
Setelah sampai di rumah, Fira merebahkan tubuhnya di shofa. Rian merasa kasihan istrinya yang terlihat kecapek an.
“Kamu ngerjain apa tadi Ra ?”, tanya Rian sambil membawakan minum untuk Fira.
Fira bangun, dan meminum air yang dibawa suaminya.
“Aku ngerjain tugas yang numpuk trus mbak Rere minta bantuan...”, Fira keceplosan, dia langsumg menutup mulutnya.
Mendengar itu Rian langsung mengerutkan keningnya,
“Kamu ngapain ? Ngerjain tugasnya Rere ?”, selidik Rian.
Fira terdiam, dia merasa tidak seharusnya membicarakan itu pada Rian. Dia tau Rian akan marah, dan tebakan Fira benar, Rian langsung terlihat tidak senang.
“Ra... jawab dengan jujur!”, perintah Rian dengan sedikit tegas.
“I.. iya mas.. tadi aku bantuin mbak Rere..”
“Kenapa ?”
“Dia tadi katanya ada tugas mendadak dan minta bantuan aku mas.. trus aku bantuin..”, jawab Fira sambil sedikit menunduk.
“Hmm... Ra... kamu aja udah banyak kerjaan kenapa juga menerima permintaannya ?”
“Aku kasihan mas.. katanya ada tugas mendesak dan itu kerjaannya harus selesai sore ini..”, jelas Fira.
“Hm. Lain kali jangan gitu lagi.. biarin masalahnya biar dikerjain sendiri..”, perintah Rian.
“Iya mas, aku faham.. maaf yaa ?”, kata Fira kemudian.
“Cium aku dulu dong..”, goda Rian.
“Ih mas ini.. “
Fira tampak malu, dia heran suaminya jadi sangat agresif sekarang. Rian mendekatkan wajahnya yang membuat Fira salah tingkah.
“Mas mau ngapain ?”, tanya Fira sambil memandang Rian malu.
“Menurut kamu Mas mau ngapain ?”
Belum sampai Fira menjawab, Rian sudah mencium bibir Fira dengan lembut, membuka kerudungnya dan mencium leher Fira yang membuatnya terasa geli dan merinding.
“Mas geli tau...”, rengek Fira.
Rian melepas ciumannya dan memandang istrinya dengan tatapan lembut,
“Ra.. boleh ya ?”
“Mas ini udah sore... belum mendi juga..”
“Nanti kita mandi bareng..”, jawab Rian dengan senyum nakal.
Fira terkekeh mendengar apa yang dikatakan suaminya, tanpa aba-aba Rian langsung menggendong istrinya ke kamar.
Beberapa hari selanjutnya Fira sibuk dengan pekerjaannya di kantor, dia jadi sering mengerjakan tugasnya dengan Randi, karena tugas mereka saling berhubungan. Randi termasuk pintar, dia bisa diandalkan ketika Fira buntu dengan penyelesaian tugasnya. Saat istirahatpun Fira dan Randi masih berdiskusi, hal itu membuat Rian merasa cemburu karena Fira jarang makan siang dengannya.
Saat Rian melintas di ruangan Fira dan Randi, dari kaca jendela dia melihat istrinya sedang sibuk berdiskusi dengan Randi. Rian mulai cemburu dia ingin menghampiri mereka, tapi diurungkan karena mereka terlihat serius berdiskusi tentang pekerjaan.
Sementara itu, Randi dan Fira masih sibuk dengan tugas mereka sampai jam istirahat sudah hampir selesai.
“Ra.. maaf ya jadi sampe jam segini, kamu belum makan kan ?”
“Belum Ran..”
“Makan bareng yuk di kantin, apa kamu mau makan siang dengan mas Rian ?”, ajak Randi.
“Enggak Ran.. mas Rian udah makan siang pastinya.. yuk makan di kantin..”
Randi terlihat senang, dia dan Fira kemudian berjalan menuju kantin. Disana sudah sedikit orang karena jam istirahat sudah hampir selesai.
“Ra, kamu udah registrasi ulang buat semester depan ?”, tanya Randi di sela-sela mereka makan.
“Belum Ran.. kamu udah ?”
“Udah kemarin, segera Ra batas terakhirnya minggu ini kan.. belum ambil matakuliah juga..”, terang Randi.
