Fira dan Rian

Fira dan Rian
Lamaran & Akad


__ADS_3

Rian yang melihat pak Hari sedang ada di ruang tamu langsung menghampirinya. Dia sudah merencanakan sesuatu sejak lama, dan berfikir mungkin ini saat yang tepat. Rian duduk di sebelah pak Hari yang sedang bersantai. Dia tampak gugup dan mencoba mengatur nafasnya.


“Pak Hari...”, kata Rian yang masih gugup.


“Iya Rian.. ada apa ?”, jawab pak Hari ramah.


“saya mau membicarakan sesuatu..”


Pak Hari langsung serius mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Rian.


“Mungkin ini saat yang tepat, sebenarnya saya datang kesini selain mengantarkan bapak dan Fira pulang ada maksud lain.”


“Apa itu nak ?”, tanya pak Hari yang penasaran.


“Saya ingin melamar putri bapak, Fira...”, jawab Rian setelah mengumpulkan kesiapannya.


Pak hari terdiam, beliau sedikit kaget. Sementara Rian masih menunduk sambil sesekali melihat reaksi dari ayah Fira itu. Keheningan membuat Rian tambah gugup, menanti jawaban dari pak Hari.


“Sebelumnya saya ingin tahu, apa yang membuat Rian ingin melamar anak saya ?”, tanya pak Hari dengan ramah.


“Sejak saya bertemu Fira dulu dan bermain bersama, saya merasa nyaman bersamanya, dulu kami pernah berjanji akan hidup bersama, mungkin Fira tidak mengingatnya karena masih kecil. Tapi saya selalu mengingat itu dan saya juga senang jika bisa bersama Fira.”, jawab Rian dengan tenang.


Pak Hari tersenyum, beliau sudah tau tentang janji itu, karena Fira dulu sering menceritakan padanya jika suatu saat nanti dia mau menikah dengan Rian. Ya itu memang janji biasa anak kecil, yang bisa saja dilupakan ketika besar nanti, tapi ternyata tidak bagi Rian. Pak Hari tidak menyangka jika Rian masih memegang teguh janji itu, meskipun itu sudah lama sekali sejak mereka masih kecil dan tidak tau apa-apa.


“Bagaimana kalau nak Rian tanya langsung pada Fira ?”


“Berarti apa bapak merestui ?”


“Kalau saya dari dulu sudah tau nak Rian seperti apa, bapak suka dengan sifat kamu, bapak setuju saja, tapi keputusan tetap ada di Fira..”, jelas pak Hari.


“Baiklah pak..”


Kemudian, pak Hari memanggil Fira untuk duduk bersama di ruang tamu. Fira yang kondisinya sudah membaik, datang ke ruang tamu. Dilihatnya ada Rian disana. Bu Ira ternyata juga ikut ke ruang tamu karena diminta oleh suaminya.


“Ada apa pak ?”, tanya Fira


“Ini nak Rian ada sesuatu yang ingin diomongin..”, kata pak Hari sambil melirik Rian dan tersenyum.


Aduh pak.. saya tambah grogi ini.. batin Rian.


Rian mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan mencoba untuk tenang, dan membenarkan kacamatanya yang ber frame hitam itu. Dilihatnya Fira memasang wajah penasarannya.


“Ra.. sebenarnya maksud aku datang kesini, karena aku ingin melamarmu menjadi istriku.. apakah kamu mau ?”


Fira tampak kaget mendengarnya. Dia tidak percaya Rian langsung melamarnya. Dia bertanya-tanya apa alasan Rian melamarnya, tentu saja sebenarnya dia senang, tapi dia masih membutuhkan kejelasan.


“Rian kamu serius ?”, tanya Fira kemudian.


“Iya..”, jawab Rian dengan tersenyum.


“Apa yang membuatmu ingin menjadikanku istrimu ?”, tanya Fira.


“Karena aku nyaman bersamamu, kamu baik dan aku ingin kita bersama selamanya..”

__ADS_1


Fira tersenym mendengarnya.


“Kalau bapak bagaimana ?”, tanya Fira pada bapaknya.


