Five Shades: Mendukung Mereka Di Isekai !

Five Shades: Mendukung Mereka Di Isekai !
Part 2


__ADS_3

Pada akhirnya kami mengejar Felix si pencuri itu.


"Ki~ kita kehilangan dia... Huh, capek banget! Sepertinya aku sering berlari sejak pertama masuk kedunia ini!"


Aku berhenti berlari sambil memegang lututku dan mencoba mengatur pernafasan dulu.


Erena melewatiku. Detik selanjutnya dia berbalik dan berteriak.


"Kenapa kau berhenti dasar mapan mesum! Ayo kejar dia! Aku yakin bisa menangkapnya!"


"Kejar aja sendiri sana! Aku mau membantumu itu sudah bagus. Jangan membuatku berubah pikiran dan meninggalkanmu sendiri disini...Huh...huh.."


Ucapku sambil ngos-ngosan.


Sungguh, Felix sangat cepat berlari...


Seharusnya sebelum ini dia masih terlihat saat kami mengejarnya, tapi sekarang dia seperti membaur diantara pejalan kaki. Entah mengapa aku merasa kami seperti dipermainkan dan disesatkan di kota ini.


Sempat aku berpikir begitu, aku menoleh kearah samping. Bangunan dengan pintu yang terbuka dan semua keramaian yang ada didalamnya.


Mereka terlihat mengobrol dengan asik. Sebagian dari mereka ada yang makan, dan banyak pelayan wanita berbaju imut ala maid cafe, yang berkeliling membawa nampan berisi minuman.


Yah, kau tau, itu terlihat seperti...


"Bar...!!" Ucap ku sambil melihat ke arah papan tanda yang terkantung diatas pintu masuk bangunan.


Meski aku tidak mengerti baca tulis ditempat ini, aku tau persis logo yang terukir di papan penanda itu.


Logo seperti minuman bersoda, yang artinya, ini adalah bar.


"Lalu?"


Erena mengerutkan dahinya.


"Memang kenapa kalau ini adalah bar? Apa kau masuk seperti 'one san! aku pesan satu porsi lengkap ayam goreng' dan melengos pergi tanpa membayar? Kita tidak punya uang tahu..."


Note : Karena Erena adalah orang yang lama tinggal di Jepang(katanya) karena itu dia menggunakan kata One san (kakak)


"Yah, aku tau itu,,, ini hanya untuk berjaga-jaga kalau kita sudah mendap..."


Kata-kataku tersekat saat aku melihat diantara kerumunan itu, ada sesuatu yang sangat kami kenali.


"Hei Rena..!"


"Sejak kapan kita saling memanggil dengan nama akrab dasar mapan mesum!? Kau, jangan kira kita sudah menjadi dekat meski tadi kau sedikit membantuku."


",,,,"


"Ap-apa yang kau lakukan mapan mesum...? Tatapan matamu lebih mengerikan dari sebelumnya, hei apa matamu kemasukan sesuatu... Hey...!"


Aku menarik Erena masuk kedalam bar itu. Sungguh, akan lama kalau aku harus berdebat dengan anak idiot ini.


Setelah mempersiapkan diri, aku masuk dengan langkah yang...biasa aja.


— Didalam Bar —

__ADS_1


"Ah, selamat datang~ silahkan ke loket jika kau adalah pengangguran. Jika kamu ingin makan silahkan duduk di kursi yang kosong."


Pelayan dengan rambut putih sebahu menyapa kami dengan ramah.


Penerangan yang redup pada interior memang terlihat seperti bar.


Yah, meski aku tak pernah ketempat ini, aku sangat mengenalnya.


Itu terlihat seperti bar yang ada di film-film koboy dengan nuansa yang ke Eropa-an, kurang lebih.


Sekumpulan pria dengan armor memandangi kami. Aku ketakutan, tapi ku rasa mereka tidak terlihat seperti preman.


Mungkin karena wajah kami yang asing, beberapa kumpulan memperhatikan kami.


