
Fira yang sedang membersihkan kamarnya, tiba-tiba mendengar hpnya berbunyi. Ternyata ada notifikasi E-Mail dari perusahaan Itech, dia deg-deg an ketika akan membukanya, berharap dia diterima magang disana. Saat dibuka, dia fokus pada tulisan ‘DITERIMA MAGANG’ yang ada di email tersebut. Spontan dia langsung senang dan mengucapkan Alhamdulillah, akhirnya dia bisa magang.
Fira ingin magang karena dia ingin mandiri, tidak terlalu bergantung pada orang tuanya, dan bisa membayar biaya kuliahnya sendiri. Orang tuanya sebenarnya tidak keberatan, tapi fira tetap ingin mandiri, sehingga tidak membuat orang tuanya terbebani. Untungnya magangnya itu dimulai ketika liburan semester, jadi tidak mengganggu kuliahnya.
Fira kemudian menghubungi Icha, dia ingin memastikan apakah Icha juga diterima atau tidak.
“Assalamu’alaikum Cha..”, sapa Fira ketika teleponnya tersambung.
“Wa’alaikum salam Ra...”, jawab Icha.
“Bagaimana Cha udah dapat Email ?”
“Udah Ra.. tapi aku nggak diterima..”, jawab Icha sedikit sedih.
Fira jadi ikut sedih, dia berusahha menyemangati Icha.
“Nggak apa-apa Cha.. mungkin belum rezeki.. kamu tetap semangat yaa..”
“Iya Ra.. makasih, hehe..”
Mereka berbincang-bincang sejenak, kemudian Fira menyudahi panggilannya. Dia jadi sedih karena tidak ada teman ketika magang, Fira kemudian chat Whatsapp Randi, menanyakan hal yang sama.
Beberapa menit kemudian Randi menjawab chat Whatsapp Fira, dan mengatakan jika dia diterima magang disana. Fira sedikit lega, setidaknya masih ada Randi, teman sekelasnya yang juga ikut diterima magang ditempat yang sama.
Setelah selesai membersihkan kamarnya, dia beranjak untuk membeli bahan makanan karena dia ingin memasak. Saat di depan, dilihatnya rumah Rian tampak sepi. Mungkin lagi dirumah satunya, batin Fira. Fira berbelanja seperlunya, dia harus hemat.
Saat kembali dari berbelanja, dia bertemu dengan Irfan yang sedang ada di depan kosnya. Tempat kos Irfan memang dekat dengan Fira. Fira lalu mengajaknya untuk makan bersama di kontrakannya. Irfan setuju lalu beranjak mengikuti Fira.
Sesampainya di kontrakan, Fira langsung masak. Kebetulan dapurnya ada di depan kamar, tapi letaknya di paling pinggir, kompornya sederhana diletakkan di meja kecil dan peralatan juga apa adanya. Irfan yang kebetulan juga belum makan, dia menawari untuk membantu Fira masak.
“Sini aku bantuin dek..”, kata Irfan
“Oke, bantuin goreng-goreng ya..”
Jago juga nih Mas ku masak, beruntung yang jadi isterinya nanti, udah pintar, rajin, jago masak, kurang apa lagi coba, sholeh pula. Fira terus membatin melihat kakak sepupunya itu yang lagi masak.
“Gimana dek hasil wawancaranya kemarin ?”, tanya Irfan disela-sela menggoreng lauk.
Dia memang tahu kalau Fira ikut wawancara, karena Fira selalu bercerita pada Irfan, karena Irfan sudah seperti kakak kandung sendiri bagi Fira.
“Alhamdulillah aku diterima kak..”
“Alhamdulillah.. kapan mulai magang ?”
“Insyaallah mulai bulan depan waktu liburan semester..”
__ADS_1
“Bagus deh, jadi nggak mengganggu kuliahmu.. kalau teman-temanmu ?”
“Icha nggak diterima kak.. tapi Randi diterima..”
“Wah sayang sekali...”
Setelah selesai masak, mereka makan bersama di teras. Cukup sederhana, oseng-oseng sayur dan lauk tempe dan tahu sudah cukup bagi mereka. Sambil makan mereka berbincang-bincang, membahas mengenai kuliah mereka. Fira yang kadang merasa kesulitan ketika mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, yang sebentar lagi sudah waktunya Ujian Semester.
