
Kami kembali ke kota dan menuju guild untuk mengambil bayaran kami.
Yap bayaran kami.
Permintaanya adalah, lima ekor camelizard bernilai satu juta cassel.
Tapi yang kita dapatkan hanya satu, jadi kita hanya mendapatkan dua ratus cassel.
Dan itu belum dibagi tiga orang...
Setelah mengambil bayaran, kami lalu memesan sejumlah makanan dan minuman dan duduk di salah satu meja kursi yang masih kosong. Tempatnya ada didekat meja loket.
Guild ini sangat ramai pengunjung belakangan ini. Banyak orang-orang unik yang berbeda, nongkrong di tempat ini setiap hari.
"Hum, kau benar mapan. Bagaimana kalau kita mengambil quest perburuan dengan monster kuat!?"
"Kenapa kau selalu menyarankan untuk mengambil quest berbahaya itu? Mentang-mentang dirimu adalah pahlawan, jadi tidak ada monster yang bisa mengalahkanmu begitu? Lalu bagaimana denganku...? Lupakan, aku tidak akan mengambil quest berbahaya sebelum aku mendapatkan sesuatu untuk memperkuat diriku."
"Yah, jika kau ikut denganku dan Mekata ke ibukota, mungkin kehidupanmu akan berubah karena menyandang gelar pembantu pahlawan. Orang-orang pasti mengagumimu."
"Aku rasa meminum racun jauh lebih enak..."
"Aku punya skill membuat racun, jika kau mau?"
Mekata menambahkan beberapa patah kata yang tidak berharga.
"Akh, aku butuh uang...!!"
"Ini, kau bisa mengambil bayaranku Junma..."
Mekata lagi-lagi bersikap baik.
"Tidak, tidak, tidak... itu tidak perlu. Lagian secara teknis, kau yang menemukan camelizardnya dan kami hanya menumpang. Hanya dengan aku yang juga mendapat bagian, aku sudah berterima kasih."
"Oh begitu, kau itu benar-benar baik ya Junma..."
Justru dirimu lah yang baik, dasar orang baik.
Ngomong-ngomong tentang Mekata, aku penasaran tentang pekerjaan menelitinya.
Kalau tidak salah, dia adalah alchemist yang suka mengumpulkan bahan, meneliti dan menjadikannya potion atau semacamnya .
Pekerjaannya itu mungkin seperti peneliti kurang lebih.
Aku rasa itu tidak mengancam nyawa kan?
Akupun langsung menanyakan itu kepadanya, karena aku berpikir pekerjaan itu cocok untukku. Dan kau tau dia menjawab apa?
"Aku bekerja meneliti tumbuhan yang hidup di area dengan kadar racun tinggi, atau tempat-tempat dengan udara yang tidak sehat. Terkadang aku juga menjelajahi dungeon untuk meneliti semua tumbuhan yang hidup di dalamnya. Lalu, hasil penelitian berupa ramuan itu, aku jual ke toko-toko yang sudah sering memasok potion buatanku."
"Oo- oh... jadi begitu."
Ternyata itu sama berbahayanya dengan memburu monster kuat.
Aku tarik pemikiranku barusan, dan aku minta maaf kepada seluruh alchemist di dunia ini.
"Ah... aku capek. Aku ingin kembali ke mansion."
"Ngapain?"
"Istirahatlah! Besok aku harus bersiap-siap pergi di pagi buta."
"Hooh, terserah kau saja. Aku dan Mekata akan disini sedikit lebih lama lagi."
"Ah maaf Junma, kayaknya aku juga akan pulang dan istirahat lebih awal."
"Begitukah? Baik kalau begitu."
Mereka berdua lalu meninggalkanku sendirian di tengah keramaian guild.
Aku berpikir, aku rasa belakangan ini Mekata dan Erena sering bersama.
Apa Mekata menyukai Erena?
Jika itu benar, aku sangat kasihan dengan Mekata. Memang, Erena menarik secara fisik.
Dia cantik dan terlihat anggun saat diam.
__ADS_1
Tapi sayangnya kebanyakan orang tidak melihat sisi dirinya yang lain.
Menyebalkan, suram, geram, kesal, benci, menjadi satu saat kau sudah mendengarnya mengeluarkan kata-kata pedas.
Dia sangat pandai mengejek kau tau...
Saat aku berpikir begitu sambil meminum slimenoid, seorang gadis pelayan mendekatiku dan duduk di kursi yang kosong didekatku.
Saat aku melirik, dia adalah Alice.
"Yo Junma, kenapa Mekata dan teman gadismu pergi tanpamu?"
"Ah, mereka punya urusan berdua..."
"Berdua maksutmu..."
"Eh...!? Bukan, bukan... maksutku mereka hanya kembali ke rumah bersama. Ternyata kau juga bisa berpikir mesum ya Alice..."
"Bukan begitu huft..."
"Ngomong-ngomong Alice, apa guild ini menerima pelayan laki-laki?"
"Eh, tidak. Kenapa kau bertanya itu?"
"Ah tidak... aku hanya membutuhkan pekerjaan tetap."
