi..” jawab Icha dengan sebal.


“Habis begadang kali..” sahut Fira.

__ADS_1


“Iya kemarin begadang katanya..”


Setelah selesai berpamitan dengan Rian, Fira dan Icha kembali bergabung dengan kelompoknya dan menuju kendaraan. Rian kemudian langsung berangkat ke kantor untuk bekerja.


DI perjalanan Fira duduk bersebelahan dengan Icha, perjalanan memakan waktu hampir 4 jam. Mereka masih diam karena belum begitu mengenal teman yang akan bersama selama kurang lebih satu bulan kedepan.


Sesampainya disana Fira dan yang lainnya merapikan barang-barang mereka setelah sebelumnya diantar oleh kepala desa. Kebetulan mereka ditempatkan rumah yang tidak ditempati oleh pemiliknya. Setelah selesai beberes mereka kumpul di ruang tamu untuk membahas rencana kerja mereka disana.


“Kalau gitu pembagian tugas nya selesai ya dan kita bersilaturrahmi ke semua ketua RT di desa ini..” kata Hari mengambil kesimpulan. Dia sebagai Kordes (koordinator desa) di kelompok itu.


Kelompok Fira terdiri dari 13 orang, dengan 6 perempuan dan 6 laki-laki. Kamar yang ada 2 pun dibagi untuk perempuan dan laki-laki. Sore harinya Fira sedang duduk di kamar merapikan bajunya.


“Fira yuk kita siap-siap masak buat makan malam..” ajak temannya, yang bernama Ani.


“Oh iya.. yuk nanti habis maghrib kan kita keluar..”


Mereka pun bergegas ke dapur untuk mempersiapkan makan malam. Hari yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Fira dan Ani sedang mempersiapkan makanan mereka pun menyapa.


“Wah, mau masak apa nih ?”


“Ini Ri kita buat yang simple aja ya soalnya waktu nya mepet, rencananya sih penyetan gitu.. kamu setuju ?” tanya Ani.


“Aku sih setuju aja.. aku serahin ke kalian aja deh..”


“Oke siap..”


Hari dan Ani satu angkatan dengan Fira, mereka ternyata satu kelas, tetapi berbeda fakultas dengan Fira. Hari mempunyai karakter tegas dan baik, wajahnya yang tampan lumayan membuat teman perempuan satu kelompok mereka tertarik dengannya. Sedangkan Ani memiliki karakter yang periang, baik hati dan perhatian dengan teman-temannya.


“Fira kamu tugas masaknya sama Ani ?” tanya Hari tiba-tiba.


“Iya.. Har..” jawab Fira.


Hari tersenyum, kemudian dia beranjak ke kamar meninggalkan Fira dan Ani yang masak. Sementara Icha sibuk dengan hpnya, rupanya dia sedang chatting an dengan Irfan.


Malam harinya setelah selesai makan mereka berkunjung ke semua ketua RT di desa itu untuk memperkenalkan diri, dan mereka disambut baik oleh masyarakat disana. Bahkan disetiap jalan ketika mereka bertemu dengan warga, tidak lupa menyapa.


Setelah pulang mereka rapat sebentar untuk membahas hasil dari kunjungan mereka. Tujuan mereka adalah selain berkenalan mereka mengumpulkan informasi tentang potensi di desa tersebut yang bisa digunakan sebagai program kerja mereka.


Setelah selesai rapat mereka beristirahat ke kamar masing-masing. Teman-teman perempuan Fira sudah mulai tidur kecuali Fira dan Icha, mereka masih terjaga dengan hp masing-masing. Rian ternyata menghubungi Fira, dengan sigap dia langsung memakai earphone dan merebahkan tubuhnya.


“Wa’alaikum salam..” fira tersenyum mendengar suara Rian.


“Udah mau tidur ?”


“Belum Mas.. gimana kabarnya hari ini ?” tanya Fira yang memelankan suaranya.


“Alhamdulillah masih sibuk dengan kerjaan Ra.. kamu gimana ?”


“Tadi mulai kegiatan mas.. tapi masih silaturrahmi ke ketua RT.” Terang Fira.


“Hmm.. nggak ada apa-apa kan disana ?” selidik Rian.


“Hehe nggak ada apa-apa mas.. telalu khawatir ih..”


“Iya lah.. kita kan kepisah jauh.. nanti aku fikirkan biar kita bisa ketemu..” kata Rian.


“Oke mas siap..”


Setelah beberapa saat mereka pun mengakhiri percakapan dan tidur. Icha yang dari tadi sibuk dengan hpnya pun sudah duluan tidur.


Hari-hari berikutnya mereka mulai sibuk dengan program kerja mereka untuk mengembangkan desa. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok, Fira kebetulan satu tim dengan Hari. Mereka ditugaskan untuk berhubungan dengan masyarakat sekitar. Mereka bertugas mengumpulkan informasi dan menghubungi warga apabila ada kegiatan bersama.


Melihat seringnya mereka mengobrol bersama membuat teman-teman lainnya salah sangka jika mereka terlibat cinlok, dan mereka tidak tahu jika Fira sudah menikah. Icha pun menanggapinya biasa dan tidak terlalu berkomentar.


