
Masih dalam suasana liburan Rian dan Fira. Hari kedua di Yogyakarta Rian mengajak Fira berkunjung ke Alun-Alun Yogyakarta setelah sarapan. Mereka kesana menggunakan transportasi online. Sampai disana terlihat ramai pengunjung entah itu wisatawan maupun warga lokal. Fira diajak berkeliling oleh Rian disekitar sana, karena dia juga khawatir melihat Fira yang tampak sedih meskipun berusaha di tutupi.
Diajaknya Fira duduk di bangku sekitar alun-alun,
“Kenapa Ra ?”, tanya Rian kemudian.
“Kenapa Mas ? Aku nggak apa-apa..”, jawab Fira sambil tersenyum.
“Ra.. kamu nggak bisa bohongin aku, aku tau kamu lagi sedih..”, kata Rian sambil menatap wajah Fira.
Fira terdiam, dia tau suaminya sangat mengerti sifatnya , dan itu membuat dia sedih. Suaminya bisa tau semua tentangnya meskipun sudah lama tidak bertemu, sedangkan dia masih belum begitu hafal dengan sifat suaminya, Fira tiba-tiba merasa dia masih kurang sebagai istri Rian.
“Nanti aja aku ceritain..”
“Aku mau nya sekarang Ra..”, paksa Rian.
Fira terdiam, haruskah dia cerita dengan suaminya ? Itu yang difikirkan oleh Fira. Rian tetap memaksa istrinya untuk bercerita akhirnya Fira mau bicara.
“Mas.. aku ingin jujur..”
“Iya Ra.. ada apa ?”
“Aku pantas nggak sih buat kamu ? Aku nggak cantik, aku orangnya biasa aja bukan dari keluarga berada.. Kurang cocok dengan kamu kalau diliat orang lain..”, terang Fira sambil tertunduk.
Mendengar perkataan Fira, Rian terdiam dan menghela nafas panjang.
“Ra.. lihat aku..”, kata Rian sambil mengangkat wajah istrinya dan memandang lurus ke mata nya.
“Aku sayang kamu apa adanya sejak dulu, bagaimanapun kamu aku menerimanya..”
“Tapi aku belum terlalu hafal sifat kamu Mas.. kamu lebih tau aku padahal kita baru ketemu lagi..”
“Hmm.. nggak apa-apa Ra.. kita jalain aja seperti biasa, apa kamu nggak sayang sama aku ?”, tanya Rian sambil menatap Fira dengan sendu.
“Aku sayang kamu Mas.. sebelum kita menikah, tiap ketemu kamu, aku selalu berusaha untuk mengontrol detak jantungku yang entah kenapa bikin aku deg-deg an. Tiap liat kamu sama perempuan lain di kantor aku merasa tidak senang, trus tadi ada cewek yang bicarain kamu aku merasa cemburu...”, tutur Fira yang sudah tidak bisa membendung perasaannya.
Mendengar itu Rian tampak tersenyum, dia senang istrinya sudah mau jujur dengannya.
“Kok senyum sih Mas ?”, tanya Fira.
“Aku senang Ra.. kamu udah mau jujur.. jadi kita sehati kan ?”, tanya Rian sambil tetap tersenyum.
Fira masih diam
“Hmm gimana ?”
“I.. iya mas...”, kata Fira yang sudah mulai tenang.
Rian menyandarkan kepala Fira di bahunya.
“Jadi.. ini gara-gara ada cewek lain yang biacarain aku terus kamu jadi merasa nggak pantas buat aku gitu ?”, tanya Rian pelan
Fira mengangguk, dia akui dia memang sangat tidak nyaman ketika ada cewek lain yang membicarakan suaminya.
“Sudah, sekarang kamu tau kan kalau aku Cuma sayang sama kamu Ra...”
Fira tersenyum senang, dia memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu lagi, berada disamping suaminya sudah membuatnya nyaman.
Setelah puas ada di Alun-alun Yogyakarta, mereka melanjutkan perjalanan ke sentra industri kaos oblong Jogja T-Shirt (JeThe), disana mereka melihat proses pembuatan kaos dan berbelanja beberapa baju untuk mereka sendiri dan untuk orang tua mereka.
Disana banyak berbagai macam kaos mulai dari untuk anak-anak, remaja dan dewasa. Harganya juga beragam. Selain baju dan kaos, disana juga dijual aksesoris kerajinan seperti tas rajut.
“Ra kamu belikan buat bapak dan ibu juga ya..”, perintah Rian.
