
Aku memandang langit yang entah kenapa membuatku mengantuk di pagi hari ini.
Setelah mandi, aku tidur selonjoran di kursi pekarangan taman mansion.
Pada akhirnya aku tidak ikut mengambil kembali tas Erena. Yah, mereka juga rasanya tidak masalah kalau aku tidak ikut.
Yang pergi hanyalah Erena dan Felix, sedangkan Mekata tetap di mansion bersamaku. Aku harap Erena tidak akan memancing masalah yang nantinya merepotkanku, lagi pula ada Felix di sana, jadi aku agak sedikit tenang.
.
.
.
"Ah.., aku bosan."
Langit yang sangat damai ini membuatku merasa kalau dunia ini tidak perlu diselamatkan. Seperti perkataan Mekata, kalau dunia ini butuh lima pahlawan generasi selanjutnya untuk mengalahkan empat monster abadi.
Memangnya apa yang perlu diselamatkan? Monster abadi, apa mereka yakin itu bukan dongeng?
Lagi pula, apa itu monster abadi? Monster yang gak bisa mati gitu?
Aku tidak bertanya kepada Mekata. Itu hanya akan membuatku terseret lebih dalam.
Lagipula, aku hanyalah orang yang harusnya tidak ada di sini kan? Semua itu pastinya bisa diatasi oleh pahlawan-pahlawan lainnya. Meski Erena kayak gak bisa diandalkan, tapi aku yakin pahlawan yang lain pastinya hebat-hebat.
Ah, aku rasa aku ingin pergi ke bar aja. Katanya di sana juga menyediakan quest untuk petualang. Mungkin jadi petualang, bukanlah gayaku, tapi tidak ada salahnya melihat-lihat.
Setelah pamit dengan Mekata, akupun pergi ke bar.
Di dalam bar...
Seperti biasa, di sini banyak petualang yang sedang makan maupun sekedar nongkrong.
Aku bertemu lagi dengan Alicia. Kau tau, gadis pelayan di bar ini yang membantu merawat lukaku kemarin.
"Wah, kamu kembali... bagaimana keadaan mu?"
"Ini baik-baik saja, terimakasih soal kemarin ya... berkatmu lukaku jadi sembuh lebih cepat."
"Ya– yah... itu bukan apa-apa."
yah, secara teknis yang memulihkan lukaku adalah potion penyembuh yang dibeli oleh Erena, tapi aku tidak bisa memikirkan topik lain selain itu.
Aku kikuk kalau sedang berbicara sama cewek cantik.
"Baiklah Junma, kau bisa duduk di kursi manapun yang kamu mau, kalau ingin mengambil misi, bicaralah dengan gadis loket di sana... baiklah, aku permisi dulu."
"Oh... um, terimakasih."
Aku lalu mencari meja kosong, dan duduk di salah satu kursi.
"Hei lihatlah, bukannya dia adalah pria yang itu?"
"Kau benar, dia tidak ada urat malunya kali ya...?"
"Dia orang yang beraninya sama cewek kemarin itu?"
Para petualang yang berkumpul sepertinya sedang membicarakanku dari belakang. Meski berdesis, suara mereka masih sampai ke telingaku.
Mereka sangat buruk dalam menjadi penggosip.
Yah, aku bisa mengabaikan itu. Ini hanya seperti duniaku yang sebelumnya... bedanya di sini lebih banyak hal yang mengancam nyawa, lebih berbahaya, lebih kejam...
.
.
.
__ADS_1
"Banci..."
Seorang petualang wanita mengatakan itu. Dan... sepertinya aku tidak jadi memesan makanan di sini.
...----------------...
Huh.., pada akhirnya aku nganggur. Aku memutuskan untuk berjalan santai di sekitar kota.
"Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan mereka ya...? Apa mereka udah dapet tas itu..."
Aku memikirkan tentang Erena dan Felix. Sedang apa mereka, dan mulai membayangkan mereka untuk mengisi rasa bosanku.
"Ah, Kalau aku kembali ke mansion, tingkat kebosananku malah semakin menjadi-jadi."
Di sini tidak ada game online. Bahkan dunia pararel ini adalah game itu sendiri.
Saat aku berbicara sendiri, aku jadi kepikiran sesuatu.
"Di sini ada perpustakaan atau tidak ya...?"
Dan, akhirnya misi dadakan ini muncul... yaitu mengunjungi perpustakaan di dunia lain.
Kalau ada.
Menurut informasi yang aku dapat dari penduduk kota, ada perpustakaan yang lumayan besar terletak di agak pinggir kota.
Meski aku kelihatan hanya berjalan tanpa arah, di otakku aku harus bisa menghafal semua jalan di kota, kalau tidak mau tersesat.
Aku kembali bertanya kepada penduduk yang berlalu lalang di trotoar.
"Kau sudah dekat... tinggal lurus belok kanan, dan hitung lima bangunan dari belokan itu, nanti kau tau sendiri dari papan penandanya."
"Makasih paman."
