Fira dan Rian

Fira dan Rian
Magang (2)


__ADS_3

Beberapa hari setelah itu, Rere sering meminta bantuan Fira mengerjakan pekerjaannya. Dia terlihat menikmati ketika mengganggu Fira yang dianggapnya bisa merebut Rian darinya. Hal itu membuat Fira lambat dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Rian yang tiap hari mengawasi pekerjaan semua karyawan merasa aneh melihat grafik progres daftar pekerjaan Fira yang banyak belum selesai. Dia berinisiatif memanggil Fira ke ruangannya. Dia lalu memanggil Fira lewat telepon internal kantor.


“Halo selamat Siang..” sapa Fira yang langsung mengangkat telepon kantor di mejanya.


“Halo Fira.. bisa ke ruangan ku sebentar ?”


Fira yang langsung tau itu siapa langsung menjawabnya.


“Baik.. saya akan segera kesana..”


Fira bergegas ke ruangan Rian.


“Mau kemana Ra ?”, tanya Randi yang melihat Fira akan pergi.


“Di panggil Rian..”, jawab Fira dengan nada berbisik.


Setelah sampai di depan ruangan Rian, dia mengetuk pintu.


Tok tok tok


“Masuk..”


Fira masuk kedalam, diliharnya Rian sedang duduk di kursi kebangsaannya sambil menghadap ke layar monitor di depannya. Melihat Fira datang, dia langsung berdiri.


“Duduk Ra..”, perintah Rian sambil meminta Fira duduk di sofa.


Fira menurutinya dan duduk agak jauh dari Rian, untuk menjaga jarak.


“Ada apa Yan ?” , tanya Fira yang masih belum tau kenapa dia dipanggil.


“Akhir-akhir ini aku liat kerjaan kamu telat selesainya, kenapa Ra ?”, tanya Rian langsung.


Fira mau menjawab yang sebenarnya, tapi dia urungkan. Dia tidak mau membebani Rere, memang Fira selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu dibandingkan dirinya sendiri, sehingga dia yang selalu dirugikan.


Mendapatkan pertanyaan Rian, Fira tidak bisa menjawab.


“Hm, bagaimana ?”, tanya Rian lagi.


“Aku.. aku sepertinya kurang bisa fokus..”, jawab Fira beralasan.


“Ada masalah apa ? Mungkin kamu bisa cerita ke aku..”


“Nggak apa-apa Rian..”


Rian tampak menghela nafas panjang. Dia lalu menasehati Fira.


“Ra.. kamu harus tetep fokus ya, di kantor pekerjaan adalah yang utama.. kamu jangan sampai fokus ke yang lain. Kalau kamu nggak bisa fokus, kerjaan kamu nggak akan selesai-selesai, dan itu berpengaruh pada pekerjaan selanjutnya Ra...”


“Iya Yan aku tau...”, jawab Fira yang tertunduk.


“Baiklah.. kamu boleh kembali.. habis ini kamu langsung kerjain tugas kamu ya..”, kata Rian kemudian dengan tersenyum.


Fira hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Rian dan kembali ke ruangannya.


“Maaf Yan.. aku nggak bisa jujur..”, kata Fira dalam hati.


Rian masih duduk di sofa, dia termemung sejenak setelah perbincangannya dengan Fira.


“Dia terlihat sedih, apa aku ngomongnya terlalu keras ya.. tapi kalau nggak gitu, aku takut dia nggak selesai-selesai kerjaannya.. hmm..”, batin Rian. Dia memijat keningnya karena bingung.


Setelah kembali dari ruangan Rian, Fira melanjutkan pekerjaannya. Sedikit demi sedikit daftar pekerjaannya mulai selesai. Dia tidak mau pekerjaannya sampai tertunda lagi. Tapi rasa sedihnya masih belum hilang setelah apa yang dikatan oleh Rian diruangan tadi. Randi yang mengamati Fira tampak sedikit khawatir.


Saat makan siang, Randi mengajak Fira makan siang bersama. Mereka makan di kantin. Sambil makan, Randi mencoba bertanya.

__ADS_1


“Ra.. tadi dipanggil mas Rian ada apa ?”, tanya Randi.


Fira mendengar pertanyaan Randi langsung meletakkan sendoknya.


“Aku habis dimarahin Ran sama Rian..”


