
Karena sudah menjelang sore, kami memutuskan untuk memulai tur besok pagi.
Sebenarnya, sebelum keluar bar, kami sempat memesan makanan murah yang aneh.
Itu terlihat seperti Steak dengan daging hewan yang aku tak tau hewan apa itu.
Pelayan yang melayani kami menyebutnya Bistik Daging Blush.
Aku memaksa untuk memakan itu, tapi rasanya tidak buruk juga. Itu seperti daging kambing dengan tekstur yang alot tapi tetap enak.
Sedangkan Erena. Aku mencoba meyakinkannya dan menyuruhnya untuk menerima apa adannya.
Dia menurutiku begitu saja, meski agak terpaksa untuk memakan Steak miliknya.
– Kembali ke saat kami sudah keluar bar –
"Ya ampun, bahkan makanan seperti itu cukup menguras kantong, meski yang paling murah."
Aku menghitung uangku. Yah, secara harfiah ini adalah uang Erena, tapi dia memintaku untuk mengurus masalah keuangan.
Mau tidak mau aku harus melakukannya. Yah, aku agak khawatir kalau dia yang memegangnya.
"Um..., hei Felix, harga Bistik tadi seporsi adalah 200 Cassel kan? Berarti total 400 Cassel, minum air putih gratis..."
Cassel adalah mata uang di dunia ini.
Felix mengatakan nama mata uang Cassel, diambil dari nama pemimpin pahlawan di zaman dulu. Untuk menghargai jasanya membunuh penyihir atau semacam villain di dunia ini. Oleh karena itu, kerajaan pusat menjadikan namanya menjadi mata uang sah di negara ini.
Untuk catatan, sebelum Cassel, nama mata uangnya adalah Zel.
Seratus Cassel nya, kira-kira sama dengan Sepuluh Ribu Rupiah Di Indonesia.
Aku mempunyai 10 kepingan koin 100 Cassel, dan 5 kepingan koin 500 Cassel.
Ini cukup untuk makan, sementara kami mencari pekerjaan, dan mencari tau alasan kami terpanggil di dunia ini.
Felix menyarankan kepada kami, untuk tidak menggunakan uang hasil menjual tas Erena untuk menyewa penginapan.
Dia bilang untuk lebih baik menyimpannya, dan menggunakannya untuk makan, karena koin ini hanya cukup untuk menginap satu malam saja di penginapan kelas rendah.
Erena juga tidak menggubris tasnya yang sudah terjual itu.
Mungkin Di Indonesia, tas miliknya itu seharga motor.
Disini..., bahkan untuk makan sehari-hari aja, rasanya kurang.
Aku mengikuti Felix untuk menginap di rumahnya sementara. Yah, dia memperbolehkan kenapa tidak?
"Aku ingin makan..."
"Sumpah Erena, beberapa jam lalu kita sudah makan di bar kan!? Kau bahkan mengambil sisa Steak ku."
"Apa boleh buat kan..., aku berlari seharian tadi."
"Ha? Bagaiman denganku yang berlari sambil membawa gadis tak berguna di gendonganku!? Aku bahkan rela membantumu mengejar Felix tadi!"
"Gomen..., UwU."
"Gomen ndasmu!"
Pose imut yang membuat laki-laki lain terpesona itu sudah tak bisa mendobrak hatiku.
Aku sudah menguncinya rapat-rapat untuk gadis ini.
"Anu..., aku minta maaf karena telah membuat kalian repot. Aku tidak tau kalau kalian sudah mengalami hari-hari berat. Sekali lagi aku sungguh..."
Felix sepertinya mendengar percakapan kami, dan juga, sudah berapa kali dia meminta maaf?
"Udah-udah, aku tidak ingin membahas itu. Yah, beberapa alasan mungkin ini sangat membuatku kerepotan, tapi kami juga terbantu olehmu pada akhirnya."
"Be.., begitu. Ngomong-ngomong, apa yang membuat kalian sampai berlarian?"
__ADS_1
"Kau tau diluar kota ini, ada landak seukuran bis sekolah yang mengejar kami! Untunglah tak sampai ke kota ini."
Erena buka suara, sambil berjalan mendahuluiku.
"Aku tidak tau bis apa yang kamu bicarakan, tapi kalau Giant Hedgehog Duri Hitam yang kamu maksut, dia memang berkembang biak disekitar Hutan Bellosovia."
Note : Hutan Bellosovia adalah hutan yang ada disekitar Kota Alemkik.
Note : Giant Hedgehog adalah nama lain dari landak raksasa yang mengejar Junma dan Erena.
"Memang disekitaran kota masih ada sedikit monster yang hidup, dan masih berkembang biak. Tapi mereka hanyalah monster tingkat rendah yang bisa ditangani para pemula dengan mudah."
"Bentar..., berarti monster land.., maksutku Giant Hedgehog itu hanyalah monster tingkat rendah!?"
Suaraku agak meninggi.
Felix lalu menganggukan kepalanya.