“Iya Mas..”
__ADS_1
Fira sibuk memilih beberapa pakaian untuk oleh-oleh, tak lupa untuk dirinya dan Rian memilih sarimbitan (couple) batik.
Setelah selesai berbelanja, mereka istirahat sebentar disana dan melaksanakan sholat dhuhur karena sudah masuk waktunya.
Di tempat tersebut ada beberapa patung icon yang berjejer, ada yang menggunakan baju jawa, baju tentara dan masih banyak lagi. Pengunjung yang ada disana beragam, salah satunya ada rombongan dari sebuah kantor yang disana akan didamping tour guide yang menjelaskan semua tempat yang ada disana.
Setelah dirasa cukup, mereka mencari tempat makan untuk makan siang,
“Kamu mau makan apa Ra ?”, tanya Rian
“Yang khas di jogja apa Mas ?”
“Gudeg..”
“Oke, itu aja nggak apa-apa Mas..”
Mereka kemudian menuju tempat makan yang ada menu Gudegnya. Selama Di Jogja mereka menggunakan transportasi online untuk bepergian.
Setelah sampai di rumah makan, mereka langsung memesan makanan dan memakannya dengan lahap. Mereka terlihat menikati makanannya karena dari tadi belum makan.
“Enak Ra ?” tanya Rian.
“Enak Mas..” jawab Fira dengan tersenyum.
Fira mengambil satu sendok nasi dan lauknya lalu menyuapkan pada Rian.
“Ehm.. enaknya.. makasih sayang..”, kata Rian yang gembira.
Fira tersipu malu mendengarnya. Setelah selesai makan mereka melanjutkan perjalanan ke pusat oleh-oleh Bakpia Pathok 25, salah satu makanan khas Jogja adalah Bakpia basah. Disana mereka membeli beberapa paket bakpia untuk oleh-oleh orang dirumah, mereka membeli bakpia yang baru matang dan kadaluarsanya masih lebih lama.
Selain membeli bakpia basah, mereka membeli beberapa bakpia kukus yang tokonya tidak terlalu jauh darisana.
Setelah selesai, mereka kembali ke hotel. Hari sudah sore ketika sampai. Mereka langsung sholat Ashar dan istirahat sebentar sambil menunggu waktu Maghrib.
Setelah sholat Maghrib mereka rebahan di kasur, Fira sambil menata oleh-oleh yang sudah dibeli di dalam koper.
“Nggak apa-apa Ra.. kapan lagi kita kesini..”, jawab Rian sambil sibuk dengan hp nya.
“Pantas aja kamu minta aku nyiapin koper lagi satu.. ternyata buat ini...”, kata Fira kemudian.
“Hehe..”, Rian yang mendengarnya langsung terkekeh.
Mereka berdua berencana pulang besok paginya, sehingga malam itu adalah malam terakhir di kota Jogja. Untu makan malamnya Rian memutuskan untuk pesan lewat ojek online karena mereka sudah capek seharian berkeliling. Sambil menunggu pesanan datang, Rian bersantai sambil menonton tv, sedangkan Fira sibuk merapikan barang mereka, sehingga besoknya mereka tinggal berangkat pulang.
15 menit kemudian pesanan datang, Rian turun ke lantai 1 untuk mengambil pesanan makanan. Setelah kembali, dilihatnya Fira sudah selesai merapikan barang.
“Yuk Ra.. kita makan dulu..”, ajak Rian.
“Iya Mas..”
Mereka berdua pun makan bersama, sambil makan mereka membicarakan perjalanan mereka selama di Jogja. Mereka terlihat senang bisa menghabiskan waktu bersama sebelum kembali ke rutinitas sehari-hari.
Setelah selesai makan malam mereka sholat isya berjamaah. Kemudian mereka rebahan di kasur sambil menonton tv. Rian menyandarkan kepalanya , sedangkan Fira menyandarkan kepalanya di bahu Rian.
“Mas makasih ya udah ajak aku kesini..” kata Fira kemudian.
“Sama-sama.. Mas senang bisa ajak kamu kesini..”
Fira tertawa dan memeluk suaminya dengan gemas.
“Ra.. kamu lagi goda Mas ?”, tanya Rian dengan berbisik.
“Enggak kok.. kata siapa..” jawab Fira dengan malu.
“Nah ini apa ? Meluk Mas erat gini..”
__ADS_1
“Fira pengen meluk Mas aja kok.. nggak boleh ya ?”
“Boleh kok sayang..”, kata Rian kemudian dikecupnya kening Fira.
