
Seperti biasa, aku sedang tidur di tengah pelajaran yang sedang berlangsung.
Itu karena, semalam aku sibuk membasmi monster. Tentu saja, di dalam sebuah game.
Yah, kantung mata ini tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa aku adalah seorang penggila game yang berpengalaman.
Selagi itu tidak mengganggu teman-teman yang lain, itu tidak masalah kan...?
Dan... itu adalah perkataan terakhir dan awal dari hari terakhirku yang damai.
Pada suatu hari, ada murid pindahan yang akan menjadi teman sekelasku.
"Perkenalkan, namaku Erena Yuki, sebelumnya aku bersekolah di SMA khusus putri. Mulai sekarang, mohon kerja samanya!"
Semua siswa tercengang dengan kecantikannya termasuk aku.
Bagaimana tidak, di SMA Indonesia ini kedatangan murid baru dari luar negeri adalah hal yang hebat, terlebih lagi dia seorang gadis imut.
Yap, luar negeri... ayah Erena berasal dari Amerika, dan ibunya berasal dari Indonesia. Entah apa yang terjadi, mereka bertemu di Jepang, dan akhirnya menetap di sana selama beberapa tahun.
Itu sebuah kebetulan hebat yang tak pernah diduga.
Beberapa tahun berlalu di Jepang, mereka di karuniai anak yang bernama Erena ini.
note : 'Yuki' diambil dari bahasa jepang yang berarti 'salju' Sedangkan 'Erena' berarti 'Terang'
Dia adalah anak dari orang yang memiliki perusahaan besar dari luar sana, karena suatu hal, dia pindah kekampung halaman ibunya di negara ini.
kenapa aku tau? yah...kenapa tidak? dia menceritakan semua latar belakangnya.
Hari pertama dia menunjukan kesan yang baik, bahkan aku hampir menyukainya.
Gaya bicara yang anggun dan sering tersenyum, membuat dia gampang memiliki banyak teman. Bahkan kabarnya, ada grup Erena lovers yang didirikan oleh serikat laki-laki di sekolahan ini.
Bahkan grup mengerikan itu tercipta dalam waktu singkat.
Yah, aku tidak peduli, selagi tidak mengganggu waktu tidurku.
Beberapa waktu berlalu, sepertinya aku ingin berteman dengannya dan mencoba bergabung dalam grup yang berisikan orang-orang aneh itu.
Tapi...
"Hei kau tukang molor! Ini adalah sekolah, bukan hotel!"
__ADS_1
"Enyahlah, dan pulang kerumah kalau tak ingin belajar!"
Bahkan di hari kelima dia pindah di Indonesia, bahasanya sudah sampai sejauh itu. apa emaknya yang sudah mengajarinya?
Aku menanggapi ocehannya dengan ucapan lembut. "Maaf, semua orang tidak terganggu saat aku tidur. Bukankah tidak masalah?"
"Hah? Mata panda mu sudah kadaluarsa ya? lihatlah sekelilingmu, apa tatapan mereka terlihat seperti merasa tidak terganggu?"
Memang saat Erena mulai berteriak semua teman sekelas mulai menjadikan kami tontonan.
"Yah, ini karena kau berbicara terlalu keras terhadapku kan?" aku mencoba tetap tenang.
"Ya ampun, bahkan para guru sudah menyerah terhadapmu. Kau adalah orang yang tidak punya malu bermalas-malasan di sekolah yang terpandang ini."
Yap benar, Ini adalah sekolah elite. Tempat di mana siswa dengan kepintaran di atas rata-rata menjadi penghuninya.
Tapi, aku disekolahkan di sini, karena orang tuaku mempunyai uang yang lumayan untuk bisa memasukanku ke dalam sekolah bintang lima ini.
Yap benar, menyogok.
Tapi itu bukan berarti aku adalah siswa bodoh. yah, aku cukup sedikit unggul di beberapa pelajaran.
Sedikit...
Apa ini, aku bahkan tidak pernah sekalipun berbicara dengan teman sekelas, mereka juga tak pernah menggubrisku akan ini. Tapi dia ini sungguh...
Akibat ulahnya itu, seluruh teman sekelas jadi berani dan mulai mengejekku secara terang-terangan.
Mulai dari Neet, pemalas akut, menjijikan, dan berbagai hinaan terus dilontarkan kearahku setiap harinya.
Note : NEET (Not in Education, Employment, or Training)
Rasa hormatku terhadap murid baru ini tiba-tiba menjadi rasa ingin menghantam wajahnya dengan bangku sekolah.
Seminggu berlalu, mereka yang mengejekku karena pemalas dan sering dihukum oleh guru, semakin menjadi-jadi.
Sedikit demi sedikit, rahasia yang kusimpan sebaik aku menyimpan buku porno di dalam kamarku terbongkar.
Seperti, aku yang dihukum untuk membersihkan kolam renang, malah memandang para gadis dengan pakaian renang dengan mata serigala.
Aku yang terkadang pura-pura tidur di bawah tangga, agar dapat melihat sesuatu yang hebat.
( Surga di dalam rok )
__ADS_1
Entah dari mana semua itu menyebar. Tapi itu benar, dan aku tak bisa menyangkalnya.
Ya, itu mungkin salah, tapi ada pepatah, jangan membicarakan aib orang lain kan..!?
Itu berlangsung setiap hari, bahkan mereka mulai memanggilku Junma si mesum bermata panda, sampai datang hari itu. Hari di mana aku sudah tak tahan dengan sikap Erena dan para geng jablay nya itu.
"Junma si mesum, kali ini kau tidak tidur seperti biasanya hah...?"
Erena berjalan ke arah kursi tempatku duduk bersama beberapa orang siswa laki-laki dan perempuan yang mengikutinya dari belakang.
"Hei kau, kalau sering mencari masalah denganku, kenapa tak selesaikan sekarang!?"
Yap... Aku menantang gadis untuk berkelahi.
"Sialan! apa kau gak punya malu, dasar pemalas!?"
"Banci!!"
"Menjijikan...!"
Siswa laki-laki sekelasku yang mengatakan itu.
"Apa ini, kau menantangku berkelahi? apa kau tak tahu kalau aku bisa saja mengeluarkan mu dari sekolah ini dengan mudah? yah, tapi aku masih kasihan terhadapmu."
Erena berkata itu selagi menatapku dengan sinis bersama 40 orang siswa lainnya.
Dengan mata tertutup, sambil berdiri dari bangku secara perlahan, aku mempertahankan sikap cool ku di hadapan semua orang dan berkata...
"Sungguh kau banyak omong dasar chikusou koplo."
Banyak yang tidak paham dengan artinya, tapi ada beberapa juga yang paham dan langsung terkejut mendengarku mengatakan hal itu.
Note : Chikushou (son of a bi**h) alias bajingan.
Terlebih lagi Erena yang tiba-tiba wajahnya memerah malu sambil mengumpat membuatku merasa puas karena dapat membalasnya.
Tapi, tak bisa di sangkal, kalau kakiku entah mengapa bergetar bersamaan dengan rasa puas itu.
Mungkin karena sekumpulan laki-laki sekelasku mendekat, dan memasang tatapan membunuh setelah mereka diberi tahu arti dari perkataan ku barusan...
Sial...
Aku dan tujuh belas teman laki-laki sekelas pun, akhirnya bermain tepuk tangan teman. Tapi bedanya kali ini kita memasang gaya tangan meninju.
__ADS_1
......※......