Fira dan Rian

Fira dan Rian
Pasca Menikah (2)


__ADS_3

Fira terbangun di waktu shubuh, dilihat suaminya masih tidur, dia kemudian beranjak bangun untuk mandi, setelah mandi, dia membangunkan Rian untuk segera mandi dan sholat.


“Mas bangun.. udah shubuh..”


Rian masih setengah mengantuk tapi dia segera bangun dan duduk di pinggir tempat tidur.


“Kamu udah mandi Ra ?”, tanya Rian dengan suara seraknya waktu bangun tidur.


“Udah barusan..”


“Tunggu aku mandi ya, kita sholat bareng..”, kata Rian sambil beranjak ke kamar mandi.


Sambil menunggu Rian selesai, Fira menyiapkan sajadah untuk dia dan Rian. Pertama kali sholat shubuh sama suami.., batin Fira senang.


Tak lama kemudian, Rian keluar dari kamar mandi lalu mereka berdua berjamaah sholat shubuh. Setelah sholat, Fira menyalimi tangan suaminya dan dicium punggung tangannya dan Rian mengecup kening Fira singkat.


Setelah membereskan mukena dan sajadah, Fira turun kebawah berniat membantu Mamanya masak, sementara Rian memutuskan untuk olahraga sebentar di halaman rumahnya.


“Mas.. aku ke dapur ya bantuin Mama masak..”, pamit Fira.


“Lho kamu nggak ikut aku olah raga ?”


Rupanya Rian sudah bersiap untuk olahraga.


“Hehe nggak deh.. kamu aja yaa..”, kata Fira. Dia memang jarang sekali ber olahraga.


“Wah awas ya.. lain kali kamu harus ikut mas olah raga..”, canda Rian.


Fira beranjak ke dapur, dilihatnya Mama mertuanya sudah mulai memasak.


“Ma.. aku bantuin yaa..”, kata Fira menawarkan diri.


“Lho kamu nggak ikut Rian olahraga nak ?”, tanya bu Rina sambil menggoreng lauk.


“Hehe nggak Ma.. lain kali aja..”


Fira sibuk membantu mempersiapkan sarapan, sedangkan Rian masih berolah raga dengan lari-lari kecil di halaman rumahnya, dia rutin melakukan itu setiap pagi, wajar saja tubuhnya sangat bagus dan proporsional. Sedangkan pak Fikri juga sibuk membaca koran di teras rumah.


Pukul setengah 7 pagi sarapan sudah siap. Rian sudah selesai olahraga dan mandi langsung turun untuk sarapan bersama. Fira dengan sigap mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.


“Makasih Ra..”, kata Rian dengan tersenyum, dan dibalas senyuman oleh Fira.


“Ayah juga mau dong diambilin..”


“Minta Mama aja Yaah...”, kata Rian yang meledek ayahnya. Spontan Fira menepuk pundak Rian.


“Mas Rian ini...”, kata Fira yang gemas dengan apa yang dikatakan suaminya tadi.


“Bercanda Ra.. hehe..”


“Ini Mama ambilin buat ayah...”, kata bu Rina sambil memberikan sarapan buat suaminya.


“Tuh Ra.. udah diambilin sama Mama..”, kata Rian.


Fira hanya menghela nafas, sejak kapan Rian jadi manja gini.., batin Fira.


Mereka kemudian sarapan bersama. Setelah sarapan pak Fikri langsung berangkat ke kantor, sedangkan Fira, Rian dan bu Rina berangkat ke tempat kontrakan. Dari rumah sampai tempat kontrakan memakan waktu kurang lebih 30 menit karena melintasi daerah yang rawn macet.


Setelah sampai, Fira langsung mengemasi barang-barangnya dibantu dengan Rian. Fira hanya mengemasi pakaian, buku-buku, dan beberapa perabotan miliknya, untuk sisanya Rian meminta untuk ditinggal saja di kontrakkan, karena di apartemen Rian sudah ada.


Setelah selesai mengemasi barang, Fira dan Rian istirahat sejenak di rumah depan kontrakan. Mamanya juga sudah selesai bersih-bersih dan sedang bersantai.


“Irfan di surabaya atau di kampung nak ?”, tanya bu Rina.


“Sepertinya di sini Ma, kemarin beri kabar katanya udah balik lagi..”, kata Fira.


“Oh.. kali aja dia mau gantiin kamu tinggal đi kontrakan sini..”


“Oh iya Ma.. nanti aku tanyain mas Irfan..”


Semenjak akad nikah, Fira belum bertemu lagi dengan Irfan. Jika ada waktu luang, dia akan coba mengunjungi Irfan di cafe tempatnya kerja.

__ADS_1


Siang harinya, Rian pamit untuk kembali ke apartemennya bersama Fira. Untungnya barang-barang Fira yang dibawa tidak terlalu banyak.


“Hati-hati ya kalian..”, pesan bu Rinna.


“Iya Ma.. Assalamu’alaikum...”, salam Rian.


“Wa’alaikum salam...”


