
Beberapa hari setelah aku dihajar oleh Geng Erena Lovers.
Hari ini adalah hari libur, dan aku berencana pergi keperpustakaan kota untuk mencari cerita novel ringan.
"Hah, aku rasa aku berangkat terlalu pagi."
Jam di hp ku menunjukan waktu 09:30.
Sesampainya aku di perpustakaan...
"Selamat datang..!"
Seperti biasa, nona pustakawan menyapa pengunjung setia perpustakaan sepertiku.
"Rina, ini sudah awal bulan kan? Apa ada buku baru menarik lainnya?"
"Tentu saja Junma. Aku khususkan buku ini untukmu sebagai pecinta novel ringan. Oh! Itu ada di rak F3 ya."
"Makasih Rina."
Setelah mengucapkan terimakasih, aku berjalan menuju tempat di mana zona novel ringan ada di sana.
Kau tau, perpustakaan seperti ini sungguh membuat otakku menjadi sangat rileks. Apalagi stres ku bertambah akhir-akhir ini.
Jadi kesini setiap minggu, membuatku bertahan dari keseharian menyebalkanku di sekolah.
Aku akan membaca beberapa buku disini, dan akan meminjam buku yang belum sempat ku baca.
Seharusnya itulah yang terjadi.
"Hoah...!" 2X
"Apa yang di lakukan manusia mesum bermata panda sepertimu ditempat ini!?"
Itu adalah si pengacau kehidupan, Erena Yuki.
Tapi kenapa dia memakai seragam sekolah?
"Kau pikir untuk apa seseorang pergi keperpustakaan hah? Dan juga, jangan panggil aku seperti itu!"
Kenapa aku bertemu dengannya ditempat suci ini?
Ya tuhan, hanya ini satu-satunya tempatku untuk mereset stress.
Aku berjalan dengan terpaksa ke arahnya. Bukan karena aku ingin mengobrol dengannya, tapi di sanalah tempat buku-buku baru itu ditaruh.
Sekarang aku dan Erena hanya berjarak beberapa meter.
"Jangan-jangan... kau membuntutiku karena ingin membalas dendam tentang apa yang aku lakuin di sekolah kan!?"
"Baiklah ada panggilan baru untukmu, itu adalah si stalker mesum bermata panda!"
Note : Stalker(Penguntit)
Dia berkata seperti itu sambil menjauh dari ku dengan tatapan seperti wanita yang akan di lecehkan.
"Kau ini,,, jangan berbicara terlalu keras dasar cewek idiot! Ini perpustakaan!"
"EKHEEEM....!!"
Suara berdehem Rina membuatku menutup rapat mulutku. Meski aku sudah akrab dengan pustakawan itu, dia tak segan-segan mengusir para pengganggu ketenangan, siapapun orangnya.
"Sialan kau Erena..."
Aku kembali fokus ke arah rak buku yang berisi buku-buku terbaru.
Terkadang aku juga memperhatikan sekitar. Tidak ada tanda-tanda sekte alay pemuja Erena itu di sekitar sini. Berarti, dia ke sini seorang diri tanpa teman.
Ini saat yang bagus untuk membalas dendam.
"Yah, lupakan, kita disini sedang ingin membaca kan? Baiklah, kali ini aku tidak akan mengganggumu. Ayo kita gencatan senjata untuk sementara ini, oke?"
Dengan mudahnya dia berkata seperti itu.
Padahal dia sudah membuatku merasakan semua itu. Dan dengan mudahnya dia mengatakan itu?
Sungguh, otak gadis ini terbuat dari apa sih?
Aku tidak menyahuti omongannya dan tetap fokus melihat-lihat buku-buku sambil sesekali mengambil buku untuk melihat, dan menaruhnya kembali.
Saat aku melirik, tampaknya Erena sedang membaca buku tentang cerita-cerita horor atau apalah itu.
"Lagi baca apa tuh? Cara agar menjadi gadis baik dan tidak mengganggu teman sekolahnya yang paling keren?"
"Berisik dasar stalker mesum,,, diamlah."
Dia terlihat sedikit terusik, tapi tetap asik membaca buku horornya itu.
"Lalu, apa yang sedang kau baca itu stalker mesum? Oowh...! Buku tentang menjadi pelajar teladan!"
Dia menyahutiku...
"Owh ini?"
Ucapku sambil memperlihatkan light novel fantasy yang ku pegang.