Sudah dua minggu mereka disana, setiap malam Fira tetap berhubungan dengan Rian disaat teman-temannya tidur. Suatu malam Rian merasa aneh dengan suara istrinya


“Kamu lagi sakit Ra ?” selidik Rian


“Keliatan kah mas ? Aku merasa biasa aja tuh..” jawab Fira.


“Suara kamu terdengar beda, kamu nggak terlalu memforsir kan ?”

__ADS_1


“Enggak kok Mas.. mungkin capek aja karena minggu ini puncak dari acara yang mau kita buat..” jawab Fira yang berusaha membuat Rian tidak khawatir lagi.


“Hmm kamu nggak bohong kan ?” tanya Rian memastikan


“Beneran Mas.. aku baik-baik aja kok..”


Terdengar suara hempasan nafas dengan keras di seberang telfon,


“Baiklah aku percaya.. kamu harus jaga diri baik-baik, makan yang teratur kamu gampang Maag kan..”


Deg


Fira merasa suaminya sangat peka, bisa tahu hal yang sering dialaminya.


Selama di desa, Fira memang beberapa kali sakit karena Maag nya kambuh. Teman-temannya sangat perhatian padanya. Tapi Fira selalu menutupinya dari Rian, dia tidak mau suaminya khawatir dan langsung mengunjunginya. Icha turut andil di dalamnya, sebenarnya dia ingin memberitahu Rian, secara Rian sudah menitipkan Fira padanya.


Hari selalu perhatian pada teman-temannya, tak terkecuali Fira yang sangat diperhatikan.


“Ra udah minum obat ?” tanya Hari


“Udah Har tadi..”


“Bagus, kamu jangan ngerjain pekerjaan yang berat-berat dulu.. serahin ke yang lainnya..” perintah Hari.


“Aku nggak apa-apa kok, habis minum obat..”


Ani yang tiba-tiba muncul ikut menimbrung,


“Ehm mau dong diperhatiin juga..”


“Apaan sih An, biasa aja kok...”


KKN di desa sudah berlangsung selama 3 minggu, setelah sukses dengan program kerja, mereka ikut berpartisipasi dalam kegiatan warga yang kebetulan saat itu bulan Agustus, sehingga ada acara lomba.


Fira dan yang lainnya sibuk dengan persiapan lomba, mereka ikut sebagai panitia acara. Saat hari minggu pagi berlangsung lomba-lomba untuk anak-anak, diantaranya : lomba makan kerupuk, memasukkan kelereng dalam botol, balap karung.


Fira diberi tugas untuk mengawasi jalannya perlombaan, tiba-tiba dia merasa lelah dan wajahnya sedikit pucat. Icha yang menyadari itu mencoba bertanya


“Kamu masih sakit Ra ?” tanya Icha


Fira tersenyum kecil dengan wajah pucatnya,


“Iya Cha nggak tau kenapa badanku terasa lemas..”


“Yuk istirahat dulu, kamu duduk di kursi sana..” kata Icha sambil menunjuk ke kursi panjang tempat panitia.


Fira menurut dan beranjak ke tempat teduh. Sementara Icha menggantikan tugas Fira tadi. Saat Fira istirahat Ani menghampirinya


“Gimana keadaanmu Ra ?” tanya Ani


“Masih terasa lemas nih..” jawab Fira


“Kamu akhir-akhir ini sibuk banget.. jangan terlalu memaksakan ya, kan masih ada kita-kita..”


“Iya An makasih banyak..” kata Fira dengan tersenyum.


Beruntung teman-teman satu kelompoknya baik dan sangat perhatian. Dalam waktu hampir satu bulan mereka sangat akrab satu sama lain, bagi Fira ini merupakan rumah barunya.


Fira sudah tidak tahan lagi badannya panas dingin, seperti sudah tidak ada tenaga lagi, dan hampir pingsan, beruntung ada Ani di sampingnya yang langsung memeganginya


“Fira !”


Ani berteriak, membuat semua orang menatap mereka. Icha dan Hari bergegas kesana, Icha langsung khawatir di pegangnya dahi Fira, panas..


“Ra.. badan kamu panas banget..” kata Icha


Hari langsung menginstruksikan Icha dan Ani membantu Fira masuk ke rumah, untungnya perlombaan diadakan di halaman rumah tempat mereka tinggal.


Mendengar perintah Hari mereka bergegas membopong Fira masuk ke dalam rumah. Fira sudah tidak punya tenaga lagi dan memilih tertidur, Icha merasa khawatir apa sebaiknya dia dibawa ke rumah sakit. Hari memutuskan untuk merawat Fira dirumah, dan meminta mantri desa untuk memeriksanya. Dan hasilnya Fira mengalami kelelahan dan diminta istirahat. Sebenarnya mantri itu ingin memberitahukan hasil lain pemeriksaanya tapi dia urungkan karena ragu.


Tanpa berpikir panjang Icha menghubungi Rian dan Irfan untuk memberitahukan kondisi Fira. Dia tidak mau mereka malah marah padanya karena tidak memberi informasi yang sebenarnya.

__ADS_1


Rian yang mendapat kabar dari Icha bergegas ke kota tersebut setelah sebelumnya menjemput Irfan di kos nya.


Icha berpikir sendiri, maaf ya Ra aku ngasih tau mas Rian, kalau nggak gini bisa dimarahin habis-habisan aku..


__ADS_2