
Gelap, sunyi, aku tidak bisa merasakan apa-apa.
Aku seperti berada di ruang hampa.
Disini sangat tenang, tidak ada suara sedikitpun. Bahkan sepertinya aku mulai menyukai tempat ini, tapi perlahan membuatku stres saat memikirkan dimana aku berada sekarang ini.
Aku mencoba menggerakan kaki dan tanganku yang bahkan, aku sendiri tidak tau dimana anggota tubuhku berada.
Seiring berjalannya waktu, diriku mulai panik dan berusaha berteriak. Namun sayang, mulutku tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Sungguh, jika kau memikirkan tempat gelap, mungkin tempat ini adalah definisi kegelapan yang sesungguhnya.
Aku meronta dalam gelap berharap ini ilusi, dan akan segera berakhir.
Beberapa lama setelah aku memikirkan itu, muncul cahaya menyilaukan tidak jauh dari tempatku sekarang.
Entah bagaimana, tubuhku bergerak sendiri mengarah ke cahaya dengan sangat cepat.
Pandangan yang tadinya gelap gulita seperti ada di ruang hampa, berubah menyilaukan seakan senter terang ada tepat di depanmu.
Tubuhku terlempar dan terjatuh di tanah.
"Tunggu, ini bukan tekstur tanah."
Dengan pandanganku yang mulai pulih, aku dapat melihat dengan sedikit lebih jelas. Ternyata yang ada di bawahku adalah rerumputan hijau.
"Hoah....! Apa yang barusan terjadi!"
Beberapa detik setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba sesuatu terjatuh dan menimpaku.
Itu adalah tubuh seorang gadis yang aku kenal.
Aku yang terjatuh, berusaha menyingkirkan daging bergerak itu dan berusaha bangkit secepatnya.
__ADS_1
"Haaah...! Dasar mata panda jelek! Apa yang telah kau berbuat!"
"Aku...!? Kenapa kau menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri? Sebenarnya aku meragukan keberadaan otakmu."
"Beraninya kau bicara seperti itu kepadaku! Liat saja, akan aku hancurkan hidupmu dengan satu panggilan telfon."
Seseorang yang terlihat histeris ada di samping ku.
Dia lalu merogoh sakunya, dan mengambil Hp. Dia seperti berusaha menelpon seseorang tapi tidak tersambung.
"Hah, dimana kita!? Telfon genggamku tidak mendapatkan sinyal sedikitpun!"
Dia berpenampilan mempesona, cantik seperti seorang idol meskipun dia sedang memakai seragam Sekolah.
Rambut hitam keungu-an lurus dan dikuncir satu ke belakang.
Tubuh yang ramping, dan dada yang tak terlalu besar.
Tapi aku tidak punya waktu untuk meladeni kepanikannya itu.
Sama sepertinya, aku mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Kejadian yang sangat mendadak. Padahal beberapa menit lalu aku ada di perpustakaan.
Tapi dengan sekelebat cahaya, aku tiba-tiba berpindah ke hutan yang sangat lebat.
Tunggu, apa aku berhayal?
Tapi rumput ini terasa sangat nyata saat aku merabanya.
Lalu, fenomena apa yang sedang terjadi kepadaku dan orang yang sedang panik di dekatku ini.
Aku memikirkan apa yang terjadi sebelumnya...
__ADS_1
.
.
.
"Huaaaaa!! Mata panda bagaimana ini!"
Gadis itu menggoyang-goyangkan pundakku dengan ekspresi seperti orang yang hampir ingin menangis.
"Diam! Aku baru saja mencoba mengingat tapi kau malah mengacaukan konsentrasiku."
"Huh huh, aku pasti sedang bermimpi. Saat aku mencubit diriku, aku akan terbangun di kamar tidurku, benar begitu. Yang harus ku lakukan hanyalah..."
Aku melihatnya mencubiti diri sendiri dengan berharap ini adalah mimpi. Cupu, sungguh gadis yang cupu.
"Ssaaakiiiit...!"
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Hey Mata panda, aku ingin kau mencubit diriku!"
"Kau yakin?"
"Hump" Dia menyodorkan tangannya kepadaku.
"Baiklah, ini akan cepat, dan tidak menyakitkan."
"Tungg–"
Aku yang pernah bergelar orang dengan cubitan tersakit saat masih SD ini, membuat seorang gadis menangis.
......※......
__ADS_1