
Sepulang dari Yogyakarta, di apartemen Rian dan Fira beristirahat karena perjalanan yang melelahkan. Mereka sampai di surabaya pada sore hari. Malamnya Fira akan bersih-bersih rumah tapi di cegah oleh Rian.
“Mau ngapain Ra ?”, tanya Rian yang melihat Fira sibuk merapikan kamar.
“Mau bersih-bersih Mas.. udah kita tinggal 3 hari harus dibersihkan dan ditata lagi”
“Biar Mas yang bersihin, kamu siapin makan aja, Mas udah lapar..”, perintah Rian.
“Baiklah.. aku ke dapur dulu Mas..”
Rian mengangguk dan Fira segera ke dapur mempersiapkan makan malam untuk mereka berdua. Sedangkan Rian menata dan membersihkan kamar mereka, ruang nonton tv dan ruang kerja. Satu jam kemudian dia selesai. Fira yang sudah selesai memasak segera ke kamar untuk mengajak suaminya makan malam.
“Mas, yuk makan.. udah aku siapin..”, ajak Fira.
Rian yang rebahan di kasur karena lelah, perlahan bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur. Fira mendekat dan mengusap rambut Rian,
“Ayuk Mas.. habis itu istirahat..”
Rian tersenyum, dia lalu bangkit dan merangkul istrinya berjalan keluar kamar. Mereka makan bersama dengan lauk seadanya di kulkas, karena belum sempat belanja.
“Mas maaf ya adanya Cuma ini..”, kata Fira memelas.
“Iya nggak apa-apa Ra.. lagian kita kan belum belanja, capek juga baru datang..”
Setelah selesai makan, mereka beristirahat karena sangat capek. Ternyata tidur di rumah sendiri lebih nyaman dibanding tempat lain.
Beberapa hari kemudian, Fira sudah mulai masuk kuliah. Pagi hari nya dia sudah selesai menyiapkan sarapan untuk dia dan suaminya. Diajaklah suaminya untuk makan bersama.
“Hari ini kamu masuk jam pertama kan Ra ?”, tanya Rian disela-sela makan.
“Iya Mas.. hari ini full di kampus aku..”
“Yaudah nanti aku antar, sekalian aku mau ke kampus juga, mau bimbingan yang terakhir..”
“Kapan sidangnya ?”
“Insyaallah 2 minggu lagi Ra.. doakan kali ini nggak ada revisi lagi..”
“Iya Mas.. semoga nggak ada revisi lagi yaa...”
“Aamiin...”
Setelah selesai sarapan dan mencuci peralatan makan, Fira diantar Rian ke kampus. Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi, suasana jalan di kota sangat ramai. Jam matakuliah pertama Fira dimulai pada pukul 08.00, perjalanan dari apartemen ke kampus Fira memakan waktu 30 menit.
Rian mengantar Fira sampai depan gedung fakultasnya, tak lupa sebelum turun dari mobil Fira salim dengan suaminya dan keningnya di cium oleh Rian.
“Aku kuliah dulu Mas, Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikum salam.. jangan nakal Ra..” kata Rian sambil tersenyum.
“Iya Mas.. siap..”
Fira segera masuk ke gedung sebelum banyak yang melihatnya, dia akan malu jika diperhatikan oleh banyak orang. Sementara Rian langsung menuju ke kampusnya.
Sampai di ruang kelas, sudah ada beberapa orang yang sudah datang, termasuk Icha dan Randi. Ternyata Randi juga selesai dengan magangnya, dia magang hanya satu bulan.
“Cie pengantin baru...”, sahut teman satu kelas Fira.
“Ehm ehm.. udah nggak jomblo lagi nih..” sahut mahasiswa yang lain.
Fira jadi malu sendiri dan segera menuju ke kursi sebelah Icha. Dia menutupi wajahnya dengan tas karena sangat malu.
“Udah udah.. malu tuh dia..” Randi akhirnya angkat bicara.
Teman-temannya pun diam tapi masih menggoda Fira. Uh malu nya... batin Fira
Dia mencoba memberanikan diri mengangkat wajahnya dan bersikap biasa. Sementara Icha tertawa sendiri melihat tingkah temannya itu.
“Ehm, oleh-olehnya mana ?” tanya Icha sambil menadahkan tangannya di depan Fira.
“Hm, kamu baru masuk juga udah tanya oleh-oleh aja.. nanti dulu..”, jawab Fira dengan tersenyum licik.
