Five Shades: Mendukung Mereka Di Isekai !

Five Shades: Mendukung Mereka Di Isekai !
Part 2


__ADS_3

Erena dan Felix menghindar untuk bertatapan wajah. Dari sini sudah bisa di tebak bahwa mereka yang salah.


Pedagang mana yang tidak marah, kalau barang dagangannya di acak-acak oleh orang tak di kenal. Dan juga, menaikan harga barang itu hal biasa kecuali kalau sampai berlebihan.


"Be– begini, saya benci mengatakan ini... tapi gadis bodoh di sana itu, memanglah pahlawan. Jadi, apa paman bisa mengembalikan tas itu? Ah, batunya! Batunya saja tidak apa-apa."


"Pahlawan negara mana yang tidak punya sopan santun itu? Tapi aku tidak peduli, jika tuan mau, tuan bisa membelinya dengan harga yang ku patok saat ini. Tenang saja, aku tidak akan menjual ini kepada siapapun."


Lagi-lagi begini.


Aku harus menyelesaikan masalah yang seharusnya bukan urusanku.


"Ngomong-ngomong, berapa harga untuk batunya paman?"


Kakek merchant itu mengambil sesuatu dari sakunya.


Dia mengeluarkan batu seukuran kelereng berwarna hitam pekat. Tapi kalau di lihat dari dekat, batu itu tidak hanya sekedar hitam. Itu terlihat seperti mempunyai banyak kerlap kerlip seperti alam semesta mungil di dalamnya.


Aku menarik kesimpulan... bahwa, Erena adalah pahlawan pengguna sihir kegelapan. Kata Mekata, ada lima pahlawan kan?


Batu kegelapan, batu cahaya, satu set armor, pedang, sama yang terakhir kalau tidak salah itu busur panah.


Ya, aneh saja kalau batu hitam pekat begitu punya kekuatan cahaya.


"Jadi, berapa paman?"


"Hm, baiklah... akan aku turunkan harganya. Aku akan memberikan ini kepadamu dengan dua puluh juta Cassel."


"Dan begitulah... Erena, selamat berjuang."


"Tunggu, apa maksutmu."


Aku pergi dari toko itu. Itu adalah masalahnya sekarang.


"Kau pikir mau kemana..."


Erena memegang tanganku dan mencoba menghalangiku untuk pergi.


"Kau harus membantuku mendapatkan dua puluh juta itu! ... teman."


Aku memberontak dan mencoba melepaskan genggaman gadis itu, tapi sayang genggamannya sangat kuat.


"Lepaskan! Jangan membuatku terlibat sama masalah yang kau buat sendiri! Dan jangan memanggilku teman saat kau sedang butuh bantuanku aja. Itu batumu kan? Cari uang dengan kerja paruh waktu sana!!"


"Tunggu! Itu akan makan waktu! Hei, ayolah! Bantu aku!"


"Tidak mau! Sekarang lepaskan aku!"


Tanpa aba-aba, gadis jelek itu melepaskan genggamannya yang membuat aku hampir jatuh. Aku ragu, dia menuruti kata-kata ku atau emang sengaja supaya aku terjatuh.


"Bagus. Selamat tinggal..."


Aku melangkah keluar toko, tapi sepertinya Mekata dan Felix masih berbicara di dalam. Apa mereka akan membantu Erena? Baguslah, sejujurnya aku agak khawatir dengan anak itu.


Dengan ini, aku tidak perlu cemas dia akan membuat masalah, dan tidak perlu membantunya.

__ADS_1


"Oh iya, tadi aku sempat mengambil kertas permintaan di guild. Gara-gara ada Erena, aku mengambilnya tanpa tau apa misinya."


Aku berjalan sambil merogoh saku dan mengeluarkan kertas permintaan itu.


"Ah, aku sama sekali tidak mengerti dengan huruf ini."


Di guild aku terbantu Mekata yang menerjemahkan kata-katanya, tapi sekarang aku sendirian.


Baiklah, mari pakai cara lain. Yaitu dengan mengira-ngira.


"Baik, di sini ada gambar seperti landak dan juga ada tanda tengkorak di samping gambar landak."


Landak ini mungkin giant Hedgehog yang mengejarku dengan Erena kemarin.


Dugaanku, ini adalah misi yang merepotkan.


Aku bertanya dengan pejalan kaki yang berpapasan denganku agar lebih meyakinkan.


"Oh, di sini tertulis ambil sepuluh duri dari giant Hedgehog duri hitam. Bayaran ekstra jika membunuhnya."


Sudah kuduga.


