
Di lain tempat setelah di tinggal Fira KKN, Rian merasa kesepian. Akhirnya dia memfokuskan diri dengan pekerjaan, jika tidak dia akan terus kepikiran Fira. Ayahnya sampai bosan sendiri melihat Rian yang sering melamun di kantor jika waktu istirahat. Biasanya dia akan terlihat senang memakan bekal buatan Fira.
“Yan besok kamu yang mewakili Ayah aja ya pertemuan keluar kotanya ?” Perintah pak Fikri
“Kok aku Yah ?” tanya Rian
“Hm, habis kamu sering melamun gitu ditinggal Fira.. ayah kan bosen lihatnya..”
Rian salah tingkah sendiri, ternyata sang ayah memperhatikannya. Di garuk tengkuk kepalanya yang tidak gatal,
“Baik Yah..”
Rian setuju, dia mengakui jika dia fokus ke pekerjaan akan sedikit rasa khawatirnya pada Fira. Dia ditugaskan ayahnya keluar kota selama 2 hari. Saat kembali, seperti biasa saat malam hari dia menghubungi Fira, tapi ada yang aneh dari suara Fira, istrinya terdengar sangat lemas. Hal itu membuatnya bertambah khawatir. Dia sebenarnya ingin mengunjungi Fira tapi selalu dicegah. Sampai suatu hari Icha menghubunginya,
“Assalamu’alaikum Mas Rian..” sapa Icha setelah telefonnya tersambung
“Wa’alaikum salam Cha.. ada apa ?” tanya Rian yang merasa ada yang tidak beres
“Itu mas aku mau ngabarin kalau Fira tadi hampir pingsan dan sekarang dia sakit..”
“Astaghfirullah.. sakit apa Cha ? Sejak kapan ?” selidik Rian
“Akhir-akhir ini dia sering lelah Mas.. tapi jangan khawatir barusan sudah diperiksa sama mantri disini..” jelas Icha.
“Alhamdulillah tapi aku akan segera kesana sekarang..” kata Rian
“Eh sekarang mas ? Apa nggak kemalaman ?” tanya Icha
“Hm, yaudah besok habis shubuh aku berangkat, nanti aku ajak mas Irfan biar aku nggak sendirian..”
“Baiklah mas.. hati-hati di jalan besok..”
“Iya Cha..”
Irfan yang mendapatkan kabar dari Icha ikut khawatir, dia langsung menghubungi Rian untuk bertanya apakah dia akan kesana, dan ternyata Rian akan kesana, dia pun setuju untuk ikut karena merasa khawatir, sekaligus ingin bertemu dengan Icha karena sudah lama tidak bertemu.
Sementara itu Icha masih bingung bagaimana menjelaskan ke teman-temannya jika akan ada tamu yaitu Rian dan Irfan, sedangkan mereka belum tau jika Fira sudah menikah.
Icha akhirnya memutuskan untuk memberitahu jika akan ada keluarga Fira yang menjenguknya. Teman-temannya sempar heran sampai segitunya kah keluarga Fira, sakit sedikit keluarganya langsung khawatir.
Malam itu suhu badan Fira masih tinggi, teman-teman Fira yang perempuan bergantian menjaga Fira. Meskipun sudah sedikit tenang tetapi suhu badannya belum turun.
Pagi hari pukul 08.00 Rian sudah sampai dengan Irfan. Perjalanan lumayan cepat karena lewat tol dan menggunakan mobil sendiri.
“Assalamu’alaikum..” salam Rian di depan pintu.
Salah satu teman laki-laki mempersilahkan Rian dan Irfan masuk, mereka sudah diberi tahu Icha jika akan ada yang datang, tetapi mereka baru tahu jika yang datang cowok 2 orang.
Rian dan Irfan pun masuk dan duduk di ruang tamu, Hari yang baru datang dari luar melihat ada dua orang asing di ruang tamu langsung menyalami mereka.
“Saya Hari, mas nya ?” tanya Hari dengan sopan.
“Saya Rian, ini mas Irfan..” kata Rian memperkenalkan diri.
“Oh iya sebentar biar dipanggilkan Icha ya..”
Hari sebenarnya masih bertanya-tanya apa hubungan dua orang itu dengan Fira, kalau keluarganya mereka sepupu atau kakak ?