“Huh, baiklah aku akan menunggu..”
Tepat jam 08.00 matakuliah pertama di mulai. Semua mahasiswa tampak bersemangat mendengarkan penjelasan materi dari dosen, termasuk Fira. Dia sibuk mencatat apa saja yang dijelaskan oleh dosennya, bagi Fira tanpa mencatat dia tidak akan bisa ingat apa yang sudah dijelaskan oleh dosennya.
__ADS_1
Sementara dilain tempat Fira menemui dosen pembimbingnya untuk menyerahkan laporan skripsi Bab V, dosen pembimbing sedang mengoreksinya dan Rian harap-harap cemas, apakah dia bisa maju sidang skripsi dua minggu lagi atau tidak.
Setelah beberapa saat, dosen pembimbing Rian tampak tersenyum dan menyerahkan kembali draft laporan tersebut ke Rian.
“Oke sudah bagus, kamu susun jadi satu ya, ada beberapa yang masih typo kamu perbaiki..” terang dosen pembimbing tersebut.
“Apa saya bisa ikut sidang 2 minggu lagi pak ?”, tanya Rian memastikan.
“Iya, kamu bisa ikut. Asalkan sudah kamu perbaiki revisi dari saya ini..”
Rian tampak lega akhirnya dia bisa ikut sidang skripsi.
“Alhamdulillah, terimakasih pak..” kata Rian sambil menjabat tangan dosennya.
“Sama-sama Rian” dosen tersebut juga ikut senang anak bimbingannya sudah bisa ikut sidang skripsi.
Setelah selesai dengan dosen pembimbingnya, Rian segera keluar ruangan dan pergi ke perpustakaan untuk menyelesaikan revisi dari dosennya. Disana dia bertemu dengan teman-temannya yang sedang mengerjakan skripsi juga, sehingga Rian tidak sendirian.
Siang harinya jam kuliah Fira ada jeda makan siang sebelum satu matakuliah lagi pukul 14.00, waktu itu dimanfaatkan Fira dan teman-temannya untuk Ishoma. Setelah sholat dhuhur, Icha mengajak Fira untuk makan siang di tempat mereka biasa makan siang, yaitu warung penyetan di belakang kampus. Fira di bonceng Icha kesana. Saat makan, Fira memberikan oleh-oleh untuk Icha berupa gantungan kunci dan bakpia yang dibelinya. Icha tampak senang meskipun itu hadiah yang sangat sederhana.
“Makasih ya Ra.. sering-sering aja.. hehehe..”, canda Icha.
“Hm.. maunya tuh..”
Mereka berdua tertawa bersama. Setelah selesai makan, mereka kembali ke kampus untuk matakuliah selanjutnya.
Sesampainya di kelas teman-teman Fira tampak ramai membicarakan sesuatu.
“Ada apa sih mereka ?”, tanya Fira pada Randi yang sudah ada di kelas.
“Itu Ra.. Mas Adi tadi kesini nyariin kamu..”, jawab Randi yang tiba-tiba tidak bersemangat.
“Ada apa ya.. kok nggak Whatsapp aku aja langsung..”
Randi hanya mengangkat bahunya dengan tidak bersemangat. Adi adalah kakak tingkat Fira sekarang semester 6 yang juga salah satu ketua devisi Humas di Himpunan Mahasiswa Prodi. Fira yang juga anggota di devisi tersebut sering berkomunikasi membahas program kerja mereka.
“Coba nanti hubungi aja Ra.. mungkin ada yang penting..”, saran Icha
“Iya coba nangi aku hubungi..”
Matakuliah terakhir di hari itu berjalan dengan lancar, Icha mengajak Fira ke cafe tempat Irfan bekerja.
“Ra.. ke cafe yuk...” ajak Icha
“Tumben Cha.. aku nggak tau Mas ku lagi kerja apa nggak jam sekarang..”
“Aku udah mastiin kok, sekarang mas Irfan lagi kerja..”, jawab Icha dengan semangat
Fira membatin, “ada apa ini anak semangat sekali..”
Akhirnya Fira setuju, dan mereka langsung keluar dari kelas dan menuju kesana. Sayangnya Randi tidak ikut karena ada kegiatan lain. Mas Adi yang baru masuk ke kelas tidak bisa bertemu dengan Fira lagi karena sudah keluar barusan.
“Ada apa Mas ? Kalau ada pesan nanti saya sampaikan..”, tanya Randi yang masih di kelas.
