Fira dan Rian

Fira dan Rian
Rian Wisuda


__ADS_3

Fira dan Rian menjalankan aktivitas seperti biasanya kuliah, kerja, pulang. Lambat laun teman-teman Fira di kampus mengetaui jika Fira sudah menikah. Hal itu membuat beberapa orang patah hati dan menyesalkan diri karena tidak sempat mengutarakan perasaannya, diantaranya Randi dan senior mereka yaitu mas Adi.


Meskipun begitu, mereka masih bersikap biasa pada Fira sebagai teman karena setiap hari berjumpa dan berinteraksi. Sedangkan Fira yang tidak mengetahuinya tetap bersikap ramah dan sopan pada semua temannya. Hal itu yang membuat Fira mendapatkan banyak teman.


Ada satu hal lagi yang membuat Fira terkejut, ternyata akhir-akhir ini kakak sepupunya yaitu Irfan mulai dekat dengan Icha. Ternyata mereka dekat sejak Icha sering ke cafe tempat Irfan bekerja. Fira pun ikut senang mendengarnya. Pada suatu kesempatan dia bertemu dengan Irfan di masjid kampus dan mencoba bertanya tentang kedekatannya dengan Icha.


“Mas.. benar ya lagi dekat sama Icha ?”, tanya Fira tanpa basa basi.


Irfan langsung kaget mendengar Fira yang ternyata sudah tahu.


“Kamu tahu dari mana dek ?”, tanya irfan yang sedikit salah tingkah.


“Dari Icha lah.. aku paksa cerita soalnya dia keliatan senang banget waktu aku bicarain kamu Mas..”


Irfan mengangguk, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Jangan bilang siapa-siapa dulu ya dek..” pinta irfan.


“Mas pacaran ?”


“Ya enggak lah dek.. kan nggak boleh pacaran..”


“Terus ?”


“Nanti kalau udah mapan Mas rencana buat melamar dia..”


Fira bernafas lega, dia takut jika kakak sepupunya itu pacaran, secara dia tahu jika ilmu agama kakak sepupunya itu baik dan tidak mungkin mau pacaran.


“Alhamdulillah... Aku dukung Mas.. Icha juga baik, sholeha..”


“Iya dek.. aku tau..”


Sambil Fira menunggu dijemput Rian, Mereka lanjut berbincang-bincang mengenai keluarga, Irfan berencana pulang pada akhir bulan itu, Fira yang sudah lama tidak pulang juga kangen, dia berencana mengajak suaminya berkunjung ke kampung jika Rian mau.


“Wah, coba ajak Rian dek, nanti Mas nebeng pulang nya.. hehehe..”


“Yaah.. kan sudah aku duga, iya deh nanti aku coba ajak mas Rian..”


“Nggak boleh nih ? kayaknya nggak ikhlas gitu..” tanya Irfan memastikan dengan nada bercandanya.


“Eh boleh kok mas ku.. lagian mending bareng aja daripada Mas capek motoran kesana..”


“Hehe iya iya makasih dek..”


“Oh iya Rian sidang kapan ? katanya habis sidang skripsi..” tanya Irfan yang ingat jika Fira pernah bercerita jika suaminya akan sidang skripsi.


“Minggu depan Mas..”


“Wah cepat nya.. “


“Mas Irfan tahun depan kan ?”


“Aamiin.. doakan ya Ra..”


“Iya Mas.. “


Beberapa saat kemudian Rian muncul, dia melihat Fira dan Irfan sedang berbincang dan langsung menghampirinya. Suasana di masjid cukup ramai, banyak mahasiswa yang habis sholat dan ada yang berdiskusi, sehingga Irfan dan Fira tidak sendirian. Rian langsung menyalami Irfan dan duduk disebelahnya.


“Udah dari tadi Mas ?” tanya Rian.


“Iya, kebetulan ini ketemu Fira katanya lagi nungguin kamu jadi sekalian aku ngobrol sama dia..” jawab Irfan dengan ramah.