Bagaimana caraku melawan landak raksasa itu? Aku belum belajar sihir apapun di dunia ini. Aku juga tidak mempunyai atribut senjata.


Tidak ada pilihan lain selain membeli beberapa perlengkapan pemula. Uang segini aku rasa lebih dari cukup untuk membeli beberapa perlengkapan.


"Ibu, ayah... Anakmu bukan lagi pengurung diri yang malas bekerja..."


– Di dalam hutan bellosovia.


Sekarang, posisiku berada di depan goa tempat tinggal landak itu. Aku bersembunyi di balik pepohonan untuk mengecek kembali semua perlengkapan yang aku beli.


Dengan uang yang kupegang, aku dapat membeli sebilah pedang pendek, tali untuk nanti buat mengikat duri, lalu body armor yang lumayan berat juga, padahal hanya terbuat dari kulit. Untuk jaketku, aku titipkan ke satu-satunya orang yang masih percaya kepadaku di guild petualang.


(Note : Orang yang di maksut Junma adalah Alice.)


Aku juga membeli beberapa potion penyembuh untuk jaga-jaga.


Aku berusaha tidak membeli sesuatu yang aneh-aneh, karena uangku sangat pas-pasan.


Paling tidak kalau misi ini gagal, aku masih bisa makan malam dengan uang sisa ini. Aku tidak ingin bergantung dengan Mekata yang sudah terlalu baik itu.


"Baiklah Junma, kau pasti bisa!"


Aku menarik nafas dan berjalan mengendap-endap mendekati mulut goa.


Sangat gelap di dalam sana, meski sekarang masih siang hari.


Memasuki goa, aku mendengar sesuatu yang mendengkur. Yap, landak besar itu pelakunya.


Saat mendengar dengkuran itu aku sadar, kalau goa ini cuma besar mulutnya saja, dan dalamnya pasti buntu.


Kalau goa ini punya semacam lorong besar, tidak mungkin suara dengkurannya sekeras ini, padahal aku belum jauh masuk ke dalam goa.


Benar saja. Aku hanya masuk sedikit lebih dalam, aku sudah bisa melihat wujud monster landak itu sedang tertidur.

__ADS_1


Untungnya landak adalah hewan nokturnal, jadi dia olahraganya kalau malem doang. Ya, meski kemarin ada landak yang ngejar-ngejar aku di siang bolong.


"Bagaimana aku mengambil durinya? Potong kah?"


"Tapi kalau sampai dia terbangun aku bisa tamat. Sial! Kenapa pikiranku buntu di saat begini!"


Selagi aku memikirkan cara, aku bergerak semakin mendekat ke arah landak yang hanya terlihat punggung durinya saja.


Saat mengamati lebih detail, ternyata ada banyak duri yang berserakan di tanah.


Bukan satu atau dua, tapi banyak sekali.


"Benar juga! Landak kan juga punya sistem yang mirip sama ganti kulit mamalia lain... tapi bedanya dia ganti duri..."


"Lucky dah..."


Aku lalu bergegas memunguti duri landak yang berserakan. Aku mengambil lebih, siapa tau dapat bayaran ekstra.


Saat aku sudah selesai berurusan dengan duri dan siap meninggalkan goa, aku jadi teringat dengan hadiah ekstra jika aku membunuh landaknya.


Monster itu juga sedang tidur. Bukannya ini kesempatan yang bagus?


Aku jadi mengerti, kenapa Giant Hedgehog ini di bilang monster tingkat terlemah.


"Tidak, tidak, tidak... bayaran dari duri aja udah cukup. Lagian untuk apa aku membahayakan nyawaku buat bayaran ekstra. Sangat tidak baik bersikap serakah seperti itu. Itu hanya akan menghancurkan diri sendiri."


Aku menetapkan pendirian untuk tidak mengambil bayaran ekstra dan lanjut berjalan ke luar dari goa.


.


.


.


Aku berlari masuk kembali kedalam goa.


"Tidak baik menyia-nyiakan perlengkapan yang sudah di beli. Mubazir kalau misi tambahan ini aku abaikan."


Aku mengambil posisi dengan pedang satu tanganku untuk menebas langsung kepala landak yang sedang tidur ini.


"Baiklah, selamat tinggal monster landak... terimakasih untuk bayaran ekstranya..."


"Eh!? Mata panda...!?"


Seseorang yang idiot berteriak sangat kencang. Suaranya yang bergema, membuat landak di depanku terbangun dan siap mencincangku menjadi daging cincang.


"Ampun mas landak, aku cuma minta sedekah duri sedikit aja."


"Dia betina."


.


.


.

__ADS_1


"DASAR IDIOT TULEN...! KABURR!!"


__ADS_2