Untuk sekarang, aku mengabaikan tatapan mereka, dan bergegas menuju kearah sesuatu yang kukenal itu.


Tapp...


"Eh...?"


Tanganku memegang bahu seorang gadis kecil yang duduk di kursi dekat loket dengan segelas minuman yang mengeluarkan busa.


Ya, itu adalah Felix. Gadis setengah hewan yang mencuri tas milik Erena dengan tipu muslihat bajingannya.


"Apa yang kau mau!? Aku sedang tidak membawa uang, jadi menyingkirlah."


"Apa, kau mengenal ku gadis muda..!?"


Aku mengucapkan itu, dengan suara yang terdistorsi.


Dia benar-benar lupa, atau emang pura-pura aja?


Erena yang dibelakangku memasang ekspresi kaget, setelah tau aku sedang berbicara dengan siapa.


"Hah! Ini dia... Junma! Dia yang mencuri tas kesayanganku!"


Hoi, lu pikir aku masuk ketempat ini buat ngapain!?


Saat melihat Erena, Felix seketika terlihat panik.


Oh, benar. Mungkin dia tidak mengingat wajahku, karena aku berada dibelakang Erena.


Maklum, wajah-wajah unik sepertiku ini memang....uh lupakan.


"Ak...Aku bisa menjelaskan ini, tolong..."


"Huh? Dimana tasku?"


Erena celingukan kearah sekitar Felix.


Tas itu tak terlihat dimanapun.


"Dimana, dimana tasku...!"


"Tolong sabar, aku bisa menjelaskan ini! tooolong jangan menggoyangkan badaaan ku! aku mual!"

__ADS_1


Aku memegang pundak Erena dan menyuruhnya untuk tenang.


"Nah...kau ingin menjelaskan apa?"


"Hah? siapa pria dengan wajah mesum ini? Ini adalah urusanku dengan kakak ini, jadi minggir lah!".


💢


Aku menjewer telinga hewannya dengan emosi yang sudah mencapai puncakku.


"Dengar sini penipu sialan! Aku sudah mengalami hal-hal berat akhir-akhir ini! Di lecehkan teman sekelas, bertemu dengan cewek jablay yang merubah 180° hidupku,, Kejar-kejaran sama landak gajah, dan masuk ke jebakan batman mu! Jadi jika kau ingin membuat masalah dengan pria berwajah mesum ini, Ayo...!!!"


Tanpa sadar, aku berteriak dengan sangat kencang hingga menjadi pusat perhatian seluruh penghuni bar.


"Jun...Junma, aku mengerti, maafkan aku. Tapi kalau kau menarik telinga gadis itu lagi, mungkin akan copot loh..."


Erena yang disampingku juga terlihat takut dan menjauh


Sesaat aku menoleh ke Erena, lalu kembali lagi ke Felix.


Dia terlihat ingin menangis.


Sial, apa aku terlalu kasar?


Seseorang yang terlihat seperti petualang menghampirku.


"Maaf, jika kau ingin mencari ribut, mari denganku saja."


Setelah itu, beberapa lainnya juga ikut mengerumuniku.


"Beraninya sama anak kecil, urat malumu dimana hah?"


"Erena selamatkan aku...!"


Selagi aku ngomong seperti itu. Salah satu pria menghampirinya.


"Apa nona juga dilecehkan pria itu!? Aku melihat kau juga ketakutan dengannya tadi."


Aku melihat Erena dengan tatapan melas.


Dengan senyum jahatnya, Erena berkata.


"Ya... dia sering kasar terhadapku."


"Kampret! hajar aja dia...!"


"Yoo..!"


Teriakan para petualang yang menghajarku bergema keseluruh penjuru bar.


Yaah,,, Beberapa hari lalu, aku juga di keroyok sekte pemuja Erena seperti ini...


Kalau berani satu-satu dong hey!


aku berkata seperti itu, Sedetik kemudian kesadaranku menghilang.

__ADS_1



__ADS_2