“Iya Ran makasih udah diingetin.. udah lama ya kita nggak ngumpul sama Icha..”
“Iya juga.. bagaimana kalau nanti kita ngumpul bareng, dimana gitu ?”, ajak Randi.
“Boleh..bagaimana kalau di cafe tempat mas Irfan kerja..”
“Oke, aku setuju..”
“Tapi aku izin mas Rian dulu ya..”, kata Fira yang ingat jika dia harus meminta izin suaminya terlebih dahulu. Randi setuju dengan itu.
Setelah selesai makan, mereka ke musholla untuk sholat dan kembali ke ruangan melanjutkan pekerjaan mereka. Setelah jam karyawan magang berakhir, Fira memutuskan untuk ke ruangan Rian untuk meminta izin. Sampai di depan lift lantai 3, dia bertemu ayah mertuanya yang berjalan menuju lift.
“Ra.. ada apa ?”
“Em.. mau ke mas Rian yah...”, jawab Fira.
“Oh.. Rian ada di dalam mungkin, yaudah ayah keluar dulu ya..”
“Iya yah.. hati-hati..”
Ayahnya berjalan menuju lift diikuti sekretarisnya, sepertinya beliau ada meeting diluar. Fira kembali berjalan ke pintu ruangan Rian.
Tok Tok Tok
“Masuk”
__ADS_1
Mendengar jawaban Fira langsung membuka pintu, ternyata di dalam ada Rere yang duduk di shofa sedang berdiskusi dengan Rian. Melihat Fira yang datang, Rian langsung berdiri dan menghampirinya.
“Ada apa Ra ?”, tanya Rian.
“Aku mau izin habis ini mau ke cafe tempat mas Irfan kerja, boleh nggak Mas ?”, tanya Fira dengan sedikit berbisik, dia takut Rere mendengarnya.
“Sama siapa ?”
“Sama Icha dan Randi, kita udah lama nggak ngumpul bareng..”
Mendengar nama Randi, Rian sedikit tidak senang, tapi dia tidak bisa egois.
“Baiklah.. nanti pulangnya kabarin, aku jemput..”
“Makasih Mas.. aku berangkat dulu..”
Tak lupa Fira salim dengan Rian dan bergegas keluar, sementara Rere masih bertanya-tanya kenapa Fira ke ruangan Rian, yang untungnya adegan Fira yang menyalimi Rian karena terhalang badan Rian. Saat Rian balik duduk di shofa, dia mencoba bertanya,
“Ngapain Fira kesini Yan ?”
“Oh nggak apa-apa, ada masalah sedikit..”, jawab Rian santai.
“Kalian ada hubungan spesial ? kelihatan deket banget..”
“Kenapa Re tanya gitu ?”
“Aku penasaran aja...”
“Itu bukan urusan kamu Re..”, jawab Rian dengan tegas.
Rere masih kesal dengan Fira, dia ingin melampiaskannya dan berfikir akan memberikan banyak kerjaan lagi ke Fira.
“Oh iya, kamu kemarin-kemarin ngasih tugas apa ke Fira ?”, selidik Rian.
“Apa Yan ? aku nggak ngasih tugas apa-apa kok..”, jawab Rere dengan gugup.
“Nggak perlu bohong Re.. aku udah tau.. kamu kan bisa kerjain sendiir, kenapa minta bantuan orang lain, kalau mendesak kan kamu bisa lembur..”, tegas Rian.
“Tapi Yan...”
“Udah Re.. lain kali kamu kerjain sendiri, atau kamu bisa minta bantuan orang yang ada di devisi mu jangan minta bantuan dari devisi lain..”
Rere akhirnya diam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia berfikir Fira yang mengadu ke Rian tentang pekerjaan yang diberikan Rere tempo hari kemarin.
Sementara itu, setelah pamit ke Rian, Fira bergegas ke cafe setelah sebelumnya memberi kabar Icha untuk bertemu disana. Randi sudah duluan pergi, sedangkan Fira memutuskan untuk menggunakan ojek online kesana. 30 menit kemudian dia sampai disana, rupanya Icha dan Randi sudah sampai duluan. Fira juga melihat Irfan yang sedang membuatkan kopi untuk pelanggan.
“Mas Irfan...”, sapa Fira.
“Lho Ra.. tumben kesini, duh pengantin baru...”
