
"Kau pasti bercanda..."
"APA INI....!!" 2x
"Hey Erena, kau tahu? mungkin kau benar,,, aku sudah gila karena aku melihat hal hebat didepanku."
"Yah, dikejar oleh landak raksasa saja sudah sangat gila. Dan ini..."
Apa kami sedang berada di suatu taman hiburan atau apa?
.
.
Kereta kuda yang berjalan di trotoar dan mengeluarkan suara berdecit. Jalan yang dipenuhi dengan orang-orang berlalu lalang.
"Apa benar ini dunia lain? apa kita menyintas dunia? Apa itu artinya aku bisa menggunakan sihir atau semacamnya?"
Kakiku gemetar, antara senang dan bingung. Karena pemandangan didepanku seperti mulai bicara kepadaku.
Kebanyakan rumah dibangun dengan batu bata merah sebagai bahan utama, Jalan trotoar seperti di Eropa zaman abad pertengahan.
Tidak ada motor, mobil, ataupun papan iklan. Erena yang digendonganku mulai melepaskan pegangannya dan mencoba berdiri sendiri.
Sepertinya dia juga bingung dan kagum dengan pemandangan didepannya.
Dia memandangi orang berjalan.
"Ah...ah... Lihat!"
"Apa itu kuping hewan asli!? Ada orang dengan kuping hewan!"
"Ah! Komodo...! Junma, ada komodo disini!"
"Hoah...!"
Manusia berkepala komodo? Iya!
Mungkin yang dimaksut Erena adalah makhluk yang mempunyai kepala kadal, dan memakai satu set armor besi lengkap.
dwarf, kurcaci dan elf juga terlihat berlalu lalang didepan kami.
Dan makhluk berbadan manusia dan berkepala kadal yang Erena pikir itu adalah komodo.
Meskipun begitu, tidak ada bedanya dengan manusia kadal yang banyak ada di film-film fiksi.
Note: Komodo, atau juga disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies biawak besar yang terdapat di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Sungguh. Kalau dunia pararel itu ada, inilah tempatnya.
"Ngomong-ngomong orang lain memperhatikan kita dari tadi. Hey Junma, apa kita terlalu norak dan mencolok?"
"Ya iya lah bego! Entah kenapa kau memakai seragam sekolah dan membawa tas saat ini, lalu yang mereka kenakan dan yang kita kenakan jelas sangat beda!"
Beberapa terlihat berpakaian seperti viking, lalu ada yang terlihat biasa-biasa saja, dan ada juga yang berpenampilan seperti satu set baju pemula saat kau memainkan game RPG untuk pertama kalinya.
"Aku nanya baik-baik dasar Mapan Mesum! Kenapa kau kasar sekali kepada wanita cantik dan imut sepertiku!? Minta maaflah! Apa kau mau air keran dan listrik dirumahmu aku padamkan hah!?"
Anak ini,,, apa dia lupa, kalau kita sedang berada dimana.
"Ah, terserah kau saja!"
"Bentar..."
"Hoi gadis setan, apa tadi kau menyebutku mapan? Jangan kira kau bisa menyingkat kata Mata Panda dengan singkatan mapan. Itu terlalu aneh, jadi hentikan."
"Tunggu, Junma lihat!"
Erena mengganti topik pembicaraan dengan cepat. Tangannya menunjuk kearah sesuatu.
"Itu..."
"Batik....!?!" 2x
......................
__ADS_1
Kami berjalan melihat-lihat seisi kota. Ini karena Erena yang ingin terus melihat-lihat dunia yang asing baginya.
Tapi bukan berarti itu asing bagiku. Aku mengenal beberapa wajah disini.
Seperti Dwarf dan Orge. Mereka adalah sesuatu yang wajib ada di game rpg. Tentu, disini juga ada manusia. Hebatnya, mereka berkomunikasi dengan baik meski itu ras lain menggunakan bahasa yang sama.
Yap... Bahasa yang aku pahami.
"Tunggu, apa!?"
"Harusnya aku menyadari ini lebih awal!
Sebelumnya ada manusia komodo dan batik. Tadi aku juga melihat patung batu setinggi 8 kaki berbentuk menara Eiffel yang notabennya berasal dari Paris, Perancis.
Kenapa ada sesuatu yang berasal dari dunia kami sebelumnya? Apa yang terjadi?
Kenapa aku paham apa yang orang-orang ini katakan!?
Selagi aku berpikir begitu, Erena yang dari tadi memimpin perjalanan menoleh kearahku.
"Ada apa Junma? Apa kau lupa menyembunyikan buku porno mu dan baru sadar setelah kita datang kesini?"
"Bukan itu..!!"
"Anu ya... Apa kau tidak merasa aneh? Bahasa yang digunakan disini adalah bahasa Indonesia!"
