Fira dan Rian

Fira dan Rian
Senior Fira


__ADS_3

Setelah diberitahu Fira ada di salah satu cafe dekat kampus, dia segera menemuinya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Fira sejak liburan semester. Ada beberapa hal yang harus disampaikan terkait proker, padahal dia bisa menghubungi Fira lewat Hp, tapi dia lebih memilih langsung bertemu dengan Fira. Itu karena ada alasan lain.


Sesampainya di cafe, Adi langsung mencari Fira dan akhirnya ketemu, Fira sedang mengobrol dengan Icha, dia tersenyum dan langsung menghampiri mereka.


Fira dan Icha yang melihat seniornya datang pun kaget. Ada apa sampai mas Adi datang menemui mereka.


“Hai Fira dan Icha..” sapa mas Adi.


“Hai Mas Adi.. duduk Mas..” kata Fira mempersilahkan seniornya duduk.


Kebetulan mereka ada di tempat lesehan tetapi ada mejanya sehingga nyaman untuk mengobrol santai.


“Bagaimana liburan kalian ?”, tanya Adi basa basi.


“Alhamdulillah menyenangkan Mas, ya nggak Ra ?” goda Icha.


“Apa sih Cha... menyenangkan kok Mas..”


“Ada apa Cha ?”, tanya Adi yang penasaran akan jawaban Icha.


“Itu Mas... Fira...”


Belum selesai Icha menyelesaikan kalimatnya sudah di potong oleh Fira.


“Bukan apa-apa Mas..”


“Hayo kalian main rahasiaan apa sih ? kan aku jadi penasaran..”


“Nggak apa-apa mas.. liburan seperti biasa gitu..”


Adi tidak bertanya lagi dan percaya apa yang dikatakan oleh Fira. Sementara Fira memberi kode pada Icha untuk tidak memberitahukan tentang pernikahannya pada mas Adi karena malu nanti dia di goda terus. Sementara bagi Icha itu sebenarnya pilihan yang tepat biar semua tau.


“Enak nya.. aku liburan semester diisi dengan KKN..”, timpal Adi.


“Kita nanti juga KKN kok mas.. nunggu giliran aja..”, sahut Icha.


“Oh iya, ada perlu apa Mas ?” tanya Fira kemudian.


“Itu Ra.. sebentar lagi kita mau ada study banding ke kampus sebelah dan devisi humas bertanggung jawab untuk mengatur acaranya..” jelas Mas Adi.


“Oh gitu.. kok nggak disampaikan di grup aja Mas ? Biar semua tau..”


“Habis ini aku mau beri kabar di grup tapi lebih enak ngasih tau nya langsung gini, yang lainnya aku tadi ketemu dan langsung aku kasih tau.. makanya aku cari kamu juga..” jelas Adi memberi alasa.


“Oh gitu ternyata.. baik kak.. nanti kabari aja di grup kapan kita kesananya..”


“Sip Ra.. kalian udah lama disini ?” tanya Adi lagi.


“Tadi habis selesai matakuliah langsung kesini Mas..” jawab Icha.


“Oh.. kalian sering kesini ?”


“Iya Mas.. sejak kakak sepupunya Fira kerja disini..” jawab Icha lagi.


Fira hanya diam mendengar jawaban Icha. Temannya ini sangat jujur dan selalu berbicara tanpa berpikir panjang.


“Oh iya ? Yang mana ?” tanya Adi yang antusias.


“Itu yang lagi buat kopi..” kata Icha sambil menunjuk Irfan


“Oh yang itu..”


Adi melihat Irfan, sekarang dia tau kalau Irfan adalah sepupu Fira. Mereka kemudian lanjut berbincang-bincang mengenai perkuliahan dan Himpunan, kebetulan Icha juga masuk di devisi Himpunan tapi beda devisi dengan Fira.


Icha diam-diam memperhatikan seniornya yang sesekali intens melihat kearah Fira, dia jadi curiga dan berpendapat seniornya itu mungkin menaruh hati pada Fira. Sementara Fira tetap mengobrol karena tidak sadar jika tatapan dari seniornya itu berbeda.


Ba’da maghrib, Adi pamit pergi karena ada urusan lain. Sementara Icha dan Fira masih di tempat karena menunggu Rian.


“Aku balik dulu ya.. sampai ketemu besok..”, pamit Adi.


“Oke Mas.. hati-hati di jalan..” kata Icha.


“Assalamu’alaikum..”


“Wa’alaikum salam..”, jawab Fira dan Icha bersama.


Beberapa saat kemudian Rian sudah sampai. Dia menyapa Irfan terlebih dahulu sebelum menghampiri Fira dan Icha. Fira terlihat senang melihat kedatangan Rian.


