Five Shades: Mendukung Mereka Di Isekai !

Five Shades: Mendukung Mereka Di Isekai !
Part 4


__ADS_3

Jrepph....


Cairan berwarna merah mengucur membasahi wajah dan armor kulitku yang sudah rusak.


"Apa yang...!"


Ini bukan darahku, melainkan...


Siapa sangka, tiba-tiba ada tombak besi berwarna hitam yang menusuk dan menembus tubuh mosnter landak di depanku.


Dua keberuntungan telah menyertaiku.


Keberuntungan karena aku tidak jadi dimakan monster, dan keberuntungan lainnya, karena tombak yang menembus tubuh landak ini tidak sampai merobek perutku juga.


Tipis banget.


Monster Hedgehog yang seketika mati, ambruk ke arah depan, dan aku secara reflek menghindarinya.


Aku masih bingung dengan siapa yang melempar tombak hitam ini.


Saat aku menoleh ke Mekata dan Felix, mereka seperti terpatung oleh sesuatu.


Yap, gadis yang ikut denganku ke dunia ini Erena Yuki. Atau lebih tepatnya aku yang ikut dia...


Tangannya yang terlihat mengeluarkan asap menodong ke arah Hedgehog itu.


"Jangan bilang kau..."


Dia terlihat terengah-engah dengan keringat membasahi keningnya.


Tidak lama kemudian, dia pingsan.


"Apakah itu kekuatan pahlawan...?"


Mekata bertanya terheran-heran, sedangkan Felix mencoba menopang tubuh Erena agar tidak terjatuh ke tanah.


"Da-daripada itu, Mekata dan Felix, bantu Erena berdiri. Aku akan memeriksa mayat ini sebentar."


"Eh, untuk apa?"


"Jangan sia-siakan duri yang banyak ini. Siapa tau hadiahku akan jadi lebih besar."


Aku berjalan kearah landak raksasa yang sudah mati itu, dan mematahkan durinya satu persatu sambil melepas armor kulit rusak.


Itu sangat berat kau tau, meski armor kulit.


Sejujurnya aku tidak tau, apa yang akan diperbuat orang yang menulis permintaan dengan duri-duri ini. Kalau Erena juga mendapat quest yang sama, berarti duri ini sangat berguna untuk suatu hal. Mungkin aku akan mencari tahu nanti.


"Dasar bang Junma bodoh, teman yang baru aja nyelametin nyawamu lagi pingsan, tapi kau malah sibuk memikirkan uang itu."


"Iya, iya, aku nanti akan berterimakasih kepadanya setelah sampai ke kota nanti. Cepatlah pergi, aku akan..."


Landak itu sedikit bergerak, aku bisa merasakannya.


"Hei, monster ini belum mati!"


Lama-kelamaan pergerakan itu semakin sering, dan akhirnya, monster landak itu bangkit dari tidur siangnya.


"Apa-apaan monster ini...! Harusnya emang udah mati kan dia!? Tombak pahlawan loh ini!"


Aku berlari menjauh dari landak itu.


"Lagian sekuat apa sih, monster rendah yang sudah menjadi tingkat menengah ini...!?"


"Aku juga tidak tahu Junma. Yang pasti, harusnya memang dia sudah mati."


Mekata seperti sadar akan suatu hal.


"Matanya... lihat!"

__ADS_1


Aku menyipitkan mataku untuk melihat lebih dekat. Sebelumnya mata landak ini memiliki pupil coklat. Aku benci mengakuinya, tapi mata coklatnya itu sangat indah.


Tapi sekarang, semua menjadi putih, kau tau? Putih seperti...


"Undead! Dia udah jadi undead!"


"Hah!? Bagaimana bisa...!?"


Sungguh mengejutkan, semua monster yang mati, akan menjadi undead secepat ini.


"Ini aneh, harusnya ini tidak terjadi, tidak ada monster yang mati dan jadi mayat hidup seperti ini..."


Jadi bukan...


Berari hanya ada satu kemungkinan, dan semua pasti menyadari itu.


Yap, tombak besi hitam yang menancap ke tubuhnya itu penyebabnya, dan orang yang menyerang landak dengan senjata itu adalah...


Orang yang ku maksut masih dalam kondisi pingsan.


Sungguh, hoki seumur hidupku sudah terpakai tadi, dan sekarang apa...


"Lari...! Kita tidak akan bisa membunuh undead! Itu membutuhkan sihir cahaya!"


"Bang Junma, tolong bopong kak Erena! Kalau aku yang membopongnya aku tidak kuat!"


"Lalu kau pikir aku kuat hah!?"


"Cepat, tidak ada banyak waktu!"


Felix menyerahkan Erena kepadaku dan mulai kabur. Mekata tidak ada bedanya, dia kabur sendiri dan meninggalkanku dengan gadis ini.