Sedangkan Irfan yang sudah mulai memikirkan tugas akhirnya, dia juga mulai bekerja paruh waktu di cafe. Fira yang baru tau langsung menghujani kakak sepupunya itu banyak pertanyaan.
Fira menanyakan tentang bagaimana Irfan bekerja disana, bagaimana sikap ketika berhadapan dengan atasan atau pelanggan, dan masih banyak lagi. Irfan gemas sendiri dengan Fira, dia tau adik sepupunya itu bagaimana sifatnya. Dia lalu menjelaskan satu persatu. Mungkin karena kamu akan magang, makanya kamu ingin berhati-hati nanti ketika bekerja, batin Irfan.
Setelah selesai makan, Fira membereskan piring yang sudah selesai digunakan, dan dia bersantai sejenak di teras begitu juga dengan Irfan. Kedua nya memang jarang pulang ke kampung ketika weekend, karena memang menghemat pengeluaran setiap bulannya. Mending di tabung, fikir mereka. Mereka biasanya pulang satu bulan sekali, itupun hanya bisa dirumah hari sabtu saja, hari minggu mereka sudah kembali lagi.
“kapan-kapan mampir ya ke cafe tempat kerja aku..”, ajak Irfan
“Oke Mas, nanti aku ajak Icha juga.. mas Irfan kerja mulai jam berapa nanti ?”
“Hari ini aku shift sore sampai malam.. mau kesana nanti ?”
“Iya rencananya sih gitu.. sekalian malam mingguan.. hehe..”
“Huh maunya tuh..”
Fira segera menghubungi Icha untuk mengajaknya ke cafe tempat Irfan bekerja, Icha langsung setuju karena dia memang sedang tidak ada rencana lain.
Dilihatnya didalam masih ada sedikit orang, mungkin karena ini weekend, dan karena disekitar cafe mayoritas mahasiswa, jadi mereka kebanyakan yang dari luar kota pada pulang kampung.
Irfan menghampiri mereka, dan menanyakan apa yang akan dipesan. Fira berenacana memesan cappuchino tapi dilarang oleh Irfa, karena dia tahu adik sepupunya itu ada sakit maag, Fira masih tetap ingin memesan itu, akhirnya dibolehkan oleh Irfan.
Sementara Icha memesan milk tea. Di cafe Fira berbincang-bincang dengan Icha, dia sangat sedih karena tidak bisa magang bersama Icha, Icha yang sudah tidak apa-apa menasehati Fira untuk tetap semangat, meskipun tidak ada temannya disana.
Dari pertama kali Fira dan Icha ke cafe itu, mereka merasa nyaman disana. Mereka memutuskan disanalah tempat mereka untuk sekedar nongkrong dan mengerjakan tugas, karena tempatnya memang cocok.
Liburan semester telah tiba, hari itu adalah hari senin, hari pertama Fira akan magang. Kebetulan jam kerjanya saat liburan semester ini adalah dari jam 08.00 sampai 14.00 karena memang anak magang tidak bekerja full time. Setelah sampai di kantor, dia diarahkan ke sebuah ruangan tempat anak-anak yang magang disana. Disana dia bertemu dengan Randi, Alhamdulillah masih ada teman.. batin Fira. Dia segera menghampiri Randi dan duduk di sampingnya.
Beberapa menit kemudian pak Fikri dan Rian datang, mereka menyambut peserta magang disana. Rian sesekali menatap semuanya dan dia menemukan Fira ada disana, dia tersenyum tipis. Sementara Fira mencoba untuk bersikap biasa, karena dia tidak mau orang lain tau jika dia mengenal Owner perusahan itu dan anaknya.
Setelah sambutan, semua peserta magang dibagi penempatannya. Total yang magang disana 6 orang dan ditempatkan di devisi yang berbeda, kebetulan Fira ditempatkan di devisi pengembangan program bagian front-end, sedangkan Randi dibagian Back-end. Ruangan mereka ternyata sama, Fira merasa sedikit lega, karena dia tidak sendirian. Dia memang sangat canggung ketika ada dilingkungan baru.