“Cie yang udah di jemput..”, goda Icha


“Apa sih Cha.. makanya kamu cepetan nikah juga bair ngerasain di jemput suami.. hehehe”

__ADS_1


“Huh, aku masih pengen fokus kuliah Ra..”


“Hehe, iya iya..”


Rian menghampiri Fira dan Icha, dia masih menggunakan pakaian yang sama seperti pagi tadi, menggunakan kemeja rapi.


“Hai Cha.. gimana kabarnya ?”, sapa Rian sambil duduk di sebelah Fira.


“Alhamdulillah baik Mas..”


“Gimana udah selesai tugasnya ?”


“Udah Mas..” jawab Fira.


“Gimana Mas sudah bisa ikut sidang skripsi ?” tanya Fira kemudian.


Rian mengangguk, “ dua minggu lagi aku sidang skripsi..”


“Alhamdulillah...”


“Wah selamat ya Mas, mau di bawain apa nih habis sidang ?”, canda Icha


“Hehe doain aja Cha semoga lancara yaa..”


“Aamiin.. pasti Mas..”


Mereka berbincang sebentar, sedangkan Irfan tidak bisa menemani karena sibuk dengan pesanan pelanggan. Pukul 19.00 akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, setelah sebelumnya pamitan dengan irfan.


“Mas aku pulang dulu yaa..”, kata Fira


“Iya hati-hati kalian.. sering-sering main kesini ya.. hehe”


“Siap Mas.. aku juga pamit dulu..” sahut Icha


Sikap Icha yang terlihat bersemangat semakin membuat Fira penasaran, dia berasumsi kemungkinan Icha suka dengan kakak sepupunya itu. Rian dan Fira pulang berlawanan arah dengan icha.


“Hati-hati di jalan Cha..”, kata Fira.


“Oke Ra.. kalian juga hati-hati..”


Icha mengendarai motornya pulang, dan Fira segera naik ke mobil Rian. Selama di perjalanan pulang Fira tampak sibuk dengan hp nya karena di grup devisi himpunan sedang membicarakan proker mereka. Rian yang dari tadi mengamati pun jadi penasaran.


“Ini Mas.. di himpunan mau ada study banding jadi rame di grup devisi..”


“Oh.. study banding kemana ?”


“Mas mungkin kaget, study bandingnya di kampus nya Mas..”, jawab Fira yang antusias.


“Oh.. di kampus..”, jawab Rian datar.


“Kok cuman Oh aja ?”, tanya Fira yang sedikit kecewa.


“Hehe iya iya Ra..” kata Rian sambil mengacak kerudung Fira.


“Ih Mas Rian ini..”


Fira tambah sebal, dia kembali fokus pada hp nya karena sedang membahas hal penting. Rian yang merasa di cuekin hanya menghela nafas panjang melihat tingkah istrinya,’hmm awas nanti dirumah kalau tetep sibuk sama hp nya, masak suaminya di cuekin terus..’ batin Rian.


Sesampainya dirumah, mereka bersih-bersih diri dan sholat Isya’. Rian tampak sibuk dengan revisi skripsinya, sedangkan Fira masih sibuk dengan hp nya. Setelah selesai dengan rapat di grup Whatsapp, Fira meletakkan hp nya di meja sampaing tempat tidur dan menghampiri suaminya.


“Mas belum selesai ?”, tanya Fira sambil jongkok di samping suaminya yang duduk di kursi meja kerja.


“Belum Ra.. dikit lagi.. kamu kalau ngantuk tidur duluan aja..”, perintah Rian.


“Aku juga belum ngantuk kok Mas..” jawab Fira sambil mengamati laporan yang sedang dikerjakan suaminya.


Tiba-tiba Rian menarik Fira duduk di pangkuannya, Fira pun kaget dengan tingkah suaminya. Perlahan di tatap wajah Fira dengan lembut dan sesekali Rian membelai rambut istrinya yang membuat Fira merasa geli.


“Mas Rian geli.. udah aku tidur duluan aja.. Mas lanjutin revisiannya..” kata Fira yang akan beranjak bangun.


Buru-buru Rian mencegahnya dan Fira kembali duduk di pangkuan Rian.


“Udah gini aja, temenin aku..”


“Tapi Mas, malah nganggu nanti..”


“Enggak Ra.. tenang aja.. kamu kalau mau tidur, tidur disini aja..”, kata Rian sambil tersenyum manis.


Fira akhirnya luluh, meskipun dia malu tapi tetap ingin bertahan di posisinya sekarang karena merasa nyaman. Rian mulai fokus lagi dengan laporannya, sementara Fira sesekali mengamati laporan yang sedang dikerjakan Rian dan dia juga mencuri pandang ke arah Rian.


Fira merasa sangat beruntung bisa menikah dengan Rian, seseorang dari masa kecilnya, meskipun dia hanya ingat sebagian tapi entah kenapa dia tidak bisa jauh dari Rian. Wajahnya yang tampan, mata bulat, hidung mancung, badan proporsional menjadi nilai tambah, satu lagi Rian memakai kacamata sehingga tampak keren di mata Fira. Tanpa sadar dia senyum-senyum sendiri sambil memandang Rian.