“Udah selesai semua mas revisi dari dosen ?” tanya Fira.


“Alhamdulillah udah.. tinggal sidangnya aja..” jawab Rian.


Rian terlihat capek karena seharian di kampus dan merevisi laporannya untuk persiapan sidangnya minggu depan. Fira yang melihatnya langsung memberikan air minum yang dibawanya, Rian yang menerimanya tersenyum dan meminumnya. Sementara Irfan hanya senyum-senyum sendiri melihat mereka.


“Ehm, jangan lupa masih ada aku yaa..” goda Irfan.


Fira dan Rian pun tersenyum mendengar itu.


Beberapa hari kemudian sidang skripsi Rian dilaksanakan, dia tampak sedikit gugup menunggu gilirannya. Meskipun dia sudah sering menjadi pemateri di banyak seminar tapi berbeda dengan sidang karena itu menyangkut lulus atau tidaknya dia. Fira yang baru bisa datang saat giliran Rian sudah selesai pun sedih karena tidak bisa menemani suaminya. Saat giliran Rian, dia mencoba menenangkan diri supaya tidak gugup saat presentasi, dan Alhamdulillah presentasinya berjalan dengan lancar, dan revisi yang harus dia kerjakan tidak banyak. Saat keluar ruangan dia tersenyum lega, dilihatnya teman-temannya yang menunggu giliran masih sibuk membaca salinan, menghafal untuk presentasinya.


Diluar gedung ternyata Fira sudah menunggu, dia ditemani Icha karena takut jika harus sendirian ke kampus Rian. Rian tersenyum melihat istrinya yang membawa bucket snack, beda dari yang lain. Fira berfikir jika memberikan bunga karena hal itu sudah biasa, oleh karena itu dia membawakan suaminya bucket yang berisi snack ringan sehingga bisa langsung dimakan. Meskipun sederhana, Rian suka dengan itu.


“Wah selamat ya mas Rian.. akhirnya tinggal wisudanya ya..” ucap Icha yang ikut gembira.


“Makasih ya Cha.. kamu juga cepat nyusul..”

__ADS_1


“Aamiin tapi masih lama mas hehe..”


Mereka pergi ke sisi samping gedung karena akan lebih leluasa dibandingkan di dalam gedung.


“Mas Rian selamat yaa..” ucap Fira memberi selamat.


“Iya makasih Ra..” balas Rian sambil mengusap kepala Fira.


“Ehm, jangan lupa aku masih disini ya..” ucap Icha yang malu sendiri melihat tingkah Fira dan suaminya.


Rian sangat populer, banyak teman dan adik tingkat yang memberikan selamat padanya dan memberikan banyak souvenir sampai dia kualahan. Dia berfikir jika sidang saja sudah seperti itu bagaimana nanti waktu wisuda.


Fira dan Icha sampai membantunya membawakan hadiah yang didapatnya. Fira juga dibuat cemburu karena banyak teman Rian perempuan yang mendekatinya. Sementara Rian sendiri tidak sempat mengenalkan Fira pada teman-temannya.


Fira dan Icha akhirnya sedikit menjauh karena Rian dikerumuni banyak orang.


“Duh capeknya punya suami populer..” goda Icha.


“Hmm..”


“Cie dicuekin.. sabar ya Ra.. hehe”


“Hm, ya mau gimana lagi Cha.. harus sabar..” jawab Fira dengan sedikit kesal.


Beberapa saat kemudian Rian datang, dia merasa bersalah meninggalkan Fira dan Icha.


“Maaf ya udah ninggalun kalian..” kata Rian yang datang sambil membawa beberapa hadiah dari temannya.


“Nggak apa-apa Mas.. tapi ada yang cemburu tuh...” kata Icha yang menggoda mereka.


“Icha kamu ngomong apa sih.. siapa juga yang cemburu..” bantah Fira.


“Hmm.. gitu ya...” Rian tersenyum misterius.


“Udah yuk pulang..” ajak Fira.


