Five Shades: Mendukung Mereka Di Isekai !

Five Shades: Mendukung Mereka Di Isekai !
Part 3


__ADS_3

"Lalu?"


"Pahlawan? Apa maksutnya?"


Erena mengelap sisa makanan di mulutnya dengan tangan. Aku agak heran, apa benar dia ini orang kaya?


"Pahlawan adalah, seorang yang berjasa besar untuk kehidupan manusia, dan berjasa tanpa pam..."


"Aku tau arti pahlawan dasar mapan sialan! Yang ku maksudkan adalah, pahlawan untuk apa? Kenapa um.., buku itu memilihku menjadi pahlawan!?"


"Makanya, jangan perutmu doank yang kau penuhi dengan sesuatu! Tapi otakmu juga! Dan lagi.., jangan menyingkat mata panda menjadi mapan, dan memanggilku mapan mesum, atau mapan sialan lagi..."


"Terserah..., aku ingin mendengar penjelasan soal tadi dari Mekata..."


Orang yang di maksud duduk di salah satu kursi, dan aku rasa, dia bersiap menceritakan kisah yang sangat panjang dan membosankan.


Oh iya, ngomong-ngomong, aku suka baju yang di pakai Mekata.


Kelihatan kayak dunia lain banget, kau tau, seperti baju berjubah dengan lengan pendek,kurang lebih seperti itu.


"Ini bermula dari beberapa ratus tahun yang lalu..."


Dengan pembukaan cerita yang sangat pasaran, Mekata mulai bercerita.


"Dulu ada seorang penyihir wanita jahat dan mempunyai sihir kuat. Dia bernama Penyihir Angin Selatan Maressa. Dia adalah penyihir abadi yang tidak akan pernah tua, maupun mati. Kabarnya kecantikannya takkan pernah luntur dimakan waktu. Dia juga mempunyai sihir yang sangat kuat, bahkan kekuatannya bisa membuat keseimbangan alam setengah dunia menjadi kacau. Monster juga tiba-tiba bermunculan dari mana atau partikel sihir di udara, yang tercemar kekuatan gelapnya..."


Note: Mana adalah aspek penting yang selalu ada di setiap game atau film fantasy. Itu adalah sumber kekuatan sihir, yang digunakan untuk mengaktifkan berbagai mantra sihir. Energi ini secara alami ada dan mengalir di lingkungan dan di dalam setiap orang. Karena ini, sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap orang dapat menggunakan sihir sampai batas tertentu. Tapi beberapa orang hanya bisa menggunakan sihir lemah, tergantung daya tampung sihir dalam tubuh mereka.


"Hoo, jadi dia semacam raja iblis gitu ya...?


Lanjutkan."


"Dewa akhirnya turun tangan karena melihat manusia yang hidupnya sengsara selama beberapa puluh tahun. Dewa pun mengutus Kiklops untuk membuat senjata kuat untuk melawan penyihir gelap itu."


Note: Kiklops adalah makhluk yang bertubuh raksasa dan memiliki satu mata. Dia sangat ahli dalam menempa senjata untuk para dewa.


"Ho.., semacam senjata cheat gitu ya...?"


"Cheat? Apa itu...? Dan juga jangan menyela kalau aku sedang bercerita dong."


"Di selingi sama iklan lah, biar gak bosen dengernya.., oke lanjut deh."


"Sampai mana tadi.., oh iya, senjata yang dibuat Kiklops ada lima macam. Batu kegelapan, batu cahaya, pedang, panah, dan satu set armor lengkap. Semua senjata itu turun ke dunia untuk digunakan manusia melawan penyihir angin selatan."


"Hoo...?"


"Ekhm, aku lanjut. Kiklops juga membuat lima buku yang akan menentukan siapa orang yang akan mengemban tugas ini, dan buku itu menyebar ke seluruh dunia. Akhirnya lima pahlawan terpilih, Zell, Reymond, Fukata, Aurora, dan Cassel pastinya."