__ADS_1


“Aku tau kalau aku tampan kok Ra..”, kata Rian tiba-tiba sambil tetap menatap laptopnya.


Fira yang tau Rian ternyata sadar jika diperhatikan olehnya langsung salah tingkah dan membenamkan wajahnya di dada Rian. Jantungnya langsung deg deg an.


“Tuh, jantung kamu sampai kedengeran suaranya..”, goda Rian lagi.


Fira jadi tambah malu dibuatnya.


“Mas Rian udah dong, aku kan jadi malu..”, kata Fira yang masih menyembunyikan wajahnya.


“Kenapa malu.. sama suami sendiri kok..” jawab Rian dengan senyum manisnya.


Mendengar respon suaminya, Fira berniat untuk menjahilinya dengan mencubit pinggang Rian.


“Lho sakit Ra.. gimana sih suaminya di aniaya..”, protes Rian.


“Biarin..”


Melihat istrinya yang menggemaskan, Rian menggelitik pinggah Fira yang membuatnya menggeliat dan melingkarkan tangannya memeluk Rian. Mereka pun tertawa bersama. Rian segera menutup laptopnya dan menggendong Fira, otomatis Fira melingkarkan kakinya di tubuh Rian sambil tangannya melingkari di bahu Rian untuk berpegangan. Rian menggendong Fira dan menurunkannya di kasur. Fira terlihat senang sekali di gendong oleh Rian, dia tidak bisa berhenti tertawa begitu juga dengan Rian.


“Sudah yuk tidur.. hari ini capek banget..”, ajak Rian setelah menurunkan istrinya.


Mereka pun tidur dengan pulas sambil berpelukan erat.


Keesokan harinya seperti biasa Fira diantar ke kampus oleh Rian. Mas Adi yang kebetulan sedang duduk di depan Fakultas melihat Fira turun dari mobil, ada rasa aneh menurutnya, yang dia tau Fira hanya mahasiswa biasa bukan dari kalangan berada. Sesampainya Fira di depan gedung dia disapa oleh seniornya.


“Assalamu’alaikum Ra...”, sapa Mas Adi.


“Wa’alaikum salam Mas Adi..”


“Dianter siapa Ra ? naik **-car ya ?” tanya mas Adi berasumsi.


Fira tersenyum kemudian menjawab,


“Bukan Mas.. diantar suami.. hehe”, jawab Fira dengan malu


Adi sangat kaget, apa benar Fira sudah menikah, dia langsung bertanya lagi.


“Kamu kapan menikah Ra ?”, tanya Adi yang masih tidak percaya. Dari wajahnya terlihat masih tidak percaya.


“Em.. liburan kemarin Mas..”


“Jadi maksud dari Icha kemarin ini.. Fira udah menikah..”, batin Adi.


Dia langsung terlihat lesu, dan memaksakan diri mengucapkan selamat pada Fira.


“Selamat ya Ra.. maaf aku baru tau..”, kata Adi.


“Makasih banyak Mas..”, jawab Fira dengan senyum.


“Mari Mas aku masuk ke kelas dulu..”


“Oh iya, silahkan Ra...”


Fira berjalan menuju ruang kuliah, sementara Adi masih terdiam dan berpikir keras. Dia sedih karena orang yang di kaguminya dan yang rencananya ingin dia lamar ternyata sudah punya suami. Adi menghela nafas panjang dan mencoba sabar, dia jadi penasaran seperti apa suami Fira. Dia tidak sempat melihat nya di mobil karena orang di dalam mobil tidak terlihat dari luar.


Icha yang baru datang melihat seniornya kelihatan tidak bersemangat langsung menanyainya.


“Ada apa Mas ?”


“Oh iya Cha, Fira udah nikah ya ?” tanya Adi memastikan.


“Tau dari mana Mas ?”


“Aku tadi liat Fira turun dari mobil trus aku tanyain katanya dianter suaminya.. emang bener ya ?”


Icha tersenyum, dia lega seniornya sudah tau. Kasihan juga kalau seniornya itu masih tetap berharap pada Fira.


“Iya Mas.. Fira udah nikah..”, jawab Icha santai.


“Kok nggak ada yang tau ?”


“Tau kok.. temen-temen di kelasku tau semua.."


"suaminya siapa Cha ?" tanya Adi lagi.


"Rahasia Mas, udah ya aku masuk dulu..” kata Icha sambil pamit masuk ke ruangan.


“Oke Makasih Cha..”


Adi sudah tidak ada harapan lagi, dia akan berusaha melupakan perasaannya, karena Fira sudah menikah.

__ADS_1


__ADS_2