“Kamu dari tadi pagi bikin aku gemes banget Ra..” lanjut Rian.
Rian lalu mencium kening Fira, turun ke hidung, ke Mata, turun ke Pipi, turun ke Bibir. Cukup lama mereka berciuman, Fira yang sebelumnya hanya bisa menikmati sekarang sudah bisa membalasnya. Hal itu membuat Rian bertambah gemas.
“Ra.. kamu sekarang jadi berani ya..”, kata Rian yang masih berbisik
Fira tambah malu mendengarnya.
Rian lalu mencium leher Fira dengan mesra, yang membuat Fira menggeliat karena terasa geli.
“Mas Rian.. geli tau...”, protes Fira.
Rian tidak menghiraukan perkataan Fira dan tetap melanjutkan aktivitasnya setelah melepaskan kacamata yang dari tadi dipakainya.
Mereka berdua bersikap seperti sedang bulan madu dan sama-sama menikmatinya. Rian masih melanjutkan aktivitasnya, Fira tau Rian sedang menuntut lebih. Fira menerimanya dengan senang hati karena dia memang menginginkannya. Mereka berdua menikmati waktu bersama dengan penuh rasa cinta di malam terakhir di Jogja dan langsung tidur.
Pagi harinya Rian bangun duluan di pukul 04.30, dilihatnya Fira masih tertidur pulas memeluknya. Rian memandang istrinya lekat-lekat. Fira tampak manis ketika sedang tidur, itu yang difikirkan oleh Rian. Dikecupnya kening Fira dan membuatnya bangun.
“Ehm, mas Rian.. udah bangun ?”, tanya Fira yang mulai bangun.
“Udah.. yuk mandi Ra..”, ajak Rian sambil menyibakkan rambut Fira.
Fira masih setengah sadar, Rian lalu bangun dan menggendong Fira, dan membuat Fira kaget.
“Mas Rian mau ngapain ?”, tanya Fira.
“Yuk mandi bareng terus sholat..”, ajak Rian yang tersenyum misterius.
“Hm, lama pasti kalau sama mas Rian.. enggak ah aku mandi sendirimm”, berontak Fira.
“Nggak lama kok Ra.. yuk..”
Tanpa mendengarkan Fira, Rian langsung membawa istrinya ke kamar mandi, dan mereka mandi bersama.
Pukul 07.00 mereka keluar kamar untuk sarapan di hotel sedangkan barang-barang mereka ditinggal di hotel. Setelah selesai sarapan, mereka kembali lagi ke kamar untuk mengambil barang.
“Udah nggak ada yang ketinggalan ?”, tanya Rian sambil memastikan tidak ada yang ketinggalan.
“Udah Mas.. semuanya udah aku masukin ke koper..”
“Yuk kita ke bandara..”
Mereka pun check out dari hotel dan menuju ke bandara. Jadwal penerbangannya pada pukul 12.00 siang, mereka sengaja datang lebih awal supaya tidak telat.
Sambil menunggu jadwal penerbangan mereka menunggu di lounge maskapai sambil bersantai. Mereka mengobrol tentang kuliah Fira yang minggu depan sudah masuk semester 4.
“Ra semester depan matakuliah kamu tiap hari masih padat nggak ?”, tanya Rian.
“Masih Mas.. banyak matakuliah nya dan mulai penjurusan” jawab Fira.
Penjurusan adalah pilihan matakuliah sesuai program studinya, mahasiswa bisa memilih beberapa matakuliah sesuai penjurusannya.
“Hmm.. baiklah.. berarti kamu harus belajar lebih rajin ya.. untungnya kamu udah aku suruh berhenti magang.. tau kan matakuliah kamu padet gitu, tetep aja mau magang..”, tutur Rian.
“Hehe iya deh Mas.. maaf deh aku salah..” fira baru sadar juga, jika dia magang dia tidak akan bisa membagi waktunya sedangkan jadwal kuliahnya masih padat.
Rian mengacak-acak kepala Fira yang tertutup jilbabnya karena gemas.
“Mas Rian udah.. jadi berantakan nih jilbabku...” protes Fira.
Rian hanya tertawa melihat tingkah Fira.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa jam, waktu berangkat pesawat sebentar lagi, mereka masuk ke pesawat dan bersiap berangkat pulang.
“Bye bye Jogja.. lain waktu semoga bisa kesini lagi..”, kata Fira dalam hati. Di jogja memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi mereka, meskipun Cuma sebentar dan hanya bisa mengunjungi beberapa tempat.