"Tunggu, jadi salah satu pahlawan itu adalah Cassel sendiri?"


"Bang Junma memotong cerita kak Mekata lagi,,, hadeh..."


"Yah, aku kan penasaran,,, gimana Mekata?"


"Benar, Cassel memang salah satu dari lima pahlawan itu. Dia menggunakan senjata batu cahaya yang di modifikasi dan di buat menjadi tongkat sihir."


"Hoo.., begitu."


"Dasar mapan, jangan ganggu ceritanya dong! Lagi seru-serunya nih!"

__ADS_1


"Eh? Kau dari tadi ngedengerin dia cerita? Ku kira kau tidak suka dengan cerita berbau fiksi kayak gini."


"Huh, kamu bicara apa? Aku suka semua jenis cerita tau... Apalagi kalau kisah nyata begini."


"Hooh... Aku takkan pernah mengerti seleramu deh. Oke lanjut Mekata."


"Aduh, sampai mana tadi ya? Kalian sih..."


"Anu, nama-nama lima pahlawan."


"Oh iya... Singkatnya Cassel dan empat pahlawan bertarung, dan meraih kemenangan melawan penyihir angin Maressa. Tapi sayangnya, tiga dari lima pahlawan itu gugur dalam pertempuran. Cassel merasa sangat terpukul atas kematian teman-temannya. Tapi itu belum berakhir, beberapa saat sebelum penyihir Maressa dikalahkan, dia membuka segel empat monster abadi yang sangat kuat."


"Apa-apaan itu, jangan-jangan..."


"Hm.., benar. Cassel, dan satu pahlawan yang tersisa ikut gugur, karena melawan empat monster abadi itu. Saat itu Cassel dalam kondisi terluka parah, dan sangat tidak memungkinkan untuk bertarung. Akhirnya, masalah seratus tahun yang lalu, masih belum terselesaikan. Kami terbebas dari kekuatan jahat dari penyihir Maressa, tapi empat monster abadi adalah masalah baru yang sama parahnya."


"Lalu, lima buku itu pun berkelana ke seluruh dunia untuk ke dua kalinya, mencari para pahlawan generasi yang selanjutnya. Dan kabarnya, sudah ada tiga pahlawan yang terpanggil dan sedang berada di kerajaan pusat untuk bersiap-siap dan menunggu pahlawan yang lainnya. Nona Erena menjadi empat saat ini, jadi tinggal satu lagi untuk melengkapi..."


"BENTAR...!!"


Aku yang punya suara.


"Jadi, aku terseret dengan masalah yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan diriku!?"


Aku berpikir, akan bagus kalau aku yang jadi pahlawan. Tapi ya.., realitas berkata lain.


"Mungkin untukmu benar, tapi tidak untuk nona Erena. Jadi, dia harus pergi ke kerajaan pusat untuk berkumpul dengan pahlawan-pahlawan lainnya."


"Tunggu! Kenapa buku itu malah seenaknya memutuskan aku menjadi pahlawan!? Aku sih mau-mau saja, tapi apa yang harus aku perbuat?"


"Nona harus pergi ke kerajaan pusat secepatnya. Soalnya memang kabarnya sudah menyebar, jika ada orang yang tiba-tiba membawa buku Kiklops, dia harus dibawa ke sana secepatnya."


"Ini aku menemukannya di hutan, di dekat gua monster landak tingkat rendah bersama beberapa buku dan benda lainnya."


"Di situlah awal dari kami yang tiba-tiba ada di sini."


Selagi Erena berbincang bersama mereka, aku berpikir. Kalau Erena adalah pahlawan dari dunia yang berbeda, apakah yang lainnya juga begitu?


Lima pahlawan dari dunia yang pararel.


Tapi, apa artinya aku juga harus terlibat?


Laki-laki polos yang tidak tahu apa-apa sepertiku.