"Untung saja aku berhutang nyawa denganmu!"


Aku membopong gadis itu dan mulai berlari.


"Kenapa? Kenapa dia mengejarku!? Mekata dan Felix, kenapa kau tidak mengejar mereka dasar monster landak yang sukanya pilih-pilih...!"


"Benar juga! AKSELERASI...!!"


Tubuhku menjadi sangat ringan, dan aku berlari semakin cepat. Meski aku tau konsekuensi memakai skill ini...


Itu seperti aku langsung kelelahan setelah memakainya, dan aku tidak bisa mengulangi skill ini selama beberapa saat.


Aku berlari kearah keluar hutan. Pikirku, mungkin dia akan terbakar dengan sinar matahari layaknya mayat hidup pada umumnya.


Bodoh, aku berpikir begitu...


"Sial, sial...! Dia semakin dekat!"


"Eh, mapan mesum...? Kenapa kita berlari?"


"Kau, kalau sudah sadar, lari sendiri aja bisa kan...!?"


"Aku masih lemas. Oh iya, tadi sepertinya aku menyelamatkan seseorang... dan seseorang itu belum mengucapkan apapun kepadaku."


"Dasar bodoh! Abis kena seranganmu, dia langsung jadi mayat hidup begitu! Kau apain dia...!!"


"Eh, mayat hidup?"


Erena mencoba melihat kebelakang dan pengelihatannya menangkap sosok mengerikan yang semakin dekat ke arah kami.


"Matanya mirip sepertimu..."


"Jangan becanda begitu! Nyawa kita sedang terancam hoi! Cobalah menyerangnya dengan sihir kegelapanmu atau semacamnya!"


"Aku tidak bisa, tadi itu entah kenapa hanya kebetulan keluar saja! Saat melihat orang yang dikenal ada di depan maut seperti itu, aku tiba-tiba reflek seperti tadi..."


"Baiklah, ku rasa kau tidak sekejam itu..."

__ADS_1


"TAPI KITA MASIH DIKEJAR...!!"


Mbush...!!


"Hooaahhh!!" x2


"Apa itu! Ren, coba noleh kebelakang dan lihat apa yang terjadi!"


"Sejak kapan kita jadi akrab dan memanggil dengan nama singkat begitu, tapi sudahlah... eee mari kita lihat..."


Mbush...!


"Hoaahhh...!!" x2


"Kau melihat sesuatu!?"


"Landak itu menembak api dari mulutnya!"


"Eh!? emang dia punya kemampuan begitu!?"


"Siapa peduli, ayo larilah lebih cepat...!"


Andai aku bisa, tapi kakiku terasa lebih berat dari sebelumnya, karena efek sihir akselerasi sudah habis.


Aku juga membawa gadis yang lumayan tidak berguna yang secara kebetulan aku berhutang nyawa kepadanya.


Selagi aku memikirkan itu, undead landak terus melancarkan bola-bola api yang selalu nyaris mengenai kami. Yah, itu semua karena insting menghindarku yang sangat hebat.


"Sial, kakiku sakit... aku harus bertahan! Aku sedang berhutang nyawa...!!"


"Hei Junma..."


"Akhirnya kau memanggil namaku dengan benar..."


"Posisi ini sangatlah tidak nyaman, dan aku rasa, ini biasa digunakan di dalam adegan romantis kan? Tapi, berlarian sambil dikejar mayat hidup landak raksasa sama sekali tidak romantis...."


"Jangan merusak adegan pahlawanku! Aksiku yang sangat dramatis tadi telah ternodai dengan bacotanmu!"


"Apaan, ini sungguh tidak nyaman...! kaki ku pegal sekali!"


"Harusnya aku yang bilang begitu!? Sungguh, aku akan melemparmu untuk menjadi umpan monster itu jika tidak diam!"


"Huft, kasar sekali kau dengan orang yang baru saja menyelamatkan nyawamu..."


Aku tidak mau menggubris gadis ini lagi.


"Junma...!!"


Pelan tapi jelas, di kejauhan Felix dan Mekata memanggil namaku.


"Arahkan dia kemari...!"


Baiklah jika itu mau mereka.


Aku lalu berlari mengarah ke tempat Felix dan Mekata berdiri.


"Akselerasi!"


Aku menambah kecepatan karena undead monster itu semakin dekat dan dekat.


"Andai skill ini tidak punya cooldown... aaakh!"


Aku terus berlari sampai akhirnya sampai ke arah mereka berdua.


Aku melewati mereka dan terus berlari. Saat sudah sampai jauh, aku berhenti untuk melepas penat, dan melihat ke belakang.


"Counter undead...!!"


__ADS_1


__ADS_2