“Hehe.. aku kesana ya Mas, aku pesen es Coklat satu..”, kata Fira sambil menunjuk tempat Randi dan Icha duduk.
“Oke, nanti Mas antar kesana..”
“Duh yang baru inget temannya yaa...”, gode Icha.
“Hehe nggak lah Cha.. aku selalu inget kamu kok...”
“Gimana kabar kamu ? mas Rian nggak ikut ?”, tanya Icha.
“Enggak, dia masih ada kerjaan..”
“Oh.. terus kerjaan kamu gimana ?”
“Dia ini Cha.. masih aja mau ngerjain kerjaan orang lain..”, jawab Randi yang memberitahu Icha tentang Fira dan Rere kemarin.
“Hmm.. Ra.. kamu ya tetep aja gitu..”
Fira salah tingkah sendiri, dia tau dia salah dan hanya bisa mengangguk mendengar temannya memberi nasehat. Setelah itu mereka sibuk berbincang-bincang membahas banyak hal. Irfan hanya melihat mereka dari jauh, dia senang adiknya sudah menikah dan terlihat ceria. Mereka disana sampai habis maghrib karena membahas tentang perkuliahan mereka dan persiapan semester depan. Beruntung disana ada musholla jadi bisa sekalian sholat.
Saat mereka berbincang-bincang, tiba-tiba Rian datang, dia menghampiri Fira dan teman-temannya.
“Eh Mas Rian.. mau jemput Fira ya ?”, tanya Icha yang melihat Rian datang.
“Iya.. udah malam..”, jawab Rian dengan tersenyum ramah.
“Belum terlalu malam ini mas...”, sahut Fira. Dia masih ingin bersama teman-temannya.
“Udah Ra.. ikut kata suami..”, kata Icha.
“Mau langsung pulang Mas ? nggak duduk dulu bareng kita ?”, tanya Randi.
“Enggak, aku langsung aja deh..”
Irfan yang melihat Rian datang langsung menghampirinya.
“Lho Yan.. langsung balik nih ?”
“Iya Mas, udah malam..”
“Wah, baru aja kita ketmu lagi..”
“Kapan-kapan main kerumah ya Mas..”, ajak Rian.
“Oke siap deh..”
Setelah berpamitan dengan teman-temannya dan Irfan, Rani pulang bersama Rian. Selama di jalan Rian tampak diam, Fira jadi bertanya-tanya ada apa dengan suaminya itu. Sesampainya di apartemen, Rian menghempaskan tubuhnya di shofa. Fira pergi ke kamar meletakkan tas nya, berganti pakaian dan melepas jilbabnya, dia sekarang hanya menggunakan kaos lengan pendek dan celana training, pakaian sehari-harinya ketika dirumah bersama Rian.
Melihat suaminya yang masih berbaring di shofa, Fira mencoba duduk di lantai menghadap ke Rian. Dia membelai rambut suaminya yang membuat Rian membuka mata dan memiringkan badannya menghadap Fira.
“Ada apa Mas ?”, tanya Fira.
__ADS_1
“Nggak ada apa-apa..”, kata Rian dengan cuek.
Ada apa ini suami, tiba-tiba jadi gini, batin Fira.
“Ada apa Mas cerita aja...”
Rian tampak menghela nafas panjang,
“Ra.. apa yang kamu fikirkan tentang Randi ?”, tanya Rian sambil memandang istrinya dengan lekat.
“Kenapa Mas tanya gitu ? Randi baik, suka nolong temannya..”, jawab Fira.
Mendengar jawaban Fira, Rian tampak tidak puas. Dia mengganti posisinya menjadi terlentang, Fira mulai sadar, ternyata suaminya sedang cemburu. Fira senang ternyata suaminya bisa cemburu dan dia harus meyakinkan suaminya jika tidak ada hubungan apa-apa antara dia dan Randi.
“Mas.. aku dan Randi Cuma teman kok.. aku nggak ada perasaan apa-apa sama dia..”, jelas Fira sambil membelai lebut rambut suaminya.
Rian masih diam.
“Percaya deh.. ih Mas Rian jelek kalau cuek gitu..”, goda Fira, berharap suaminya bisa tersenyum lagi.
“Buktikan..”, kata Rian yang kembali memandang Fira.
Fira bingung apa yang harus dia lakukan, dilihatnya Rian masih menunggu aksinya. Tanpa berpikir panjang Fira mengecup bibir Rian.