“Oh nggak.. ada hal yang mau aku sampaikan tentang proker.. sekarang dimana dia ?”, tanya mas Adi.
“Dia ke cafe belakang kampus Mas..”
“Oke makasih Ran .”
Dia segera keluar dari gedung dan hendak menyusul ke cafe. Randi menatap seniornya itu dengan tatapan aneh. Mencurigakan.
Sementara itu, sesampai Icha dan Fira di cafe, mereka langsung memilih tempat duduk yang enak setelah sebelumnya memesan snack dan minuman. Tak lama pesanan mereka sudah diantar oleh Irfan.
“Duh yang baru jalan-jalan.. mana oleh-oleh buatku ?” goda Irfan.
“Hehe ini tadi dadakan Mas kesini.. nanti kalau ketemu lagi aku bawain..”
“Beneran lho ya.. jangan sampai lupa..” ancam Irfan.
“Nih silahkan dinikmati.. akhir-akhir ini Icha sering kesini..” lanjut Irfan.
Fira langsung memandang ke arah Icha, dilihatnya Icha tampak malu-malu. Hal itu membuat Fira makin penasaran.
“Beneran Cha ?”
__ADS_1
“Iya Ra.. emang nggak boleh ya ?” tanya Icha kembali yang tampak sedikit malu.
“Ya nggak apa-apa sih..”
“Sering-sering kesini nggak apa-apa Cha.. biar rame terus disini hehe..”, canda Irfan.
Meŕeka pun tertawa bersama.
“Yaudah aku lanjut kerja, kalian santai aja ya disini..”
Irfan lalu kembali ke tempatnya, kedatangan Fira dan Icha sudah mulai biasa disana. Pemilik cafe yang juga akrab dengan Irfan pun mulai hafal dengan mereka. Icha dan Fira sangat diterima baik disana.
Fira lanjut mengobrol dengan Icha. Mereka membahas tentang liburan Fira kemarin di Yogyakarta. Icha sangat antusias mendengarkan.
“Enak nya ya punya suami yang terkenal gitu hehehe...”, goda Icha.
“Tapi juga melatih kesabaran Cha..”
“Iya juga sih.. mas Rian kan tampan apalagi banyak fans nya..”
Fira mengangguk setuju dia tidak memungkiri jika dia sangat cemburu tentang itu. Icha juga bisa memakluminya, temannya itu harus melatih kesabarannya. Dia tidak bisa membayangkan ketika melihat ekspresi Fira yang sedang cemburu pasti sangat lucu.
“Cha.. apa yang kamu ketawain ?”, tanya Fira yang melihat Icha tertawa sendiri.
“Hehe nggak Ra.. lagi bayangin aja gimana kamu pas cemburu..”
“Ih sebelkan jadinya..”
Tiba-tiba hp Fira berbunyi ternyata panggilan dari Rian.
“Nah yang diomongin telfon itu..” goda Icha lagi.
Tanpa menjawab godaan Icha, Fira langsung mengangkat telfonnya.
“Halo Assalamu’alaikum..” sapa Rian.
“Wa’alaikum salam Mas Rian..”
“Lagi dimana Ra ?” tanya Rian.
“Ini di cafe biasa Mas.. Icha ngajak kesini..”
“Oh gitu.. kamu mau aku jemput jam berapa ?”, tanya Rian.
“Nanti habis maghrib sekalian aja ya mas..”
“Oke kalau gitu..”
“Mas Rian sekarang dimana ?”
“Aku di kantor ini.. nanti aku kesana habis maghrib ya..”
“Iya Mas..”
“Yaudah, Assalamu’alaikum..”
“”Wa’alaikum salam..”
Setelah menutup telfon, Fira berbicang-bincang lagi dengan Icha.
“Di jemput habis Maghrib Ra ?”, tanya Icha.
“Iya Cha hehe..”
“Duh sekarang antar jemput nih ceritanya..”
“Nggak sering kok Cha.. hehe..”
Mereka menghabiskan waktu disana sambil mengobrol dan mengerjakan tugas yang sudah diberikan oleh dosen saat matakuliah tadi.
“Duh baru aja masuk udah dikasih tugas..” keluh Icha.
“Hehe namanya juga mahasiswa Cha..”
Saat mereka sibuk dengan tugas, tiba-tiba datang senior Fira dan Icha, yaitu mas Adi. Fira dan Icha tidak habis fikir kenapa senior tersebut sampai mencari mereka.
__ADS_1