Icha dan Rian pun tertawa, mereka kemudian menuju ke mobil Rian. Icha membantu membawakan hadiah Rian kemudian ke parkiran motor untuk mengambil motornya dan pulang. Sementara Fira pulang bersama Rian.


Selama perjalanan Fira tampak dian sambil menatap pemandangan diluar. Rian yang melihat tingkah Fira jadi gemas sendiri.


“Masih marah Ra ?” tanya Rian memulai percakapan.


“Mas minta maaf deh, aku nggak bermaksud cuekin kamu tadi.. teman-temanku langsung datang gitu aja tadi..” jelas Rian.


Fira berfikir sejenak, memang suaminya populer dan harusnya dia tau itu. Tapi tetap saja dia merasa cemburu jika ada perempuan lain yang dekat dengan suaminya.


Fira menghembuskan nafas panjang, dan berfikir untuk melupakannya, karena dia tau suaminya akan selamanya bersamanya.


“Iya deh aku maafin, tapi lain kali jangan gitu lagi ya..” kata Fira kemudian.


“Iya Ra.. janji deh..” Rian tersenyum senang dan mencupit pelan pipi Fira.


Selama beberapa hari selanjutnya Rian merevisi laporannya untuk di cetak dan dibuat jurnal sebagai salah satu syarat untuk ikut wisuda. Fira membantu sebisanya seperti membuatkan camilan dan kopi untuknya saat mengerjakan revisi serta menemani suaminya begadang. Saat sebelum wisuda Rian tidak pergi ke kantor atas permintaan ayahnya untuk tetap fokus menyelesaikan pendidikannya.


Tidak terasa hari wisuda pun tiba. Fira dan kedua orang tua Rian turut hadir, tidak lupa Icha daan Irfan juga turut hadir untuk mengucapkan selamat.


Setelah acara selesai acara, diluar gedung Rian sudah disambut oleh Fira dan yang lainnya.


“Mas Rian selamat ya atas wisudanya..” ucap Fira memberi selamat.


“Iya makasih ya istriku...” jawab Rian yang tertawa bahagia.


Rian langsung merangkul Fira karena senang. Tak lupa Irfan dan Icha memberi selamat.


“Rian selamat ya atas wisudanya, semoga ilmunya bermanfaat di masyarakat luas..” ucap Irfan.


“Wah makasih mas.. Aamiin.. makasih udah mau datang kesini..”


“Mas Rian selamat yaa... aku ikut senang...” ucap Icha kemudian.


Kedua orang tua Rian ikut senang karena anaknya sudah wisuda, mereka tidak bisa berlama-lama karena pak Fikri ada acara, sehingga tidak bisa pulang bersama. Setelah berfoto bersama mereka pun pulang.


Rian masih sibuk dengan teman-temannya yang datang memberikan selamat, tidak terkecuali Rere yang juga datang.


“Rian selamat ya atas wisudanya.. aku ikut senang..” ucap Rere.


“Makasih banyak ya Re...” ucap Rian dengan ramah.


Rere melirik ke samping Rian ada Fira, dia yang masih belum tau jika mereka sudah menikah pun jadi tidak senang.

__ADS_1


“Eh ada mbak Fira, kok ada disini ?” tanya Rere.


“Iya mbak..” jawab Fira singkat.


“Kalian deket banget..” ucap Rere yang tidak suka.


“Iya soalnya dia kan istriku..” jawab Rian singkat.


Rere langsung kaget mendengarnya, dia tidak percaya jika mereka sudah menikah.


“Kamu beneran Yan sudah menikah sama dia ?” tanya Rere sambil menunjuk kearah Fira.


Rian hanya menjawabnya dengan mengangguk, dan Fira tersenyum kecil. Dia akhirnya tidak kebetatan bila dikenalkan sebagai istri Rian, karena dia ingin semua tau dan perempuan lain tidak mendekati Rian lagi.


Teman-teman Rian yang masih disitu pun mendengarnya dan ikut terkejut, mereka tidak mengetahui jika Rian sudah menikah.