Rian melajukan mobilnya menuju apartemen yang berjarak kurang lebih 15 menit jika lancar. Sesampainya di apartemen, Fira sangat takjub, dulu dia hanya bisa melihatnya dari luar tapi sekarang dia akan tinggal disini mulai saat itu.


Sambil membawa koper, Rian menggandeng tangan Fira masuk ke dalam. Apartemen Rian ada di lantai 5 sehingga harus naik lift untuk kesana. Fira masih melihat sekeliling, dilihatnya tampak sepi memang waktunya jam kerja saat itu.


Sampai di tempat Rian, Rian langsung membuka pintu dan masuk. Fira melihat sekitar ruangan, ada satu kamar yang di dalamnya ada kamar mandi, dapur yang jadi satu dengan ruang tengah yang ada meja makan, tv dan shofa. Sederhana dan penataan ruangannya sangat rapi. Rian memasukkan barang-barang Fira ke dalam kamar, diikuti oleh Fira.


Memasuki kamar, dilihatnya ruangannya cukup luas, satu tempat tidur, almari, meja rias dan meja kerja. Sangat Rapi.


“Ra.. baju-bajunya kamu rapikan di almari ini ya..”, kata Rian sambil menunjukkan almari miliknya.


Fira masih terdiam, dia melamun karena masih tidak percaya, karena beda sekali dengan tempat tinggalnya, jauh lebih bagus di tempat Rian. Rian yang dibuat gemas langsung mendekatinya dan langsung mengecup bibir Fira. Fira langsung sadar, dia langsung menutup mulutnya karena kaget.


“Nah.. kamu sih ditanya nggak segera jawab malah ngelamun..”, kata Rian sambil terkekeh.


“Mas Rian.. ih kamu ya..bikin kaget aku..”, kata Fira yang sebal.


“Apa Ra ? Mau lagi ?”, canda Rian.


Fira langsung menggeleng dan menutup wajahnya karena malu. Rian yang masih gemas langsung mengecup kening Fira dan berlalu keluar kamar.


“Mas Rian...!”, teriak Fira yang gemas dengan tingkah Rian.


“Beresin baju-baju kamu dulu Ra..”


Fira menghela nafas sejenak kemudian beranjak membereskan barangnya. Mas Rian nyari kesempatan mulu..., batin Fira. Tapi dia juga merasa senang, ciuman pertamanya diambil oleh Rian yang tak lain adalah suami sah nya.


Sementara itu Rian setelah keluar dari kamar langsung duduk di shofa depan tv, dia berusaha mengontrol detak jantungnya yang berdegup kencang dari tadi.


“Hampir aja nggak bisa kontrol.. tahan Yan..”, batin Rian.


Sore harinya Fira sudah selesai menata barang-barangnya, saat dia ke ruang tengah, dilihatnya Rian tertidur di depan laptopnya. Fira melihat ke laptop Rian, ternyata sedang membuka laporan skripsi. Fira pelan-pelan membangunkan suaminya untuk mandi.


Setelah maghrib, Fira sedang menonton tv di shofa, Rian lalu mengajaknya makan diluar sekalian berbelanja untuk kebutuhan mereka sehari-hari.


“Ra.. yuk keluar, kita makan diluar aja ya sekalian belanja..”, ajak Rian.


“Oke Mas.. aku ganti baju dulu..”


Fira beranjak ke kamar mengganti baju, dia juga memakai make up tipis tidak terlalu mencolok.


“Yuk Mas.. aku udah siap..”, kata Fira yang baru keluar dari kamar.


Rian langsung memandang Fira. Dilihat istrinya memakai gamis polos warna cream dan jilbab panjang warna nude, cantik..


Mereka berdua langsung menuju salah satu supermarket besar di dekat apartemen. Mereka berbelanja mulai dari sayuran, buah-buahan, bumbu dapur, peralatan rumah tangga, yang mana di apartemen masih sedikit karena hanya Rian yang tinggal disana sebelumnya. Sambil membawa troli belanja, Rian tetap menggandeng tangan istrinya, Fira sampai malu karena itu di tempat umum.


Sesudah belanja, mereka langsung pergi ke tempat makan. Di mobil Rian menanyakan istrinya ingin kemana, Fira hanya mengikuti Rian saja karena dia masih belum tau tempat yang enak buat makan. Rian akhirnya mengajak ke tempat makan kesukaannya.


Setelah selesai mereka kembali ke apartemen. Suasana canggung mulai terasa seiring menjelang malam. Rian mencoba menyibukkan diri dengan mengerjakan laporan skripsinya di ruang tengah, sedangkan Fira sibuk menata barang belanjaan mereka, setelah selesai dia menghampiri Rian dan duduk disebelahnya.


“Skripsinya udah sampai mana Mas ?”, tanya Fira.


“Ini udah sampai bab 4, pembahasan..”


“Wah bagus pembahasannya..”, puji Fira setelah memperhatikan isi topik yang diangkan Rian.


“Iya dong siapa dulu...”, kata Rian sambil mencolek hidung Fira.


“Ih Mas Rian ini, sombong itu namanya...”, kata Fira sambil sedikit memajukan bibirnya karena gemas.


“Hm.. bibirnya kenapa itu, mau di cium ya..”, goda Rian.


