
"Aku baru ingat, temanku ada urusan di luar kota, jadi mansion ini kosong..."
Felix mengatakan hal yang sangat terlambat.
Kami sudah berdiri di depan pintu rumah besar ini.
"Jadi bagaimana sekarang?"
"Bagaimana apa nya? Kita akan masuk."
"Eh?" x2
Felix mengambil sesuatu di tas pinggangnya.
Dan itu adalah kunci.
"Hei, jangan bilang kau..., kau mencuri kunci rumah milik temanmu sendiri!?"
"Bang Junma ini jangan asal ngomong deh."
"Aku dan temanku sudah seperti saudara kandung sejak kecil. Jadi aku memegang kunci cadangan rumahnya untuk jaga-jaga."
"Jaga-jaga huh? Kau membiarkan orang tak dikenal seperti aku dan Erena masuk ke dalam rumah ini. Apanya jaga-jaga?"
"Yah, aku sejujurnya juga agak ragu..., tapi aku yakin kalian orang baik. Mengampuni pencuri saja sudah membuktikan kebaikan kalian."
"Hoi, siapa bilang aku mengampunimu..., aku hanya meminta ganti rugi yang bukan uang, karena aku yakin kau akan membayarnya dengan duit curian kan?"
Saat aku bicara, Felix sudah tidak ada di depanku.
Cklik....
"Masuk saja, temanku takkan keberatan kalau aku membawa beberapa teman untuk menginap."
"Hei, apa seperti ini tidak masalah?"
"Ayo lah Junma, ini lebih baik dari pada tidur di kursi taman."
"Jangan asal ayo-ayo, kita masuk rumah tanpa ijin sama aja pencuri lho."
"Yah, aku emang pencuri."
Ini dia, aku baru saja bertemu manusia langka yang mengaku kalau dia itu pencuri.
"Sudahlah Bang, aku ini ibarat mewakilkan temanku itu, jadi kalian sudah ijin."
"Tapi..."
"Felix, tutup aja pintunya..., manusia mapan satu itu kayaknya lebih suka tidur di luar."
"Jangan...!!"
...__________...
Di dalam mansion.
Ukuran ini adalah beberapa kali ukuran villa di Indonesia.
"Hoah..., seberapa kayanya teman mu itu sampai bisa membeli rumah sebesar ini?"
"Yah, nanti kau akan tau setelah bertemu dengannya."
Mendengar Felix mengatakan itu membuatku tidak enak.
"Hei Felix, apa kau pikir temanmu tidak akan marah kalau kita masuk ke rumah ini tanpa sepengetahuannya?"
__ADS_1
"Sudah ku bilang aku mewakilkan dirinya, jadi tidak usah khawatir dia akan marah. Beberapa waktu lalu aku juga membawa temanku menginap disini tanpa sepengetahuannya."
"Be~ begitukah...?"
"Hm..."
Felix menganggukan kepala.
"Yah, selama itu tidak merepotkan. Aku hanya akan tidur di kursi sofa, untuk berjaga-jaga seandainya temanmu kembali selagi semuanya tidur."
"Hah? Padahal kau bisa mengambil salah satu kamar di sini..."
"Nggak-nggak, aku tidak akan sesembrono itu. Aku akan tidur di sofa itu."
Selagi aku menoleh ke arah sofa, rupanya sudah terbaring gadis yang tidur dengan pulas di sana.
Dia menempelkan badan penuh peluh ke kursi sofa panjang berwarna abu-abu itu.
Apalagi dia masih memakai seragam yang aku tak tau, kenapa dia memakainya saat hari minggu ini.
Dan juga, dia terlihat seperti gadis biasa saat tidur.
Itu membuatku berpikir, apa saat bangun dia kerasukan jin tomang?
Sungguh, aku juga tidak habis pikir, bagaimana orang dari luar negeri ini bisa menjadi iblis hanya dengan beberapa hari menetap di Indonesia.
Baiklah, sekarang bukan waktunya untuk itu.
"Dimana aku harus tidur sekarang..."
"Sudah kubilang untuk mengambil salah satu kamar kan?"