"Ini adalah buku tentang tutorial, bagaimana cara menyingkirkan makhluk pengganggu yang bersemayam di kelas kita."
"Makhluk jahat menjijikan itu sangat suka mengganggu kau tau? Jadi aku ingin memusnahkannya."
__ADS_1
"Dasar kau stalker mesum bermata panda! beraninya kau memanggilku makhluk jahat! Aku adalah anak dari orang terpandang kau tau...! Setelah ini aku akan membuat perhitungan denganmu!"
Entah bagaimana bisa, secara spontan tangan Erena sudah mencengkeram rambutku dan menarik-nariknya seperti mainan sambil ngoceh seperti itu.
"Aaakh.. Lepaskan... Sssakit dasar jablay! aku tak bilang apapun tentang kau kan...! Jika kau emosi tentang tadi, berarti kau menyadari kalau dirimu itu makhluk jahat pengganggu!"
Erena seketika menghentikan tarikan rambutku, tapi dia masih memeganginya. Suasana hening sesaat dengan rambutku yang masih dijambaknya.
Aku tidak tau ekspresi wajahnya, tapi kurasa dia sedang...entahlah
.
.
.
.
"Beraninya menggunakan cara licik seperti itu dasar mata panda..."
"Aku takkan memaafkannmuuu!!!"
"Kyaaaa...!"
Erena kembali menarik rambutku dengan lebih kencang.
Kalau ini berjalan lebih lama, maka aku akan dipanggil Junma botak.
"Jangan berisiiik....!!"
"..!!" 2X
Pustakawan-san sepertinya mulai hilang kesabaran dan menghampiri aku, dan Erena yang berkelahi.
Sebagai hukuman, kami di tugaskan mencari buku-buku rusak yang masih ada didalam rak, dan menaruhnya di gudang penyimpanan buku tua untuk selanjutnya didaur ulang.
Sepertinya pustakawan itu belum tau siapa Erena sebenarnya, dan Erena juga tidak membantah dan menolak, karena dia terlalu takut setelah dibentak dengan sangat keras.
Dia menangis...
Aku akhirnya membuat makhluk jahanam ini menangis...
Aku bahagia.
..._________________________...
Beberapa jam berlalu.
Aku dan Erena sudah mengumpulkan cukup banyak buku, dan kami taruh kedalam kardus.
Meski aku gagal membaca mendapat ketenangan, tapi membuat Erena menangis,,, mood ku berubah 180° karenannya.
"Huft, selesai. Ayo, cepat bantu aku angkat ini. Aku ingin segera pulang."
Dari tadi dia terdiam dan hanya mengangguk-angguk saat ku perintah.
"Angkat ini ke gudang buku sebelah sana. Akan ku bantu."
Saat masuk kedalam gudang, isinya tak jauh berbeda dari yang di luar. Tapi di sini sangat berdebu, dan ada banyak buku rusak maupun tua.
"Wah...lihat buku-buku ini..."
Erena menatap sekeliling, tanpa menyahutiku.
Dengan segera, aku, dan Erena meletakan buku-buku tua dan rusak di rak buku bagian kiri pojok ruangan.
.
.
.
"..."
"Hei Erena, ternyata kau bisa jadi orang yang tenang ya. Kupikir kau itu pengganggu akut yang sering membuat orang lain sengsara... tapi kupikir-pikir kau tidak seburuk itu."
"Apa!? Apa yang kau katakan hah? Apa kau pikir aku ini siapa? Putri dari orang berpengaruh di luar negeri, Erena Yuki. Sekali lagi kau panggil aku seperti itu, akan ku buat air keran dan listrik tidak mengalir kerumahmu!"
Apa ini... padahal aku berniat memujinya.
"Sudahlah, cepat selesaikan ini agar aku bisa segera pergi dari tempat ini."
"Oh mata panda,,, Ku kira kau menyukai perpustakaan?"
"Yaa, sebelumnya aku sangat cinta tempat ini, tapi entah kenapa aku merasakan, bahwa makhluk najis yang ada di sekolah kita malah ikut-ikut bersemayam disini."
"Sialaaan – Junpou jeleeeek! Aku akan membunuhmu..!"
"Hoaaah gadis ini!"
Erena berusaha menarik-narik kerah bajuku, tapi aku berhasil melarikan diri.
"Kau ini selalu saja! Bagaimana nanti kalau robek!? Oh, apa akan kau ganti huh dengan baju yang lebih mahal...? Apa begitu putri jablay?!"