“Sejak kapan ?” tanya Rere memastikan.


“Sekitar 3 bulan yang lalu..” jawab Rian.


Rere tampak berfikir, dia mulai faham ternyata mereka sudah menikah sejak Fira habis kecelakaan. Dia merasa sudah tidak ada harapan lagi, meskipun dia sangat kecewa.


“Oh gitu ternyata.. kalau gitu selamat ya.. semoga kalian langgeng..” kata Rere sambil tersenyum kecil.


“Makasih mbak..” kata Fira sambil tersenyum.


Rere kemudian pamit pulang dengan sedih setelah mendengar hal yang sebenarnya. Sementara Rian masih di kerumuni teman-temannya.


Irfan dan Icha masih disana menemani Fira selagi Rian bersama dengan temannya.


“Wah populer juga ya Rian..” ucap Irfan.


“Iya ini mah lebih wow dari waktu sidang kemarin..” timpal Icha.


Fira tersenyum kecil, dia tetap merasa cemburu tapi dia tutupi karena memang dia juga tidak bisa melarang Rian untuk dekat dengan perempuan lain.


“Oh iya mas Irfan sama Icha nanti ikut makan kita ya buat syukurannya mas Rian..” ajak Fira.


“Oh siap dong, habis ini kan ?” Irfan langsung bersemangat.


“Iya mas.. duh senang nya..” canda Fira.


Irfan hanya tertawa kecil lalu di tegur oleh Icha, yang kemudian berhasil membuat Irfan salah tingkah.


“Ehm duh cepat dihalalin mas Irfan janga lama-lama.. nanti diambil orang..” kata Fira dengab tersenyu misterius.


“Hehe.. sabar dulu Ra.. ya nggak Cha ?”


“Iya Mas.. aku sih santai aja.. lagian kita belun selesai kuliahnya..” terang Icha.


Fira hanya manggut-manggut mendengar penjeladan mereka, dia berharap kakak sepupu dan sahabanya itu segera menikah.


Dilain pihak Rian masih dikerumuni teman-temannya.


“Selamat ya mas Rian wisudanya.. semoga ilmunya bermanfaat..” kata salah satu adik kelas Rian.


“Makasih banyak ya..” jawab Rian dengan ramah.


Rian termasuk lulusan terbaik di universitas, karena kepintarannya dan jiwa aktivisnya sehingga dia punya banyak teman dan kenalan. Teman Rian tidak hanya dari kampusnya tapi dari beda kampus dan teman di perusahaannya. Rian sampai kualahan, dia sedih tidak bisa bersama dengan Fira langsung.


“Mas Rian beneran sudah menikah ?” tanya salah satu adik kelas perempuan.


“Iya dek..” jawab Rian.


“Yaah.. kita nggak ada kesempatan lagi dong..” lanjut adik kelas Rian.


Rian hanya tersenyum dan tidak menanggapinya. Setelah selesai dia bergabung lagi dengan Fira dan yang lainnya. Fira yang melihat suaminya membawa banyak hadiah pun terheran-heran.


“Banyak nya mas..”


“Iya.. kan udah aku bilang waktu wisuda pasti lebih banyak..” kata Rian santai.


Setelah beberapa saat mereka keluar dari kampus menuju tempat makan untuk makan siang. Rian mengajak Irfan dan Icha untuk ikut serta.


Sambil makan mereka berbincang banyak hal sambil bercanda, kebanyakan Irfan yang membuat candaan sehingga semuanya tertawa. Tiba-tiba Rian bertanya serius


“Oh iya bagaimana ceritanya kalian bisa dekat ? “ tanya Rian pada Irfan dan Icha.


Fira yang dari tadi makan langsung tertarik untuk menyimak jawaban dari Irfan dan Icha. Keduanya masih malu, tapi akhirnya mereka buka suara dan menjelaskan awal mula mereka bisa dekat..

__ADS_1


__ADS_2