
"Aku akan pergi ke ibukota pusat!"
.
.
.
"Tunggu... apa?"
Pagi hari yang cerah di dunia lain. Aku duduk di kursi satu orang, dan meminum secangkir teh hijau hangat di depan mansion, sambil melihat pemandangan sejuk taman bunga kecil yang indah.
Semua ketenangan itu berakhir dengan cepat hanya dengan Erena yang muncul dari balik pintu.
"Aku akan pergi ke ibukota, aku sudah putuskan itu dengan Mekata semalam."
"Yah, aku tidak masalah jika kau pergi, tapi apa kau baik-baik saja? Maksudku, apa kau sudah menguasai seluruh kekuatan pahlawanmu?"
"Pfu-pfu-pfu,,,jangan remehkan aku! Aku sudah bekerja keras mengambil quest sambil melatih skill yang aku punya!"
"Hooh, jadi bagaimana hasilnya?"
Aku tetap dalam pose santaiku sambil sesekali menyeruput cangkir berisi teh hangat di tanganku.
"Aku sudah mahir kau tau? Aku sekarang adalah seorang pro..."
"Bagaimana dengan batu kegelapanmu?"
"Aku akan menebusnya sekarang. Aku punya cukup uang karena menjalankan quest setiap hari... lihat ini!"
Erena lalu menunjukan setumpuk uang yang tersimpan di dalam kantong kulit.
Yah, sebenarnya aku agak kagum dengan gadis ini. Dia bekerja dengan cara mengambil quest dan menerima berbagai permintaan.
Dia juga sempat bergabung dalam sebuah party sementara.
Dalam kurun waktu satu minggu, dia berhasil menikmati semua kerja kerasnya itu dan menjadi lebih mandiri tanpa ku sadari.
Sedangkan aku...
Dalam satu minggu ini, aku bekerja serabutan dengan mencari berbagai pekerjaan paruh waktu di majalah lowongan kerja.
Jadi penghasilan tidak menentuku jauh berbeda dengan Erena yang mendapat bayaran besar.
"Yah, syukurlah... kau jadi bisa menebus batu sihir itu. Ku ucapkan selamat. Jadi, kapan kau akan ke ibukota?"
"Besok, aku akan berangkat dengan Mekata ke sana pagi-pagi sekali. Kau ikut?"
"Ah, tidak... Aku tidak suka bepergian. Apalagi dengan statusku yang lemah, aku dapat terbunuh dengan mudah dalam perjalanan penuh bahaya itu."
"Ah, sayang sekali... padahal kau kuberi kesempatan untuk menemani aku, sang pahlawan. Ini kesempatan sekali seumur hidup."
"Seumur hidup? Bahkan jika aku mati, aku tidak akan mau mengambil kesempatan itu."
"Jangan kau berani mengejek pahlawan, atau kau akan terkena hukuman ilahi."
"Bodoh dah..."
Erena yang mendengus karena emosi, masuk kembali ke dalam mansion.
Aku ingin menikmati pagi ini sedikit lebih lama lagi.
Memikirkan Erena yang akan ke ibukota, berarti aku akan bergerak sendiri mulai sekarang.
Menjadi satu-satunya penyintas dimensi di kota ini.
Yah, lagi pula aku sudah cukup berbaur dengan lingkungan, jadi itu tidak masalah.
Tapi tetap saja, aku belum membuat banyak koneksi dengan orang lain. Yang aku kenal adalah Alice, si pustakawan bersaudara, dan beberapa petualang.
Jadi pergerakan ku di kota sangatlah terbatas.
Dan lagi, sesekali aku berpikir ingin mengambil quest perburuan monster dengan party. Sayangnya tidak ada yang mau menerima orang dengan status lemah sepertiku.
Dan jika aku sendirian, tidak ada yang akan membantu jika aku dalam kesusahan. Memikirkan bahwa diriku akan mati tanpa diketahui orang sangatlah mengerikan.
__ADS_1
Jadi aku tidak ingin bergerak secara solo.
"Huh, memikirkan ini sangat tidak berguna."
Aku mengembalikan cangkir ke dalam mansion, dan bersiap untuk pergi ke luar.
Saat tau aku ingin keluar, Erena dan Mekata memutuskan untuk ikut.
— Sesampainya di tavern...
"Jadi, apa kau ingin mengambil quest?"
"Sepertinya begitu."
"Yah, aku sedang kosong sekarang, jadi aku akan membantu."
"Aku juga, anggap saja ini bantuan terakhirku sebelum aku pergi ke ibukota."
Aku sangat menghargai bantuan mereka, dan sejujurnya aku ingin mereka yang menyelesaikan questnya untukku.
"Jadi, eum... quest perburuan..."
Kami berjalan menuju papan buletin.
"Hei Junma lihat! Meneliti tumbuhan aneh pemakan makhluk hidup, dan jangan membunuhnya. Ayo ambil ini!
"Hei, kenapa kita tidak boleh membunuhnya!? Maaf Mekata, aku rasa itu terlalu berbahaya.
"Bagaimana dengan ini! Menjelajahi situs langka yang baru ditemukan."
"Tidak-tidak, apa kau lihat ini? Dibutuhkan orang dengan ability sensor. Apa di antara kalian ada yang punya?"
"Tidak" 2x
"Maaf lagi Mekata, aku rasa jangan itu."