"Hooh, benar juga!"
Erena mengatakan itu sambil membentuk oval mulutnya.
Ah, otakku melambat seiring waktu, saat aku bersama wanita ini.
"Bagaimana bisa ini terjadi...?"
Didalam sebuah novel atau filem bergenre dunia lain, ada alasan tersendiri kenapa karakter utama jadi mengerti bahasa orang dari dunia lain.
Contohnya seperti alat ajaib milik Doraemon yang bernama Konyaku Penerjemah.
Tapi, sebelum memikirkan itu, aku harus membuat rencana tentang kejadian aneh ini.
"Nah Erena, Sekarang aku serahkan semua kepadamu!"
Bersamaan mengatakan itu, aku mendorong Erena ke depan.
"Apa yang kau...!"
BrukKHH...
Erena menabrak seorang gadis dengan telinga hewan sedang membawa bag kertas yang dipenuhi dengan apel.
Aku rasa dia itu setengah musang atau kucing.
"Aduh..!!"
Spontan, bag kertas itu jatuh, dan seluruh apelnya berserakan.
"Ah! aku sungguh minta maaf!"
Seperti yang diduga, Erena akan menolongnya dan akhirnya ada alasan untuk berbicara kepada orang lain.
Yah,,, aku terlalu canggung untuk mengajak ngobrol seseorang.
Kau tau, aku tipe orang yang tidak akan berbicara dengan orang tak dikenal sebelum orang itu yang memulai.
"Hei mapan mesum! Apa yang kau lakukan!? Gadis ini bisa saja terluka!"
"Maaf, tanganku terpeleset."
"Dan sudah kubilang, jangan panggil aku mapan mesum."
"Maaf kakak, ini salahku. Aku sungguh minta maaf!"
Si gadis bertelinga hewan langsung berjongkok dan memunguti apel dengan cepat.
__ADS_1
"Bu~ bukan-bukan, kakak juga tak sengaja menabrakmu. Mari ku bantu."
"Ah, terima kasih."
Nice plan!
Aku lalu mendekatkan wajahku ketelinga Erena dan berbisik.
"Hei Erena, tanyakan kepadanya, apa disini ada suatu tempat seperti bar atau apapun itu tempat yang biasa digunakan berkumpul oleh orang-orang."
"Hooh! aku mengerti! Serahkan kepadaku!"
Sial, mukanya sombong banget,,, tapi aku harus sabar, dia melakukannya dengan baik.
Mungkin...
"Ah, ini apel terakhir. Sekali lagi maafkan kakak ya, tadi sepertinya kakak didorong oleh orang asing berwajah mengerikan."
Tunggu, dia bilang apa... Sudahlah, yang penting tetap pada rencana.
"Ah, tidak apa-apa kok! Felix juga merasa bersalah karena tidak memperhatikan depan saat berjalan..."
i...imut..
Jadi gadis bertelinga hewan itu bernama Felix.
"Oh, hai Felix, aku Erena. Apa disini ada tempat yang sering digunakan orang-orang untuk bersantai, atau..."
"Huoooaaah.... Benda besar apa itu!"
Si gadis setengah hewan tiba-tiba memasang wajah kagum dan tangannya menunjuk ke arah...
ANU KU !?!
Tentu saja bukan! Erena sedang posisi berjongkok, dan aku berdiri. Sedangkan gadis itu juga berdiri, tapi tatapannya agak sedikit kebawah.
Jadi, disimpulkan kalau benda besar yang dimaksut adalah...
"Oh...! Ini adalah tas ransel."
Sudah kuduga.
Erena lalu melepas tas ransel miliknya, dan menunjukannya kepada si gadis itu.
"Felix tau ini adalah tas, tapi bentuknya agak berbeda dari tas pada umumnya! Itu keren...!"
"Benarkah? Terimakasih Felix!"
Erena sepertinya terpikat oleh keimutan Felix. Jujur, dia benar-benar sangat imut.
Usianya mungkin baru sekitar 10 tahunan.
"Apa Felix mau melihatnya?"
"Apa boleh!? Yeeeey...!"
Felix terlihat gembira saat Erena ingin meminjamkan tas miliknya.
"Ini terlihat keren..." Desah Felix pelan sambil membolak balik tas itu.
Awalnya aku menikmati ekspresi Felix yang sungguh imut.
Tapi...
Tak ada angin topan atau hujan badai, Felix langsung kabur membawa tas milik Erena dan membuang bag kertas berisi apel dengan begitu saja.
Kami yang syok hanya bisa terpatri diam.
"Mau dikejar?"
"Kejar aja... Aku akan memungut apelnya untukmu."
Felix dikejauhan sempat berhenti dan berteriak.
"SELAMAT DATANG DI KOTA ALEMKIK...!!"
__ADS_1
......※......