Bugh...!
Tanpa aba-aba, buku besar bin tebal terlempar dan mengarah langsung ke arah wajahku.
"Sial, ini sangat sakit woy!"
__ADS_1
Rupanya kata-kata ku tidak di gubris oleh Erena. Dia mulai melemparkan buku-buku tua yang sebelumnya sudah tertata di rak dengan rapi.
"Hoi! Jangan~ kenapa kau ini! Kita sudah capek-capek menata buku itu!"
Dan...tentu saja, dia tidak memperdulikannya
Orang kaya berotak sengklek seperti dia hanya bisa berbuat sesuka hati.
Aku berusaha menghindar, tapi tetap saja, satu dua kali aku masih terkena lemparan keras Monster Erena.
Dan akhirnya, aku mengambil salah satu buku yang berserakan di lantai, dan melemparkannya balik kepada Erena.
" – Terima ini!"
Buku itu mengenai wajah Erena dengan posisi buku yang sudah terbuka.
"Sialan Junpou jelek..."
"Aku sungguh..."
"Glek" Aku menelan air ludahku sendiri.
"Mati kau...!!"
Saat Erena mencoba melemparkan buku yang sebelumnya mengenai wajahnya, tiba-tiba sampul buku itu bercahaya.
Cahaya berwarna keemasan itu bahkan membuat mata ku silau.
Buku berwarna coklat, dengan sampul yang dihiasi oleh akar-akar yang seolah mengikat buku itu.
"Hoi...! itu! Apa yang terjadi!?"
Erena yang kaget langsung membuang buku itu, dan berlari kearah punggungku.
"Sumpah, Aku memang menyumpahimu untuk mati, tapi aku hanya bercanda! Serius..!"
"Aku tidak melakukan apa-apa dasar Junpou jelek! Itu bukan karena ku!"
Dia ini...Erena memegang pundakku dengan sangat kencang dan membuatku menjadi tameng manusia.
Lalu, di dalam kemelut kepanikan, buku itu mengeluarkan kobaran aneh berwarna merah menyala, dan itu langsung mengincar kami.
Karena itu, aku langsung melepaskan cengkraman Erena, dan mencoba melarikan diri.
"Kau ini selalu saja! Selalu saja membuat sial! Minggir, aku ingin kabur!"
Aku pun lepas, dan mencoba keluar dari gudang itu.
Ternyata, kobaran merah itu tidak mengincarku, tapi mengincar Erena.
Dia dengan muka memelas itu berteriak meminta tolong, sambil mengulurkan tangan.
Apa daya,,, dia langsung dikerumuni kobaran itu.
Itu membentuk seperti pusara air yang terus berputar-putar mengelilingi Erena.
Aku ingin langsung kabur dan meninggalkannya.
Tapi, kalau terjadi apa-apa dengan gadis itu, aku sebagai orang terakhir yang bersamanya akan terkena masalah besar.
Apalagi dia adalah putri dari orang yang bukan sembarang orang.
Apa yang harus kulakukan.
"Jun...."
Erena mendesah dan menatapku dengan mata itu.
Dia meminta pertolonganku kah?
"Junpou..."
Baiklah, aku tak peduli..., oke...! Aku akan langsung pergi.
Saat aku membuka pintu keluar, tiba-tiba rak buku yang teramat besar menghantam pelipis ku.
Aku terjatuh dan menahan rasa sakit.
"Apa!?"
Ternyata, benda-benda di sekitar, tertarik oleh pusara kobaran merah yang mengerubungi Erena.
Satu persatu benda-benda mulai berterbangan dan menuju Pusara yang semakin membesar.
Erena bahkan sampai tak terlihat karena tertelan olehnya.
"Apa-apaan ini..."
Aku mencoba bangkit. Tapi tubuhku...
Tubuhku ikut terangkat bersama dengan benda-benda sekitar yang berterbangan.
"Ini mimpi, mimpi... Ini mimpi... Aku sebenarnya masih tidur di kamarku kan!? Iya kan!?"
Badanku yang sudah mengambang di udara mulai tertarik masuk kedalam pusara kobaran merah itu.
Lelah,,,, tak ada tenaga lagi untuk berbuat apa, akupun diam terpaku sambil berharap ini semua mimpi.
"Ada nggak sih yang lebih parah dari ini yang harus aku hadapi...?"
__ADS_1
BusshHH......
......※......