"Junma! Ambil ini! Memburu Lizard yang bisa berkamuflase, namanya Camelizard."
"Apa itu?"
"Camelizard itu sejenis kadal kecil yang banyak ada di pegunungan sekitar sini, besarnya hanya sebesar tokek dewasa. Ini misi yang bagus kan? Ayo ambil ini!"
"Siapa peduli, ayo ambil! Dengan kekuatan pahlawanku, itu akan sangat mudah. Yah, sebenarnya aku berharap quest perburuan monster ganas untuk memamerkan kekuatanku kepadamu sih."
Dia jadi lebih sombong dari sebelumnya.
Pada akhirnya kami mengambil quest yang menggiurkan itu. Dengan bayaran satu juta Cassel setiap lima ekor camelizard. Tidak ada batasan untuk quest ini, jadi aku bisa memburu sebanyak-banyaknya dan menjadi kaya.
Quest dimulai...!!
–Kami sampai di sarang camelizard didekat gunung.
Aku berniat untuk menggunakan bayaran quest untuk merombak pakaianku. Karena selama aku bekerja paruh waktu, aku menghabiskan seluruh uangku untuk makanan sehari-hari tanpa diberi kesempatan untuk menabung.
Sebenarnya, Mekata menyuruhku untuk tidak sungkan makan di rumahnya, tapi seperti yang aku bilang, aku tau diri.
Aku tidak ingin merepotkannya lebih dari itu, jadi untuk masalah makanan, aku akan bekerja keras.
Dan bayaran dari quest ini, aku ingin memperkuat perlengkapanku.
"Baiklah, uhh... perjalanan yang panjang. Lalu di mana camelizardnya?"
"Sesuai namanya, dia dapat menyamarkan dirinya dengan alam. Mata kita harus jeli."
Jadi hewan ini seperti bunglon.
"Hei Erena, apa kau pernah menjalankan quest seperti ini?"
"Aku bahkan belum tau bentuk camelizard seperti apa."
"Tidak berguna..."
Kami lalu berpencar masing-masing untuk memburu camelizard.
Di bayanganku, camelizard adalah monster sejenis kadal yang dapat merubah warna tubuhnya untuk berbaur dengan lingkungan.
__ADS_1
Itu akan mudah jika matamu sedikit lebih jeli. Apalagi dalam quest ini, tidak ada batasan berapa yang harus diburu.
Hanya dengan lima ekor, kita bisa mendapat sejuta cassel, dan Itu bukanlah uang yang sedikit. bayangkan jika aku mendapat ratusan ekor...
Aku berpikir begitu...
Tapi realita tidak seindah itu. Buktinya kami sudah lama mencari, tetap tidak ada hasil.
Hari yang tadinya pagi sejuk sudah berubah menjadi siang yang panas.
"Hei Mekata, apa mereka yakin di sini adalah habitat camelizard? Aku bahkan tidak menemukan satu ekorpun..."
"Aku yakin, karena aku juga pernah menangkap camelizard di area sini. Cobalah mencari dengan teliti, mereka bisa menyamar menjadi apapun."
Mekata mengatakannya sambil terus melihat ke segala arah dengan teliti.
"Yah, meski kau bilang begitu..."
.
.
.
"Tunggu, 'apapun itu... maksutnya apa?
"Itu dia!"
Mekata mengabaikan pertanyaanku dan langsung berlari kearah bebatuan dan mengambil sesuatu.
Sedangkan Erena yang putus asa, akhirnya mengeluh kepadaku, sambil bertanya-tanya apa yang Mekata lakukan.
"Kita dapat satu...!!"
"Eh!?" 2x
Aku tidak tahu apakah mataku minus atau gimana.
Tapi, di tangannya itu hanyalah ada sebongkah batu.
"Wah, kita beruntung... beberapa orang membutuhkan waktu berhari-hari hanya untuk mendapatkan satu ekor camelizard! Aku rasa ini hari keberuntunganmu Junma!"
Mekata mengatakan itu sambil memberiku batu yang lumayan besar dan berat tadi.
"Eh, Me- mekata... Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi apa matamu baik-baik saja?"
Erena bermulut pedas mengatakan itu.
"Apa maksutmu?"
"Ini hanyalah sebongkah batu!"
Aku mengatakan itu sambil menjatuhkan batu besar di tanganku ke tanah.
"Hei, apa yang kamu lakukan!?"
Mekata terlihat panik saat aku menjatuhkan batu itu ke tanah.
"Baik, kita sudahi saja hari ini... terkena panas matahari siang terlalu lama bisa mengacaukan otak kita. Mari kembali lain hari."
Saat aku berniat untuk pulang, tiba-tiba batu di bawahku sedikit bergeser. Semua orang menyadarinya.
Saat kami melihat lebih lama, sesuatu hal yang mengejutkan terjadi.
Dari awal, camelizard tidak pernah menyamar dengan meniru warna dari benda di sekitarnya, tapi dengan meniru bentuk dari benda itu sendiri.
Itu terbukti dengan batu di bawahku yang sedikit demi sedikit berubah menjadi seekor kadal.
Sungguh, sekarang aku tau kenapa banyak orang yang mengabaikan quest ini.
"Nee Junma, mari kembali ke kota..."
"Yuk..."
"Hei tunggu...!!"
__ADS_1
Quest memburu camelizard sukses...
Meski kami harus puas hanya dengan satu ekor.