Tidak lama Icha datang dari dalam,
“Mas Rian sama mas Irfan udah dateng.. cepat banget Mas..” kata Icha.
Dia sedikit senang bisa bertemu Irfan setelah beberapa minggu tidak bertemu. Begitu pula dengan Irfan yang tersenyum kecil.
“Gimana keadaan Fira Cha ?” tanya Rian langsung.
__ADS_1
“Alhamdulillah udah mendingan Mas.. panasnya udah turun..”
“Alhamdulillah, terus kata mantrinya gimanna ?”
“Katanya karena kelelahan Mas..”
“Hmm.. padahal udah aku bilangin buat jaga kesehatannya jangan sampai kecapek an..” gerutu Rian yang marah.
“Udah udah.. yang penting kita sekarang bisa kesini kan..” kata Irfan.
Hari yang dari tadi disana masih diam menyimak dan bertanya-tanya sendiri apa hubungan pria yang bernala Rian itu pada Fira.
“Bentar mas aku panggilin Fira dulu..”
Melihat Rian yang mulai marah, Icha berinisiatif memanggil Fira, takut Rian semakin marah jika dia belum bertemu Fira.
Didalam kamar Fira sudah bisa duduk meskipun masih merasa lemas. Icha tiba-tiba datang dan mengajaknya keluar.
“Cha aku dengar suara mobil siapa tamu nya ?” tanya Fira.
“Nggak tau Ra.. yuk kita liat..” ajak Icha
Dia masih belum memberitahu jika yang datang Rian dan Irfan. Fira menurut dan beranjak keluar. Icha berjalan di belakang Fira, entah seperti wajah Fira ketika bertemu Rian.
Sementara teman mereka yang lain berbincang-bincang membahas tamu tersebut, ada yang tahu jika itu adalah Rian, seorang yang sangat populer di dunia IT.
Fira perlahan membuka korden yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Dia sangat terkejut sampai memundurkan langkahnya melihat orang yang datang
“Mas Rian..”
Rian tersenyum kecil melihat Fira datang, dilihatnya wajah Fira yang sedikit pucat. Fira masih terdiam dia tidak habis fikir jika Rian bisa sampai kesini, diliriknya Icha yang ada di belakang, hmm pasti ini Icha..
Icha yang merasa dilirik Fira dengan tatapan tajam hanya tersenyum dan menutup mulutnya.
“Sini Ra.. ngapain berdiri disitu..” perintah Irfan.
Fira lalu duduk di kursi dekat kursi Rian dan Irfan. Rian masih diam sambil memandang terus ke arah Fira. Fira yang merasa suaminya sedang marah pun terdiam dan menunduk sambil sekali-kali melirik ke arah suaminya. ‘duh kena deh..’
Hening
“Ehm, kalian siapanya Fira ?” tanya Hari memecah keheningan
“Oh maaf ya kami belum mengenalkan diri, aku Irfan sepupunya Fira kalau ini.. suaminya..” terang Irfan.
Terang saja Hari langsung kaget, tidak percaya jika Fira sudah menikah.
“Beneran Fira sudah menikah ?” tanya Hari memastikan
Fira hanya diam dan tersenyum kecil, Hari memandang Icha, dan dia mengangguk membenarkan.
Teman-teman satu kelompok mereka yang diam-diam ternyat menguping dari ruang tengah ikut terkejut, betapa bagusnya Fira menyembunyikan hal itu. Dia tidak pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya yang menyangkut asmara sehingga tidak ada yang tahu.
“Oh iya aku ke mobil dulu ada yang kelupaan disana..” kata Irfan yang ingin memberikan waktu Rian dan Fira berbicara.
Icha keluar mengikuti Irfan, dan Hari beranjak pamit ke dalam tidak mau mengganggu mereka. Sekarang tinggal Fira dan Rian. Fira masih diam takut jika Rian marah.
“Gimana keadaanmu Ra ?” Tanya Rian.
Fira mengangkat wajahnya dan dilihatnya Rian menatapnya dengan tatapan hangat. Dia pun tersenyum.
“Alhamdulillah Mas..” jawab Fira.
Rian mengusap kepala Fira dengan lembut, Fira merasa senang, sudah lama tidak merasakan usapan Rian di kepalanya.
“Kamu bohong ya sama Mas hmm ?”
__ADS_1
“Enggak kok Mas.. kemarin memang aku baik-baik aja..” jawab Fira.