Fira sudah mulai mengerjakan pekerjaan disana. Dihari pertama, dia sudah mulai sibuk seperti membantu seniornya bekerja, seperti membuat rancangan tampilan program dan sebagainya. Disana setiap pekerjaan dimonitoring dalam bentuk bagan flow, ketika sudah selesai harus mengupdate progres nya, dan diawasi langsung oleh Rian.
Sudah seminggu Fira mulai magang disana. Rere yang tidak suka dengan Fira mendatanginya. Dia meminta Fira untuk mengerjakan pekerjaan yang bukan bagian Fira, Fira yang memang dasarnya penurut langsung mau mengerjakannya.
“Fira, bisa minta tolong kamu cek daftar inventaris yang ada di bagian kamu sesuai apa nggak dengan yang ada di berkas ini ?”, perintah Rere dengan memberikan beberapa berkas.
__ADS_1
“Sekarang ya mbak ?”, tanya Fira memastikan.
“Iya.. keburu soalnya..”, jawab Rere santai.
Senior yang lain berusaha mencegahnya.
“Apa kamu nggak bisa sendiri Re ? kok minta bantuan anak magang ?”
“Aku lagi diburu kerjaan lain, cuman sebentar aja..”
Senior itu pun hanya menghela nafas. Fira langsung mengerjakan apa yang diminta Rere. Rere tampak tersenyum puas. Sementara Randi tidak bisa membantu karena dia sudah diberi pekerjaan oleh seniornya.
Hampir jam makan siang Fira belum menyelesaikan apa yang diminta Rere, tugasnya sendiri belum disentuhnya.
“Aku harus segera nyelesaiin apa yang diminta mbak Rere, biar aku segera nyelesaiin kerjaanku..”, batin Fira.
Saat jam makan siang, Fira sudah selesai dengan tugas yang diberikan Rere. Dia langsung akan memberikan laporannya, tapi ternyata Rere tidak ada di mejanya. Seorang senior Fira perempuan mengajaknya makan siang bersama di kantin, Fira akhirnya setuju.
Saat sampai di kantin, dia melihat Rere sedang makan siang dengan Rian dan teman-teman Rian.
“Oh pantas aja udah nggak ada di mejanya, ternyata sudah disini sama Rian..”, batin Fira.
Senior Fira namanya mbak Indah, dia mengajak Fira duduk bersama setelah membeli makanan.
“Mereka cocok ya... Rian sama Rere..”, kata mbak Indah yang mulai bergosip.
“Eh.. apa mbak ?”, tanya Fira yang sedikit kaget.
“Itu.. mereka sering terlihat bersama, katanya sih teman dari SMA.. tapi keliatan cocok besama..”
Fira yang mendengarkan itu sedikit terdiam, dia tidak mau berkomentar apa-apa. Entah kenapa dia jadi sedikit tidak nafsu makan. Tiba-tiba datang Randi, ternyata dia baru saja datang ke kantin. Dia bergabung bersama Fira dan mbak Indah. Mereka berbincang-bincang sebentar sampai jam istirahat selesai. Setelah sholat Fira kembali ke ruangan, dia menyerahkan laporan pada Rere.
“Ini mbak udah selesai..”, kata Fira dengan ramah.
“Oh iya.. makasih ya.. kamu bisa lanjutin pekerjaan kamu..”, kata Rere dengan senyum tipisnya.
Fira kembali ke pekerjaannya, tapi sayangnya pekerjaannya di hari itu belum selesai sampai jam kerjanya berakhir.
“Duh belum selesai.. semoga besok aku bisa nyelesaiin..”, batin Fira.
Jam pulang bagi karyawan magang, Fira dan Randi keluar ruangan bersama, di lobby mereka bertemu Rian.
“Ra.. udah mau pulang ?”, tanya Rian.
“Iya Yan.. mari duluan..”
__ADS_1
“Mari Mas.. kami pulang dulu..”, timpal Randi.
Rian hanya tersenyum, dia terus melihat Fira dan Randi yang berjalan keluar lalu dia kembali berjalan ke ruangannya dengan menghela nafas panjang.