"Aku kira kau sudah bekerja sebagai petualang. Kau kemarin sudah mendaftar ke serikat bukan? Lalu kenapa tidak ambil quest saja?"
"Yah, meski kau bilang begitu... tapi petualang dengan stat rendah sepertiku akan terbunuh dengan mudah, hanya dengan monster lemah."
"Memang serendah apa sih?"
"Kau lihat saja sendiri... nih."
Aku merogoh saku, dan memberikan kartu serikatku kepada Alice.
Saat dia melihat kartuku, tampak ada ekspresi aneh yang dia perlihatkan.
Aku tidak tau, apa itu ekspresi heran? Terkejut? Kagum? Yang pasti, dia merasa terkejut.
"Bahkan kau juga bilang begitu..."
"Akh, bukan maksutku mengejek, hanya saja um... anu... euh."
"Haha, tidak masalah. Aku juga menerima kalau diriku ini lemah. Tapi apa ada cara agar orang lemah sepertiku bisa menjalankan kertas permintaan?"
Alice mengembalikan kartu serikatnya kepadaku.
"Yah itu bisa saja, kalau kamu dapat menemukan party yang kuat, dan bergabung ke dalamnya."
.
.
.
"Itu jelas tidak mungkin kan..."
Saat sore hari, dan aku berjalan pulang menuju mansion.
"Hidup ternyata sesulit ini..."
Aku tadi mendapat pekerjaan sementara menjadi penjaga tempat pemandian umum.
Yang harus dilakukan besok, hanyalah mencari
pekerjaan lagi dan lagi. Mungkin ini lebih sulit dari biasanya, karena Mekata berniat menemani Erena pergi ke ibukota.
Kau tau, biasanya aku terbantu olehnya dan bisa menemukan pekerjaan lebih cepat.
Tapi mulai besok, aku akan mulai bergerak sendiri.
—Keesokan harinya—
"Bang Junma..."
Sebuah suara seseorang berbisik di telingaku.
__ADS_1
"Bang Junma..."
"BANG JUUNNMMAA...!!"
"Hoaaah...!! Kau ingin membunuhku ya!?"
Telinga dan jantungku bereaksi cepat karena teriakan itu. Sekali lagi seperti ini, aku yakin nyawaku akan lepas setengah.
Ternyata Felix punya ulah. Tidak berhenti disitu, saat aku ingin kembali tidur, dia menggoyang-goyangkan badanku dengan kencang.
"Bangun bang!"
"Pergilah, aku ingin tidur lebih lama hari ini."
"Ya ampun, bagaimana kak Erena bisa mempunyai teman pemalas sepertimu..."
"Hey, jangan bawa-bawa hubunganku dengan orang itu. Lagian kami tidak berteman, hanya kebetulan berada di satu masalah yang sama. Sekarang jangan ganggu aku, selamat malam."
"Sensi banget bang Junma kalau sedang tidur. Yah, terserah deh. Oh iya, kak Meka memasak makanan lebih sebelum pergi tadi pagi. Katanya untuk abang sarapan."
"Hmm..."
"Baiklah, aku mau pergi dulu. Jangan lupa suruh Lilya kunci pintu saat kau ingin pergi, daah..."
Felix keluar dan membiarkan pintu kamarku terbuka.
Menyebalkan jika sudah bangun seperti ini, aku jadi sulit untuk kembali tidur.
Mau tidak mau, aku harus bangkit dari tempat tidur ternyaman di dunia ini.
"Akh... Badanku pegal semua. Dimana semua orang?"
Lalu sekelebat bayangan lewat di depan pintu kamarku.
Itu pasti roh penjaga mansion ini. Yah, aku masih sedikit syok karena belum terbiasa.
"He– hey...!"
Selang beberapa detik, bayangan itu kembali dan memasuki kamarku. Ternyata itu Lilya, salah satu roh jahil yang menjaga rumah ini.
"Oh, Junma, sebuah kejutan. Apa kau memanggilku?"
"Um, begini... Apa kau tau dimana semuanya?"
"Semuanya, apa yang kau maksut tuan Mekata dan nona Erena?"
"Um..."
"Mereka pergi ke ibukota ingat?"
"Hah!? Mereka udah berangkat?"
"Sudah sebelum matahari terbit, mereka sudah meninggalkan kota ini tau..."
"Jadi mereka tidak membangunkanku..."
"Apa kau yakin, namamu bukan Junma si Mapan pikun? Tuanku sudah membangunkanmu beberapa kali, tapi kau ngeyel dan tetap tidur..."
Hm, aku coba mengingatnya...
"HOI MAPAN TUKANG TIDUR BANGUN...!"
"Hei Junma, apa kau jadi mengantar kami sampai ke gerbang keluar kota?"
*Ngorok
"Hei Junma! Apa kau yakin tidak ingin mengantar pahlawan cantik ini? Fuahaha, kau sangat rugi jika melewatkan kesempatan ini lho..."
"BERISIK LO CEWEK JABLAY! PERGI TINGGAL PERGI SONO! EMANG LU BAKAL MATI, KALO GUE TINGGAL TIDUR!?"
.
.
.
"Ah, aku ingat..."
__ADS_1