“Icha udah cerita semuanya.. kamu nggak boleh gitu Ra.. kasihan Icha kan harus bohong sama kamu ?” tutur Rian
Fira terdiam, dia baru sadar ternyata bisa merepotkan Icha, dia pun merasa bersalah.
“Maaf Mas..” kata Fira kemudian.
Rian tersenyum
“Nah gitu.. ih gemesnya..” kata Rian sambil mencubit pipi Fira karena gemas.
Mereka berdua tertawa bersama, sudah lama mereka tidak berbincang seperti ini. Tidak beberapa lama Irfan datang bersama Icha dari luar.
“Udah selesai ngobrolnya ?” Tanya Irfan.
“Udah mas.. Mas Irfan sendiri gimana ?” tanya Fira balik.
“Eh.. sudah kok..”
“Hmm yakin ?” goda Fira
“Fira kamu ini ada-ada aja..” potong Icha yang mulai malu.
Mereka berbincang-bincang sampai siang, teman-teman Fira ikut nimbrung bersama, berbagi pengalaman dengan Rian dan senior mereka yaitu Irfan.
“Mas Rian yang sering mengisi sebagai narasumber di seminar itu kan ?” tanya salah satu teman wanita.
“Iya benar..” jawab Rian ramah.
“Wah benar ternyata..” kata teman Fira pada teman-teman lainnya.
Sore harinya Rian dan Irfan pulang, Rian sebenarnya ingin membawa Fira pulang bersamanya tapi di tolak oleh Fira karena tinggal beberapa hari saja mereka disana.
“Aku balik dulu Ra.. jangan lupa minum obat..” kata Rian mewanti-wanti.
“Iya Mas.. hati-hati dijalan.. mas Irfan juga..”
“Iya Ra.. nitip Icha ya hehe..”
“Siap Mas..”
Mobil Rian melaju pergi untuk kembali ke surabaya, Fira dan Icha masuk ke dalam rumah. Sampai di ruang tamu Fira diserbu banyak pertanyaan oleh teman-temannya.
“Fira kamu kok nggak bilang sih kalau udah nikah.. suaminya Rian pula...” tanya Ani yang antusias.
“Hehe Maaf ya bukan maksud menyembunyikan, memang nggak ada yang tanya hehe..” jawab Fira dengan ramah
Teman-temannya juga menyadari memang tidak ada yang bertanya, tapi tetap saja menjadi kejutan buat mereka, terutama Hari yang diam-diam memendam perasaan pada Fira. Tetapi setelah mengetahui jika Fira sudah menikah, dia mencoba menghapus perasaannya itu.
Keadaan Fira semakin membaik meskipun masih sering merasa lemas. Dia menganggapnya biasa mungkin karena kecapek an. Mendekati hari kepulangan, mereka mengadakan perpisahan dengan masyarakat disana dan berpamitan ke kepala desa juga ketua RT.
Mereka pulang ke surabaya saat shubuh, sehingga ketika sampai disurabaya masih pagi dan belum terlalu panas.
Fira sudah memberi kabar ke Rian tentang waktu kedatangannya, sehingga dia sudah bersiaga di kampus Fira, begitu pula dengan Irfan.
Sambil menunggu Fira dan rombongan datang, Rian mengajak Irfan sarapan bersama di dekat kampus. Pukul 08.00 mereka sampai di kampus, setelah menurunkan barang bawaan mereka, Fira dan Icha pamit duluan karena sudah di tunggu dan segera menuju ke masjid. Disana Rian dan Irfan sudah menunggu.
Melihat Fira dan Icha datang dengan barang bawaan mereka, Rian dan Irfan langsung membantu mereka meletakkan di jok mobil. Rencananya Rian akan mengantar Icha dan Irfan sekalian.
Teman-teman satu kelompok Fira yang tidak sengaja melihat mereka merasa sedikit iri karena kekompakan dan kebersamaan mereka.
Sesampainya dirumah, Fira langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur setelah sebelumnya mencuci kaki, tangan dan muka.
“Akhirnya bisa merasakan kasur ranjang lagi..” kata Fira.
__ADS_1
Rian hanya menghela nafas dan meletakkan koper Fira di sudut kamar. Dibiarkan istrinya istirahat, dia menuju ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Fira langsung tertidur.