“Kok bisa ?”, tanya Randi dengan sedikit nada tinggi.


“Kerjaanku nggak selesai-selesai, aku diminta buat terus fokus sama kerjaanku..”, jawab Fira.


“Tapi Ra.. itu kan bukan salah kamu, mbak Rere itu yang selalu aja ngasih kamu kerjaan yang harusnya buka kamu yang ngerjain..”


“Aku tau.. tapi aku mau menolaknya ya nggak bisa, secara kita kan masih magang disini..”


“Hmm... kamu terlalu baik Ra.. kenapa kamu nggak cerita ke mas Rian ?”, tanya Randi.


“Nggak perlu.. dia kan atasan nggak perlu tau..”


Randi tampak menghela nafas panjang, dia tau sifat Fira seperti apa. Fira sangat keras kepala dan terlalu baik, dia selalu mementingkan orang lain.


“Yaudah kalau gitu sekarang kamu harus berani buat menolak pekerjaan yang bukan bagian kamu..”, kata Randi menasehati Fira.


“Iya Ran.. aku aakan berusaha..”


“Harus Ra.. kalau nggak gitu nanti kamu nggak bisa fokus..”, desak Randi.


Dia kasihan sama Fira, dan tidak mau melihat Fira sedih lagi.


Fira menghela nafas panjang, mencoba mengumpulkan semangatnya lagi.


“Iya Ran.. makasih..”, kata Fira kemudian sambil tersenyum.


Randi merasa puas melihatnya, Fira sudah bisa tersenyum lagi. Tanpa mereka sadari mereka sedang diawasi oleh seseorang, yaitu Rian. Dia yang juga sedang makan siang, tidak sengaja melihat Fira dan Randi yang makan siang sambil berbincang serius. Dia sebenarnya penasaran apa yang sedang mereka bicarakan, tapi dia memutuskan untuk tidak menghampiri mereka, takut ada yang salah persepsi. Secara Fira dan Randi hanya karyawan magang disana.


Sepulang kerja, Rian yang melihat Fira akan pulang, dia mencoba menyapanya tapi Fira yang melihat Rian langsung lari menuju parkiran motor. Rian yang melihatnya kemudian menghentikan langkahnya.


“Apa dia masih marah ya..”, batin Rian sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Fira sebenarnya tidak mau menghindar dari Rian, tapi entah kenapa saat itu dia tidak mau bertemu dengannya, mungkin karena dia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Rian tadi.


Sesampainya dirumah, dia langsung membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Dilihatnya jam dinding masih sore, dia mencoba menghubungi Icha dan mengajaknya bertemu. Sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengannya.


“Cha.. hari ini kosong ?”, tanya Fira dengan chat Whatsapp.


“Ada apa Ra ? Kangen yaa...”, goda Icha.


“Ih apaan sih kamu.. meetup yuk di cafe tempat mas Irfan kerja..”, ajak Fira.


“Oke.. nanti habis maghrib ya..”


Fira senang Icha setuju bertemu dengannya. Dia ingin curhat tentang magangnya sekarang yang membuatnya sedih.


Saat akan beraangkat, Fira bertemu dengan bu Rina di depan rumahnya. Fira menyapanya karena sudah lama tidak bertemu.


“Lho nak Fira mau kemana ?”, tanya bu Rina.


“Ini bu.. mau ketemu sama teman.. hehe, mari bu..”, jawab Fira kemudian.


Fira beranjak pergi, bu Rina yang masih duduk di teras rumahnya masih memperhatikan Fira yang pergi. “Kok keliatan nggak seperti biasanya ya..”, batin bu Rina.


“Ada apa Ma ?”, tanya Rian dari dalam rumah. Dia ternyata ada dirumah dari tadi.


“Hm.. itu nak Fira keliatan nggak seperti biasanya..”

__ADS_1


Deg.. Rian merasa bersalah, dia berfikir itu disebabkan oleh apa yang dikatakannya pada Fira tadi. Rian tampak diam sejenak, mamanya yang curiga langsung bertanya,


“Apa ada kaitannya dengan kerjaan kantor ?”, selidik bu Rina.


“Enggak kok Ma.. nggak ada apa-apa..”, jawab Rian sambil berjalan masuk lagi..


Bu Rina masih curiga, dia berfikir kemungkinan berhubungan dengan pekerjaan kantor.