"Tidak..."
Pemilik rumah sah nya belum mengijinkan.
Begini saja, kami sudah di kategorikan sebagai maling karena mengikuti maling yang membuka pintu rumah temannya sendiri.
Karena itu, aku mengambil tempat di belakang sofa, duduk, dan bersandar di sana.
"Hei, kak Junma..., apa tidak apa-apa kau tidur dengan posisi seperti itu?"
"Tidak usah khawatir, masuk ke sini saja sudah membuatku tidak enak sama si pemilik, jadi begini saja sudah cukup untukku. Dan kau Felix, tidur saja di sofa satu orang itu untuk berjaga-jaga kalau si tuan rumah pulang."
Di depan perapian, masih ada satu sofa untuk satu orang lagi...
"Huh..., baiklah jika begitu."
Kami pun akhirnya tidur untuk mengisi tenaga. Pasti aku akan sangat sibuk besok pagi...
Aku berpikir begitu.
Tapi, aku malah bangun kira-kira di tengah malam karena ingin buang air kecil.
Tubuhku sudah dalam posisi terlentang di lantai yang sebelumnya aku bersandar di belakang sofa.
Mansion ini sangat sunyi, dan sepi.
Erena masih tidur dengan pulasnya, begitu juga Felix.
"Sial, kenapa di saat seperti ini aku malah pengen kencing..."
Sebenarnya itu hal yang wajar, karena seharian aku tidak buang air sama sekali.
Aku mencoba bangun, entah kenapa aku tidak bisa menggerakan tubuh dan mulutku.
__ADS_1
"Apa yang terjadi... sleep paralysis kah?"
Note : Slep paralysis \= Sleep paralysis atau ketindihan merupakan fenomena ketika seseorang tidak dapat berbicara dan bergerak saat hendak bangun tidur. Kondisi ini sering kali membuat penderitanya panik dan takut karena dalam kondisi sadar, tubuh seakan-akan lumpuh dan biasanya berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit.
Aku mencoba berteriak, tapi gagal juga, hanya gumaman yang terdengar dari
mulutku. Aku tidak bisa memanggil mereka untuk meminta tolong.
"Duh, makin kebelet..."
Tidak, aku harus menahan, aku sudah dewasa!
Di sana hanya ada dua situasi untuk orang dewasa.
Saat aku memandang langit-langit mansion sambil menunggu sleep paralysis ini hilang, aku teringat sesuatu.
Aku sangat takut dengan hantu.
Sejak aku datang ke dunia ini, beberapa hal malah aku lupakan begitu saja.
Sampai aku lupa, kalau aku ini penakut.
Aku melirik ke beberapa pojok ruangan. Di sana sangat gelap.
Situasi seperti ini, aku membencinya!
Tapi, apa hantu juga ada di dunia ini?"
Ah, tidak-tidak. Di Indonesia aku juga tidak pernah melihat hantu.
Melihatnya di film saja sudah membuatku tak bisa tidur.
Semenjak itu, aku sangat membenci sesuatu berbau horor.
Aku lalu menutup mataku untuk mencoba tidur, dan melupakan kencingku, tapi tidak berhasil.
"Kapan ini akan berakhir..!?"
Beberapa saat setelah aku menggumamkan itu, tubuhku sudah bisa bergerak sedikit demi sedikit.
"Ah, akhirnya!"
Aku lalu berdiri, dan meregangkan otot-otot ku.
"Hah...akhirnya...!"
"Baiklah, saatnya kencing...!"
Aku sangat lega, karena tidak perlu menahan kencing ini.
Aku lalu bergegas pergi ke kamar mandi, sampai akhirnya aku baru sadar, kalau aku tidak tau di mana kamar mandinya...
.
.
.
Aku rasa... semenjak aku bertemu Erena, berpindah dunia, dan akhirnya tinggal di kota ini..., aku jadi gampang melupakan sesuatu.
"Ah, keluar sedikit..."
Karena aku terlalu lama bengong, beberapa tetes air limunku tidak sabar untuk melihat dunia yang indah ini.
__ADS_1