“Bapak ikut apa keputusan kamu nak..”


“Kalau Ibu ?”


“Ibu juga sama, menurut kata hati kamu aja nak..”, jawab bu Ira dengan mengelus jilbab Fira.


“Tapi aku masih kuliah, bagaimana ?”


“Nggak apa-apa, aku juga masih kuliah..”


“Em.. kasih aku waktu ya untuk jawabannya..”, kata Fira kemudian. Dia tidak mau mengambil keputusan dengan terburu-buru.


Rian mengangguk tanda setuju.


“Iya Ra.. aku akan menunggu jawabanmu.. tapi aku harap kamu sudah memberiku jawaban sebelum kita kembali ke Surabaya..”


Fira mengangguk setuju. Terlihat kelegaan di wajah Rian karena sudah mengutarakan apa yang dia ingin katakan.


Selama disana, Rian tidur di rumah Irfaan, karena tidak mungkin dia tidur di rumah Fira. Setelah apa yang dikatakan oleh Rian, Fira masih memikirkan apa yang akan dia jawab, sebenarnya dia mau menerima, tapi apakah semudah itu. Fira tetap harus memikirkannya dengan matang.


Ibunya mendatanginya di kamar, dilihatnya Fira sedang termenung, beliau langsung tersenyum melihatnya.


“Bagaimana nak, apa kamu sudah punya jawaban ?”, tanya bu Ira sambil duduk disamping Fira.


“Yasudah, kamu sholat istikharah dulu ya.. semoga diberikan jawaban..”


“Iya bu...”


Fira bergegas mengambil wudhu dan melakukan sholat istikharah, berharap semoga mendapatkan jawaban dan kemantapan hati. Sementara Rian yang sedang dirumah keluarga Irfan merasa masih belum bisa tenang, menunggu jawaban dari Fira. Dia sangat berharap Fira mau menerimanya.


Keesokan harinya, Rian yang ada dirumah Irfan dipanggil oleh bapak Fira untuk datang ke rumah. Rian langsung gugup, apakah Fira akan mengatakan jawabannya atau membahas masalah lain. Sesampainya di ruang tamu, sudah ada Fira, Bapak dan Ibunya. Rian langsung duduk. Bismillah...


“Nak Rian.. Fira mau ngomong sesuatu..”, kata pak Hari.


“Gini Rian.. sebelum aku memberikan jawabanku, aku mau tanya dulu..apakah kamu menerima aku apa adanya ?”, tanya Fira


Rian tersenyum mendengar pertanyaan dari Fira.


“Iya.. aku menerimamu apa adanya, baikmu, burukmu semua aku terima..”, jawab Rian dengan mantap.


“Aku berasal dari keluarga yang sederhhana, bukan dari keluarga yang berada, apa kamu menerimanya ?”


“Aku menerimamu apa adanya Ra.. kesederhanaanmu aku suka..”


Mata Fira terlihhat berkaca-kaca, dia terharu dengan apa yang dikatakan oleh Rian.


“Bismillahirrahmaanirrahim.. aku menerima lamaranmu Rian..”, jawab Fira dengan mantap.


Alhamdulillah... bapak dan ibu Fira tampak lega begitu juga dengan Rian. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya dengan tersenyum lebar. Fira yang dari tadi menunduk, tersenyum malu-malu.

__ADS_1


Rian langsung menghubungi orang tuanya. Memberi kabar tentang lamarannya yang diterima oleh Fira. Bu Rina tampak bahagia mendengarnya begitu juga dengan pak Fikri. Apa yang di impikan oleh beliau menjadi kenyataan.


“Terus, kamu udah sampaikan rencana hari H nya nak ?”, tanya pak Fikri.


“pak Hari setuju jika minggu depan Yah..”, kata Rian.


“Oh iya udah.. Fira biar disana dulu saja, memulihkan tenaganya..”, kata Pak Fikri.


“Baik Yah..”


Alhamdulillah.. akhirnya apa yang aku tunggu-tunggu sejak dulu bisa kesampaian.., batin Rian dengan tersenyum senang.