"Ada juga monster Sugar Slime yang masih hidup dengan baik. Para petualang tidak memburu habis jenis ini, karena Sugar Slime adalah monster berharga untuk bahan baku membuat gula pasir."
"Tapi yah, ada juga spesies yang berbahaya seperti Sour Slime, dan beberapa jenis slime-slime yang bermigrasi."
Dunia apa ini sebenarnya. Kenapa monster di game RPG ada di dunia ini?
Belum lagi Lizard Man (manusia kadal), dan ada beberapa gadis setengah hewan memakai baju dengan corak mirip batik.
Baiklah, sementara aku anggap ini hal yang wajar. Terus menerus memikirkan ini membuatku frustasi.
"Kalian ini memang dari negara yang jauh ya...? Sampai hal dasar seperti itu saja kalian tidak tahu."
Aku dan Erena saling lirik seakan mengatakan seperti 'hei katakan sesuatu kepadanya' seperti itu.
Bagaimana caranya aku mengatakan kalau aku datang dari negara bernama Indonesia. Apa dia akan terkejut..?
"Anu ya Felix, sebenarnya kami..., aku dan mata panda ini umm..."
"Kami.., anu..."
"Kami dari Indonesia...!! Lama amat!"
"EH... APA!?" x2
Mereka berdua mengatakan hal yang sama. Bedanya, 'heh apa' milik Felix terdengar lebih syok dan seperti mengetahui sesuatu.
Matanya tajam menatap kami.
"Kenapa? Apa yang salah dengan Indonesia? Apa disini tidak ada negara bernama Indonesia?"
Felix tetap membisu untuk beberapa saat.
lalu dia mendesis sesuatu pelan tapi jelas.
"Indo..., nesia..., bukannya itu kampung halaman Sang Pemimpin Para Pahlawan Cassel..."
.
.
.
Aku dan Erena : "EH... APA .....!?!?"
...____________...
Langit bernoda merah menghiasi langit Kota Alemkik
Bayangan milik bangunan sudah mulai memanjang.
Sore hari di dunia lain sangatlah hebat.
Bahkan aku hampir melupakan tanah kelahiranku karena pemandangan kota tanpa kendaraan dan gedung mulai membuatku jatuh cinta.
__ADS_1
Meski ada beberapa pertanyaan yang bergelayut dipikiran ini, aku memutuskan untuk menjadi tokoh utama yang tidak terlalu memikirkan sesuatu dengan berlebihan.
Akhirnya setelah lama berjalan, kami berdiri di depan rumah besar.
Rumah sebesar mansion yang terletak dipinggiran kota, dengan taman bunga kecil yang menghiasi halaman rumah.
"Kita sampai..."
"Kita sampai mbahmu...!!"
"Eh, apa...!? Kenapa?"
"Kau, kau dari keluarga kaya!? Kau tidak bilang sesuatu tentang ini kepada kami...!"
"Dan juga, kau mencuri padahal kau dari keluarga kaya. Apa yang terjadi sampai tuan putri sepertimu mencuri tas murah bin buluk milik Erena huh?"
"Hoi mapan mesum lolicon. Bahkan harga ginjalmu tak cukup untuk membeli resletingnya aja tau!"
"Tunggu kalian..! Jangan salah paham! Ini bukan rumahku, melainkan rumah kenalanku..."
"Aku membawa kalian kesini karena aku berubah pikiran, saat kalian bilang kalian datang dari Indonesia."
"Kenapa begitu? Mungkin muka mapan disampingmu itu mesum, tapi percayalah, orang indonesia itu sangat ramah dan baik. Hanya si mesum itu yang agak kelainan."
Ingin rasanya ku Triple H gadis ini. Setiap kali dia berbicara, mulutnya itu sebusuk kentut.
Note : Triple H (Teknik finishing Pedigree Di WWE)
"Aku harap kalian tidak berbohong, karena bilang berasal dari indonesia."
"Tidak, kami jujur" x2
Glek...
"Baiklah, kalian akan ku pertemukan dengan temanku, yang mungkin tau tentang sesuatu."
Sesuatu apa yang dia maksut...
Dan juga, apa-apaan itu...
Indonesia adalah kampung halaman Si Cassel?
Gak salah denger nih aku?
Yah, untuk jelasnya... Seseorang didalam mansion ini mungkin bisa menjawab pertanyaaan ku.
Aku juga merasa ini sudah seperti petualangan yang aku dambakan. Tidak ada seorangpun yang bisa menghancurkan semangatku...!
"Ayo Junma, didalam sana ada orang yang tau tentang tempat asal kita. Kita tidak boleh mengabaikan hal sepenting ini."
.
.
.
.
Tak peduli seberapa jelek mulut cewek ini, aku tidak akan bisa mengerti dan aku tak mau mengerti tentang dia.
Lalu, kami bertiga masuk kedalam mansion besar itu.
"Itu mansion ada tombol buat mencet belnya nggak ya?"
.
.
.
Pertanyaan koplak dari Erena, langsung membuat semangatku down sedalam dasar laut.
__ADS_1
......※......