Mendengar Rian berbicara seperti itu, Fira langsung menutup mulutnya. Dia tidak bermaksud seperti itu. Rian yang terlanjur gemas pada istrinya itu langsung menghadap ke istrinya, mendekatkan wajahnya dengan tersenyum manis.

__ADS_1


“Ra...”, panggil Rian dengan tatapan matanya yang lembut.


Jantung Fira langsung berdetak kencang seperti marathon, dia tau apa yang diinginkan oleh Rian. Fira masih terdiam menatap Rian dengan lekat. Tanpa aba-aba, Rian langsung mengecup kening Fira, kemudian turun ke mata, turun ke hidung, turun ke bibir. Fira berusaha mengontrol nafasnya, Rian kemudian mencium Fira sedikit lama sambil memejamkan mata, begitu pula dengan Fira.


Pelan-pelan Rian melepas ciumannya, mereka tampak salah tingkah sendiri. Pipi Fira memerah karena malu. Ya Allah ini ternyata rasanya ciuman, ciuman pertamaku sama Mas Rian..


“Kita sholat dulu ya Ra...”, ajak Rian.


“Iya Mas..”, jawab Fira dengan senang.


Riang menutup laptopnya dan menggandeng Fira masuk ke kamar untuk melakukan sholat sunnah bersama. Setelah sholat, seperti biasa Fira menyalimi dan mencium punggung tangan Rian, Rian mencium kening Fira. Setelah merapikan sajadah dan mukena, Rian tiba-tiba menggendong Fira yang membuatnya terkejut.


“Mas Rian... aku malu kamu gendong gini..”, kata Fira sambil menutup mukanya dengan tangan.


“kenapa malu.. sama suami sendiri kok...”


“Ih turunin...”


Tanpa memperdulikan apa yang dikatakan Fira, Rian menurunkannya di tempat tidur. Di tatapnya Fira dengan lekat yang membuat Fira salah tingkah. Fira mencoba memalingkan wajahnya karena malu, dengan sigap Rian memegang wajah Fira dengan kedua tangannya dan menghadapkan wajah Fira padanya. Saat ini jantung Fira berdegup kencang, dia yakin saat ini suaminya itu bisa mendengarnya. Rian tersenyum melihat tingkah istrinya itu, di kecupnya kening Fira, turun ke mata, hidung, bibir. Fira memejamkan matanya menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya. Mereka berdua melanjutkan ibadah bersama malam itu.


Pagi harinya Fira sedang sibuk mempersiapkan sarapan mereka berdua, dari belakang Rian tiba-tiba melingkarkan tangannya dipinggang Fira dan menopangkan dagunya di pundak Fira.


“Kamu masak apa ?”, tanya Rian dengan lembut.


“Masak nasi Goreng.. duduk di sofa dulu gih, ini masih belum matang..”, kata Fira yang mulai malu dengan tingkah suaminya itu.


Rian lalu melepaskan tangannya yang kemudian mencium pipi Fira sekilas dan beranjak ergi.


“Ih Mas Rian ini mencuri kesempatan dalam kesempitan..”


“Biarin, udah halal kok..” jawab Rian sambil tertawa.


Fira tidak habis fikir dengan sikap Rian yang baru itu, dia tidak menyangka jika Rian begitu manja dengannya setelah menikah.


Rian dan Fira sarapan bersama, sekali-kali Fira mencuri pandang ke suaminya, harap-harap cemas apakah masakannya enak atau tidak. Rian yang tau itu langsung tersenyum,


“Enak kok Ra...”


“Beneran ?”, tanya Fira memastikan.


“Iya.. enak kok.. tenang aja..”


“Hehe makasih...”, kata Fira yang senang masakannya dipuji.


“Mas hari ini apa kegiatannya ?”


“Aku hari ini mau bimbingan, trus siang baru ke kantor.., kamu Ra ?”


“Aku hari ini bisa magang lagi kan Mas ? aku udah lama nggak masuk kerja..”


“Kamu mau tetap kerja ?”


“Apa nggak boleh ?”, tanya Fira pada suaminya.


“Boleh.. tapi disana kamu jadi karyawan Ayah, kamu mau ?”


“Aku nggak apa-apa.. lagian orang kantor belum tau kan kalau kita menikah..”


Rian tampak berfikir sejenak, kemudian dia mengangguk setuju.


“Baiklah, kamu boleh melanjutkan magang kamu disana..”


“Makasih Mas, tapi tentang pernikahan kita jangan ada orang kantor yang tau ya ?”


“kenapa ?”, selidik Rian. Dia sedikit tidak setuju.


“Aku malu Mas.. kan disana nggak tau kalau kita saling kenal.. “, jelas Fira.


Rian tampak menghela nafas panjang.


“Baiklah.. pokoknya kamu harus jaga diri ya.. kalau ada apa-apa tetep bilang ke aku..”

__ADS_1


Fira mengangguk senang mendengar Rian mengizinkannya tetap magang di kantor milik mertuanya itu. Setelah sarapan, Fira diantar Rian ke kantor, kemudian Rian ke kampusnya untuk bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya.


__ADS_2