Mimpi pun tidak, akhirnya aku bisa mengunjungi perpustakaan di dunia lain ini.
Kau tau, di game rpg, aku menemukan banyak bangunan yang sepertinya sangat menarik. Tapi sayangnya itu hanya hiasan dan tidak bisa di masuki oleh player.
Akhirnya aku menemukan bangunan itu. Aku sudah bisa tau, dari papan penanda yang tergantung. ada gambar seperti buku di situ, dan tulisan yang tidak aku pahami di bagian bawahnya.
Bangunannya sangat besar, mungkin sebesar perpustakaan yang sering aku kunjungi di duniaku sebelumnya.
"Selamat datang!" seorang pria menyambutku hampir berbarengan dengan aku membuka pintu.
"Ada banyak buku di sini, kamu bisa tanya kepadaku tentang buku yang kamu cari. Akan aku carikan di list."
Pria itu berperawakan agak lebih tinggi dariku, dengan rambutnya yang belah tengah, mirip tren anak muda zaman sekarang.
"Wah, aku sepertinya tidak pernah melihat dirimu di kota ini. Orang baru?"
"Uh– iya." aku menganggukan kepala.
"Kalau begitu, namaku Clacel... Clacel Raven. Kau bisa memanggilku Clacel. Aku adalah pustakawan di perpustakaan ini."
"Ho-oh, salam kenal."
Lalu kami pun berjabat tangan.
"Baiklah tuan pengunjung, anda ingin mencari buku apa?"
"Ho-oh...! Junma kah?"
Seseorang memanggilku, dari balik rak-rak buku. Dia adalah Mekata bersama seorang gadis yang mengikutinya dari belakang.
"Mekata? Aku kira kau menjaga rumah..."
"Ah, setelah kau keluar, aku memutuskan untuk pergi juga. Siapa sangka kita akan bertemu di sini."
"Heh? Kau mengenal Mekata?" Clacel bertanya dengan muka heran.
__ADS_1
"Yah... um, ceritanya panjang."
"Wah, kebetulan sekali. Kalau kau teman Mekata, berarti kau temanku juga. Oh! Ngomong-ngomong dia adalah adik perempuanku..."
Clacel menunjuk si gadis di belakang Mekata.
Dia sangat cantik, meski tidak secantik Erena. Dia berkulit putih bersih, dengan rambut coklat pendeknya.
Si gadis cantik itu berjalan santai ke arah ku sambil memasang ekspresi datar.
"Salam kenal... namaku Aurora Raven. Aku adalah adiknya si aneh itu, aku juga pustakawan di sini senang bertemu denganmu..."
Sungguh hebat, dia berkenalan dengan masih memasang ekspresi datarnya.
"Ah, senang bertemu denganmu juga... oi, kayaknya kau mengatakan sesuatu yang aneh..."
"Apa...?"
"Aduh, Aurora adikku yang manis, kau jangan menyebut kakakmu sendiri orang aneh dong..."
"Kakak kan memang orang aneh..."
"Clacel benar Aurora, dia kan kakakmu, jadi jangan mengatakan hal jelek begitu..."
Aku bilang begitu. Lagian, apa-apaan panggilan orang aneh? Clacel adalah laki-laki baik kedua yang aku kenal sejak berada di kota ini. Dia selalu tersenyum, dan nampaknya juga orang yang menyenangkan.
"Maaf."
Aurora menjawab singkat.
"Baiklah, aku senang bertemu denganmu. Namaku adalah Jun..."
Saat aku ingin berjabat tangan dengan Aurora, tiba-tiba sekelebat bayangan yang sangat cepat menepis tanganku.
"Aduh apatuh!?"
"Jangan kau berani menyentuh adikku..."
Clacel lah yang punya kerjaan. Dan entah perasaanku saja atau bukan... ekspresi Clacel berubah menyeramkan.
Dia menatapku seperti tatapan singa yang ingin menerkam mangsanya.
Dia kerasukan jin apa gimana?
"Junma, Clacel memang suka begitu... dia melakukannya hanya karena sayang dengan adiknya, itu saja..."
"Heeh... kalau begitu, maafkan aku ya Clacel."
"Ah, sudahlah bukan masalah!"
Heh!? kemana tatapan singa yang tadi? Sekedip mata dia jadi ramah lagi?
Aku agak bingung dengannya... yang aku inginkan cuma berjabat tangan dengan adiknya saja. Memangnya itu masalah besar ya?
Adikknya juga tidak masalah dengan jabatan tanganku, masak dia jadi marah gitu.
.
.
Oh, aku mengerti.
Hanya dengan melihatnya, aku mengerti sesuatu.
Clacel lalu berjalan dan menengahi antara aku dan Aurora.
Orang ini bukan hanya orang aneh. Tapi, dia adalah siscon sedeng yang mungkin akan membunuh orang lain cuma karena menyenggol adiknya.
Note: Siscon (Sister complex) adalah keadaan keterikatan dan obsesi yang kuat terhadap saudara perempuan.
__ADS_1
......※......