“Udah itu...”, kata Fira sambil malu-malu.
Rian tersenyum, “Masak cuman gitu ?”, goda Rian.
“Mas Riaan... goda aku yaaa...”, teriak Fira sambil mencubit pinggang Rian.
Rian terkekeh kemudian bangun dan duduk. Di pegangnya wajah istrinya dengan kedua tangannya.
“Ra.. aku cemburu kamu sama Randi..”, kata Rian kemudian.
“Kan udah aku bilang Mas kalau aku nggak ada apa-apa sama dia..”
“Yaudah Mas percaya sama kamu..”, kata Rian kemudian.
Rian menekan wajah Fira sehingga pipinya terlihat menggemaskan, dikecupnya bibir Fira lama.
“Ini Pipi apa bakpao sih.. gemesin banget..”, kata Rian sambil memainkan pipi istrinya.
Fira hanya bisa pasrah mendapat perlakuan seperti itu.
“Mas nggak ngambek lagi kan ?”, tanya Fira memastikan.
“Enggak sayang...”, kata Rian sambil beringsut duduk di lantai samping Fira.
Fira lega, tiba-tiba dia teringat satu hal.
“Mas aku mau tanya, kamu kok tiba-tiba ngelamar aku gimana ceritanya ? kita kan udah lama nggak ketemu..”
Rian tersenyum.
“Kamu nggak ingat Ra tentang janji kita dulu ?”
“Emang janji apa Mas ?”
“Hmm.. sedih aku kamu lupa tentang janji kita..”
“Apa sih Mas ? aku penasaran..”
“Kita dulu pernah janji kalau sudah besar, kita akan hidup bersama.. ya wajar sih kamu dulu masih kecil, dan bisa aja lupa akan hal itu..”, kata Rian dengan sedikit sedih.
“Maaf deh mas.. Fira beneran nggak inget sama sekali..”, kata Fira yang merasa tidak enak karena sudah melupakan hal yang penting buatnya.
“Hm, terus kamu suka nggak sama Mas ?”, tanya Rian kemudian.
“Masak ? bukan karena terpaksa ?”, goda Rian.
“Ih Mas Rian.. kalau nggak suka mana mungkin aku mau nikah sama kamu..”
Rian tertawa senang, di peluklah istrinya dengan erat, Fira juga membalas pelukan Rian dengan erat.
“Ra... jangan goda Mas ya..”
“Apaan sih Mas..”
“Yaudah yuk tidur..”
Mereka berdua ke kamar dan tidur karena sudah sama-sama lelah.
Hari berikutnya Fira masih bekerja bersama Randi dan semakin dekat dengan deadline yang sudah di tentukan. Mereka sering meeting bersama Rian untuk membahas kematangan program yang sedang dikerjakan. Rian sekali-kali melirik tingkah Randi yang diam-diam masih mencuri pandang ke Fira. Dia masih merasa cemburu padanya.
Saat istirahat, Rian mengajak bicara Randi di sambil makan siang, Fira tidak ikut karena dia diajak mbak Indah untuk makan di luar kantor.
“Ada apa Mas ? tumben ngajak aku makan siang bareng...”, tanya Randi.
“Ran, aku minta kamu jawab jujur, apa kamu suka sama Fira ?”, tanya Rian langsung.
Randi terdiam, dia tidak menyangka Rian tau jika dia suka dengan Fira.
“Dulu aku akui, aku suka dengannya..”, jawab Randi.
“Kalau sekarang ?”, Rian masih menatap selidik ke Randi.
“Sekarang aku nggak tau..”, jawab Randi setelah berpikir cukup lama.
Rian menghela nafas, ternyata dugaannya selama ini benar, Randi suka dengan istrinya. Dia lalu meminta Randi untuk melupakan dan menghilangkan rasa sukanya itu, karena Fira sudah menjadi istri Rian.
“Ran, aku minta kamu hilangkan perasaanmu pada Fira..”
__ADS_1
“Aku tau mas, Fira sudah jadi istri kamu.. aku akan berusaha.. terimakasih sudah mau menegurku.. aku juga ingin menghilangkan perasaan ini, karena itu tidak baik..”, terang Randi.
Rian tersenyum, dia tau Randi sangat baik. Dia ingin tetap berteman dengannya tanpa melukai siapapun.