Rian hari itu langsung kembali ke Surabaya, karena ada bimbingan skripsinya dan mempersiapkan untuk acara akad pernikahannya. Keluarga Fira meminta dirayakan sederhana saja hanya akad dan syukuran sederhana. Rian menyetujuinya, untuk resepsi bisa dilakukan lain waktu. Karena memang Rian tidak terlalu suka keramaian.


Setelah Rian pulang, Fira masih di rumah orang tuanya. Dia masih tidak menyangka jika hari itu akan segera datang. Dia tersenyum sendiri membayangkan apa yang terjadi pagi itu. Ibu nya yang masuk ke kamar melihat Fira tersenyum sendiri, merasa gemas.


“Ehem.. yang bentar lagi nikah..”


“Eh Ibu.. hehe...”


“Ini minum dulu obatnya, biar cepat sembuh...”, kata bu Ira sambil memberikan obat pada Fira.


Fira segera meminum obatnya.


“Nggak terasa ya nak, sebentar lagi kamu udah mau nikah..”, kata bu Ira.


Fira tersenyum mendengarkan perkataan ibunya. Dia sadar sebentar lagi dia bukan hanya milik orang tuanya, tapi juga suaminya nanti.


“Banyak istirahat nak.. ibu mau mempersiapkan semua..”


“Fira pengen bantuin bu...”


“Hus.. calon pengantin nggak boleh bantu-bantu.. lagian kan acaranya juga sederhana..”


Fira akhirnya mengalah, dia sebenarnya merasa nggak enak karena tidak bisa membantu apa-apa. Semua untuk gaun pengantin sudah urus oleh Rian, tempat sudah di rumah Fira.


Fira lupa belum memberi kabar pada temannya di surabaya dan Irfan. Dia segera mengambil hp nya dan menulis chat Whatspap ke Irfan, Icha dan Randi. Irfan yang mendapatkan kabar itu langsung kaget dan senang mendengarnya, dia tidak menyangka jika akad nikah akan segera dilaksanakan. Begitu juga dengan Randi dan Icha. Tapi bagi Randi, dia merasa sedih karena orang yang disayanginya ternyata bersama orang lain, tapi dia berusaha untuk ikhlas dan mencoba memendamnya dalam-dalam.


Irfan memutuskan segera pulang sebelum hari H. Dia tidak mau melewatkan acara yang paling penting bagi adik sepupunya itu. Satu minggu terasa cepat, keadaan Fira juga sudah cukup pulih, Rian juga merasa sudah tidak sabbar. Selama satu minggu Rian dan Fira hanya berkomunikasi mmembahas acara akad pernikahannya, tidak pernah membahas hal lain.


Hari H bertepatan dengan hari Minggu, keluarga Rian sudah sampai di kampung Fira. Acara akad nikah akan segera dimulai. Rian sudah duduk di depan penghulu, Fira yang sudah selesai dirias duduk di sebelah Rian. Akad akan segera dimulai. Wali Rian dan Fira juga sudah hadir, yaitu bapaknya Fira pak Hari dan Ayah Rian yaitu pak Fikri.


Acara akad nikah dihadiri hanya dari keluarga Fira dan keluarga terdekat Rian. Akad nikah dimulai, Rian mengucapkan Ijab qabul dengan lancar,


Saya terima nikahnya Fira Riani Binti Hari dengan mas kawin tersebut dibayar Tunai


SAH !


Alhamdulillah...


Semua yang ada disana bersyukur acara akad nikah berjalan dengan lancar. Saat memasangkan cincin, Fira merasa malu, dia masih canggung ketika memasangkan cincin di jari Rian. Ini pertama kalinya dia menyentuh tangan laki-laki setelah sekian lama. Dimana Rian sekarang menjadi Mahram nya. Rian dan Fira tampak gembira saat itu.


Setelah prosesi akad selesai, ada syukuran sederhana dirumah Fira. Para sanak saudara banyak yang hadir mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Randi, Icha dan teman sekelas Fira rupanya turut hadir. Mereka datang bersama dari Surabaya, karena memang kebetulan acara diadakan waktu weekend.

__ADS_1


__ADS_2