"Aku agak penasaran dengan ini, apa senjata sihir milik nona Erena?"


Hum, Mekata mewakili salah satu pertanyaanku.


"Eh? Aku tidak tau juga, aku tidak membawa apa-apa sedari awal datang ke tempat ini."


Erena mengucapkan itu sambil merogoh saku roknya dan saku bajunya.


"Iya ya, sedari kemarin aku bersama Erena, aku juga tidak melihat adanya benda yang kayak senjata..."


"Kecuali kalo senjata itu ada di suatu tempat... Hah!! Jangan-jangan...!!"


Aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Yah aku rasa Erena dan Felix juga merasakan hal yang sama.


"ADA DI DALAM TAS YANG ITU KAH....!?" x3

__ADS_1


Sebenarnya, belum tentu di dalamnya ada senjata sihir. Tapi, kalaupun tertinggal di sekitar goa, Mekata pasti sudah menemukannya.


Dan ada kemungkinan kalau itu terjatuh pas kami lari-larian kemarin.


"Yosh Junma, yuk bantu aku dapetin kembali tasku!"


"Gak mau, kau memanggil namaku hanya saat kau membutuhkan bantuanku aja kan!? Aku gak mau berurusan sama teman musiman sepertimu!"


"Ayolah! Aku mohon! Demi dunia yang sedang terancam ini...!"


Gadis ini..., baru kali ini aku melihat Erena merengek dan ngosek-ngosek di lantai, sambil memohon bantuanku.


Itu malah membuatku semakin malas membantunya.


"Maaf, karena aku menjual tas itu, kalian jadi terkena masalah lagi..."


Felix menundukan kepala dan sepertinya merasa sangat bersalah.


"Hah...!? Jadi kamu Felix, mencuri lagi!? Kenapa kau tidak pernah mendengarku! Aku sudah memberimu semua yang kamu butuhkan kan!? Apa yang kurang? Cepat katakan!"


Mekata entah kenapa langsung meledakan emosinya kepada Felix.


Aku rasa banyak hal yang terjadi di sini.


"Ah, Mekata sebentar! Tidak usah marah, aku juga terlalu mempedulikannya kok. Lagian karena dia, aku dan Erena dapat bertemu denganmu di sini dan mengetahui banyak hal-hal penting kan?"


Aku mencoba meyakinkan Mekata tentang itu. Sebenci-bencinya aku terhadap anak kecil, aku tidak tega melihat ada anak yang di marahi sama orang begini.


"Tapi kan..."


"Baiklah, aku juga akan mencari tas itu! Hei Felix, kau juga harus menemaniku ya...? Aku juga tidak mempermasalahkan mu untuk ikut atau tidak kok. Itu semua bergantung padamu."


"Bang Jun—ma..."


Felix meneteskan air matanya.


Heh? Apa-apaan situasi ini? Gue udah kayak tokoh utama ya!


Dan Felix kayaknya juga tersentuh dengan perkataanku. Yah, tidak ada pilihan,,, aku juga harus ikut membantu mencari tas Erena, itu bukan hal yang terlalu merepotkan kan?


"Huh.., baiklah, aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Felix, temani nona Erena dan Junma ya? Anggap saja kau sedang menjalani hukumanmu."


"hum...baiklah!"


"Yosha! Ayo kita cari tas mahalku sekarang!"


"Yeaaa! Aku juga akan mencarinya untuk membersihkan masalah yang aku buat dengan kalian!"


Sial, gempuran semangat Erena entah kenapa membuat aku dan Felix semangat juga.


Tanpa aku sadari, dengan hati yang berkobar-kobar aku jadi ingin membantu mereka berdua.


Tapi, beberapa detik kemudian, mengubah segalanya.


"Eh? Hei Junma, kita belum mandi sedari kemarin..."


Untuk yang ke-dua kalinya, Erena menghancurkan moodku secara instan.


......※......

__ADS_1


__ADS_2