Sesampainya di cafe, Fira langsung masuk dan duduk di tempat yang kosong, setelah sebelumnya memesan minuman. Beberapa saat kemudian Icha sampai, dia langsung duduk disebelah Fira. Irfan yang mengantar minuman, melihat Fira yang tampak diam menjadi curiga.


“Kenapa dek, diem gitu ?”


“Nggak ada apa-apa Mas.. hehe..”, jawab Fira dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


“Mas nggak percaya.. pasti ada masalah..iya kan ?”, selidik Irfan.


Fira kemudian diam, dia masih belum mau bercerita. Icha juga memaksanya untuk bercerita apa yang membuatnya terlihat tidak semangat itu.


“Iya Ra... kamu cerita aja ada apa ?”


Fira menghela nafas sejenak, kemudian dia menceritakan keadaannya di kantor, dimana Rere selalu memberinya pekerjaan lain yang menyebabkan pekerjaannya lambat selesainya, dan tentang apa yang dikatakan Rian tadi siang.


“Ih yg namanya mbak Rere itu ngeselin deh.. kenapa coba dia bikin kamu ngerjain tugas yang bukan bagian kamu...”, kata Icha yang mulai mengomel.


“Dek.. aku tau kamu sekarang sedih, tapi coba deh kamu belajar menolak tugas dari yang namanya Rere itu, dia kan bukan senior yang membimbing kamu.. kamu fokus aja ke pekerjaan kamu.. yang terpenting kan kerjaan kamu selesai dulu...”, kata Irfan menasehati adik sepupunya itu.


Fira berfikir sejenak, semuanya memintanya untuk mengabaikan permintaan dari Rere, tapi apakah semudah itu.., fikir Fira dalam hati.


“Aku akan berusaha..”, jawab Fira kemudian.


“Lagian kenapa sih kamu nggak jujur sama mas Rian.. kan jadi kamu yang disalahin terus..”, tanya Icha.


“Nggak perlu.. nanti malah merepotkan dia..”


Icha hanya bisa menghela nafas panjang mendengar jawaban Fira. Irfan hanya diam saja, dia sudah tau bagaimana sifat adik sepupunya itu.


“Pokoknya sekarang kamu nggak perlu mikirin itu lagi, tetep fokus aja sama pekerjaan da tetap semangat ya Ra...”, kata Icha kemudian.


“Iya Cha.. makasih banyak.. hehe..”, kata Fira kemudian yang mulai bisa tersenyum.


“Nah gitu dong itu baru adik aku..”


Irfan mulai senang, Fira sudah mulai bersemangat lagi.


Fira sudah satu bulan magang di perusahaan pak Fikri. Dia sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan kantor, meski kadang dia masih melakukan tugas yang diberikan oleh Rere. Dia juga sudah jarang bertemu dengan Rian karena sama-sama sibuk. Rian dengan pekerjaannya yang juga sedang menyelesaikan skripsinya. Sedangkan Fira sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


Suatu ketika Rere menemuinya untuk meminta bantuan.


“Fira bisa minta tolong ?”, tanya Rere.


“Maaf mbak, aku lagi ada banyak kerjaan..”, jawab Fira menolak halus.


“Sebentar aja kok..”, paksa Rere.


“Nggak bisa mbak, ini udah ditunggu.. kalau mau habis semua pekerjaanku selesai, akan aku kerjain punya nya mbak..”


“Lama dong nanti.. inikan harus segera selesai..”


“Pekerjaanku juga harus diselesaiin mbak, tugas utamaku kan yang ini..”, kata Fira sambil menunnukkan flow pekerjaannya di monitot komputer.


“Udah lah Re.. kalau kamu keburu ya kerjain sendiri aja.. jangan ganggu Fira.. dia kan punya pekerjannya sendiri.. jangan mentang-mentang dia magang, kamu jadi bisa seenaknya..”, kata mbak Indah yang mulai emosi juga melihat Rere yang sering meminta Fira mengerjakan pekerjaan yang bisa ditangani Rere sendiri.


Rere yang tidak bisa menjawab lagi hanya terdiam sambil menahan marah, kemudian dia kembali ke mejanya dengan kesal. Sementara Fira masih terdiam dan mengatakan terimakasih pada mbak Indah yang sudah membantunya. Randi yang melihat dari kejauhan tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2